
Issabelle Caroline Rose memandang dirinya yang kini telah memakai gaun pernikahan yang sudah dipesannya khusus dari seorang desainer ternama. Hari ini adalah hari bahagia Isa, akhirnya ia akan meresmikan pernikahannya. Seluruh orang akan tau jika dia akan menjadi istri Lukas Averanno Seranno. Seharusnya, Isa merasa bahagia. Hari ini adalah hari yang telah dinanti – nantinya. Tapi, kenapa Isa tidak merasa sebahagia itu
Isa merasa ada suatu hal yang mengganjal hatinya. Hal itu membuat Isa merasa sesak setiap ingin berbahagia di hari pernikahannya ini.
Isa menghela napasnya dengan kasar.
“Nona, anda terlihat sangat cantik!” puji salah satu perias yang telah merias wajah Isa sedemikian rupa
Isa tersenyum kecil mendengar pujian itu dan langsung menatap wajahnya yang kini sudah dibalut dengan make up. Ah, apa dia benar – benar cantik?
“Terimakasih…” jawab Isa seadanya
“Pasti nona sangat bahagia hari ini” lanjut perias itu
Lagi, Isa hanya tersenyum kecil. Isa sangat berterimakasih kepada perias itu karena sudah memberikan tipuan yang sangat indah di wajahnya. Isa yakin, tidak akan ada orang di luar sana yang menyadari bahwa dirinya tidak begitu bahagia.
“Ah… sebentar lagi pestanya akan dimulai, kami undur diri dulu, nona” ucap perias itu sambil mengepak beberapa alat make upnya yang berserakan tak tentu arah di atas meja rias kamar Isa
“Ya…” jawab Isa pendek sambil berusaha tersenyum semanis mungkin
Setelah kepergian perias – perias itu, Isa langsung mengahlihkan pandangannya ke arah jam digital yang berada di kamarnya. Di jam digital itu tertera angka 09.48. Ah, hanya tersisa 12 menit lagi sebelum pestanya akan dimulai.
Apakah keluarganya akan datang? Apakah adiknya, Minnie, akan menggiringnya ke altar pernikahan? Apakah ibunya akan menenangkan rasa gugupnya? Apakah ayahnya akan menggandeng tangannya dan memberikan tangannya kepada Luke? Rasanya, hal itu terlalu mustahil.
Memikirkan hal itu, lagi – lagi membuat dada Isa terasa sesak. Apakah kini ia telah menyesali keputusannya? Apakah kini ia telah menyesal karena telah menentang ayahnya?
Isa memejamkan matanya dan memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Rasanya, ia sangat ingin pingsan saat ini.
Jika dihitung – hitung, rasanya sudah 2 minggu berlalu sejak kejadian Isa menentang ayahnya hanya untuk menikahi Luke. Tapi kenapa Isa masih merasa sesak? Kenapa Isa masih merasa bahwa kejadian itu terjadi kemarin sore? Mengapa?
Isa tak bisa seperti ini terus menerus. Apakah dia harus kabur dari pernikahannya dan meminta maaf kepada ayahnya? Namun, jika dia melakukan hal itu, dia pasti akan melukai hati dan ego Luke, ayah dari calon anaknya.
Aaarrghh!
Kenapa dia harus ditempatkan diposisi seperti ini? Kesalahan apa yang telah diperbuatnya selama dia hidup sampai dia tidak bisa merasakan kebahagiannya di hari bahagianya?
“Kak Isa…”
Suara familiar itu membuat Isa membuka matanya yang sedari terpejam dan mendongakkan wajahnya untuk memastikan pemilik suara itu.
“Min…nie?” ucap Isa terkejut saat ia melihat adiknya tengah tersenyum lebar ke arahnya.
Isa mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berilusi.
“Woo! Kakak, apa kau terpukau dengan penampilanku?” tanya Minnie geli saat melihat kakaknya itu nampak terkejut dengan kehadirannya.
“Ya… kau sangat cantik” ucap Isa jujur.
Saat ini, Minnie tengah memakai gaun yang memiliki jenis bahan dan warna yang sama dengan gaun yang tengah dipakainya saat ini, hanya model dan kemewahannya saja yang berbeda. Minnie saat ini memakai gaun dengan model mermaid-off shoulder.
Melihat Minnie memakai gaun itu, satu hal yang membuat Isa terkejut. Minnie nampak seperti… seorang bridesmaid
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Isa binggung
“Tentu saja untuk menjadi bridesmaid kakakku satu – satunya ini” ucap Minnie bahagia sambil mengangkat sebuket bunga mawar yang sedari tadi disembunyikannya di belakang punggungnya
Sontak saja, rasa keterkejutan menyerang Isa.
“Oh iya… coba tebak, siapa yang kubawa?” goda Minnie sambil menaik – turunkan alisnya dengan jenaka.
__ADS_1
Mendengar godaan Minnie tersebut, jantung Isa langsung berpacu dengan cepat. Jangan bilang jika kedua orangtuanya juga datang?
“Ibu!!!” panggil Isa terkejut saat melihat Ibunya memasuki kamarnya dengan sebuah gaun simple panjang yang memiliki warna senada dengan warna gaun yang dipakai oleh Isa, warna silver
Ibu Isa langsung tersenyum saat melihat raut wajah terkejut putri sulungnya itu. Ibu Isa yakin bahwa putri sulungnya itu tidak terlalu mengharapkan kedatangan mereka.
“Kau sangat cantik” puji Ibu Isa sambil membelai lembut wajah putrinya itu
“Apa aku sedang bermimpi?” tanya Isa dengan mata yang sudah berkaca – kaca. Dengan sekuat tenaga, Isa menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini.
Ibu Isa tersenyum mendengar ucapan putrinya itu
“Ssshhhh… jangan menangis” ucap Ibu Isa sambil menarik tubuh putrinya itu ke dalam pelukannya
Isa menyambut pelukan itu dengan rasa bahagia yang membuncah di dalam dirinya.
“Maafkan Ibu datang terlambat. Jika bukan karena Lukas yang meyakinkan ayahmu tadi pagi, kurasa Ibu tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Jika tidak ada Lukas, Ibu rasa, Ibu adalah Ibu yang paling gagal di dunia ini, karena tidak bisa melihat putri sulungnya menikah”
Hati Isa langsung terenyuh saat mendengar ucapan Ibunya itu. Sepertinya, keputusannya untuk menikah dengan Luke bukanlah hal yang salah
“Jangan berkata seperti itu, Ibu” ucap Isa sambil menarik dirinya dari pelukan Ibunya
“Ibu juga meminta maaf karena Ibu gagal membujuk ayahmu untuk datang. Kau tau bukan jika ayahmu memiliki watak yang keras?” ucap Ibu Isa sambil menepuk – nepuk pelan puncak kepala Isa
“Tak apa, bu, itu adalah konsekuensi dari perbuatanku yang telah menentang ayah” ucap Isa sambil tersenyum manis
“Lagipula, saat ini aku sudah memiliki kalian berdua, aku sangat merasa bahagia” lanjut Isa lagi sambil memandang Ibunya dan Minnie secara bergantian
Tok… tok… tok…
Sebuah ketukan di pintu kamar Isa membuat Isa memalingkan pandangannya dari Ibunya
“Nona… pesta pernikahannya akan dimulai…” ucap pelayan itu
“Ah… sepertinya kita hampir saja melupakan pestanya” canda Minnie sambil tertawa
“Apakah kau merasa gugup?” tanya Ibu Isa sambil mengamit lengan kanan Isa
“Ya… sedikit…” ucap Isa sambil tersenyum
“Ah, itu hal yang wajar. Ibu juga seperti itu, sangking gugupnya bahkan Ibu merasakan kedua kaki ibu tidak bisa berjalan dengan baik” canda Ibu Isa
Isa dan Minnie tertawa geli mendengar candaan ibunya itu.
“Ayo kak…” ajak Minnie sambil mengamit lengan kiri Isa dengan penuh sayang
Isa tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
Dengan dibantu seorang pelayan yang memegang ujung gaunnya, Isa mulai melangkahkan kakinya. Kini, Isa benar – benar merasa gugup.
Tak… tak… tak…
Suara heels Isa yang menghentak lantai berkeramik itu seolah – olah menambah kegugupan Isa.
“Jangan gugup….” Bisik Ibu Isa sambil tersenyum lebar
Mendengar bisikan Ibunya itu, Isa semakin merasa rasa gugupnya semakin membesar. Bahkan, dia tidak berani untuk mengangkat wajahnya saat ini. Dia sangat takut.
“Angkat kepalamu Isa, suamimu tak sabar ingin melihat wajahmu” bisik Ibu Isa dengan nada geli. Minnie yang mendengar hal itu langsung terkekeh kecil.
__ADS_1
“Kak, suamimu sedang menunggu, tuh…” goda Minnie
Isa memejamkan matanya kuat – kuat.
“God, bless me…” ucap Isa pelan
Setelah mendapatkan seluruh keberaniannya, Isa langsung mengangkat wajahnya.
Hal yang pertama dilihatnya adalah Luke yang sedang berdiri di altar dengan aura wibawa yang sangat kuat. Tubuh atletisnya itu dibalut dengan sebuah jas berwarna silver yang mengkilau, Isa yakin bahwa harga jas itu melampaui harga sebuah mobil.
Deg… deg… deg…
Isa merasakan debaran jantungnya semakin menggila. Apalagi saat dirinya tanpa sengaja menatap senyum indah yang menghiasi wajah kokoh itu.
Jika saat ini Ibunya dan Minnie tidak sedang mengamit lengannya, Isa yakin bahwa dirinya pasti akan terjatuh.
“Kuserahkan putriku kepadamu” ucap Ibu Isa sambil menyodorkan tangan Isa ke arah Luke.
Deg… deg… deg…
Kenapa dia cepat sekali berada dihadapan Luke? Isa merasa bahwa tadi dia berjalan dengan lambat
Luke menggapai tangan halus Isa itu dengan perasaan bahagia yang luar biasa.
“You look perfect today. Marrying you is the most beautiful thing in my life” ucap Luke sambil tersenyum
Isa tersenyum lembut mendengar ucapan Luke. Kini, Isa merasa bahwa semua hal – hal buruk yang dilaluinya telah berbuah manis. Hari ini adalah buktinya.
Isa sangat berterimakasih kepada Tuhan karena telah membiarkan dirinya untuk bertemu dengan Luke. Kini, tak ada lagi alasan bagi Isa untuk merasa bahwa Tuhan telah memberikannya cobaan yang berat.
Isa menatap Luke dengan tatapan teduhnya. Ah, kini Isa teringat dengan ucapannya kepada Debbie. Ia mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menikah, namun lihatlah hari ini. Ah… takdir memang lucu ya?
“I love you…”
TAMAT
__ADS_1
Gak deng, bercanda... Cie... kena tipuuuuu, barang palsuuuu.... Xixixixixi....