
“Selamat malam tuan Seranno… dan, ah, tuan Alatas” ucap Ryan dengan senyum yang menggembang di wajahnya yang dibingkai oleh sebuah kacamat hitam simple.
Luke langsung menampilkan wajah datarnya saat Ryan membuka obrolan dengan dirinya
“Apakah ini adalah honeymu, tuan Seranno? Benar – benar manis ya” ucap Ryan saat tatapannya tanpa sengaja bersiobrok dengan wajah polos Isa
Isa yang dilontarkan ucapan seperti itu lantas merinding dan binggung.
Isa akui, pria yang dihadapannya itu cukup tampan. Jas mahal yang terlihat licin, rambut hitam legam, mata hijau yang dibingkai oleh kacamata kotak simple… dibanding terlihat nerd, pria ini justru terlihat seperti pria yang berkharisma dan berwawasan tinggi.
“Perkenalkan, namaku Ryan Smith. Pemilik perusahaan Seamith” ucap Ryan sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Isa
Saat melihat tangan itu terulur kepadanya, Isa sempat ragu untuk menerima jabatan tangan pria itu. Entah kenapa, pria itu terlihat berbahaya. Apa dia benar benar Ryan Smith? Orang yang sangat dipercayai oleh Luke?
Melihat Isa yang hendak menjabat tangan Ryan, Luke langsung menepis tangan Isa dengan cepat dan menggengam tangan Isa. Rahangnya mengetat dan sorot tatapan membunuh terlihat di wajah tampan Luke.
“Namanya Issabele Caroline Rose… Dia adalah tunanganku, sebentar lagi kami akan menikah. Kuharap, tuan Smith dapat menjaga tata kramanya” ucap Luke dengan nada yang dingin
Melihat penolakan dari Luke, Ryan langsung menarik tangannya dan tersenyum kecut
“Masih sama seperti dulu… sangat protektif. Kuharap kau tidak mengulangi kesalahan yang sama” ucap Ryan sambil menatap Luke dengan tatapan menantang
Sial!
Luke merasa dirinya telah tertipu selama ini dengan image Ryan yang pendiam dan penurut. Ternyata, kini Ryan telah menunjukkan wajah aslinya. Sialan! Bagaimana bisa Luke dapat selengah ini?
“Kakak”
Sebuah seruan dari Aurora membuat semua mata memandangnya. Semua yang berada di sana menatap Aurora dengan tatapan jengah, hanya Isa dan Ryan yang menatapnya dengan tatapan senang.
“Kakak… aku sudah mencarimu dari tadi” ucap Aurora manja sambil bergelayut di lengan kakaknya.
“Eh… apa kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius?” tanya Aurora sambil menyadari bahwa dia mendapati tatapan tidak menyenangkan dari Luke, Austin dan Debbie.
“Tidak, Ara. Kami hanya sedikit bernostalgia dengan kejadian masa lalu” ucap Ryan sambil mengelus lembut surai hitam legam adiknya
Isa tersenyum kecil saat melihat interaksi diantara kedua kakak – beradik itu, ah… tiba- tiba, Isa sangat ingin memiliki seorang kakak laki – laki. Mungkin, rasanya akan menyenangkan jika kita memiliki seseorang yang sangat menyanyangi kita dan selalu melindungi kita
Namun, semua lamunan Isa tersebut buyar saat dia merasa tangan Luke yang sedang menggenggam tangannya terasa dingin. Apakah Luke sakit?
“Luke…” panggil Isa dengan suaranya yang halus
“Eumh?” tanya Luke tanpa menatap Isa. Luke masih sibuk memberikan tatapan membunuhnya kepada musuh barunya, Ryan Smith.
“Apa kau tidak apa – apa? Apa kau sedang sakit? Tanganmu dingin sekali” ucap Isa sambil menggelus – elus lembut punggung tangan Luke dengan jari jempolnya. Isa berharap dia dapat memberikan kehangatan pada tangan Luke, meskipun Isa tau bahwa hal itu mustahil.
“Aku tidak apa – apa” jawab Luke pendek
Isa mengernyit binggung. Kenapa Lukenya berubah seperti ini? Bukankah sejam yang lalu, Luke nya penuh dengan semangat dan pecicilan… kini… mengapa Luke berbeda?
Di menit kemudian, Isa merasa bahwa ada sesuatu yang salah disini. Isa mengedarkan pandangannya ke arah Austin. Pria itu terlihat memberikan tatapan tidak sukanya kepada Ryan dan Aurora. Apakah Isa telah melewatkan sesuatu?
__ADS_1
“Sepertinya, pestanya hendak dimulai. Bagaimana jika kita kembali ke tempat duduk, saja?” usul Debbie yang merasa bahwa situasi diantara mereka sudah tidak kondusif lagi
Namun, tidak ada satupun orang yang menjawab perkataan Debbie. Tentu saja hal itu membuat Debbie kesal, seolah – olah keberadaannya tidak dianggap. Semua orang sibuk dengan pikiran mereka. Hingga…
“Karena kalian adalah tamu spesial, bagaimana kalau kita minum sedikit champagne untuk memulai pesta bahagia ini” ucap Ryan dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Ralat. Isa meralat ucapannya yang mengatakan bahwa Ryan terlihat cukup tampan… kini, Ryan malah terlihat seperti seorang psikopat!
“Pelayan, tolong berikan kami 6 gelas champagne” ucap Aurora dengan semangat kepada pelayan yang sedang berada di dekat mereka
“Baik nona” ucap pelayan tersebut dengan patuh
Tak perlu waktu lama, kini pelayan tersebut telah kembali lagi dengan nampan yang sudah berisi gelas Kristal yang terlihat berwarna kekuningan karena telah diisi oleh Champagne
“Bersulang” ucap Ryan sambil tersenyum lebar sambil mengambil 1 gelas Kristal itu dan meneguknya
Tindakannya itu diikuti oleh Aurora.
“Apakah kalian tidak akan meminumnya? Ah… aku akan sangat sakit hati jika kalian tidak meminumnya” ucap Ryan sambil memasang wajah memelasnya yang terlihat menyeramkan bagi Isa
Dengan perasaan kesal yang sangat luar biasa, Luke mengambil champagne itu dan meneguknya sampai habis dalam 1 tegukan. Hal itu membuat Debbie dan Isa terkejut, sedangkan Austin hanya menggeleng – gelengkan kepalanya dengan pelan, Austi sudah sering melihat hal itu.
Semua orang telah mengambil gelasnya masing – masing, kini hanya tersisa Isa. Ya, Isa tidak mengambil minuman itu. Isa sangat takut kalau minuman itu akan berdampak pada kesehatan bayinya, apalagi umur janinnya masih sangat muda.
“Isa, kenapa kau tidak mengambil gelasmu?” tanya Aurora
“Ah, itu---
“Nah… minumlah” tawar Aurora sambil menyodorkan satu gelas yang tersisa di nampan pelayan itu dengan raut bahagia di wajahnya
“Maaf” tolak Isa dengan halus
“Ah, ayolah Isa… aku akan menangis jika kau menolak minuman itu” ucap Aurora sambil memasang raut wajah imutnya
Debbie mendengus kesal melihat wajah Aurora. God! Menurut Debbie, Aurora sangat cocok untuk menjadi aktris.
“Maaf. Tapi aku tidak bisa” tolak Isa sambil tersenyum
“Aku memaksa” ucap Aurora kekeuh sambil menyodorkan gelas itu dengan paksa ke tangan Isa
Prank!!!
Sebelum Isa sudah benar – benar memegang gelas tersebut, gelas tersebut sudah jatuh ke tanah dan hancur berkeping – keping
“Apa kau tidak dengar kalau dia tidak mau? Mengapa kau sangat suka memaksakan kehendakmu, hah!” ucap Luke dengan marah sambil meremas kuat tangan Aurora
Ryan tersenyum kecil melihat adegan itu. Ah, adiknya itu sangat pengertian.
“Luke… sudahlah, lagipula aku tidak meminum minuman itu” ucap Isa sambil meringis kecil dan memegang tangan Luke yang sedang meremas kuat tangan Aurora
“Apakah kau akan diam saja saat ada orang yang memaksamu?!?” tanya Luke dengan nada suara yang naik beberapa oktaf
__ADS_1
Raut wajah terkejut langsung mendominasi wajah Isa. Saat melihat wajah terkejut Isa, Luke langsung tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Tangan Luke yang sedari tadi meremas tangan Aurora langsung dilepaskannya. Dengan sigap, kedua tangan Luke langsung membingkai wajah Isa
“Isa, maafkan aku. Aku sangat khawatir kepadamu” ucap Luke dengan rasa penyesalan yang nampak jelas di kedua netra birunya
Isa tersenyum kecil. Isa mencoba untuk memaklumi hal itu. Isa tau, itu pasti karena insting seorang ayah yang hendak melindungi anaknya. Jika Luke tidak menghempas gelas itu, Isa tidak tau apa yang akan terjadi pada bayi mereka
“Iya…” jawab Isa pendek sambil tersenyum
Luke menghela napasnya dengan tenang.
“Tuan dan Nona Smith, kami undur diri. Kami ingin pulang” ucap Luke dengan nada dingin
“Luke… jangan seperti itu, pestanya saja belum dimulai. Bagaimana kita bisa pulang? Hadiahnya saja belum kita berikan” ucap Isa yang tidak setuju dengan perkataan Luke
Senyum misterius Luke langsung kembali muncul di wajahnya. Mendengar ucapan Isa tadi, sebuah ide langsung terlintas di benaknya.
“Nampaknya, tunanganku sangat mengkhawatirkan hadiah yang telah dibelikan oleh pelayan kami untukmu. Nah, aku berikan” ucap Luke sambil melemparkan sebuah kotak yang sedari tadi berada di dalam saku jasnya
Luke melemparkan kotak tersebut secara asal, hingga kotak tersebut jatuh dan menyentuh tanah. Isa terkejut melihat perlakuan Luke. Bagaimana bisa Luke melemparkan sebuah kotak yang berisi kunci mobil seharga 780 juta rupiah seperti itu? Seolah – olah benda tersebut tak berharga
“Selamat atas berdirinya perusahaan Seamith. Aku harap, perusahan ini dapat berkembang baik dan dapat mengungguli Milleis” ucap Luke sambil tersenyum
“Ayo kita pulang” ucap Luke dengan nada yang dingin sambil menarik tangan Isa dengan lembut untuk menjauhi tempat itu
Isa hanya diam dan mengikuti langkah Luke. Dia tidak berani bertanya apapun, Isa tau kalau saat ini Luke sedang berada dalam mood yang tidak baik.
Sampai mereka pulang ke penthouse Luke pun, mereka hanya saling diam membisu
“Isa! Aku tidak tahan seperti ini!” ucap Luke secara tiba – tiba yang membuat Isa terkejut
“Eh, ada apa?”tanya Isa yang binggung dengan perkataan Luke
“Kenapa kita bertingkah seolah – olah kita sedang bertengkar?” tanya Luke tak percaya
Isa mengerjapkan matanya berulang – ulang dan kemudian mendengus kesal. Jika saja Luke tidak memasang wajah datarnya yang dingin itu, mungkin sejak tadi, Isa sudah melontarkan banyak pertanyaan kepadanya.
“Sekarang… tanyalah padaku semua hal yang mengganjal pikiranmu” ucap Luke lembut sambil menarik tangan Isa ke dalam genggamannya
“Apa benar? Aku bisa menanyakkan semua hal?”
“Ya. Aku akan mengatakan semuanya kepadamu dengan jujur!”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai... apa kabar semua? Terimakasih sudah mau membaca cerita ini, tanpa kalian, cerita abal - abal ini gak mungkin bisa berkembang. Terimakasih banyak <3