Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 60


__ADS_3

“Isa, apa kau benar – benar yakin untuk keluar rumah sakit?” tanya Luke khawatir sambil menggenggam tangan Isa yang terlihat lebih kurus dari biasanya. Ah, mungkin itu efek karena Isa sedang sakit


“Iya Luke, aku benar – benar yakin. Aku sudah sangat muak berada di ruangan ini selama seminggu penuh, lagipula, dokter Zen telah mengizinkanku pulang dari 3 hari yang lalu” ucap Isa tanpa menatap wajah Luke


Kali ini, Isa benar – benar merasa kesal atas sikap Luke. Menurutnya, rasa kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Luke kepada Isa sudah melebihi batas. Bahkan, pria itu melarang Isa untuk mengangkat sebuah gelas yang berada di dekatnya.


Rasa kesal Isa semakin memuncak saat Luke menolak untuk mengeluarkan Isa dari kamar rumah sakit ini. Luke selalu berdalih bahwa kondisi fisik Isa masih sangat lemah, padahal, Zen, seorang dokter terkemuka lulusan dari Harvard University, mengatakan bahwa kondisi fisik Isa sudah kembali normal. Isa sangat heran dengan sikap Luke itu, menurutnya, sikap Luke itu terlalu berlebihan.


“Apa kau benar – benar yakin? Wajahmu masih terlihat pucat dan tubuhmu terlihat mengurus” ucap Luke khawatir sambil mengelus lembut tangan Isa


Isa menghela napasnya


“Luke… dengarkan aku, jika saja kau mengeluarkan aku lebih cepat dari ruangan terkutuk ini, mungkin keadaan ku tidak seperti ini. Kau tau kenapa wajahku pucat? Kau tau kenapa berat badanku menurun?” tanya Isa sambil menatap wajah Luke dengan tatapan seriusnya


Luke yang diberikan tatapan dan pertanyaan tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Itu karena aku merasa bosan berada disini. Makanan disini juga tidak enak, aku tidak berselera untuk makan” jawab Isa dengan jujur


“Oleh karena itu, aku memintamu secepatnya untuk mengeluarkanku dari tempat terkutuk ini, aku tidak menyukai tempat ini” lanjut Isa yang diakhiri dengan sebuah helaan napas kasar


Mendengar ucapan Isa, Luke hanya bisa diam membisu. Dia sedang memikirkan tentang keputusan yang akan diambilnya. Apakah keadaan akan baik – baik saja jika Isa kembali ke rumah? Bagaimana jika dia pingsan lagi? Bagaimana jika dia mengalami pendarahan? Bagaimana jika…


“Baiklah, aku akan mengurus hal itu secepatnya” jawab Luke sambil mengelus lembut puncak kepala Isa


“Benarkah?” tanya Isa dengan semangat


“Tentu saja” ucap Luke dengan senyum yang merekah di wajahnya


“Terimakasih” ucap Isa sambil menghamburkan dirinya ke pelukan Luke


“Baiklah, sekarang kau tunggu aku disini, secepatnya kita akan kembali ke rumah”


“Aye aye captain” jawab Isa dengan tawa renyahnya


Dengan senyum yang melekat di wajahnya, Luke langsung berjalan meninggalkan Isa. Setelah kepergian Luke, Isa langsung bangkit dari tempat tidur rumah sakitnya dan menapakkan kakinya di lantai ruangannya yang dingin


“Ah, sebentar lagi aku akan bebas” ucap Isa sambil tersenyum


Setelah Isa merasa kakinya sudah terbiasa dengan rasa dingin yang diberikan oleh lantai ruangan itu, Isa langsung melangkahkan kakinya ke jendela ruangannya


“Setelah keluar rumah sakit nanti, aku sangat ingin memakan jagung bakar pedas” gumam Isa sambil menatap jalanan kota Paris yang diisi oleh berbagai jenis kendaraan


“Baby, apakah kau juga menginginkannya?” tanya Isa sambil mengelus perutnya yang masih datar


“Ya, mommy… aku sangat ingin” jawab Isa dengan suara yang dibuat mirip seperti suara anak kecil


Isa langsung tertawa lepas saat menyadari tingkah anehnya itu.


“Cepat besar ya, baby. Mommy dan daddy sangat ingin melihatmu” gumam Isa sambil menepuk – nepuk kecil perutnya yang masih datar


“Isa, ayo pulang”


Suara dari Luke membuat Isa memutar tubuhnya agar bisa menghadap Luke

__ADS_1


“Cepat sekali…” ucap Isa terkejut


“Tentu saja. Apa kau lupa siapa calon suami mu ini?” tanya  Luke sambil merapikan rambutnya yang tidak terlihat berantakan sama sekali


“Dasar… yasudah, ayo pulang” ucap Isa sambil tersenyum


Sebelum benar – benar pergi, Isa memutuskan untuk berjumpa dengan para perawat yang sudah merawat dirinya dan mengerti dirinya dengan baik. Awalnya, Luke menolak ide ini karena hal itu terlalu berlebihan. Namun, Isa tetap memaksa Luke untuk menyetujui idenya itu.


Akhirnya, Luke memutuskan untuk menunggu Isa di basement karena Isa berkata kalau dirinya ingin pergi sendiri. Isa takut jika para perawat itu akan ketakutan saat menatap Luke, karena Luke sering memarahi mereka tanpa sebab. Belakangan hari ini, Isa memang merasakan bahwa tingkah Luke semakin aneh. Dia terlalu mengkhawatirkan hal – hal yang tidak penting dan selalu marah – marah. Apakah dia tidak takut cepat tua? Apakah dia tidak malu saat mendapati dirinya sudah beruban ketika anaknya bahkan belum menginjak usia balita?


“Issabelle, apakah kau benar – benar akan pergi?” tanya salah satu perawat yang sangat menyayangkan kepergian Isa


“Tentu saja, aku tidak mungkin tinggal berlama – lama disini. Lagipula, aku sudah sangat sehat” jawab Isa sambil tersenyum lebar


“Ya, kami sudah tidak meragukan itu lagi” celetuk perawat yang lain


Isa dan beberapa perawat yang berada disana tertawa saat mendengar celetukan perawat tersebut


“Pokoknya, jika terjadi sesuatu kepadamu, jangan segan – segan untuk menghubungi kami” ucap kepala perawat yang merawat Isa


“Tentu saja. Kalau begitu, aku pergi dulu ya” tandas Isa sambil tersenyum lebar


“Ya, hati – hati” ucap para perawat itu dengan kompak.


Ucapan para perawat itu dibalas dengan sebuah anggukan dan senyuman oleh Isa.


Dengan langkah ringan, Isa meninggalkan tempat itu. Ah, dia sudah tidak sabar kembali ke rumah. Isa sudah tidak sabar ingin tidur di tempat tidurnya. Isa sudah tidak sabar ingin memasak di dapur. Astaga, Isa sangat merindukan aktivitas – aktivitas lamanya itu.


“Isa!”


Mendengar suara yang terdengar familiar itu, perasaan Isa langsung tidak enak. Tak ingin repot – repot berhenti dan membalas sapaan itu, Isa terus berjalan dengan tatapan lurus, seolah – olah ia tidak mendengar apapun.


“Issabele Caroline Rose!”


Sebuah cekalan di tangannya, membuat Isa terpaksa memberhentikan langkahnya


“Lepaskan aku, Sean” ucap Isa dengan geram tanpa mau repot – repot untuk berbalik dan menatap wajah mantan sialannya itu.


“Kenapa kau berada di rumah sakit? Apakah kau sedang sakit? Dimana Luke bastard itu? Apakah dia sudah membuangmu karena kau sakit – sakitan?” tanya Sean tanpa jeda


Mendengar pertanyaan Sean yang sangat menyulut emosi itu, Isa hanya diam dan mengatur napasnya agar kemarahannya tidak memuncak. Menurut para perawat yang ditemuinya, mereka mengatakan bahwa tidak baik jika seorang wanita marah – marah dalam kondisi hamil, hal itu akan memengaruhi kesehatan bayinya


“Lepaskan tanganku Sean. Aku buru – buru” jawab Isa dengan nada dingin


“Tidak jawab dulu pertanyaanku!” ucap Sean kekeuh


“Kau tidak memiliki hak untuk menanyai hal – hal pribadi ku” jawab Isa dengan nada dingin


“Ck… jadi, kau sudah benar – benar dibuang oleh Luke bastard itu, ya?” tebak Sean sambil melepaskan cengkraman tangannya


Isa mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.


Tahan dirimu, Isa. Kau sedang hamil. Ingat, kau sedang hamil.

__ADS_1


“Seperti yang kukatakan dulu, kau hanya dijadikan budak nafsunya. Setelah ia mendapatkan wanita lain yang lebih sexy dan rapat, dia ak---


Plak!


Sudah cukup, Isa merasa bahwa dirinya sudah tidak dapat mengontrol emosinya, lagi.


“Jangan mengatakan hal – hal yang buruk tentang ayah dari calon bayiku, kau tidak tau apa – apa tentang kehidupanku. Berhentilah mengusik diriku, kita sudah tidak memiliki hubungan lagi” ucap Isa dengan pandangan yang berapi – api.


Glek.


Mendengar ucapan Isa, Sean langsung menegak ludahnya kasar


“Apakah kau sedang hamil?” tanya Sean lancar sambil menatap perut datar Isa


“Ya, aku sedang hamil dan bayi yang kukandung adalah anak Luke. Apakah kau sudah puas?”


“Gugurkan bayi itu dan kembali lah kepadaku!” ucap Sean sambil memegang kedua tangan Isa dengan erat


“Are you crazy?!?” ucap Isa sambil berusaha melepaskan tangannya dari tangan  Sean


“Ya, aku gila kare---


Bugh!


Sebelum Sean benar – benar mengucapkan kalimatnya, sebuah pukulan langsung mendarat di punggung pria itu


“Sialan! Apa hakmu untuk meminta Isa agar menggugurkan anak kami?” tanya Luke dengan amarah yang sudah memuncak


Bugh!


Luke kembali melayangkan pukulannya kepada Sean. Namun, kini, Luke melayangkan pukulannya ke wajah Sean.


Setelah puas melayangkan pukulannya pada Sean, Luke langsung bergerak menjauhi tubuh Sean yang telah terkapar.


“Kalian, urus lah pria ini. Aku akan membayar biaya perawatannya” ucap Luke pada seluruh perawat dan dokter yang sedari tadi menonton adegan perkelahian itu


“Isa… ayo kita pulang” ajak Luke sambil menggengam tangan Isa dengan erat dan membawa Isa untuk mengikuti langkahnya


.


.


.


.


.


1 kata buat Sean...


.


.

__ADS_1


Kalau part ini nembus 250 like, di jadwal up selanjutnya bakal double up, yaws...


__ADS_2