Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 37


__ADS_3

Dengan perasaan malas, Luke mengambil salah satu koleksi jam tangan Rolex mahalnya dan memakaikannya ke tangan kirinya. Sungguh, pada malam ini, Luke tidak berniat untuk kemana – mana, namun ajakan dari ayah Ryan, Levrand Smith, sungguh tak bisa diabaikan oleh Luke.


Flashback on


“Fine… saya akan kembali ke hotel” ucap Luke sambil bangkit dari duduknya. Ia sudah muak bertatap muka dengan keluarga Smith yang berada dengannya saat ini, atau… bisa dibilang, Luke sudah muak menatap wajah Aurora yang terlalu polos, seolah – olah dia tidak pernah melakukan suatu masalah di masa lalu.


Memang, mengungkit masa lalu bukanlah hal yang baik. Namun, manusia mana yang tidak sanggup untuk mengungkit masa lalu?


“Eumh… Luke…!” panggil Aurora secara tiba – tiba sambil menahan lengan kekar Luke dengan tangannya


Mendengar panggilan Aurora, Luke hanya diam dan tak menjawab. Namun, mata Luke secara terang – terangan menatap tidak suka ke tangan Aurora yang mencegatnya.


“Sorry” cicit Aurora pelan sambil menarik tangannya dari lengan Luke.


“Ada apa?” tanya Luke dingin


“Itu… apakah besok kau akan kesini lagi? Jika kau kesini lagi, aku akan membuatkanmu makanan kesukaanmu. Makanan kesukaanmu belum beruba---


“Mood!” potong Luke dengan dingin yang membuat Aurora langsung menghentikan kalimatnya


“Aku akan kembali ke sini tergantung moodku. Jika aku ingin, aku akan datang. Jika aku tak ingin, aku tak akan datang” lanjut Luke dengan nada yang datar


“Oh… begitu” ucap Aurora sambil tersenyum kecil untuk menutupi rasa kecewanya terhadap perlakuan yang ditunjukkan oleh Luke kepadanya.


“Son… kenapa kalian belum pulang untuk makan siang?”


Sebuah pertanyaan dari seorang pria paruh baya menginterupsi Aurora dan Luke.


“Dad!!!” panggil Aurora dengan senang, matanya tampak berbinar – binar.


“Oh, kau kedatangan tamu rupanya. Apa kabar Luke?” tanya ayah Aurora dan Ryan, Levrand Smith, sambil mengulurkan tangannya ke arah Luke.


“I’m fine, Mr. Smith” jawab Luke dengan baku sambil membalas uluran tangan Levrand.


“Aish…! Tak usah terlalu kaku begitu. Padahal, dulu kau menyebutku dengan sebutan ‘uncle’, eh tidak – tidak… kau bahkan pernah menyebutku dengan sebutan ‘dad’, seperti yang dilakukan oleh putri manjaku ini” ucap Levrand sambil melemparkan tatapan dan senyuman jahilnya ke arah Aurora


“Dad!” ucap Aurora dengan nada yang menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan perkataan ayahnya itu. Namun, wajah Aurora yang sudah blushing tak dapat menutupi rasa senang dalam diri wanita itu.


“Maafkan saya. Dulu, saya masih terlalu muda untuk mengerti tentang tata krama dan sopan santun” jelas Luke sambil tersenyum gentle.


“Ah, tak apa – apa. Tapi, kumohon, jangan terlalu kaku seperti ini kepadaku. Kalau kau mau, kau bisa memanggilku ‘uncle’ lagi, seperti dulu” ucap Levrand sambil menepuk pelan pundak Luke


Perkataan Levrand itu hanya dibalas dengan sebuah senyuman simpul dari Luke.


“Karena Luke sudah kembali ke Los Angeles, bagaimana kalau kita mengadakan makan malam bersama.” Usul Levrand


“Ah, itu ide yang bagus, dad!” ucap Aurora dengan senang


“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa tuan Sm--, ehm… maksudku uncle” tolak Luke dengan sopan


“Dad, permintaanmu itu aneh. Luke baru saja datang dari Paris, dia mungkin lelah saat ini.” Tambah Ryan


“Pokoknya, aku tidak menerima penolakan. Datanglah nanti ke rumah kami pada pukul 08.00 PM. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu, aku akan sangat kecewa jika kau tidak hadir” ancam Levrand dengan muka yang dibuat sedatar mungkin.


Luke menghela napasnya dengan pelan.


Sekarang, apa dia punya alasan lagi untuk menolak ajakan Levrand Smith? Kurasa tidak.


“Baiklah, aku akan datang”


“Nah, begitu lebih baik. Kau masih ingat bagaimana arah jalan ke rumah kami kan?” tanya Levrand


Luke tersenyum kecut.


“Kurasa… sampai kapanpun, aku tak akan bisa menghapus semua ingatanku yang berhubungan dengan kota yang indah ini” ucap Luke sambil menekan kata ‘indah’ dan menatap ke arah Aurora dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


Flashback off


Lagi, Luke menghela napasnya. Disaat – saat seperti ini, Luke merindukan Isa. Luke merindukan kemarahan Isa, kekesalan Isa, dan tentu saja… tubuh Isa. Kira – kira, apa yang sedang dilakukan Isa saat ini?


Drrt… Drrt… Drrt…


Suara getaran dari ponsel Luke membuat Luke berhenti mematut dirinya di cermin dan mencari – cari keberadaan ponselnya. Senyumnya tiba – tiba merekah saat menemukan ponselnya yang sedang dihubungi oleh wanita yang sangat dirindukannya.


“Ha---


“I miss your face. Bolehkah kita melakukan video call?” potong Isa saat Luke mengangkat panggilannya


Mendengar Isa yang memotong ucapannya, Luke hanya mengernyit kecil.


“Baiklah, jika itu yang diinginkan oleh Mrs. Serrano, aku bisa apa” ucap Luke yang diakhiri dengan sebuah kekehan kecil darinya.


Tak perlu menunggu waktu lama, kini, panggilan suara Isa dan Luke sudah berubah menjadi panggilan video.


Hati Luke menghangat saat melihat wajah polos Isa yang nampaknya semakin mengembang. Sepertinya, selama Luke tidak berada disisi sisinya, Isa menghabiskan waktunya untuk makan


“Hey!” panggil Luke


“Kau semakin berisi, saja” ucap Luke sambil tersenyum tulus


“Uh? Apa maksudmu? Apa kau sedang mengatai bahwa aku gendut?” tanya Isa sambil memasang wajah kesalnya.


Luke terkekeh kecil


“Aish, aku sangat ingin menciummu” ucap Luke blak – blakan yang membuat Isa membulatkan matanya


“Kau sangat mesum!” ucap Isa sambil mencoba mengontrol dirinya agar tidak tersenyum


“Aku hanya mesum kepadamu”


“Tuan, mobilnya telah disiapkan. Apakah kita akan langsung berangkat ke kediaman Smith?”


Sebauh pertanyaan dari Alexander membuat Luke mengahlikan pandangannya dari ponselnya.


“Sebentar lagi” ucap Luke pada Alexander yang tengah berdiri di depan pintu kamar hotelnya


“Baik tuan. Maaf jika saya telah mengganggu” ucap Alexander sambil meninggalkan Luke


“Eumh… kau ingin kemana malam – malam begini?” tanya Isa


“Aku ingin menghadiri sebuah acara makan malam” jawab Luke jujur


“Dengan?”


“Dengan salah satu kolega bisnisku”


“Oh…”


“Ada apa?” tanya Luke. Luke menyadari perubahan ekspresi Isa


“Tidak ada apa apa” ucap Isa sambil tersenyun


“Ah iya, lebih baik kau pergi. Mereka pasti sudah menunggumu” lanjut Isa


“Tap—


Tut.


Video call mereka diputus secara sepihak oleh Isa.


Luke sempat mengernyit binggung atas sikap Isa tadi, tapi Luke tidak ingin ambil pusing. Dia hanya mengabaikan hal itu.

__ADS_1


“Let’s go, Alexander” titah Luke saat melihat Alexander tengah menunggunya di samping pintu kamar hotelnya


“Baik, tuan” jawab Alexander dengan patuh sambil mengikuti langkah Alexander


Tak perlu menunggu lama, kini Luke dan Alexander telah berada di mobil Porsche 911 Turbo S Cabriolet putih milik Luke. Luke memang sengaja membawa Alexander untuk ikut dengannya, selain karena Luke sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengemudikan mobilnya sendiri, Luke juga ingin menjadikan Luke sebagai alasannya untuk meninggalkan acara makan malam keluarga Smith dengan cepat.


Mobil Porsche 911 Turbo S Cabriolet milik Luke yang sedang dikendarai oleh Alexander itu membelah jalan Los Angeles dengan lincahnya.


Saat ini, mereka sedang menuju ke kawasan tempat tinggal keluarga Smith yang berada di Beverly Hills.


Beverly Hills merupakan sebuah kota yang terletak di bagian barat Amerika Serikat di negara bagian California. Letak Beverly Hills tidak begitu jauh dari kawasan Hollywood yang terkenal dengan industri film.


Selain itu, Beverly Hills juga merupakan daerah yang mewah di kawasan Los Angeles, di mana banyak orang-orang kaya dan bintang film Hollywood tinggal di daerah ini. Salah satu orang pesohor yang tinggal di kawasan ini adalah David Beckham beserta keluarga kecilnya.


Hanya perlu waktu 15 menit bagi Luke dan Alexander untuk mendapati kawasan rumah keluarga Smith.


“Maaf, anda siapa dan anda ingin bertemu dengan siapa?” tanya security yang sedang berjaga di pos pagar mewah milik rumah keluarga Smith kepada Alexander


“Tuan Lukas Averanno Seranno, kami ingin datang untuk menghadiri acara makan malam” ucap Alexander pada security tersebut dengan ramah


Security tersebut menggangguk kecil dan tersenyum


“Silahkan masuk tuan tuan” ucap security tersebut sambil membukakan pintu pagar rumah keluarga Smith dengan sebuah remote control sehingga pintu pagar tersebut terbuka dengan sendirinya.


“Terimakasih” ucap Alexander saat melewati pintu pagar rumah itu.


Luke menatap rumah besar nan mewah yang bergaya klasik itu dengan tatapan datar. Lagi, Luke menghela napasnya saat menatap seorang wanita dengan gaun berwarna peach sedang berdiri di depan pintu rumah itu. Siapapun yang melihat wanita itu pasti dapat langsung menebak, jika wanita itu sedang menunggu seseorang.


“Silahkan tuan” ucap Alexander sopan sambil membukakan pintu mobil untuk Luke


Luke hanya menjawab ucapan Alexander dengan gumamannya.


Saat melihat Luke turun dari mobilnya, wanita itu, Aurora, langsung berlari – lari kecil ke arah Luke.


“Ku kira kau tidak akan datang” ucap Aurora dengan senyum yang merekah dan wajahnya yang bahagia.


Pluk!


Dengan tiba – tiba, Aurora memeluk tubuh Luke dengan erat.


“Nona Smith, tolong jaga perilaku anda” ucap Luke dengan dingin sambil berusaha untuk melepaskan pelukan Aurora yang sangat erat kepadanya, seolah – olah, tubuh mereka sudah dieratkan oleh lem perekat.


“Luke… Sebentar saja… Aku mohon” ucap Aurora lirih sambil mempereat pelukannya dan mencari kenyamanan di dada bidang milik Luke.


Luke menghela napasnya dengan kasar. Luke membiarkan Aurora memeluknya, namun Luke tidak membalas pelukan itu.


“Eumh… Citrus… Aroma favoritku”


.


.


.


.


.


.


Haloha? Apa kabar semua? Luke balik lagi nih. Ada yang rindu nggak?


.


Menurut kalian, sebenarnya, Luke itu sudah moveon atau belum bisa move on dari Aurora? Hayuuu... silahkan berkomen ria.

__ADS_1


__ADS_2