
“Isa… Isa… bangun… kita sudah sampai” ucap Luke lembut sembari menepuk – nepuk pelan pipi lembut Isa
“Eung…”
Isa melenguh kecil saat ia merasa bahwa tidurnya sudah diganggu
“Ada apa?” tanya Isa dengan suaranya yang terdengar serak, khas orang yang baru bangun
“Kita sudah sampai” ucap Luke dengan suara lembut
Mendengar ucapan Luke tersebut, Isa langsung memaksakan seluruh nyawanya untuk terkumpul
“Kita dimana?” tanya Isa binggung
“Lihat ke samping” ucap Luke sembari menolehkan wajah Isa ke samping dengan lembut
“Ini…”
Dahi Isa langsung mengerut dalam ketika dia melihat pemandangan yang ada di balik kaca mobil Luke tersebut
Sebuah rumah.
Kemana Luke membawanya? Apa saat ini Luke sedang membawanya ke rumah salah satu keluarga Luke? Apa jangan – jangan, rumah megah itu adalah rumah orangtua Luke? Oh gosh! Bagaimana ini!
Isa langsung memalingkan wajahnya dan menatap Luke dengan tatapan khawatir yang teramat dalam.
“Ini rumah siapa? Rumah keluargamu? Orangtuamu?!? Astaga! Apa kau tidak lihat saat ini aku hanya memakai kaus pendek ini! Bagaimana aku akan menghadapi orangtuamu nanti?!?” ujar Isa khawatir sambil memijit pelan kepalanya yang terasa berdenyut – denyut. Mungkin, denyutan itu berasal dari diri Isa yang baru saja bangun tidur dengan paksa dan langsung menghadapi kenyataan yang sangat mengejutkan dirinya
Sebenarnya, Isa sudah pernah bertemu dengan kedua orangtua Luke, yah, walaupun hanya sebatas video call karena saat itu, kedua orangtua Luke sedang berada di New Zealand.
“Astaga… kenapa kau berpikiran seperti itu, eumh?” tanya Luke sembari terkekeh pelan dan menepuk – nepuk sayang puncak kepala Isa
“Lalu, kau ingin aku berpikiran seperti apa?!?” tanya Isa panic
“Jangan panik… bayi kita nanti akan terkejut”
Mendengar ucapan Luke tersebut, Isa langsung berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik nafasnya secara perlahan dan mengeluarkannya secara perlahan juga, Isa melakukan hal itu beberapa kali sampai Isa merasa jantungnya tidak berdetak seheboh sebelumnya
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Luke sembari menggenggam tangan Isa dengan erat
Isa langsung membuka matanya yang sedari tadi tertutup saat mendengar pertanyaan Luke tersebut. Tadi, Isa sengaja menutup matanya agar dirinya bisa memfokuskan diri untuk mencari ketenangan
“Ya, lumayan” ucap Isa sembari tersenyum tipis
Luke menggangguk dan meraih tangan Isa lalu mengecup punggung tangan halus itu
“Lalu, katakan padaku, rumah siapa ini?” tanya Isa sembari memincingkan matanya ke arah rumah megah itu dan Luke bergantian
“Rumah kita”
“Oh… rumah kita…” ucap Isa sembari mengangguk – anggukan kepalanya beberapa kali
Rumah kita, gumam Isa dalam hatinya. Aneh, seperti ada sesuatu yang salah disini
Rumah kita?
Isa langsung melebarkan kedua matanya dan menatap Luke dengan tatapan terkejutnya
“Rumah kita?!?” tanya Isa setengah memekik
Luke terkekeh pelan saat melihat reaksi Isa tersebut. Mungkin karena Isa baru saja terbangun dari tidurnya, seluruh akal sehat wanita itu belum bekerja dengan benar
“Iya, rumah kita… Rumah Lukas Averanno Seranno dan istrinya yang cantik, Issabele Caroline Rose – Seranno” jelas Luke
Isa langsung membulatkan kedua matanya dan menatap rumah megah itu
“Kau pasti bercanda kan?” tanya Isa tak percaya
__ADS_1
“Untuk apa aku bercanda? Perlu kau tau, aku memiliki banyak uang, aku bisa membeli apa saja yang kumau. Lalu, untuk apa aku bercanda padamu soal rumah ini?”
“Bukannya kita sudah tinggal di penthouse?”
“Apa kau ingin kita selamanya tinggal di penthouse?” tanya Luke balik sembari menatap Isa dengan tatapan binggung
“Apa kau ingin anak – anak kita nanti tidak memiliki teman bermain seusianya? Kalau aku tidak” lanjut Luke
“Anak – anak?” beo Isa sembari mengernyitkan dahinya. Setaunya, dirinya tidak sedang hamil anak kembar saat ini
“Ya”
“Tapi… aku tidak sedang hamil anak kembar” ucap Isa dengan polosnya
Mendengar ucapan polos Isa tersebut, Luke tak bisa menahan senyumannya. Tangan kekarnya langsung terulur untuk mencubit pelan kedua pipi Isa dengan gemas
“Bukan, sayang. Astaga, kenapa kau sangat menggemaskan seperti ini, eumh?” ucap Luke dengan gemas
“Hei! It’s hurt! Lepaskan!” ucap Isa dramatis sembari memukul tangan Luke dengan kasar Sebenarnya, cubitan Luke tidak sampai membuat Isa merasakan sakit di pipinya. Isa hanya bertindak seperti itu untuk mendramatisir keadaan.
“Sorry” ucap Luke sembari menarik tangannya dan terkekeh pelan saat melihat Isa mengusap – usap pipinya yang terlihat baik – baik saja.
Isa mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan permintaan maaf Luke tersebut yang terdengar tidak tulus
“Jadi, apa kau tidak berniat untuk masuk ke rumah baru kita?” tanya Luke sembari menaik – turunkan alisnya dengan gerakan jenaka
Melihat tingkah Luke tersebut, Isa tak bisa menahan dirinya untuk menahan senyumannya.
Luke langsung keluar dari mobil mewahnya itu. Kaki panjangnya berjalan ke sisi mobil tempat dimana Isa sedang duduk. Dengan wajahnya yang berseri – seri, Luke membuka pintu itu dan mengulurkan tangannya kepada Isa
“Let’s go, my little girl”
Senyum bahagia Isa langsung terpancar di wajah cantik itu. Tak perlu waktu lama, Isa langsung meletakkannya tangannya di atas tangan besar milik Luke dan menggenggam tangan itu
Dengan langkah ringan, Isa dan Luke melangkahkan kakinya memasuki perkarangan rumah megah itu. Saat sudah memasuki gerbang rumah megah itu, Isa dan Luke disambut oleh seorang maid yang sudah ditugaskan Luke untuk menjaga keamanan rumah ini
“Aku akan berkeliling sebentar” ucap Luke singkat pada maid tersebut yang dibalas dengan sebuah anggukan dari maid tersebut
Tak ingin membuang – buang waktu lama, Luke langsung berjalan di depan Isa untuk memandu wanita itu. Namun, sedetikpun, Luke tak pernah melepaskan genggaman tangan Isa
“Wah…” ucap Isa kagum saat memasuki rumah megah itu
Seperti yang ada di pikirannya sebelumnya, rumah megah ini benar – benar besar dan terlihat mewah. Ketika memasuki rumah ini, Isa langsung merasa kagum dengan arsitektur luar biasa yang dimiliki rumah ini. Memadukan warna hitam dan gold membuat rumah ini terlihat elegant dan mewah
“Apa kau suka?” tanya Luke sembari menatap Isa yang sedang menjelajahi setiap sudut ruang masuk rumah mereka dengan mata berbinarnya
“Suka!” jawab Isa dengan cepat sembari menampilkan senyum lebarnya
“Ah… di belakang, aku juga sudah menyiapkan taman bermain dan kolam berenang” ucap Luke tanpa diminta
Isa langsung membulatkan kedua matanya saat mendengar perkataan Luke tersebut.
Tanpa meminta persetujuan dari Isa, Luke langsung menarik tangan mungil itu untuk mengikutinya. Isa tak menolak, karena dirinya pun penasaran dengan bentuk keadaan belakang rumah ini.
“Tada!” ucap Luke heboh saat dirinya menggeser pintu kaca yang menghubungkan rumah megah itu dengan halaman belakang rumah ini yang sudah didesainnya dengan begitu matang
Isa mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat keadaan halaman belakang rumah itu.
Isa terkejut, sungguh! Dia mengira, maksud taman bermain yang dikatakan oleh Luke adalah taman luas yang dihiasi oleh sebuah ayunan mungil, bukan sebuah taman yang sudah dilengkapi dengan berbagai macam permaianan anak, seperti 3 buah ayunan, 2 buah perosotan, 2 buah jungkat – jungkit dan jangan lupakan juga sebuah taman pasir mini.
“Ini….”
“Ini taman bermain untuk anak – anak kita nanti! Sebenarnya, aku sangat ingin mengajak anak – anak kita nanti untuk pergi ke taman bermain sungguhan setiap weekend, tapi aku sadar jika aku mungkin tidak bisa melakukannya dengan rutin karena alasan pekerjaan. Jadi, karena itu, aku memutuskan untuk membangun taman kecil ini” jelas Luke dengan bahagia
Mendengar penjelasan Luke, Isa mengangkat salah satu alisnya
“Taman kecil?’ beo Isa
__ADS_1
“Iya! Awalnya, aku juga ingin menambahkan komedi putar dis---
“Hah?!? Komedi putar?!?” potong Isa terkejut. Sepertinya, suaminya itu ingin membuat area belakang rumah mereka sebagai wahana bermain
“Yup… tapi aku ingat, komedi putar terlalu menyebalkan”
“You are insane! Apa kau sedang mencoba mengubah rumah ini jadi wahana bermain?” tanya Isa terkejut
“Mengap--
Drrtt… drrtt… drrt…
Ucapan Luke terpotong karena bunyi getaran dari ponsel yang berada di dalam sakunya
“Shit! Aku lupa mematikan ponselku!” ucap Luke kesal lantaran waktunya bersama Isa diganggu oleh orang lain
“Coba angkat, mungkin itu panggilan penting” saran Isa
Luke menghela nafasnya dan meraih ponselnya yang berada di dalam sakunya. Dahinya langsung mengernyit ketika membaca nama pemanggil tersebut
“Siapa?” tanya Isa penasaran
“Aurora” ucap Luke dengan nada datar sembari menunjukkan layar ponselnya yang sedang menampilkan nama Aurora kepada Isa
Isa merasa sedikit terkejut. Jika diingat – ingat sudah satu minggu belakangan ini, Aurora tak pernah lagi menghubungi Luke. Entah apa yang sudah dikatakan oleh Luke kepada Aurora ketika suaminya itu datang ke apartemennya, sehingga wanita itu tak memiliki keberanian lagi untuk merengek kepada Luke
“Coba angkat”
“Ah… tidak mau. Dia pasti akan selalu merepotkanku” ucap Luke sekenanya sembari menggeser tombol menolak panggilan
Isa langsung melebarkan matanya saat melihat tindakan Luke tersebut
“Lukas!” ucap Isa kesal
“Ap---
Drrt… drrt… drrtt…
Lagi, sebelum Luke berhasil mengucapkan kalimatnya, Aurora kembali menghubunginya.
“Bebal sekali” gerutu Luke kesal
“Coba angkat… siapa tau penting!” ucap Isa dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya
Luke mendecakkan lidahnya sebelum dirinya memutuskan untuk mengangkat panggilan itu
“Halo? Katakan, apa maumu?” tanya Luke to the point
“………..”
“Apa? Kau meminta untuk bertemu?” tanya Luke kesal
“….”
“Hasilnya sudah keluar?”
Tubuh Isa langsung menegang saat mendengar ucapan Luke tersebut. Hasilnya sudah keluar? Pasti hasil tes DNA bayi itu kan?
“Baiklah, aku dan Isa akan kesana” lanjut Luke lagi sebelum pria itu memutuskan panggilan itu secara sepihak
Setelah memastikan sambungan panggilan itu terputus, Luke langsung menghela nafasnya dengan pelan. Saat Luke merasa tangan yang berada di dalam genggamannya tiba – tiba mendingin, Luke langsung mengahlihkan perhatiannya kepada Isa
Luke mendapati raut wajah cemas di wajah itu.
“Isa… apapun yang terjadi, aku tidak akan menduakanmu, apalagi meninggalkanmu”
__ADS_1