
“Nona, apakah masih terasa sakit?” tanya pelayan yang sedang membalut luka di tangan Isa
“Rasa sakit yang kurasakan di tanganku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan di hatiku” ucap Isa dengan nada sendu sambil menatap tangannya yang kini sudah dibalut dengan perban putih
“Nona… maafkan perilaku tuan kami. Sebelumnya, tuan Lukas tidak pernah semarah ini” ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya.
“Kau tak perlu meminta maaf. Ini bukan salahmu” ucap Isa lembut sambil tersenyum dan menyentuh punggung pelayan itu
“Nona Issabele, nona benar – benar memiliki hati yang lembut. Kami berharap, nona Issabelle dapat mengembalikan tuan kami yang dulu” ucap pelayan itu sambil tersenyum getir.
Mendengar kata – kata pelayan itu, membuat Isa merasa binggung. Tuan mana yang mereka maksud?
“Maksudnya? Aku tidak mengerti” ucap Isa yang disertai dengan sebuah kernyitan di dahinya
“Saya ingin berbicara lebih jauh lagi dengan nona. Namun mengingat bahwa hal itu sangat dilarang untuk dibicarakan, saya sebagai pelayan sangat takut untuk mengucapkannya” ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
“Tak apa. Aku juga tidak terlalu penasaran” dusta Isa sambil mengahlihkan pandangannya ke arah lain
“Baiklah nona. Saya permisi dulu, jika nona membutuhkan sesuatu, nona bisa memanggil kami melalui inter com”
“Eumh.. baiklah. Terimakasih sudah membalut lukaku” ucap Isa sambil tersenyum manis
“Tak perlu berterimakasih nona, itu memang sudah menjadi tugas kami. Kalau begitu, saya permisi dulu nona” pamit pelayan itu dengan sopan.
Ucapan pelayan itu dibalas dengan sebuah anggukan dan senyum dari Isa. Tak perlu beberapa lama, pelayan itu kemudian pergi meninggalkan Isa.
Selepas kepergian pelayan itu, Isa menghembuskan napasnya dengan pelan. Sungguh, Isa merasa sangat bosan saat ini.
Untuk mengatasi kebosanannya, Isa memutuskan untuk mengelilingi seluruh penjuru kamar itu. Menurut Isa, kamar itu mewah, bahkan terlalu mewah. Di kamar itu terdapat TV LCD yang sangat besar, AC. Bahkan, di kamar itu terdapat sebuah ruang tamu mini yang dilengkapi dengan 2 sofa dan sebuah meja.
Segala fasilitas di dalam kamar itu membuat Isa menggeleng – gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.
Setelah puas memandangi seluruh penjuru kamar, Isa melangkahkan kakinya menuju balkon kamar itu.
Krek…
Suara jendela balkon yang terbuka memulai perasaan kagum Isa.
Angin malam yang sepoi – sepoi, Bulan dan Bintang yang memancarkan sinarnya di tengah malam yang dingin dan gelap itu, serta penerangan lampu yang berada di halaman mansion Luke, membuat Isa merasa seolah – olah dia sedang berada di tempat paling menenangkan di dunia.
“Apa yang kau lakukan disana?”
Suara berat milik Luke mengagetkan Isa yang sedang mengangumi keindahan pemandangan langit malam. Meskipun mendengar suara Luke, Isa memilih untuk diam dan tetap memandang langit. Hati Isa sudah terlalu sakit karena menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Luke.
__ADS_1
Luke tentu saja mengetahui bahwa saat ini Isa sedang marah kepadanya. Dengan langkah gontai karena efek mabuk yang didapatnya akibat minum minuman keras, Luke berjalan menghampiri Isa.
Pluk!
Kedua tangan besar dan kekar milik Luke memeluk erat perut Isa dari belakang. Tak lupa, Luke menyandarkan kepalanya ke ceruk leher Isa. Sesekali, Luke mengendus pelan leher Isa. Luke sangat menyukai aroma parfum Isa. Sangat manis!
Merasa jengah dengan perilaku Luke, Isa berusaha untuk melepaskan tangan Luke dari perutnya. Bukannya melepaskan, Luke malah mempererat pelukannya.
“Biarkan aku seperti ini sampai 5 menit ke depan. Setelah itu, aku akan melepaskan rengkulanku” ucap Luke dengan santai sambil memejamkan matanya dan menikmati angin sepoi – sepoi yang menerpa wajahnya
“Lepaskan!”
“Aku tidak menginginkan pembangkangan Isa!” ucap Luke dengan tajam.
Ucapan Luke itu berhasil membuat nyali Isa menciut. Dengan perasaan dongkol dan putus asa, Isa membiarkan Luke tetap memeluknya dengan posisi itu. Jujur, Isa juga merasakan sebuah percikan kehangatan saat Luke memeluknya dengan posisi posesif itu.
Mereka melalui beberapa menit kemudian dalam keheningan. Mereka sibuk dengan pikiran dan masalah masing – masing.
“Disini sangat dingin, kenapa kau berada di sini?” tanya Luke untuk memecah keheningan
“Terserahku” jawab Isa acuh
Mendengar jawaban acuh milik Isa tersebut, Luke menarik kepalanya dari ceruk leher Isa dan menatap Isa dengan tatapan aneh.
“Apa urusanmu? Apakah semua tingkah laku ku harus disangkut pautkan dengan orang tuaku?” ucap Isa dengan menggebu – gebu sambil berjalan meninggalkan Luke.
“Isa! Kenapa kau menjadi pribadi yang sangat pembangkang!!! Apa susahnya dirimu berperilaku layaknya wanita di luar sana!!” ucap Luke geram sambil mengikuti langkah Isa yang ternyata menuju ke atas tempat tidur.
“Wanita bagaimana, hah?” ucap Isa tanpa menatap Luke.
Luke menatap Isa dengan tatapan jengkel. Disaat – saat seperti ini pun, Isa masih berinisiatif untuk menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“WANITA YANG SEDANG JATUH CINTA!!!” teriak Luke dengan kuat dan kasar.
Teriakan Luke tersebut membuat Isa terkejut. Dengan refleks, Isa menghentikan pergerakannya yang sedang berusaha membungkus seluruh tubuhnya dengan sebuah selimut.
Saat mendengar teriakan kuat milik Luke itu, sempat ada rasa khawatir di benak Isa. Dia khawatir jika para pelayan akan mendengar mereka. Namun, akhirnya Isa ingat bahwa kamar yang sedang ditempatinya itu kedap suara.
“Apakah kau dapat melihat diriku sedang jatuh cinta?” tanya Isa lamat – lamat sambil memberanikan diri untuk menatap wajah Luke.
Dalam waktu seketika, Luke merasakan kepalanya sangat berat, seperti ditimpa oleh buku – buku ensklopedia yang sangat tebal. Dengan refleks, Luke menjambak rambut peraknya.
“Aku sudah memberikanmu segalanya! Aku sudah memberikanmu kenikmatan materi dan kenikmatan fisik! Kenapa kau tidak bisa mencintaiku, hah? Aku hampir gila, Isa!!! Aku hampir gila!!!” ucap Luke putus asa sambil menjatuhkan dirinya di lantai kamar yang dingin.
__ADS_1
Isa meringis kecil melihat keadaan Luke yang sudah sangat putus asa.
“Semua kenikmatan itu tidak akan pernah bisa menjamin diriku untuk mencintaimu” ucap Isa sambil memalingkan wajahnya ke arah lain agar dirinya tidak menatap wajah Luke. Jika dia menatap wajah Luke dalam waktu yang lebih lama lagi, Isa yakin bahwa semua pertahanannya akan runtuh.
Dengan langkah gontai, Luke berjalan ke sisi kasur, tempat dimana Isa sedang duduk dengan posisi kedua kakinya yang ditekuk.
“Apa yang harus kulakukan agar aku bisa mendapatkan cintamu?” tanya Luke dengan putus asa.
Isa menggigit bibirnya dengan pelan saat melihat keadaan Luke yang kacau. Isa menghembuskan napasnya dengan pelan, jika dia tetap pada pendiriannya, mungkin keadaan Luke bisa tambah kacau.
“Luke… kau mabuk” ucap Isa dengan pelan dan lembut sambil menyentuh pelan pipi Luke.
“Aku tidak mabuk” ucap Luke sambil memegang tangan Isa yang sedang berada di pipinya.
Tes.
Isa dapat merasakan sebutir air mata milik Luke mengenai punggung tangannya. Meliha air mata itu, dalam seketika Isa merasakan dadanya sesak. Rasanya, dadanya seperti sedang dihimpit dengan kuat.
“Luke… kalau kau ingin menangis, menangislah” ucap Isa sambil menyugar rambut perak milik Luke.
“Aku tidak akan menangis” ucap Luke dengan kedua pipinya yang sudah dibanjiri oleh air matanya.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Isa menarik Luke kedalam pelukannya dengan lembut.
Isa memeluk tubuh kekar Luke dan mengelus lembut punggung Luke, agar si empunya dapat merasa tenang.
“Isa… maafkan aku jika aku terlalu egois” ucap Luke dengan nada bergetar sambil mempererat pelukannya pada tubuh Isa.
.
.
.
*Holla... setelah lamanya hiatus\, akhirnya Isa dan Luke balik lagiii.... Maafkan author yang abal - abal ini ya.... Sebagai permintaan maaf\, Heartbreak Hotel bakal double update.... Yeayyy.... Who is exicited???*
__ADS_1