
Aurora membuka matanya yang terasa sangat berat. Hal pertama yang dilihatnya saat dirinya membuka mata adalah sebuah figura foto besar yang terlihat sangat familiar
Aurora menyipitkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya. Dia ingin memastikan bahwa yang berada di hadapannya saat ini benar – benar foto Ryan
Jika Aurora tidak salah, berarti saat ini mereka sedang berada di kediaman rumah Smith yang ada di Paris ini. Apakah Ryan membawanya keluar dari rumah sakit tadi malam saat Aurora tidak sadarkan diri? Pria itu memang sudah benar – benar gila
“Sudah bangun?”
Aurora langsung tersentak saat mendengar suara itu. Kepalanya langsung berputar dengan cepat untuk mencari sosok pemilik suara itu.
Tangan Aurora langsung meremas selimut yang membalut tubuh telanjangnya dengan kuat. Disana, ia melihat Ryan tengah duduk bersilang kaki dengan sebuah kacamata yang menghiasi bingkai matanya serta sebuah rokok dimulutnya yang sedang mengeluarkan asap mengepul
“A—aku sedang hamil. Asap rokok tidak bagus untuk wanita hamil” ucap Aurora dengan keberanian yang entah datang darimana
Cih…
Ryan berdecih saat mendengar ucapan Aurora yang terdengar seperti suara cicitan anak tikus di telinganya. Ryan tau betul jika wanita itu tidak pernah memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapinya, namun wanita itu selalu saja bertindak seolah – olah dia memiliki keberanian yang berkobar – kobar untuk melawan Ryan
“So… apa masalahnya denganku? Bukankah anak haram yang sedang kau kandung itu adalah anakmu dan si Lukas yang gila hormat itu?” tanya Ryan santai sembari mengeluarkan asap dari mulutnya dengan gerakan lambar dan terkontrol
Anak haram?
Entah kenapa, jantung Aurora serasa diremas saat dirinya mendengar ucapan itu dari Ryan. Kenapa kakaknya itu sangat membenci dirinya yang selalu mendambakan cinta Luke? Bukankah saat mereka masih remaja dulu, kakaknya itu adalah orang yang paling bersemangat untuk menjodohkan Luke dengan Aurora?
“Sudah berapa minggu usia kandunganmu?” tanya Ryan sembari mematikan rokoknya dengan cara menggosokannya ke atas asbak batu mahal yang ada di atas meja dihadapannya
“Du… dua belas minggu…” jawab Aurora dengan suara kecilnya
Ryan menghela nafasnya sembari mengangkat dirinya dari kursi mahal yang sedari tadi didudukinya
Pria itu, Ryan, melangkahkan kakinya dengan tegas ke hadapan Aurora. Ia tidak memperdulikan keadaan tubuhnya yang hanya memakai boxer saja, toh, ini bukan pertama kalinya Aurora melihatnya dalam keadaan half – ***** bukan? Bahkan, wanita itu sudah sering melihatnya dalam keadaan *****
Sebuah senyum menyeramkan timbul di wajah Ryan saat dirinya menyadari bahwa rasa ketakutan Aurora semakin membesar. Tangan kekarnya terulur untuk memegang kuat dagu Aurora
“Gugurkan bayi itu” ucap Ryan lamat – lamat sembari menatap Aurora dengan tatapan mengintimidasinya
Aurora menegak ludahnya dengan kasar. Sebisa mungkin, Aurora mencoba mengahlihkan pandangannya dari kedua mata mengintimidasi milik Ryan
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak mau” ucap Aurora kekeuh
Tangan Aurora langsung bergerak untuk melindungi perutnya sendiri dengan kedua tangannya. Aurora melingkarkan kedua tangannya di hadapan perutnya yang hanya dilindungi selimut yang sedang dipakainya saat ini
Ryan mengetatkan rahangnya saat mendengar ucapan penolakan milik Aurora tersebut
“Kenapa kau tidak mau menggugurkannya? Apa karena dia anak Lukas?” tanya Ryan dengan nada tidak suka yang sangat kental dalam setiap kata – kata yang dikeluarkannya
“Ya! Karena dia adalah anak Lukas. Anak pria yang kucintai dengan sepenuh hatiku” jawab Aurora tanpa takut
Bush…!
Ryan menghempaskan wajah Aurora dengan kasar
“Jal*ng”
Aurora dengan sekuat tenaga mencoba menulikan telinganya, namun kata kotor itu tetap saja dapat didengarnya dengan jelas.
Bugh!
Tes..
Air mata Aurora kembali menetes. Namun, ia langsung menghapus air matanya itu dengan kasar. Ia tak ingin terus – menerus menangis, karena ia tau betul jika hal itu tidak baik untuk kondisi anaknya yang sedang ada di dalam kandungannya
Anaknya?
Pandangan Aurora langsung tertuju pada perutnya. Tangannya bergerak untuk mengelus lembut perutnya
“Kau harus kuat untukku, kita harus saling menguatkan. Hanya kau yang kumiliki di dunia ini, hanya kau satu – satunya yang bisa kuharapkan” ucap Aurora dengan nada suaranya yang bergetar
Tarik nafas…. Buang… tarik lagi… buang dengan perlahan
Saat Aurora merasakan dirinya sudah mulai tenang. Wanita itu melangkahkan kakinya menuruni tempat tidur milik Ryan. Sensasi dingin langsung menyergap kaki telanjangnya, saat Aurora meletakkan kakinya di atas lantai kamar Ryan yang terasa sangat dingin itu
Dengan tangannya yang masih memegang selimut untuk melindungi tubuh telanj*ngnya, Aurora berjalan tertatih – tatih menuju ke kamar mandi milik Ryan. Sepertinya, pria itu melampiaskan semua kemarahan dan kekesalannya pada Aurora lewat pergulatan mereka tadi malam yang sangat panjang dan terasa melelahkan
Ryan memperlakukan Aurora dengan kasar. Pria itu bahkan dengan bejatnya tidak mau berhenti disaat dirinya sudah melihat Aurora mulai kehilangan kesadarannya. Pria itu seolah – olah tidak peduli dengan fakta bahwa saat ini Aurora tengah mengandung.
__ADS_1
Bub…
Aurora menjatuhkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya dengan gerakan pelan. Kini, selimut itu telah terjatuh di atas lantai kamar mandi milik Ryan
Aurora mematut tubuh telanj*ngnya di depan cermin yang ada dihadapannya. Senyuman mirisnya langsung tercetak di wajah lelahnya.
Matanya yang sembab karena tadi malam, dirinya menangis memohon belas kasihan dari Ryan, tubuhnya yang sudah mulai berwarna kebiruan karena gigitan – gigitan tak tanggung – tanggung dari Ryan serta kewanitaannya yang terasa sangat sakit, merupakan bukti bahwa Aurora memang merupakan wanita kotor
Aurora menghidupkan shower yang ada di dalam kamar mandi itu dan membiarkan air dingin yang keluar dari shower itu membasahi tubuhnya. Tangannya meraih botol sabun cair yang ada di dalam kamar mandi itu dan menuangkannya dengan sekenanya ke atas telapak tangannya
Aurora menggosok – gosok tubuhnya yang berwarna kebiruan dengan tangannya itu secara kasar dan berulang – ulang. Aurora melakukan itu agar bekas – bekas kotor itu dapat hilang, namun, bekas itu tidak hilang
Bugh!
Aurora melemparkan botol sabun cair yang tidak jauh dari hadapannya ke atas lantai kamar mandi itu dengan kuat sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring
“Aaaahhhh!!!”
Aurora berteriak di tengah – tengah rasa frustasi yang menyergap dirinya, tubuhnya meluruh dan tangisannya kembali keluar
Dirinya menatap tubuhnya dengan tatapan jijik
Tangannya terulur untuk menjambak rambutnya sendiri dengan kuat, bahkan beberapa helai rambut hitam legamnya mulai copot dari kepalanya. Aurora melakukan itu dengan harapan bahwa rasa sakit yang menimpa kepalanya dapat menghilang. Namun bukannya menghilang, Aurora malah merasakan sakit yang semakin luar biasa
“Kotor! Aku benar – benar kotor!”
__ADS_1