
Tes.
Air mata Isa menetes setelah ia menutup panggilannya dengan Luke secara sepihak.
Ternyata, apa yang dikatakan wanita itu memang benar.
Flashback On.
“Aku bukan penghangat ranjangnya” ucap Isa sambil tersenyum kikuk.
Meskipun mereka telah beberapa kali melakukan penyatuan, bukan berarti bahwa Isa adalah penghangat ranjangnya semata. Saat ini, mereka sudah bertunangan. Isa adalah tunangan Luke dan Luke adalah tunangan Isa.
“So…?” tanya wanita itu dengan malas
“Aku tunangan Luke” jawab Isa sambil tersenyum kecil
“What?!?” ucap wanita itu terkejut, bahkan kedua bola matanya seperti hendak keluar dari tempatnya
“Iya” jawab Isa seadanya
“Kau pasti sedang menipuku kan?” tanya wanita itu tak percaya
“Aku tidak menipumu. Aku bahkan sudah memiliki cincin pertunangan dengannya” jawab Isa jujur sambil mengangkat tangan kirinya.
Wanita itu mengganga saat melihat jari manis Isa yang sudah dihiasi dengan sebuah cincin berlian yang nampaknya sangat mahal dan yang membuat wanita itu semakin mengganga adalah ukiran nama Lukas dan Isa yang menghiasi cincin itu.
“God! Apa kau gila?” tanya wanita itu sambil menggeleng – gelengkan kepalanya dengan pelan
“Gila? Kenapa?” tanya Isa binggung
Wanita itu memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Isa rasa, dirinya semakin binggung dengan situasi seperti ini.
“Eumh… aku sangat kasihan denganmu. Kau sangat polos. Apakah kau tidak mengenal bagaimana sifat Lukas?” tanya wanita itu sambil menatap Isa dengan tatapan dalam
“Aku tau sifat Luke”
“Kalau begitu, bagaimana sifatnya?” tanya wanita itu sambil menaikkan satu alisnya
Untuk seperkian detik, lidah Isa terasa kelu. Ia tidak tau apa yang harus diucapkannya kepada wanita itu saat ini. Apakah ia harus berbohong atau berkata jujur?
“Luke…. Dia… baik tapi sedikit memaksa” jawab Isa sambil tersenyum kecil
“Lalu?”
“Lalu?” tanya Isa balik sambil menatap wanita itu dengan binggung
Wanita itu menghela napasnya dengan kasar
“Kumohon, lebih baik kau membatalkan pertunanganmu dengan Lukas. Bukan karena aku cemburu atau tidak suka dengan hubungan kalian, tapi ini demi kebaikanmu sendiri. Dengarkan aku. Aku sudah mengenal Lukas sejak kuliah. Dia adalah tipe pria player yang sangat suka berganti teman tidur, dia bahkan pernah menghamili wanita yang ditidurinya namun ia tidak mau bertanggung jawab, dia juga memiliki 2 mantan tunangan. Lukas berbahaya untukmu” jelas wanita itu dengan panjang.
Isa hanya diam membisu mendengar ucapan wanita itu. Jujur, perkataan wanita itu membuat Isa terkejut, yang Isa tau tentang Luke hanya mengenai sifat Luke yang suka bergonta – ganti pasangan, selain itu… Isa tidak mengetahui apa – apa lagi tentang Luke.
Ingin Isa mempercayai perkataan wanita itu, namun, lebih baik jika Isa mendengar semua kebenaran dari mulut Luke secara langsung.
“Maaf… aku tidak bisa mempercayai perkataanmu, aku percaya kepada Luke. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu” ucap Isa sambil tersenyum
“Aish… dengarkan aku. Namaku adalah Emily Gross, aku adalah teman satu perkuliahan Lukas, yah… walaupun dia tidak mengenalku. Meskipun dia tidak mengenalku, aku mengenal sifat dan kebiasaan Lukas, karena Lukas adalah salah satu orang yang terkenal di tempat kuliah kami. So… apa kau masih tidak percaya denganku?” tanya wanita itu, Emily.
Isa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum
Melihat respon Isa, Emily hanya mengernyit binggung dan menatap Isa dengan tatapan aneh.
“Fine! Jika kau tidak percaya denganku, aku juga tidak akan memaksamu. Tapi perlu satu hal yang kau ketahui, salah satu mantan tunangan Luke berada di Los Angeles, dia bernama Aurora Smith. Aurora atau Ara ini adalah wanita yang sangat disayangi oleh Luke. Aku harap kau dapat tetap menjaga hati Luke agar tidak berpindah darimu” ucap Emily sambil menatap Isa dengan tatapan mengasihaninya.
Ara?
Isa mengernyit saat mendengar nama itu. Nama itu sangat familiar!
Setelah berhasil mengingat – ingat nama itu, akhirnya Isa menyadari bahwa nama itu adalah nama yang sering digumamkan oleh Luke disaat Luke sedang tidur, dulu.
Jantung Isa berdegup dengan kencang.
Apakah semua yang sedari tadi dikatakan Emily kepadanya adalah sebuah kebenaran? Isa hanya berharap bahwa apa yang dikatakan Emily tadi hanya sebuah bualan semata saja.
__ADS_1
“Tanpa kau katakan pun, aku akan tetap berusaha menjaganya agar tidak berpaling dariku” ucap Isa sambil tersenyum
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan berpamitan” ucap Emily
“Apakah kau datang kesini hanya untuk mengatakan hal itu?” tanya Isa binggung
“Tidak. Awalnya, aku datang kesini untuk menggoda Lukas agar dia menjadi kekasihku. Namun saat mendengar bahwa dia sudah bertunangan denganmu, aku mengurungkan niatku.” Jawab Emily dengan gambling tanpa memperdulikan Isa, yang notabenenya adalah tunangan Luke
“Kurasa… jika Lukas sudah available lagi, aku akan melancarkan aksiku” lanjut Emily sambil mengendikan bahunya
Isa hanya tersenyum kikuk saat mendengar ucapan Emily yang terlalu blak blakan.
Flashback off.
Kini, Isa nampaknya sudah mulai mempercayai ucapan Emily beberapa hari yang lalu.
Suara wanita yang baru saja di dengar Luke saat melakukan panggilan dengan Isa tadi, semakin menguatkan rasa percaya Isa kepada Emily.
Isa menghela napasnya dengan kasar.
Dia sangat binggung saat ini. Dia butuh seseorang sebagai tempat berkeluh kesahnya.
Dengan perasaan bimbang, Isa menghidupkan ponselnya dan membuka daftar kontaknya. Ia terus menggulirkan daftar kontaknya sampai akhirnya dia menemukan satu nama. Emily.
Sebelum menekan tombol memanggil, Isa sempat bimbang.
Jika Isa bertanya tentang Luke kepada Emily, pasti Emily akan meledeknya. Selain itu, jika dia melakukan hal itu, itu sama saja dengan Isa yang meragukan hubungannya dengan Luke.
Tapi, melihat apa yang baru saja terjadi, rasa penasaran Isa tidak dapat terbendung lagi.
Pip.
Isa menekan tombol memanggil.
Tak perlu menunggu waktu lama, panggilan Isa sudah diangkat oleh Emily.
“Hai? Apa kau sudah berubah pikiran?” tanya Emily tanpa basa – basi saat Emily mengangkat panggilan Isa.
“Ya” jawab Isa pendek sambil memejamkan matanya sebentar
“Kau tentukan saja, kemudian kirim lokasinya kepadaku. Aku akan datang dalam waktu setengah jam” ucap Isa tanpa berpikir panjang
“Oh, baiklah. Aku akan mengirmkan lokasinya kepadamu. Bye, sampai jumpa”
Tut.
Panggilan diputus oleh Emily.
Isa menghela napasnya dengan kasar.
Maafkan aku Luke, tapi aku tak punya cara lain.
Tak ingin membuang – buang banyak waktu, Isa langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak perlu berlama – lama, Isa kini telah menyelesaikan mandinya dan telah berpakaian rapi. Saat ini, Isa mengenakan sebuah floral dress berwarna biru tanpa lengan yang panjangnya sampai selutut. Untuk mempercantik dirinya, Isa memutuskan untuk memoles wajahnya dengan make up tipis. Selain untuk mempercantik dirinya, Isa juga menggunakan make up untuk menutupi matanya yang terlihat sembab karena dirinya baru saja menangis.
Saat Isa merasa dirinya telah cantik, ia langsung keluar dari kamarnya.
Plak!
Isa memukul dahinya saat ia baru saja mengingat salah satu peraturan di rumah ini.
“Shit! Kenapa aku bisa lupa? Bagi mereka, aku ini hanya tahanan rumah. Bagaimana aku bisa keluar?” tanya Isa pada dirinya sendiri sambil menggigit bibirnya
“Bagaimana ini?” keluh Isa pada dirinya sendiri.
Isa tidak mungkin membatalkan janjinya dengan Emily sesuka hatinya, terlebih, Isa adalah pihak yang meminta mereka bertemu. Pasti tidak sopan rasanya jika Isa membatalkan janjinya.
“Isa, ayo pikirkan sebuah ide! Ayo, ayo! Otak, ayolah bekerja!” rutuk Isa sambil memukul pelan kepalanya.
Hingga sebuah ide terlintas di kepalanya.
Baiklah, Isa akan mencoba menjadi nyonya besar yang tidak bisa dilarang kali ini.
__ADS_1
“Aku pasti bisa!” ucap Isa untuk menyemangati dirinya.
Isa menegakkan punggungnya dan menggangkat kepalanya, attitude itu membuat Isa terkesan seperti seorang nyonya besar yang sangat angkuh.
“Nona, anda hendak kemana?” tanya seorang maid yang melihat Isa
“Keluar” jawab Isa pendek
Maid tersebut mengernyit binggung. Apa yang terjadi dengan nyonya nya ini?
“Maaf nona, tapi anda tidak bisa keluar. Tuan Lukas telah melarang anda untuk keluar selama tuan masih di Los Angeles” larang maid tersebut dengan sopan.
Ingin rasanya Isa mengungkapkan kekesalannya. Tapi, ia harus menjaga imagenya saat ini, dia tidak boleh menyerah.
“Apa kau ingin melihat aku mati disini?” tanya Isa sambil memutar bola matanya dengan malas
“Tap---
“Telponkan tuan Lukas mu itu! Aku ingin berbicara kepadanya!” ucap Isa dengan garang.
Maid tersebut sempat terkejut dengan ucapan Isa yang terdengar garang, tapi maid tersebut hanya diam dan melakukan perintah Isa.
“Ini, nona” ucap maid tersebut sambil menyerahkan ponselnya yang nampaknya sedang menghubungi Luke.
“Ha---
“Aku ingin keluar. Suruh para pelayanmu untuk membiarkan aku pergi” potong Isa dengan cepat dan nada yang dingin.
“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?” tanya Luke dengan nada yang sendu tanpa memperhatikan ucapan Isa yang baru saja di dengarnya
Isa hampir saja terenyuh.
Tidak, ini tidak boleh terjadi.
“Tuan Lukas Averanno Serrano, kenapa kau mengahlihkan topik pembicaraan? Cepat suruh para pelayanmu ini untuk menyingkir dari jalanku” ulang Isa dengan nada yang dingin
“Isa… jangan seperti ini. Apakah kau akan meninggalkanku? Kau bahkan belum memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini? Berhentilah bersikap egois” ucap Luke
Isa mengepalkan tangannya dengan erat.
Egois? Siapa sebenarnya disini yang egois?
“Aku tidak meninggalkanmu, tapi… jika kau tidak mengizinkan ku untuk keluar, mungkin aku akan meninggalkanmu” ucap Isa dengan dingin.
Hening.
“Baiklah, kau bisa keluar. Hanya sekali ini saja!” tandas Luke
Dengan sekuat tenaga, Isa menyembunyikan senyumannya. Ia merasa sangat senang saat ini. Akhirnya, Isa bisa keluar rumah lagi.
“Terimakasih” ucap Isa dengan pendek
Lalu, Isa memutus panggilan tersebut.
“Tuanmu sudah memberikanku izin, sekarang… biarkan aku pergi” ucap Isa dengan dingin kepada maid yang sedari tadi menghalangi langkahnya
“Baik nona” ucap maid tersebut sambil menyingkir dari jalannya
.
.
.
.
.
Makasih sudah mau membaca.
Kalau part ini nembus 100 like, di jadwal up selanjutnya bakal double up, lho...
__ADS_1