
Hari ini adalah hari kepulangan Luke.
Andaikan saja Isa tidak memiliki masalah dengan Luke tempo hari, pasti saat ini, Isa akan merasakan rasa senang yang sangat luar biasa.
“Huft”
Isa menghela napasnya dengan kasar.
Kedua bola mata hazelnya tidak pernah terahlihkan dari jam digital yang berada di kamarnya.
Sekarang sudah pukul 03.27 PM.
Menurut perkiraan Isa, Luke akan sampai di Paris pada sekitar pukul 03.57 PM. Namun, Isa yakin, Luke bisa datang lebih cepat. Secara, dia memiliki jet pribadi sehingga ia tidak perlu repot repot memikirkan orang lain.
Memikirkan kedatangan Luke, membuat hati Isa resah.
Apakah hubungan mereka akan tetap sama?
Krieet…
Suara dorongan pintu kamarnya membuat Isa tersentak dari pikirannya. Tak perlu melihat siapa yang mendorong pintu itu, Isa yakin 100% bahwa orang itu adalah Luke. Siapa lagi orang di penthouse Luke ini yang berani memasuki kamar Isa tanpa mengetuk, jika bukan Luke?
“Tenanglah Isa” ucap Isa dalam hatinya sambil memejamkan matanya. Saat ini, pura – pura tertidur adalah opsi yang terbaik.
Degup jantung Isa semakin menjadi saat dia mendengar langkah kaki Luke yang semakin kuat di indra pendengarannya.
Isa semakin menutup matanya dengan kuat dan mengapalkan berbagai macam doa di dalam hatinya agar Luke tidak menyadari bahwa dirinya tengah berpura – pura tidur.
Tiba – tiba, Isa merasa bahwa sisi disebelah tempat tidurnya bergerak. Selain itu, selimut yang dipakainya juga bergerak.
Pluk!
Tangan kekar Luke memeluk tubuh ramping Isa dari samping.
“Shit!” maki Isa dalam hati.
Jika sudah seperti ini, degupan jantung Isa sudah tidak dapat dikontrolnya. Lengah sedikit saja, Isa akan kembali melupakan masalahnya dengan Luke. Itu tidak boleh dibiarkan! Isa masih marah kepada Luke.
“Isa… apakah kau tau? I miss you so much” ucap Luke sambil memberikan kecupan – kecupan kecil di leher jenjang Isa.
Isa menahan dirinya mati – matian untuk tidak bergerak dan tetap dalam posisi pura – pura tidurnya.
“Aku sangat lelah. Aku sangat lelah menghadapi pekerjaanku dan… masa laluku” lanjut Luke sambil menghentikan serangan kecupan bertubi – tubinya.
__ADS_1
“Isa… jangan meninggalkan ku. Aku sangat mencintaimu, aku bisa gila jika kau juga meninggalkanku seperti yang dilakukan oleh Aurora” ucap Luke sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher jenjang milik Isa.
Ada perasaan lega dan senang di hati Isa saat mendengar hal itu. Ya, mendengar pengakuan cinta dari mulut Luke. Meskipun Luke sangat sering mengucapkan kalimat ‘I Love You’ kepada Isa, namun perasaan Isa tidak pernah berubah. Hatinya akan tetap merasa sangat senang jika Luke mengatakan hal itu kepadanya.
Namun, saat mendengar nama Aurora disebut. Tak ayal, perasaan itu hampir saja hilang.
“Aku tau kau masih bangun! Aktingmu sangat buruk sekali nyonya Serrano”
Mendengar ucapan Luke itu, Isa tersentak dan membuka matanya,
“Berhentilah berpura – pura. Jangan menghindariku. Kau tau, aku sangat merindukan wajahmu, suaramu, senyummu” ucap Luke sambil menarik pundak Isa sehingga saat ini posisi Isa menghadap tubuhnya.
Saat dirinya sudah menghadap ke arah Luke. Isa langsung mengahlihkan pandangannya ke tempat lain. Untuk saat ini, dia tidak boleh jatuh ke dalam perangkap pesona Luke!
“Hei… apakah kau sedang marah kepadaku, eumh?” tanya Luke lembut sambil menarik dagu Isa agar Isa menatap dirinya.
“Pikirkan saja sendiri!” ucap Isa dengan ketus sambil menarik dagunya dari tangan kekar Luke dengan kasar.
Melihat kemarahan Isa, Luke tersenyum kecil.
“Astaga… ternyata tunanganku ini sedang marah kepadaku. Kira – kira, apa yang harus kulakukan yah untuk menenangkannya?” ucap Luke kepada dirinya sendiri sambil menatap wajah kesal milik Isa.
“Jelaskan segala kejadian di Los Angeles, bastard!” ucap Isa di dalam hati dengan geram. Namun, dia tidak berani mengungkapkan hal itu kepada Luke.
Isa membalas tatapan menggoda itu dengan tatapan terkejut. Apakah pria di hadapannya ini tidak berniat untuk meluruskan segala kesalah pahaman yang ada? Seperti yang biasanya dilakukan oleh seorang pria saat hubungannya dengan wanitanya terdapat masalah.
Cup!
Isa merasakan bibir Luke menempel di bibirnya. Ah, Isa sangat merindukan bibir ini.
Awalnya, bibir mereka hanya saling menempel saja. Hingga akhirnya, Luke memutuskan untuk menggerakan bibirnya. Bibir Luke mengulum dan menghisap bibir Isa. Awlanya, ciuman itu adalah ciuman yang lembut, hingga, tiba – tiba, ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menuntut dan panas.
Kini, tubuh Luke sudah berada di atas tubuh Isa.
Saat bibirnya sibuk memabukkan Isa, kedua tangannya tidak tinggal diam. Kedua tangannya bergerak lincah untuk menyiksa Isa dalam kenikmatan dunia itu.
Deg.
Awalnya, Isa sangat menikmati permainan itu bahkan dia hampir jatuh ke dalam permainan itu. Hingga akhirnya Isa tersadar.
“Stop it, Luke!” ucap Isa sambil menahan tangan kekar Luke yang sudah menarik setengah kaos Isa.
Luke menghentikan aksinya dan menatap Isa dengan sebuah kernyitan di dahinya
__ADS_1
“But… why? Bukannya kau juga menginginkannya? Kita sama sama menginginkannya, tidak ada yang salah dengan itu” ucap Luke binggung
“Aku… aku sedang tidak dalam mood yang baik” dalih Isa sambil mengahlihkan pandangannya dari wajah Luke.
“So… kau benar – benar marah kepadaku?” tanya Luke dengan nada yang dingin sambil menyugar rambutnya
Isa hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Luke itu.
“Isa… apa lagi yang harus kujelaskan kepadamu? Aku sudah menjelaskan semuanya!” ucap Luke frustasi sambil menekan kedua bahu Isa.
“Malam itu, aku merasa tertekan karena aku menghadapi sebuah masalah. Tanpa pikir panjang, aku pergi ke club. Aku mabuk. Saat aku terbangun, aku sudah melihat seorang ****** di sampingku. Tentu saja aku terkejut dan merasa menyesal! Sungguh, itu semua diluar kendaliku!” terang Luke meskipun Isa tidak memintanya.
Isa yang mendengar penjelasan Luke hanya diam membisu dan menatap mata biru milik Luke dengan lekat, seolah – olah ia tengah mencari keraguan di mata Luke. Namun, Isa tidak mendapatkan keraguan itu.
“Isa… tolong, percayalah kepadaku. Aku tidak ingin hubungan kita rusak hanya karena sebuah kesalahpahaman” ucap Luke sendu sambil membelai lembut wajah Isa.
Isa menghela napasnya. Dia sudah tidak kuat lagi. Dia sudah terjatuh lagi ke dalam pesona Luke untuk yang kesekian kalinya.
“Ya” ucap Isa pendek
“Eumh? Apa?” tanya Luke yang tidak mendengar ucapan pendek milik Isa yang baru saja diucapkan oleh Isa.
“Aku memaafkanmu” ucap Isa sambil tersenyum tulus dan memegang tangan besar Luke yang menangkup wajah mungilnya
“Benarkah?” tanya Luke tidak percaya
Isa tersenyum geli dan menggangguk – anggukan kepalanya berulang – ulang.
Tindakannya itu membuat Luke merasa gemas dan tak tahan untuk mencium pipi berisi milik Isa.
“Thank you! Thank you so much, my little girl!” ucap Luke sambil menghujani kecupan kecupan gemas di kedua pipi milik Isa
“Luke, stop it!” ucap Isa setengah tertawa
.
.
.
.
.
__ADS_1
Siapa nih yang senang mereka balikan?