Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 64


__ADS_3

Isa menatap kerumunan tamu yang berada di hadapannya dengan teliti. Ia masih saja mencari sosok ayahnya yang tentu saja tidak akan menghadiri pernikahannya. Namun, hati kecilnya masih saja menginginkan kedatangan ayahnya


Isa akui, sejak dirinya memutuskan untuk mengikuti Luke dan menentang ayahnya, Isa selalu menangis setiap malam. Isa yakin bahwa tidak akan ada seorangpun anak yang tidak menangis saat harus mengakhiri hubungan mereka dengan orangtua mereka


Setiap malam, Isa selalu merenungi keputusannya ini. Sejenak, Isa merasa bahwa keputusannya untuk menentang ayahnya adalah hal yang salah dan saat memikirkan hal itu, Isa selalu menangis setiap malam. Dia ingin meminta maaf kepada ayahnya dan membicarakan semuanya dengan pelan – pelan, namun ia tidak memiliki keberanian untuk hal itu.


Dan di malam – malam yang penuh air mata penyesalan itu, Isa sangat bersyukur karena memiliki Luke di sampingnya. Pria itu selalu saja menenangkannya dan mengatakan kepadanya bahwa semuanya akan baik – baik saja. Pria itu yakin bahwa hubungan Isa dan ayahnya akan membaik dalam waktu yang dekat. Dan Isa sangat berharap bahwa apa yang diucapkan oleh Luke itu dapat menjadi kenyataan karena Isa tau bahwa ayahnya memiliki sifat temper yang sangat buruk


“Isa… apa kau memikirkan sesuatu, eumh?” tanya Luke sambil membelai pipi Isa dengan lembut


“Aku tidak memikirkan apa – apa” dusta Isa sambil tersenyum


“Jangan bohong kepadaku! Apa kau sedang memikirkan ayahmu?” tebak Luke


Isa hanya bisa menghela napasnya saat pria yang sudah bertatus sebagai suaminya itu dapat menebak pemikiran Isa dengan benar.


“Isa… percayalah padaku, aku yakin bahwa hubunganmu dan ayahmu akan membaik secepatnya. Ayah mana yang tahan untuk bertengkar dengan putrinya dalam waktu yang lama?” hibur Luke sambil mengusap – usap lembut pundak Isa


Isa tersenyum kecil saat mendengar ucapan Luke. Setidaknya, beban dihatinya sudah mulai terangkat saat mendengar ucapan semangat dari suaminya itu


“Isa!!!” suara cempreng dari Debbie yang baru saja menaiki panggung tempat dimana Luke dan Isa tengah berdiri


Isa langsung mengerjapkan matanya saat melihat Debbie datang membawa kehebohan. Apakah wanita itu tidak memiliki rasa malu sedikit pun? Setidaknya 1 persen saja.


“Debbie… jangan berteriak seperti itu” ucap Isa saat menyadari semua tamu yang berada di pestanya itu sedang menatap mereka


Mendengar ucapan Isa, Debbie hanya bisa tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya, Debbie tidak ingin berteriak, namun saat melihat sahabatnya itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pernikahannya, Debbie tidak bisa menyembunyikan perasaan exicitednya


“Isa… selamat menikah. Astaga, aku tidak mengira kau akan menikah secepat ini. Dulu, aku mengira bahwa akulah yang akan duluan menikah daripada kau. Ternyata, apa yang kupikirkan itu salah, takdir memang lucu ya” ucap Debbie sambil memeluk tubuh Isa dengan erat


“Terimakasih, Debbie. Aku juga tidak menyangka kalau aku akan mendahuluimu” ucap Isa sambil mengusap – usap lembut punggung Debbie


Setelah merasa puas memeluk tubuh Isa, Debbie langsung melepaskan pelukannya.


“Ah, apa kalian sudah berbaikan?” goda Isa sambil menatap ke arah Debbie dan Austin dengan bergantian

__ADS_1


Debbie langsung mendengus kecil saat mendengar godaan Isa. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajah bitchy itu kini sudah menghilang


“Aku tidak sengaja bertemu dengannya di pintu masuk” ucap Debbie sambil menatap Austin dengan tatapan malas


“Kebetulan yang sangat kebetulan” goda Luke yang sadar bahwa sejak Austin datang ke pesta mereka, Austin selalu menunggu Debbie di pintu masuk.


Mendengar ucapan sahabatnya itu, Austin langsung menatap Luke dengan tatapan tajam.


“Ah, iya… aku ada sebuah hadiah untukmu” ucap Debbie sambil tersenyum bahagia dan memberikan Isa sebuah kotak berwarna rose gold


“Terimakasih, seharusnya kau tidak perlu repot – repot memberikannya. Hanya dengan kedatanganmu saja, hal itu sudah cukup untukku” ucap Isa sambil menerima hadiah itu dan langsung memberikannya kepada pelayan yang bertugas untuk menyusun hadiah – hadiah yang didapatkan Isa hari ini.


“Oh, iya, jangan terkejut saat melihat apa isinya ya” ucap Debbie sambil mengerlingkan matanya dengan nakal


Melihat tingkah sahabatnya itu, Isa langsung tertawa kecil.


“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak membawa hadiah untuk kami?” tanya Luke kepada Austin yang sedari tadi sangat fokus untuk menatap wajah Debbie dari samping


“Hah? Aku?”


“Tentu saja kau, siapa lagi kalau bukan kau!” ucap Luke dengan kesal


Luke langsung mendengus kesal saat mendengar ucapan Austin yang ada benarnya itu. Luke memang bisa membeli segalanya dengan uangnya yang tak bisa habis itu, tapi tetap saja Luke adalah seorang sahabat yang mengingini hadiah dari sahabatnya sendiri


“Fine, fine… besok aku akan mengirimkan hadiah untukmu” ucap Austin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


“Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Kelihatannya kau masih memiliki banyak tamu yang mengantri untuk mengucapkan ucapan selamat kepadamu” ucap Debbie sambil tersenyum tulus


“Terimakasih sudah datang” ucap Isa sambil tersenyum manis


“Jangan berkata seperti itu! Aku tidak mungkin tidak akan datang ke pernikahan sahabatku sendiri” ucap Debbie sambil menggenggam tangan Isa


Isa tersenyum saat mendengar ucapan Debbie


“See you soon!” ucap Debbie sambil mencium pipi kanan dan kiri Isa secara bergantian

__ADS_1


Setelah kepergian Debbie yang diikuti oleh Austin, Isa menyadari bahwa apa yang diucapkan oleh Debbie sangat benar karena masih banyak tamu yang mengantri untuk sekedar mengucapkan ucapan selamat kepadanya.


Isa tak tau jika Luke akan mengundang tamu sebanyak ini, padahal Isa sudah meminta Luke untuk tidak melakukan hal itu.


“Luke… kenapa kau mengundang banyak orang?” bisik Isa kepada Luke


“Kenapa?” tanya Luke balik


Isa langsung mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Luke tersebut. Apakah Luke sudah melupakan permintaan Isa?


“Lupakan… Ah, iya… Aku ingin berterimakasih kepadamu” ucap Isa sambil tersenyum lebar ke arah Luke


“For what?” tanya Luke sambil menaikkan kedua alisnya


“Terimakasih karena sudah meyakinkan keluargaku untuk menghadiri pernikahanku, meskipun aku tau jika ayah tidak akan datang, tapi aku sangat bersyukur dengan kehadiran Ibu dan Minnie” ucap Isa sambil menatap Ibunya dan Minnie yang tampaknya sedang menikmati salah satu kudapan yang disediakan disana


Luke langsung tersenyum dan merangkul pundak sempit Isa.


“Jangan berkata seperti itu! Aku akan melakukan apapun asalkan kau bisa tersenyum, tidak tau kah kau kalau aku merasa resah setiap melihatmu merasa sedih?” ucap Luke sambil mengelus lembut pundak Isa


Isa tersenyum saat mendengar ucapan Luke


“Jangan mellow seperti itu, wajahmu yang selalu serius itu tak cocok untuk hal – hal seperti itu” ucap Isa sambil tertawa kecil


Melihat tawa kecil Isa tersebut, hati Luke langsung menghangat. Sontak, Luke langsung tersenyum


Ah, tawa Isa adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Luke yakin, tawa itu yang akan membuatnya melupakan masa lalunya. Meskipun Luke tau bahwa melupakan masa lalunya adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya di hidupnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Holaaa... Apa kabar?


__ADS_2