Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 9


__ADS_3

“So… aren’t you a virgin?” tanya Debbie dengan wajah terkejutnya.


Ya, Isa baru saja menceritakan pengalaman pahit yang dirasakannya semalam kepada Debbie. Isa menceritakannya dengan mudah dan tidak bertele – tele. Isa juga tidak menangis, seperti yang kebanyakan dilakukan oleh wanita di luar sana.


“Apakah aku masih bisa dikatakan perawan, disaat aku sudah melihat bercak merah yang berasal dari kewanitaanku sendiri?!?” tanya Isa kesal


Debbie menghela napasnya dengan kasar.


Kasihan sekali nasih sahabat Debbie itu. Debbie masih ingat, bahwa Isa pernah bersumpah akan menjaga keperawanannya dan hanya menyerahkannya kepada suaminya kelak.


“Lalu, bagaimana dengan suamimu?” tanya Debbie sambil menopangkan dagunya di tangannya.


“Suami? Aku tidak ingat kalau aku sudah menikah” ucap Isa sambil memutar bola matanya dengan kesal.


“Maksudku suami masa depanmu. Bukannya kau dulu pernah bersumpah akan menjaga keperawananmu? Apa kau tidak akan merasa bersalah kepada suami masa depanmu itu?” tanya Debbie dengan lancar


Setelah mendengar perkataan Debbie, jantung Isa berdetak 2 kali lebih cepat.


Otak Isa dihantui oleh pikiran – pikiran tentang suaminya kelak. Apakah suaminya akan menghinanya saat dia tau bahwa Isa tidak perawan lagi? Apakah suaminya akan membeberkan hal itu kepada kedua orangtua Isa dan membuat kedua orangtua Isa menjadi kecewa kepada Isa? Atau… apakah suaminya kelak akan meninggalkannya sehari setelah pernikahan mereka?


“Aku tidak akan menikah” tandas Isa sambil menghela napasnya dengan berat


“Apa? Tidak menikah? Bukannya kau sangat memimpikan keluarga kecil bahagia yang akan kau dan suamimu bangun?” tanya Debbie yang binggung dengan perkataan Isa


“Apa aku akan menikah dengan kondisiku yang seperti ini?” tanya Isa setengah putus asa


“Kondisi seperti apa?” tanya Debbie yang lagi lagi binggung dengan perkataan Isa


“Aku kehilangan keperawananku oleh lelaki yang tidak kukenal” jawab Isa sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut.


“Kau mengenalnya! Dia Lukas Serrano pemilik Bank Milleis!” interupsi Debbie.


“Yang penting… aku sudah kehilangan harta berhargaku! Aku pasti akan dianggap cela oleh suamiku kelak. Lebih baik aku tidak menikah daripada harus mendapatkan celaan dari suamiku sendiri” jelas Isa


“Damn! Darimana kau dapat teori menggelikan itu? Kukira kau adalah seseorang yang berpikir dinamis dan realis!” ucap Debbie sambil mengernyitkan dahinya


“Apa kau tidak pernah berpikir… kalau suamimu kelak, bisa saja tidak perjaka lagi?” tanya Debbie lagi


“Apa kau bisa membuktikannya?” tantang Isa dengan suara yang sendu


“Aku memang tidak bisa membuktikannya. Tapi… kemungkinan hal itu terjadi sangat besar” jawab Debbie


“Yah, kalau kau mencari suami di club” jawab Isa dengan suara yang pelan


“Apa?”


“Aku tidak akan menikah” tandas Isa


“Apakah kau ingin dicap sebagai perawan tua? Keluargamu pasti akan malu memiliki anak sepertimu!”


“Setidaknya, aku tidak perlu sakit hati dengan julukan itu. Karena… aku sudah tidak perawan lagi” ucap Isa dengan nada yang sendu


“Aish!!! Apa sekarang kau sudah memiliki phobia menikah?” tanya Debbie


“Maybe”


“Kalau begitu, kau lebih baik menikah dengan Lukas saja!” saran Debbie dengan mata berbinar.


Menikah dengan Lukas si bastard itu?


Apa Isa tidak salah dengar?


“You are crazy!” ucap Isa sambil memukul pelan lengan Debbie.


“Aku tidak gila! Bukankah saranku itu baik? Setidaknya kau akan menikah dengan seseorang yang sudah mengambil keperawananmu, jadi… kau tidak perlu merasa tercela lagi! Selain itu… mendapatkan suami yang tampan, kekar dan kaya seperti Lukas itu bukanlah hal yang mudah!” celoteh Debbie panjang lebar.


Mendengar celotehan Debbie, Isa hanya bisa memijit kepalanya yang terasa semakin pusing.


“Lebih baik kau saja yang menikah dengan dia!” sembur Isa


“Aku? Apa kau bercanda! Kau sudah tau kalau aku sekarang sedang fokus dengan targetku selanjutnya, Austin!” ucap Debbie dengan nada yang sangat semangat, terlebih saat menyebutkan nama Austin.


“Aish! Kepalaku semakin pusing!” keluh Isa sambil memijit kepalanya yang semakin berdenyut – denyut.


Debbie yang melihat Isa mengeluh sambil memijit kepalanya langsung menatap Isa dnegan terkejut. Kini, pikiran Debbie sudah melayang – layang ke hal – hal yang mungkin terjadi pada Isa saat ini.


Dup!


Debbie memegang kedua lengan Isa dengan kuat, sehingga kini Debbie dapat menatap mata Isa dengan intens. Dan tentunya, perlakuan Debbie itu membuat Isa merasa aneh.


“Ada apa?” tanya Isa sambil menatap aneh ke arah Debbie yang sedang menatapnya dengan intens.


“Apa kepalamu terasa pening?” tanya Debbie dengan intens


“Eumh… ya… sedikit” jawab Isa dengan suara yang pelan


“Isa… sepertinya kau sedang hamil” ucap Debbie lamat – lamat dengan matanya yang berbinar – binar


“Hah?” tanya Isa binggung. Isa ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


“Kau sedang hamil!” ulang Debbie dengan bersemangat sambil menggoncang lengan Isa dengan kuat.


“Apa? Hamil?!” tanya Isa binggung


“Iya!!! Selamat!” ucap Debbie bahagia sambil memeluk tubuh Isa

__ADS_1


Semua terjadi begitu cepat.


Dengan kuat, Isa mendorong tubuh Debbie yang memeluknya


“Apa yang kau bicarakan?!? Apa kehamilan seseorang bisa langsung terlihat dalam waktu kurang dari 24 jam sesudah dia bersetubuh? Teori macam apa itu!” ucap Isa dengan kesal.


“Aish!! Kepalamu yang pening sudah menjadi salah satu tandanya. Apa kita harus membeli test pack agar kau lebih yakin?” tanya Debbie sambil menggengam tangan Isa.


“Aku tidak hamil! Aku hanya sakit kepala, itu saja!” ucap Isa sambil menarik tangannya dari genggaman Debbie.


Debbie yang mendengar perkataan Isa hanya memutar bola matanya dengan kesal. Kenapa dia bisa memiliki seorang sahabat yang sangat keras kepala seperti Isa?


“Aku mau pulang” ucap Isa sambil bangkit dari duduknya


“Eh… cepat sekali?” tanya Debbie sambil menatap Isa yang kini sudah bangkit berdiri


“Aku ingin mandi dan tidur! Badanku terasa sangat lengket dan pegal” jawab Isa


“Baiklah, terserahmu! Hati – hati di jalan” ucap Debbie sambil tersenyum senang.


Isa memilih mengabaikan wajah sahabatnya itu, yang tentunya pasti akan membuat kepalanya semakin sakit.


Bercerita kepada Debbie memanglah pilihan terakhir yang akan dilakukan oleh Isa, apalagi menceritakan masalah pribadi. Tapi, kalian pasti tau bagaimana rasanya menjadi seseorang yang menyimpan sebuah rahasia yang berat. Isa juga merasakan hal yang sama. Rasa tidak tenang selalu menghampiri Isa, meskipun Isa berusaha untuk berlari dari rahasia itu.


Dengan langkah tegar, Isa meninggalkan kawasan perumahan Isa. Kini, Isa harus pulang ke rumahnya. Isa yakin, bahwa saat ini sudah tidak ada lagi orang di rumahnya. Mengingat kedua orang tuanya pasti sudah pergi bekerja dan adiknya pasti sudah pergi ke sekolah.


Isa memutuskan untuk menaiki taksi menuju ke rumahnya.


Selama di perjalanan, pikiran Isa selalu tertuju dengan perkataan Debbie. Apa Isa benar – benar hamil?


Hal itu tidak bisa dipastikan dengan benar! Isa dan Luke baru berhubungan badan dalam waktu kurang dari 24 jam yang lalu. Selain itu, rasa pening yang dialami oleh Isa bukan karena pengaruh kehamilan, tapi karena segala masalah yang menimpanya.


Tapi… bagaimana jika itu semua benar? Isa benar – benar hamil. Mengingat, Isa tidak menemukan bungkus pengaman pria maupun bekas pengaman pria di kamar hotel tersebut.


Semua pemikiran itu membuat kepala Isa semakin sakit. Kenapa dia begitu sial dalam beberapa hari ini?


Jika Isa saat ini benar – benar hamil, Isa pasti akan menjadi aib keluarganya. Kedua orangtuanya akan kecewa kepadanya. Namun, apapun yang terjadi… Isa tidak akan pernah mau menggugurkan darah dagingnya sendiri.


“Apa kau benar – benar ada disana?” tanya Isa dengan suara yang kecil sambil menatap perut datarnya yang dilapisi oleh sebuah jaket big size yang didapatnya dari kamar hotel


Isa tersenyum kecil dan meletakkan tangannya di atas perutnya dan mengusap kecil perutnya.


“Kalau kau benar – benar ada, mommy akan selalu menjagamu” ucap Isa sambil tersenyum kecil


Tak perlu waktu lama, kini Isa sudah sampai di rumahnya.


Isa menghela napasnya saat melihat kondisi rumahnya yang terlihat sepi. Nampaknya, kedua orangtuanya dan adiknya sudah pergi.


Tanpa memperdulikan keadaan sekeliling, Isa berjalan lurus menuju ke rumahnya.


Saat memutar knop pintu rumahnya, Isa baru menyadari bahwa pintunya terkunci. Isa kemudian mencari kunci pintu rumahnya, yang biasanya diselipkan oleh kedua orangtuanya di bawah salah satu pot bunga.


Kini, Isa memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang kunci di pintu rumahnya.


Namun…


Pluk!


Sebuah tangan tiba – tiba memeluk Isa dari belakang dengan posesif. Hal itu membuat tubuh Isa menegang.


“Apa kau tidak tau sudah berapa lama aku menunggumu disini?” ucap Luke sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Isa yang tertutupi oleh jaket.


“Let me go!” ucap Isa sambil menjauhkan tubuhnya dari Luke.


“Kau harus membayar semua ini! Aku sudah sangat lelah menunggumu sedari tadi” ucap Luke dengan nada manja.


Isa hanya mengabaikan ucapan Luke dan menjauhkan dirinya dari Luke.


Luke yang sadar bahwa Isa menjauhi dirinya, langsung memeluk perut ramping Isa dengan kuat.


“Lepaskan aku!” ucap Isa kesal


“Tidak mau”


“Lepaskan aku! Aku ingin membuka pintu!” ucap Isa gelisah.


Kini, pikiran Isa berkecamuk. Isa sangat takut jika nanti ada orang lain yang melihat mereka dalam posisi yang lengket seperti itu. Isa sangat yakin bahwa orang yang melihat hal tersebut pasti akan langsung melapor kepada orangtua Isa dan dalam seketika, Isa akan menjadi topik pembicaraan hangat.


Ceklek!


Dengan bersusah payah, akhirnya Isa dapat membuka pintu.


“Ayo masuk!” ucap Isa dengan ogah.


Sebenarnya, Isa tidak ingin mengajak Luke untuk masuk ke rumahnya. Namun, Isa tidak ingin ada orang lain yang melihat mereka berdua.


“Eumh…” jawab Luke dengan manja tanpa melepas pelukannya.


Isa memasuki rumahnya dengan perasaan kesal. Bagaimana dia tidak kesal? Kalau sedari tadi, perutnya tidak lepas dari lilitan pria bastard itu?


“Lepaskan aku!” ucap Isa dengan sangar saat dia sudah memasuki rumah.


“Enggak mau” jawab Luke dengan manja.


Isa mengernyitkan dahinya dan menatap Luke dengan tatapan aneh. Badannya saja yang sangat kekar, namun perilakunya seperti anak – anak yang masih duduk di bangku kindergarten.

__ADS_1


“Lepaskan aku!” ucap Isa sambil memukul tangan Luke yang melilit perutnya dengan kuat.


Luke yang mendapat serangan itu hanya tertawa kecil. Pukulan – pukulan yang dilayangkan oleh Isa sungguh tidak berarti apa – apa untuk Luke.


Isa yang menyadari hal itu langsung menggigit lengan Luke dengan kuat.


“Aaarggghhh!!!” teriak Luke dengan spontan sambil menarik tangannya yang sedari tadi melilit perut Isa.


“Rasain! Blek!” ejek Isa sambil menjulurkan lidahnya.


Ingin rasanya Isa tertawa sangat kuat saat dia melihat wajah Luke yang menahan kesakitan. Sepertinya, gigitan Isa memiliki dampak yang sangat kuat untuk pria bastard itu.


“How dare you!” ucap Luke dengan tajam sambil menatap Isa dengan tatapan yang dalam.


Siaga satu!


Isa langsung berlari dari tempatnya.


“Hei! Mau kemana kau, little girl!” ucap Luke sambil ikut berlari mengejar Isa.


Pluk!


Baru saja Isa merasakan kakinya sedang berlari di atas lantai, kini Isa merasakan tubuhnya sudah melayang.


“Apa yang kau lakukan, hah?!” teriak Isa dengan kencang saat menyadari bahwa saat ini tubuhnya sudah berada di bahu Isa. Ya, saat ini Isa sedang digendong oleh Luke dengan cara menggendong karung beras.


Plak!


Luke memukul bo**ng Isa dengan gemas, karena kaki wanita itu selalu bergerak – gerak tak tentu arah dan menunjang – nunjang udara.


“Shut up!” ucap Luke


“Lepas!!!” ucap Isa sambil bergerak – gerak gelisah.


“Dimana kamarmu?” tanya Luke sambil berjalan mengitari rumah kecil Isa.


Isa hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Luke. Bisa gawat kalau dia menjawab pertanyaan Luke itu.


“Owh, tidak mau menjawab” ucap Luke dengan nada yang dingin.


Tanpa memperdulikan apapun, Luke menendang pintu kayu salah satu kamar yang dilihatnya.


“Apa yang kau lakukan!!! Bagaimana jika pintu itu rusak!!!” sembur Isa sambil bergerak gelisah dalam gendongan Luke


“Biarkan saja rusak!! Itu bukan pintu ku, kok” ucap Luke dengan mudah.


Kemudian Luke berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Dan betapa sialnya Isa, ternyata kamar yang mereka masuki adalah kamar Isa.


Bugh!


Luke melempar Isa dengan kasar ke atas kasur dan langsung menindih tubuh mungil Isa.


Apa kejadian semalam akan terulang lagi?


Pikiran itu membuat Isa menjadi tidak nyaman. Ingin rasanya Isa melarikan diri dari kungkungan pria bastard itu.


“Lepaskan aku!!!” ucap Isa sambil menggerak – gerakkan kakinya tak tentu arah


“Gadis kecil nakal!!” ucap Luke sambil tersenyum kecil dan mengunci kaki Isa agar tidak bergerak – gerak lagi


Kini, tangan Luke sudah mulai menginvasi tubuh Isa. Isa terbuai dengan perlakuan Luke itu. Namun, sebelum mereka berbuat jauh, kesadaran Isa langsung kembali dengan penuh. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


“Lepaskan aku!!! Bastard!!!” teriak Isa dengan kuat


Luke hanya mengabaikan teriakan Isa. Luke juga tidak memikirkan apakah ada orang lain yang mendengar mereka atau tidak. Yang terpenting bagi Luke sekarang adalah menuntaskan segalanya.


“Lepaskan aku!!!” ucap Isa lagi saat Luke sudah berhasil membuka seluruh pakaian atas Isa.


Lagi\, Luke mengabaikan ucapan Isa dan terus menghujami tubuh Isa dengan ke***an – ke***an basah.


Isa tidak tahan lagi dengan perlakuan Luke. Isa merasa bahwa saat ini dirinya sedang dipe***sa. Ingin rasanya Isa menangis\, Isa sudah tidak kuat lagi menghadapi semua masalah yang bergantian.


Hiks.. hiks..


Akhirnya, seluruh tangis yang dipendam oleh Isa keluar juga.


“Isa? Apa yang terjadi?” tanya Luke dengan suara yang pelan dan melembut sambil menarik dirinya dari Isa.


Isa yang mendengar perkataan lembut Luke semakin mengencangkan tangisannya. Isa tak tau apa alasannya, tapi… saat ini Isa benar – benar butuh mengeluarkan seluruh air matanya.


“Shhh… aku ada disini. Everything will be alright” ucap Luke dengan lembut sambil menarik Isa ke pelukannya.


Isa yang mendengar perkataan Luke itu semakin menangis dengan kencang, kini… Isa bahkan meraung dalam tangisnya.


Dengan cepat, Luke langsung menarik tubuh Isa kedalam pelukannya. Luke ingin, Isa membagi tangisannya kepada Luke.


“Apa yang terjadi, huh?” tanya Luke dengan lembut sambil mengelus pelan puncak kepala Isa


“Aku sudah kehilangan mahkota berhargaku. Apakah aku sekarang sudah sama seperti seorang ******?”


 


 


**Mau tanya dund\, karakter favorit kalian di cerita ini siapa? dan apa alasannya?. Jangan lupa like dan komen ya\, karena itu adalah vitamin cerita ini**

__ADS_1


 


 


__ADS_2