
“Sungguh… menurutku, akhir cerita cinta Lukas dan mantan tunangan pertamanya, Aurora, kurang masuk akal. Aku yakin, pasti masih ada penyebab lainnya sehingga mereka bisa berpisah” ucap Emily sambil mengernyit binggung
“Mungkin, mereka memang punya masalah pribadi yang tidak bisa deselesaikan lagi” jawab Isa dengan tenang
“Ah… sayang sekali mereka berpisah” ucap Emily sambil menghelakan napasnya
“Ya. Sayang sekali. Tapi… apa Aurora itu, memang sangat berpengaruh bagi Luke? Mendengar ceritamu tadi, hanya karena Luke dan Aurora membatalkan pertunangannya, kehidupan Luke berubah drastis” tanya Isa penasaran
“Kalau menurutmu bagaimana? Dari cerita yang kuceritakan tadi, kau pasti sudah dapat menilainya” jawab Emily sambil mengerucutkan bibirnya
“Hem… kelihatannya mereka sangat mencintai” jawab Isa sambil tersenyum pahit
Seharusnya Isa tau, bahwa sikap kurang ajar Luke kepada para wanita pasti disebabkan oleh seorang wanita.
“Lalu… bagaimana dengan tunangan keduanya?” tanya Isa penasaran
Mendengar pertanyaan Isa, Emily mengerutkan dahinya dan kemudian menggelengkan kepalanya
“Soal tunangan keduanya, aku kurang mengetahuinya secara rinci, namanya saja aku tidak tau” ucap Emily sambil mendelikkan kedua bahunya
Melihat respon Emily, Isa mendesah kecewa.
Bohong namanya jika Isa tidak penasaran dengan masa lalu Luke yang sangat menarik untuk dikorek.
“Eumh… tapi yang ku ketahui, mereka bertemu di Roma dan melakukan pertunangan disana. Tapi, ada juga yang mengatakan kalau mereka sudah berteman sejak kecil dan sudah melakukan pertunangan sejak kecil. Aku hanya mengetahui itu saja, soalnya, saat Luke berada di Roma, aku sudah berada disini, Paris. Kau tau bukan, jarak Roma dan Paris itu sangat jauh, tidak mungkin aku dapat mendengarkan gossip mengenai hubungan mereka secara detail” ucap Emily yang diakhiri dengan sebuah tawa renyah darinya
Mendengar penjelasan Emily, dahi Isa langsung berkerut binggung.
“Aneh. Bukankah kau mengatakan kalau Luke memiliki 2 mantan tunangan? Aurora dan wanita Roma itu? Apa alasanmu mengatakan bahwa wanita Roma itu adalah mantan tunangannya? Kau sendiri yang mengatakan kalau jarak Roma dan Paris sangat jauh untuk mendengarkan gossip Luke dan wanita Roma nya” tanya Isa
“Kau sangat cermat juga” puji Emily sambil tersenyum
“Jadi… sebenarnya, aku memang tidak mengetahui hubungan tentang Luke dan wanita Roma nya. Namun, karena mereka tidak pernah mengumumkan hubungan mereka secara resmi, maka aku mengganggap bahwa wanita Roma itu adalah mantan tunangannya” jelas Emily gambling
“What? Seharusnya, kau tidak boleh berspekulasi sesuka hatimu. Bagaimana jika mereka masih tunangan? Bagaima----
“Sssshhh! Isa sudahlah, kau terlalu memikirkan hubungan Lukas dan mantan tunangannya itu” ucap Emily sambil meletakkan jari lentiknya di bibir pink milik Isa
Mendengar ucapan Emily, Isa mengerjapkan matanya berulang – ulang.
Apa dia memang terlalu memikirkan hubungan Luke dengan mantan tunangannya?
“Jika aku berada di posisimu sekarang, aku tidak akan pernah mendengarkan cerita masa lalu tentang Lukas. Bukan rasa senang yang akan kudapat saat mendengar ceritanya, namun rasa sakit hati dan cemburu yang akan kudapatkan” jelas Emily dengan sendu
“Jujur, aku sangat cemburu denganmu. Kau sangat disayang oleh Lukas. Sedangkan aku? Aku sudah berusaha sejak kami duduk di bangku perkuliahan, tapi… kurasa dia bahkan tidak mengingat namaku” jelas Emily lagi sambil tersenyum kecut
“Untuk apa kau cemburu denganku? Jika akhirnya, statusku menjadi sama dengan mantan – mantan tunangan Luke” ucap Isa sambil tersenyum getir
“Dengarkan aku! Aku memang sangat mengincar Lukas, tapi aku masihlah wanita yang bermartabat. Aku tidak akan pernah merebut Lukas dari seseorang, baik itu kau atau wanita lain” jelas Emily sambil tersenyum kecil
“Tapi… jika Lukas dalam keadaan available dan tidak menggandeng wanita manapun, disaat itulah aku akan kembali mencuri hatinya” lanjut Emily lagi sambil tersenyum lebar, sampai – sampai, kedua matanya juga ikut tersenyum
“Aku menyukaimu! You are so pure and transparent” ucap Isa sambil tersenyum
Mendengar ucapan Isa, Emily hanya tertawa renyah.
“Oh, iya! Aku sudah lelah bercerita. Sekarang waktunya dirimu untuk bercerita”
“Aku? Bercerita?” tanya Isa binggung sambil menunjuk dirinya sendiri
__ADS_1
“Hooh… Tentu saja dirimu. Maksudmu, siapa lagi?”
“Tapi… aku tidak tau harus bercerita tentang apa” ucap Isa sambil menggaruk – garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali
“Ceritakan tentang dirimu, keluargamu, kariermu, mantan pacarmu, atau apapunlah”
“Cerita hidupku tidak menarik, kau pasti akan bosan saat mendengarnya nanti”
“Heh? Bagaimana kau bisa berspekulasi sesuka hatimu seperti itu? Aku bahkan belum mendengar ceritamu” ucap Emily sambil menirukan gaya berbicara Isa
Melihat hal itu, Isa lantas tertawa kecil
“Jadi… Perkenalkan, namaku Issabele Caroline Rose. Aku adalah anak sulung dari 2 bersaudara. Aku menemp---
“Stop, stop! Apakah kau sedang berpikir bahwa saat ini kau sedang melakukan wawancara pekerjaan? Mengapa kau sangat formal!” potong Emily sambil menampilkan wajah kesalnya
Isa hanya terkekeh melihat ekspresi kesal milik Emily.
“Nona… anda ada telpon” ucap salah satu bodyguard yang ditugaskan oleh Luke untuk mengawasi setiap kegiatan Isa selama berada diluar rumah
Emily mengernyit menatap bodyguard tersebut. Rasanya, sudah ada beberapa jam mereka di café ini, dan Emily baru menyadari bahwa Isa membawa seorang bodyguard
“Apakah kau begitu takutnya keluar rumah, sehingga kau membawa bodyguard?” tanya Emily sambil menaikkan salah satu alisnya
Isa meringis mendengar pertanyaan Emily.
Untuk apa Isa takut keluar rumah? Paris adalah kota kelahirannya, dia tidak perlu takut untuk berkeliling di kota ini.
Namun, tuan Lukas Averanno Seranno yang sangat parnoan itu mengancam Isa. Ya! Dia mengancam jika Isa hanya bisa keluar rumah jika ditemani oleh salah satu bodyguard yang akan mengikutinya kemana saja.
“Ah… pasti Lukas yang menyuruhnya” ucap Emily sambil menggangguk – anggukan kepalanya
“Dari siapa?” tanya Isa kepada bodyguard tersebut yang sedang memegangi ponsel
“Dari tuan Lukas, nona”
Mendengar ucapan bodyguard tersebut, Isa memutar bola matanya dengan kesal. Rasanya, Isa sangat ingin menolak panggilan itu, tapi Isa sadar… jika ia menolak panggilan itu, bisa – bisa Luke akan mengamuk dan tidak memperbolehkan Isa untuk keluar rumah lagi.
“What?” tanya Isa tanpa basa – basi saat dirinya mengangkat panggilan dari Luke
“Dimana kau sekarang?”
“Aku masih berada di luar” jawab Isa dengan nada suara yang malas
Di ujung panggilan, terdengar suara Luke yang menghembuskan napasnya dengan kasar
“Kau sudah berada di luar selama 3 jam… Dan langit Paris sudah menggelap saat ini. Apakah kau berniat untuk kabur dari rumah?” tanya Luke sambil berusaha menekan kuat emosinya agar tidak meledak
“Kenapa kau sangat parnoan sekali? Dengarkan aku, aku tidak akan kabur dari rumah. Tapi jika kau bertindak seperti ini, mungkin aku akan kabur dari rumah!” sentak Isa
“You!” geram Luke dengan marah
Isa tau, dia sudah membangunkan sisi setan di dalam diri Luke, tapi ia tidak peduli. Isa juga adalah manusia sosial, dia perlu untuk keluar rumah dan bertemu dengan orang lain.
“Listen to me, besok aku akan pulang ke Paris” ucap Luke.
Setalah mengucapkan kalimat itu, Luke sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Dia sengaja. Luke ingin tau, bagaimana reaksi Isa terhadap ucapannya tadi.
“Oh… That’s good” jawab Isa pendek dengan nada dingin
__ADS_1
“What the heck! Isa! Kenapa reaksimu seperti itu? Apakah kau tidak senang aku kembali?” tanya Luke sambil mengeram marah
“Kau pikirkan sendiri. Aku masih ada urusan, bye!” tandas Isa sambil memutus panggilan telepon secara sepihak.
Tut.
Panggilan telah diputus secara sepihak oleh Isa.
“Ini… aku kembalikan ponselmu” ucap Isa sambil memberikan ponsel yang berada di tangannya kepada bodyguardnya
Bodyguard itu menerima ponsel itu sambil menggangguk samar.
Isa menghela napasnya dengan kasar.
Bohong namanya jika Isa tidak senang mendengar kabar bahwa Luke akan kembali ke Paris dalam waktu yang dekat. Namun, kejadian saat mereka melakukan panggilan di tempo lalu dan cerita – cerita masa lalu Luke yang didengar oleh Isa dari Emily, membuat Isa meragukan Luke.
Isa meragukan Luke.
Isa meragukan hubungan mereka.
Isa meragukan hatinya.
Setelah dipikir – pikir, masih besar kemungkinan bahwa Luke sewaktu – waktu akan membatalkan pertunangan mereka dan mendepak Isa dari kehidupan Luke. Jika waktu itu benar – benar tiba, Isa tak tau apalagi yang harus dilakukannya. Isa mungkin akan frustasi.
“Hei! Jangan memikirkan yang tidak – tidak!” ucap Emily yang membuat Isa tersentak dari pikirannya.
“Ah… iya” ucap Isa seadanya sambil tersenyum
“Emily, terimakasih atas waktu luangmu selama beberapa jam tadi, sepertinya sekarang aku harus pulang ke rumah. Oh iya, terimakasih juga untuk caffe lattenya” lanjut Isa sambil tersenyum manis.
“Tak apa – apa. Kuharap, lain kali kita bisa seperti ini lagi” ucap Emily sambil tersenyum
“Kuharap ada lain kali” gumam Isa sambil bangkit dari duduknya
“Hah? Apakah kau mengatakan sesuatu?” tanya Emily dengan wajah binggungnya
“Tidak… tidak” jawab Isa sambil tersenyum
Mendengar jawaban Isa, Emily hanya menggaguk – anggukan kepalanya. Sepertinya, dia memang mendengar suatu ucapan dari mulut Isa.
Sebelum Isa benar – benar pergi, Emily dapat menangkap rasa khawatir yang sangat mendalam di dalam diri Isa. Bahkan, wajah cantik Isa sangat ketara dengan perasaan khawatir itu.
“Isa… kalau kau mau, aku bisa memberikanmu info tentang Luke selama dia berada di Los Angeles”
.
.
.
.
.
.
Yeayyy... akhirnya double up...
Kemaren, aku nggal sengaja baca komentar readers yang katanya kecewa karena aku nggak buat cerita ini double up, maaf ya...
__ADS_1
Oh iya, terimakasih juga atas dukungan kalian, Heartbreak Hotel nggak akan pernah sampai menyentuh part ini tanpa dukungan kalian, luv u all...