Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 24


__ADS_3

“Luke, terimakasih untuk hari ini” ucap Isa sambil tersenyum manis ke arah Luke.


Setelah menghabiskan waktu seharian penuh bersama – sama, sesuai janjinya, Luke langsung mengantar Isa pulang ke rumah Isa.


Kini, mereka berdua tepat berada di halaman rumah Isa yang tidak terlalu lebar.


“Seharusnya aku yang berterimakasih. Jika tidak ada dirimu, mungkin aku tidak akan pernah merasa sebahagia ini” ucap Luke sambil mengelus lembut puncak rambut Isa.


Luke menarik badan Isa dengan kedua tangannya agar badan Isa semakin menempel dengan tubuhnya.


“Luke, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Isa sambil menundukkan kepalanya di dada bidang milik Luke.


“Tentu saja aku ingin memberikan kiss bye untuk calon istriku” goda Luke sambil menampilkan senyum menggodanya.


“Ini tempat umum”


“Jadi… apa masalahnya kalau ini adalah tempat umum? Pont des Amours juga tempat umum, tapi kita berciuman disana”


“Disini dan disana beda. Disana tidak ada orang tuaku yang mungkin akan memergoki kita, sedangkan disini? Mungkin saja, kini kedua orangtuaku tengah mengintip kita dibalik gorden di jendela ruang tamu” ucap Isa sambil tersenyum jahil.


“Aish… sepertinya lain kali aku harus menculikmu dahulu, baru aku bisa menikmati ciumanmu” goda Luke sambil menyentuh bibir kenyal milik Isa dengan lembut.


“Ekhem…!”


Sebuah suara deheman yang sangat dikenali oleh Isa membuat Isa dengan refleks menjauhkan tubuhnya dari tubuh Luke.


“Ayah” ucap Isa dengan samar saat melihat ayahnya sedang menatap dirinya dan Luke secara bergantian.


Isa merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga imagenya sebagai seorang anak sulung yang baik di hadapan ayahnya.


“Selamat malam tuan” sapa Luke dengan ramah sambil membungkukan badannya sekilas.


“Selamat malam” jawab ayah Isa dengan nada suara yang dingin.


Mendengar suara dingin milik ayahnya, Isa langsung menelan ludahnya dengan kasar. Bila diperhatikan dengan baik – baik, kini wajah Isa sudah berubah warna menjadi pucat pasi. Sesekali, Isa membasahi bibirnya yang kering karena rasa gugup yang luar biasa.


“Darimana saja kau beberapa hari ini…?” tanya ayah Isa sambil melempar tatapan penuh menyelidiknya kepada Isa.


“A—aku baru saja melakukan pekerjaan darurat di luar kota” jawab Isa dengan suara yang tergagap tanpa menatap wajah ayahnya. Isa tau, jika dia menatap wajah ayahnya, pasti dirinya tidak akan sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun.


“Kenapa kalian bisa bersama?” tanya ayah Isa sambil melemparkan tatapannya pada Luke yang sedari tadi hanya tersenyum dengan ramah.


“Bukankah sudah kewajiban dari seorang tunangan untuk menjaga pasangannya?” tanya Luke sambil tersenyum dengan ramah.


“Uhukk!!!”

__ADS_1


Isa yang mendengar ucapan Luke langsung terbatuk. Apakah Luke benar – benar ingin memberikan masalah kepadanya?


“Tunangan? Siapa?” tanya ayah Isa yang semakin binggung dengan situasi yang ada.


“Saya adalah tunangan putri anda” jawab Luke tanpa menghilangkan senyumannya dari wajahnya.


Isa memegang kepalanya yang terasa sangat berat dan pusing.


“Tunangan? Sejak kapan?”


“5 jam yang lalu” jawab Luke


“Isa! Apa kau pikir sebuah hubungan itu sangat mudah?


“Ayah… bukan seperti itu… I can explain everything” ucap Isa sambil mendekati ayahnya dan menyentuh lembut tangan ayahnya yang sudah penuh dengan kerutan – kerutan halus.


Ayah Isa menghela napasnya dan menatap Isa dengan tatapan sayunya.


Kedua tangan ayah Isa terjulur untuk menangkup wajah Isa. Senyum kecil terbit di wajah ayah Isa. Rasanya, baru kemarin Isa menangis karena tidak dibelikan boneka Barbie, namun… hari ini Isa sudah datang ke hadapannya sambil membawa tunangannya. Sungguh, mengapa waktu sangat cepat berlalu?


“Isa… ayah tidak pernah melarangmu untuk dekat dengan pria manapun, asalkan kau tetap dapat menjaga dirimu dari sex bebas” ucap ayah Isa sambil mengelus lembut puncak kepala Isa.


Isa menahan napasnya saat mendengar perkataan ayahnya. Andaikan ayahnya tau bahwa Isa sudah pernah melakukan sex, pasti ayahnya sangat kecewa dengan Isa.


Isa menggigit bibirnya dengan pelan, dia terlalu pengecut untuk mengakui segala perbuatannya selama ini kepada ayah kandungnya sendiri.


Isa yang merasa gugup langsung memilin – milin jarinya.


“Maafkan aku ayah. Ini semua terjadi begitu mendadak” jawab Isa sambil tersenyum untuk mengatasi rasa kegugupannya.


“Tuan, tolong jangan salahkan Isa tentang apa yang terjadi pada hari ini. Saya sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi saat ini” ucap Luke yang kini sudah berada tepat disamping Isa.


Ayah Isa menghela napasnya dengan kasar. Sebenarnya, dia tidak ingin ikut campur dalam masalah percintaan Isa, namun dalam beberapa konteks, peran orangtua sangat diperlukan dalam kehidupan pecintaan anak mereka agar sang anak tidak salah dalam menentukan pilihan.


“Jika tuan menggangap bahwa saya belum sah menjadi tunangan Isa. Dengan secepatnya, saya akan melamar Isa menjadi tunangan saya dihadapan keluarga Isa dan keluarga saya” jawab Luke dengan mantap


Mendengar perkataan Luke tersebut, jantung Isa langsung berdebar dengan cepat. Rasanya ada sebuah rasa senang yang begitu membuncah dalam diri Isa.


“Saya ingin membuktikan pada tuan bahwa saya benar – benar ingin menjadikan Isa sebagai pendamping hidup saya” lanjut Luke dengan mantap


Ayah Isa menatap Luke dengan tatapan intens. Saat ayah Isa menemukan pancaran kesungguhan dari kedua bola mata Luke, ayah Isa langsung menghela napasnya dengan pelan.


“Baiklah… aku mengizinkanmu untuk menjalin hubungan dengan putriku” tandas ayah Isa.


Senyum Isa langsung terbit saat mendengar ayahnya mengucapkan kalimat tersebut.

__ADS_1


“Thank you so much” ucap Isa gembira sambil memeluk tubuh ayahnya.


Ayah Isa membalas pelukan Isa dan mengelus lembut punggung putri sulungnya itu.


Melihat raut wajah bahagia milik Isa, secara otomatis, Luke langsung tersenyum lebar. Seperti ada sebuah magnet yang menarik bibirnya untuk tersenyum.


“Baiklah. Sepertinya semua kesalahpahaman sudah tiada lagi” ucap ayah Isa sambil melepaskan pelukannya dari Isa.


“Udara semakin dingin. Sebaiknya sekarang aku pulang” pamit Luke.


“Ya… berhati – hatilah” ucap Isa.


Sebelum benar – benar melangkahkan kakinya untuk meninggalkan area rumah Isa, Luke berjalan mendekati Isa.


Cup!


Bibir Luke menempel di bibir Isa. Luke tidak melakukan apapun. Luke hanya sekedar menempelkan bibirnya ke benda kenyal milik Isa tersebut.


Hal itu berlangsung sangat cepat.


“Aku pergi dulu, little girl” ucap Luke pelan sambil mengacak lembut puncak kepala Isa dan pergi meninggalkan Isa yang masih syok dengan kejadian yang dihadapinya.


Ingin rasanya saat ini Isa tenggelam ke segitiga Bermuda. Kalian bisa bayangkan betapa malunya Isa saat mendapatkan ciuman dari Luke didepan ayahnya sendiri. DI DEPAN AYAHNYA SENDIRI!!! Memang, itu hanya sebatas saling menempelkan bibir dalam waktu seperkian detik. Tapi, tetap saja Isa malu.


Ayah Isa yang melihat tingkah laku kedua sejoli itu hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya. Memang, kelakuan anak zaman sekarang berbeda dengan kelakuan anak zaman dahulu.


“Isa… apa calon tunangan mu itu benar – benar seorang resepsionis?” tanya ayah Isa dengan tiba – tiba.


“Eh…? Maksud ayah apa?” tanya Isa yang binggung dengan arah pembicaraan ayahnya.


“Jika dia hanya seorang resepsionis, kenapa dia bisa memiliki mobil dengan harga 23 triliun itu?” tanya ayah Isa sambil menatap mobil Luke yang sudah bergerak menjauhi rumah mereka.


Glek!


Isa menelan ludahnya dengan kasar.


Tamatlah riwayatnya dan Luke!!!


.


.


.


**Makasih sudah mau meluangkan waktu kalian untuk membaca cerita yang gak jelas ini. Segala komentar kalian adalah penyemangatku untuk menulis cerita ini**

__ADS_1


 


 


__ADS_2