Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 77


__ADS_3

“Luke… Luke…bangun… Lukas!!!”


Dengan gerakan brutal, Isa menggoyang – goyang badan Luke. Saat ini, Isa berharap suaminya itu dapat terbangun dari mimpi bahagianya dan mendengarkan keluh Isa.


“Lukas Averanno Seranno!” panggil Isa kesal saat pria yang sedang tidur dengan posisi menelungkup itu tidak membuka matanya sedikitpun


Isa mendengus kesal.


Isa tau, pasti Luke sudah bangun dari tidurnya, namun pria itu enggan untuk sekedar membuka matanya ataupun menjawab panggilan Isa. Isa yakin hal itu terjadi karena Isa sadar bahwa suaminya itu adalah tipikal pria yang sangat sensitif saat tidur. Suara decitan pintu saja mampu membuat Luke terbangun dari tidurnya


“Lukas!!!” panggil Isa kesal


Kali ini, Isa tak hanya menggoyang – goyang tubuh Luke dengan brutal, namun wanita itu juga kini telah memberikan pukulan – pukulan tak berperasaan ke atas punggung lebar milik Luke.


Melihat Luke yang tetap enggan untuk merespon segala tindakan Isa, sebuah ide gila terlintas di pikiran Isa.


“Aaaaaarrrrgghhhh….”


Isa berteriak heboh sambil memegang perutnya. Tak lupa, Isa juga memasang ekspresi kesakitan miliknya


“Isa! Apa yang terjadi?”


Yup, sesuai dengan dugaan Isa. Luke langsung membuka matanya dan langsung bangun dari posisi menelungkupnya. Ah… jika tau seperti ini, pasti Isa sudah melakukan hal ini sejak tadi dan ia tidak perlu repot – repot memukuli punggung Luke dan meneriaki nama Luke


“Astaga!!! Sakit sekali….” ucap Isa heboh sambil memegang perutnya


Luke merasa jantungnya berdegub kencang, tiba – tiba, fokus pria itu menghilang. Luke merasa pikirannya kalang kabut.


“Isa… tenang, oke? Kita akan kerumah sakit” ucap Luke khawatir sambil memegang pundak Isa yang bergetar


“Ini… sakit sekali” ucap Isa lirih sambil menutup matanya


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Luke langsung mengangkat tubuh Isa di dalam gendongannya dan membawa wanita itu keluar dari kamar mereka. Luke tidak memperdulikan keadaan bagian atas tubuhnya yang tidak tertutupi oleh apapun. Baginya, saat ini, kondisi kesehatan Isa adalah hal yang nomor satu.


“Luke… kita mau kemana?” tanya Isa binggung saat Luke sudah membukakan pintu penthousenya


“Ke rumah sakit” jawab Luke sambil mempercepat langkah kakinya menuju ke garasi mobilnya


“Untuk apa?”


“Tentu saja untuk memeriksakan keadaanmu” ucap Luke tanpa menatap wajah Isa


Isa tersenyum kecil saat mendengar ucapan Luke tersebut. Isa memperhatikan wajah khawatir milik Luke. Wajah Luke itu terlihat pucat dan sedikit berkeringat, meskipun hawa udara sudah dingin, namun entah kenapa keringat itu bisa muncul di wajah Luke.


“Kita… benar – benar mau ke rumah sakit?” tanya Isa saat Luke menurunkan tubuh Isa di salah satu kursi penumpang yang ada di mobilnya

__ADS_1


“Tentu saja!” ucap Luke sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuh Isa dengan cekatan


Setelah memastikan Isa telah memakai sabuk pengaman, Luke langsung berlari – lari kecil memutari mobilnya dan masuk ke tempat pengemudi.


Isa memerhatikan itu semua dengan senyum kecil di wajahnya.


“Lihat, daddymu sangat mengkhawatirkanmu” ucap Isa yang diakhiri dengan sebuah kekehan kecil dari mulutnya


Tangannya terulur untuk mengusap lembut perutnya. Ah… rasanya ini semua seperti mimpi. Menikah dengan orang yang dicintainya dan akan memiliki bayi dari orang yang dicintainya, semua ini tak pernah terpikirkan oleh Isa. Sejak dulu, Isa selalu berpikir bagaimana caranya untuk menghasilkan uang dan membiayai uang kuliah Minnie.


“Isa… apakah masih sakit?” tanya Luke khawatir sambil menolehkan sebentar wajahnya ke arah perut Isa


Ingin rasanya Isa tertawa saat melihat rasa kekhawatiran Luke yang begitu besar.


“Sudah tidak lagi…” jawab Isa santai sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil itu


“Apa kau yakin sudah tidak terasa sakit lagi?” tanya Luke yang nampaknya tidak percaya dengan jawaban Isa tadi


“Sebenarnya… masih sakit sih…” ucap Isa lirih saat merasakan rasa lapar yang sedari tadi sudah menggerogoti perutnya


“Kalau begitu, kita akan kerumah sakit!” tandas Luke sambil memacu mobilnya lebih cepat


“Aku tidak mau ke rumah sakit”


“Bukannya kau sakit? Kita harus ke rumah sakit!” ucap Luke yang disertai dengan sebuah kernyitan di dahinya


“Aku tidak sakit. Aku hanya pura - pura”


Cittttttt….


Tanpa mengatakan apapun kepada Isa, Luke secara tiba – tiba langsung mengerem mendadak mobilnya. Untung saja saat ini kondisi jalanan sudah lenggang karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.14 dini hari.


“Lukas!” ucap Isa marah saat dirinya hampir saja terpental ke depan jika saat ini dirinya tidak memakai sabuk pengaman.


“Luke, apa kau gila! Jika ada sebuah kendaraan di depan kita, pasti kita sudah mati saat ini juga!” ucap Isa geram sambil menyentuh dadanya yang terasa bergemuruh


Berbeda dengan Isa yang langsung melampiaskan kemarahannya secara meletup – letup kepada Luke. Luke malah diam membisu dan memendam seluruh rasa amarahnya yang saat ini ingin ditunjukannya kepada wanita yang sedang berada disampingnya saat ini.


Luke mengepal tangannya kuat – kuat. Sebisa mungkin, Luke tidak menunjukkan aura kemarahannya kepada Isa.


“Jadi… sedari tadi, kau berakting?” tanya Luke dengan wajah datarnya


Isa menegak ludahnya dengan kasar. Tak pernah terpikir oleh Isa bahwa Luke akan marah karena lelucon yang telah dibuatnya.


“Maaf…” cicit Isa sambil menundukkan kepalanya

__ADS_1


Luke langsung menolehkan wajahnya menatap Isa dan memberikan tatapan kecewanya kepada Isa.


“Apakah rasa khawatirku adalah sebuah lelucon untukmu?” tanya Luke yang seakan – akan tak percaya jika Isa baru saja mempermainkan rasa khawatirnya dengan berpura – pura kesakitan


“Maaf…”


“Tidak tau kah kau kalau tadi aku merasa ketakutan? Aku takut kehilangan bayiku, lagi!” sentak Luke dengan suaranya yang sudah naik 1 oktaf


“Maaf…”


“Apakah kau tidak bisa mengatakan hal lain selain kata maaf?!?” ucap Luke kasar


Isa menggigit bibirnya. Sebisa mungkin, ia menahan dirinya untuk tidak terisak di hadapan Luke. Isa tau betul jika ia adalah orang yang bersalah dalam hal ini, Isa tak ingin dirinya menangis dan berperilaku jika ia bukanlah orang yang bersalah dalam hal ini.


“Tadi… aku lapar… hiks… aku… mencoba membangunkanmu… hiks…tapi kau tidak bangun”


Baiklah, nampaknya kini Isa harus mengkhianati prinsipnya tadi.


Saat ini, Isa sudah tidak sanggup menahan tangisannya.


Luke yang mendengar tangisan Isa langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Luke ingin marah namun dia tidak ingin mendengar tangisan Isa semakin menjadi


“Jangan menangis!” ucap Luke sambil berusaha tetap mempertahankan nada marahnya


Mendengar ucapan Luke, tangisan Isa semakin menjadi. Pundak wanita itu bergetar hebat dan suara isakannya semakin terdengar jelas


Luke menghela napasnya dengan kasar. Dengan lembut, Luke menarik tubuh Isa ke dalam pelukannya. Hati Luke terasa perih saat melihat Isa menangis dalam pelukannya dan rasa bersalah menggerogoti tubuhnya saat Luke menyadari bahwa dirinyalah penyebab Isa menangis


“Ssssh… sudah, jangan menangis lagi!” ucap Luke sambil mengusap – usap lembut punggung Isa


“Hiks… aku… aku lapar… dan… aku ingin makan… hiks… aku tidak… hiks… berniat menipumu… hiks” ucap Isa putus – putus sambil memeluk tubuh Luke dengan erat


“Maafkan aku karena sudah melampiaskan kemarahanku kepadamu. Seharusnya aku mengerti tingkah labil mu ini…” ucap Luke mengalah


“Apakah kau akan memaafkanku?” tanya Isa sambil menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah Luke


Hati Luke terenyuh saat melihat mata merah Isa yang sedang mengalirkan air mata. Ahh… Luke sangat lemah saat melihat air mata itu


“Tentu saja…” ucap Luke sambil menghapus air mata Isa dengan jempolnya


“Isa… Jangan menangis lagi, hatiku sakit saat melihatnya” ucap Luke sambil tersenyum kecil


 


 

__ADS_1


__ADS_2