
Drrrttt… Drrrttt… Drrrrtttt…
“Luke, ponselmu berbunyi!” teriak Isa yang saat ini masih terlihat sangat santai di depan televisi
Dengan menggunakan kaus kebesaran milik Luke sebagai atasan dan bawahannya, Isa melipat kakinya di atas sofa malas yang ada di depan televisi besar itu. Matanya menatap fokus ke acara reality show yang sangat diminatinya akhir – akhir ini, sedangkan salah satu tangannya tak henti – hentinya memasok buah – buah segar ke dalam mulutnya
Buah – buah segar itu sengaja dibuat oleh Luke agar istrinya itu dapat memakan – makanan bergizi di waktu senggangnya dibandingkan memakan makanan yang mengandung banyak bahan kimia yang tentunya tidak baik untuk perkembangan bayi mereka yang saat ini tengah bertumbuh di dalam tubuh mungil Isa
“Iya, sebentar!” Luke berteriak heboh dari dapur penthousenya
Sejak Isa mengandung, entah kenapa, seluruh tugas masak – memasak ditangguhkan kepada Luke. Bukan karena Luke tak sanggup untuk menyewa chef, namun karena itu adalah permintaan istrinya sendiri.
Luke tak tau, mengapa makanan tak berasa yang dibuatnya dapat terasa begitu enak di dalam mulut Isa.
“Lukas! Angkat! Daritadi berbunyi terus, aku jadi tak bisa mendengarkan apa yang mereka katakan!” teriak Isa tak kalah hebohnya sembari menaikkan volume televisinya dari 36 menuju 67.
Klek
Luke mematikan api kompornya. Saat ini, ia berencana untuk memasak sup ayam yang dipenuhi banyak sayuran – sayuran hijau untuk Isa. Meski sudah bermodalkan ajaran dari chef ternama yang sudah disewanya mahal – mahal untuk mengajarinya memasak, tapi Luke yakin, hasil masakannya pasti tetap tidak akan berasa.
“Hah…”
Luke menghela napasnya dengan kasar sembari melepas celemek pink kesukaan Isa yang sedari tadi menempel di tubuh kekarnya.
Dengan langkah ogah – ogahan, Luke melangkahkan kakinya menuju ke meja dekat Isa sedang duduk bersantai. Ada sedikit rasa jengkel di dalam hati Luke, ketika melihat istrinya itu bersantai – santai dan tidak mau mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya, padahal jarak antara istrinya itu dan ponsel milik Luke terbilang cukup dekat. Hanya dengan mengulurkan tangannya saja, Luke yakin bahwa Isa pasti sudah dapat meraih ponselnya itu
Tapi, Luke bisa apa? Memarahi Isa? Bisa – bisa terjadi perang dingin jika Luke melakukan hal itu.
“Halo? Ada apa?” tanya Luke to the point
“Luke…”
Deg.
“Aurora?” ucap Luke spontan saat mendengar seruan itu
Mendengar ucapan Luke itu, Isa langsung memalingkan wajahnya secepat kilat menuju ke suaminya itu
Isa mengode pada suaminya dengan mengangkat kedua alisnya tinggi – tinggi, wanita itu seolah – olah ingat bertanya apa yang sedang terjadi.
Kodean Isa itu dibalas dengan sebuah gelengan kecil yang disertai dengan kernyitan oleh Luke. Melihat respon Luke tersebut, Isa mengerucutkan bibirnya dengan kesal
“Luke, maaf aku mengganggumu. Pasti kau sedang bersama dengan Isa ya?”
“Iya, aku sedang bersama dengan Isa. Katakan, kenapa kau menelponku? Ada hal penting apa? Setelah kau meninggalkan rumah sakit tanpa memberitahukan apapun kepadaku, kukira kau tak memiliki keberanian lagi untuk menelponku” ucap Luke dengan tajam
“Luke!”
Itu bukan suara Aurora, itu adalah suara Isa. Nampaknya Isa tak suka mendengar ucapan tajam Luke itu
Luke menghela napasnya dengan kasar.
__ADS_1
“Kenapa kau menelponku?” tanya Luke dengan nada yang tidak setajam tadi
“Tolong aku… tanganku tak berhenti mengeluarkan darah…”
“Bagaimana bisa tanganmu berdarah? Apa kau mencoba untuk membunuh dirimu sendiri” ucap Luke sembari memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut. Kira – kira kapan akan tiba waktu dimana Luke tidak menjadi sandaran wanita itu lagi? Sungguh… Luke sangat menginginkan waktu itu tiba
“Hiks… Luke… tolong aku…”
Suara memilukan Aurora itu membuat hati Luke merasa resah. Detak jantungnya yang dikiranya hanya untuk Isa kini sudah terbagi lagi untuk Aurora. Luke kira, detak jantungnya untuk Aurora sudah lama mati… namun… astaga mengapa semua ini sesukar itu?
“Sekarang kau berada dimana?” tanya Luke dengan rahangnya yang sudah mengeras
“Aku berada di Apartemen Luxy nomor 16” ucap Aurora dengan suara serak khas wanita yang baru saja menangis
Luke menghela napasnya dengan kasar.
Jarak apartemen Luxy dan kawasan penthouse Luke ini bisa dibilang tidak dekat. Jika diihitung – hitung jarak dari penthouse Luke ke apartemen mewah itu memakan waktu 20 menit, jika pulang – pergi berarti 40 menit. 40 menit itu pun belum termasuk waktu dimana Luke akan melihat Aurora. Jika begini, bisa – bisa Isa tidak makan siang
“Baiklah aku akan datang kesana. Kau tunggulah aku” tandas Luke
“Benarkah? Terimakasih… kuharap kau datang dengan cepat, sedari tadi darahnya tetap mengalir” ucap Aurora yang merasa sedikit bahagia saat mendengar ucapan Luke tadi
“Apa kau sudah membalut lukamu itu?”
“Belum…” gumam Aurora
Sial*n! Perset*n!
Selain itu, agak terdengar kurang pantas jika seorang pria melontarkan kata – kata kasar seperti itu kepada seorang wanita yang tengah hamil
“Seharusnya kau membalutnya agar darahnya dapat berhenti mengalir” terang Luke berusaha bersabar
“Aku harus membalutnya dengan apa? Disini tidak ada perban kain"
“Kau bisa membalutnya dengan kausmu atau entah apa lah!” ucap Luke penuh emosi
Entah kenapa, emosi Luke kembali memuncak saat mendengar ucapan wanita itu. Apa wanita itu bodoh atau pura – pura bodoh? Untuk seorang lulusan terbaik dari universitas ternama, tentu saja kalau wanita itu sekarang sedang pura – pura bodoh.
“Luke, jangan emosi seperti itu! Nanti dia bisa menangis, ibu hamil tak boleh terlalu sering menangis”
“Diam!”
Secara tidak sadar, Luke membentak Isa. Saat ini, pikirannya sedang kacau memikirkan Aurora yang seolah – olah sedang mempermainkannya, ditambah lagi dengan ucapan Isa yang seolah – olah hendak mengatakan kalau tindakan Luke itu salah
Sungguh… Luke sangat emosi saat ini
“Kau diam! Jangan menangis! Aku akan kesana!” ucap Luke kesal pada Aurora yang sedari tadi menangis terisak – isak
Tut
Setelah mengucapkan kalimat itu, Luke langsung memutus sambungan panggilan itu dan menyimpan ponselnya ke dalam sakunya
__ADS_1
“Aku pergi ke apartemen Aurora”
“Apa separah itu?”
“Tidak tau! Sedari tadi ia menangis!” ucap Luke sembari melangkahkan kakinya untuk mencari – cari kunci mobilnya
“Lalu, makan siangku bagaimana?” tanya Isa dengan suara yang sudah terdengar parau
Luke memberhentikan langkahnya. Tangannya langsung terulur untuk mengusap kecil kepalanya yang terasa berdenyut – denyut.
Bagaimana bisa ia lupa bahwa dirinya lah orang yang bertugas untuk memasak makanan untuk Isa? Dan sekarang, dia akan pergi meninggalkan Isa tanpa memasak makanan untuk wanita itu
Astaga!
Dan tadi, Luke juga sudah meneriaki wanita itu.
“Isa… hari ini delivery dulu, ya…” ucap Luke lembut sembari melangkahkan kakinya menuju ke sofa tempat Isa tengah duduk
“Tapi bayi kita hanya menginginkan masakanmu” ucap Isa dengan suara pelannya
Luke menghela napasnya pelan.
Tangan Luke terulur untuk mengusap pelan perut Isa
“Baby, hari ini mau ya makan makanan yang dibuat orang lain? Saat ini Daddy sedang sibuk, nanti malam, Luke akan memasak makanan yang sangat enak untuk Baby. Mau ya?” tanya Luke sembari mengusap perut Isa dengan usapan sayang
“Iya Dad…” ucap Luke dengan suaranya yang dibuat seperti suara anak kecil
Senyum kecil Isa timbul.
Cup.
Luke mengec*p sayang perut Isa yang masih dibalut kaus longgar milik wanita itu
“Baik – baik, ya… Jangan buat mommy kesusahan” ucap Luke sembari menarik kepalanya dari hadapan perut Isa
Luke menegakkan tubuhnya dan…
Cup.
Pria itu mengec*p lembut dahi Isa
“Aku pergi dulu, secepat mungkin aku akan kembali. Jangan cemburu, jika bukan karena anak itu, aku tidak akan pergi” ucap Luke sembari tersenyum
“Iya….”
Tangan Luke terulur untuk mengusap lembut rambut Isa yang terlihat acak – acakan, sepertinya istrinya itu tidak menyisir rambutnya, lagi
“Aku pergi…”
__ADS_1