
“Austin, cepat pesankan satu kamar hotel yang berada tidak jauh dari club ini!” perintah Luke sambil menahan tangan Isa yang sudah bergerilya dengan nakal di balik kaus yang sedang dipakainya.
Austin yang mendengar perintah Luke hanya menatap Luke dengan tatapan aneh dan menaikkan salah satu alisnya.
“Untuk apa?” tanya Austin dengan polosnya
“Jangan banyak bertanya! Cepat pesankan! Itu saja susah!” ucap Luke
“Ah, nope. Aku masih ada urusan” acuh Austin sambil mengelus lembut puncak kepala Debbie yang kini sudah berada di dadanya. Yah, saat ini Debbie sedang tertidur pulas akibat efek minuman yang diminumnya.
“Luke!” panggil Isa manja sambil menatap Luke dengan wajah cemberut.
Rasanya, Luke ingin mimisan saat melihat wajah Isa saat ini. Super triple cute.
“Tunggu yah” ucap Luke lembut sambil mengelus punggung Isa.
“Austin!” panggil Luke sambil menatap tajam Austin.
Austin yang ditatapi dengan tajam tersebut, berpura – pura tidak melihat Luke.
“Kenapa harus memesan hotel sih? Di club ini juga banyak kamar!” dalih Austin
Luke menggeram marah, ingin rasanya dia melempar sahabat laknatnya itu ke planet Pluto yang dingin, agar dia tidak bisa kembali mendapatkan kehangatan dari seorang wanita.
“Austin!” panggil Luke dengan nada marah
“What? Tolong jangan ganggu quality time ku” ucap Austin kesal.
“Aku akan memberitahu kepada tunanganmu yang sedang kau kejar – kejar itu, bahwa kau sudah memiliki wanita lain!” ancam Luke sambil menatap ke arah Austin dan Debbie secara bergantian.
Austin langsung menampilkan wajah tidak sukanya. Dia sudah sangat berusaha untuk mendapatkan hati tunangannya, namun semua itu akan gagal karena mulut ember Luke? Sial sekali!
“Baiklah – baiklah. Aku akan memesankan kamar hotel untukmu” tandas Austin sambil mengeluarkan ponselnya dari sakunya.
__ADS_1
“President suite! Kenyamanan nomor satu!” ucap Luke dengan cepat.
Austin memutar bola matanya dengan kesal. Sudah nyuruh, berbelit – belit pula. Andaikan Austin tidak memiliki rasa hormat dan sopan kepada Luke, mungkin kini dia sudah meninggalkan Luke tanpa memesankan Luke sebuah kamar hotel.
Kalian pasti tau kan bagaimana rasanya dimintai tolong oleh sahabat sendiri, tapi sahabat kita itu memiliki spesifikasi tertentu yang membuat kita menjadi malas memberikannya pertolongan.
Setelah perdebatan panjang dengan Austin, akhirnya Luke sampai di hotel yang sudah dipesankan oleh Austin untuknya, Hotel Henriette Paris. Salah satu hotel megah yang terdapat di Paris.
Saat pertama kali memasuki salah satu hotel termahal di Paris itu, para pengunjung akan dimanjakan dengan sebuah bundaran di tengah – tengah pintu masuk yang dilengkapi dengan air mancur yang keluar dari sebuah patung perempuan yang dipahat sedekimian rupa sehingga patung perempuan tersebut memberikan kesan keyunanian.
Sudah cukup menganguminya, kini Luke harus segera menuntaskan masalahnya.
Baru saja Luke menjejalkan kakinya di kawasan hotel tersebut, 5 pelayan hotel langsung terburu – buru menghampirinya.
“Welcome, sir!” ucap para pelayan tersebut sambil menunduk hormat.
Sepertinya Austin sudah menginformasikan kedatangannya kepada pemilik hotel tersebut. Tak disangka, Austin cukup baik juga.
“Hem… kalian tolong cepat buka kamarku. Saat aku sampai, kamarku harus sudah terbuka” ucap Luke sambil mengangkat tubuh Isa dari dalam mobil.
Kemudian, para pelayan itu tampak berjalan dengan tergopoh – gopoh.
Sebenarnya, Luke memiliki hotelnya sendiri. Namun, karena jaraknya yang agak jauh dari club, akhirnya Luke memutuskan untuk memsan hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kawasan club. Luke tidak terlalu mengkhawatirkan jumlah uang yang akan digelontorkannya, yang penting dia bisa menuntaskan segala kegundahannya selama 2 tahun belakangan ini dengan cepat.
Tak perlu waktu lama, kini Luke sudah berada di dalam kamar hotel yang sudah dipesankan oleh Austin untuknya. Luke langsung mengunci kamar hotel tersebut dari dalam dengan kunci hotel yang diberikan oleh salah satu pelayan yang dijumpainya saat Luke sampai di kamar hotelnya.
Bugh!
Luke melempar tubuh sintal milik Isa ke atas ranjang di kamar hotel yang baru saja dipesankan oleh Austin itu.
Malam ini menjadi malam yang sangat panjang dan malam yang sangat panas bagi Luke dan Isa. Isa seakan - akan melupakan semua prinsipnya saat tubuhnya menerima Luke.
“Apa kau menyesal?” tanya Luke dengan mata tertutup
__ADS_1
“Tidak! Ini sangat menyenangkan!” Jawab Isa.
Di dalam ucapan Isa terdengar kegembiraan yang menggebu – gebu. Luke tersenyum miring mendengar jawaban Isa, seharusnya Luke tidak menanyakkan hal itu kepada orang yang sedang mabuk.
Kemudian, Luke menyadari sesuatu.
Luke bangkit dari posisi tidurnya dan meraih celananya yang teronggok di lantai kamar hotel. Untungnya, celana Luke itu berada tidak jauh dari posisi Luke, sehingga Luke tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk meraihnya.
“Ini, minumlah!” perintah Luke sambil mengambil sebuah plastik berisi obat yang berada di saku celananya.
“Ini apa?” tanya Isa binggung sambil menerima plastik obat tersebut.
“Pil KB”
“Pil KB? Untuk apa?” tanya Isa binggung sambil menatap sekumpulan obat KB yang jumlahnya melebihi 15 butir itu.
“Apa kau sudah bersiap menjadi young mommy? Apalagi mommy dari anak - anaku kelak. Kurasa belum! Jadi, cepat minumlah!” perintah Luke.
Isa hanya diam.
Kemudian Isa mengambil satu pil obat tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan menelannya. Untungnya, ukuran obat tersebut kecil, sehingga Isa tidak memerlukan air untuk mendorong obat tersebut melewati kerongkongannya.
“Aku sudah siap menerima amukanmu besok pagi!” ucap Luke sambil tersenyum dan menarik kepala Isa ke lengannya, agar Isa menjadikan lengan Luke sebagai bantal kepalanya.
“Kenapa?”
“Eumh… sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik kita tidur.” Putus Luke sambil menutup matanya.
**Like dan komentar dari pembaca adalah moodboster cerita ini**
__ADS_1