
Selama perjalanan ke Los Angeles, Amerika Serikat, Luke benar – benar tidak dapat tidur. Selama 11 jam 40 menit, Luke menghabiskan waktunya untuk memikirkan Isa. Apakah Isa masih tidur? Apakah Isa mimpi buruk? Apakah Isa menikmati tidurnya? Apakah Isa sudah menyadari bahwa dirinya telah pergi? Apakah Isa….? Ya… Semua tentang Isa mengganggu pikirannya.
“Isa, kenapa kau seperti nikotin, eumh? Kau telah membuatku kecanduan!” ucap Luke pada wajah Isa yang terpampang di wallpaper ponselnya.
“Kepada Tuan Lukas Serrano terhormat dan para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Los Angeles International Airport LAX. Kami persilahkan kepada anda untuk kembali ke tempat duduk anda masing-masing, menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan anda, dan mengencangkan sabuk pengaman” perintah pramugari yang bertugas di jet pribadi Luke.
Mendengar perintah sang pramugari, Luke pun langsung melaksanakannya dengan patuh. Biasanya, Luke adalah seseorang yang sangat susah sekali untuk menuruti perintah pramugari karena Luke tidak suka diperintah. Selain itu, selama ini Luke tidak pernah menjalankan perintah para pramugari yang bertugas di jetnya, dan dia masih selamat sampai saat ini. Dalam artian, perintah para pramugari itu tidak berdampak apa – apa baginya. Tapi entah kenapa, kali ini, Luke mendengarkan dan melaksanakan perintah pramugari itu.
“Tuan Lukas Serrano yang terhormat dan para penumpang yang terhormat, selamat datang di Los Angeles, kita telah mendarat di Los Angeles International Airport LAX, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan.Terima kasih.” perintah pramugari yang suaranya terdengar berbeda dengan suara pramugari yang memberikan perintah, sebelumnya.
Luke memalingkan wajahnya ke arah jendela jet pribadinya.
Luke tersenyum kecil dan menghela napasnya dengan kasar.
“Tuan… apa ada yang sedang menggangu pikiran anda?” tanya Allexander saat menatap Luke menghela napas dengan kasar, seolah – olah dia memiliki beban yang sangat berat di pundaknya.
“Nope. Aku hanya sedikit kecewa dengan perlakuan Smith” ucap Luke sambil memandang Allexander dengan tatapan tajam
“Maksud anda… Ryan Smith?” tanya Allexander
“Yah… bisa dibilang begitu” jawab Luke sambil tersenyum miring.
“Tuan… mari” pandu salah seorang pramugari yang berhasil membuat Luke dan Allexander menghentikan percakapan mereka.
“Baiklah” ucap Luke sambil bangkit dari duduknya dan mengikuti pramugari yang sedang menenteng koper milik Luke di hadapannya.
Saat hendak menuruni tangga peswat, Luke langsung memakai kacamata hitamnya. Luke dapat menebak, bahwa kerumunan wartawan dengan blitz kamera yang dapat merusak matanya telah berkumpul di ruang tunggu bandara. Para wartawan itu sangat haus tentang kejadian masa lalu Luke.
“Hurry up! Lindungi tuan Luke!” perintah Allexander kepada beberapa bodyguard yang sudah siap siaga.
“Baik tuan!” ucap para bodyguard itu dengan patuh sambil mulai membentuk lingkaran yang melindungi pergerakan Luke.
“Nah, here we go!” ucap Luke dengan nada jengkel saat sinar blitz sudah mulai menerpa dirinya.
__ADS_1
“Mr Luke, mr Luke! Tolong lihat kemari!”
“Mr Luke, Kenapa anda kembali lagi ke sini? Bukannya anda mengatakan anda tidak akan kembali lagi ke sini?”
“Mr Luke, bagaimana hubungan anda saat ini dengan Miss Smith?”
“Mr Luke, anda kelihatannya sudah memakai cincin. Apakah anda telah kembali lagi bersama dengan Miss Smith?”
“Apakah anda dan Miss Smith telah melangsungkan pernikahan tertutup di Prancis?”
Mendengar pertanyaan – pertanyaan para wartawan yang hanya fokus dengan hubungan lamanya dan miss Smith, membuat Luke dongkol. Ingin rasanya Luke melempar kamera para wartawan itu yang semakin membuat dirinya merasa dongkol.
Luke melempar tatapan tajamnya kepada Allexander. Ia mengode kepada Allexander agar Allexander mengatasi para wartawan yang sangat menggangu itu.
“Tolong, berikan privasi kepada Mr. Luke. Mr. Luke tidak sedang ingin membahas permasalahan ini” ucap Allexander sambil tetap berjalan dan menatap para wartawan dengan tatapan lembutnya.
Mendengar penuturan Allexander, para wartawan itu langsung mendesah kecewa. Namun, mereka tetap gigih untuk memotret Luke.
Luke semakin mempercepat langkahnya saat dirinya mendapati mobil pribadinya telah menunggunya. Tanpa menunggu siapapun, Luke langsung memasuki mobilnya dan menutup pintu mobil mahalnya dengan kuat. Persetan, jika mobil itu akan lecet! Toh, Luke juga dapat membeli beratus – ratus mobil seperti ini.
Para wartawan yang berada disana terenyuh mendengar perkataan Allexander. Jika Luke adalah tipikal orang yang dingin dan keras kepala, maka Allexander adalah tipikal orang yang menenangkan dan lembut.
Luke mendengus kecil saat melihat para wartawan yang telah pergi setelah Allexander mengatakan sesuatu kepada mereka. Dengan gerakan kasar, Luke melempar kaca mata hitamnya. Kenapa Smith selalu membuat masalah dihidupnya akhir – akhir ini!
“Tuan, apakah anda butuh sesuatu?” tanya Allexander lewat kaca pintu mobil yang sedang dinaiki oleh Luke.
“Tidak ada. Aku sudah sangat lelah” ucap Luke dengan jujur sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan menutup matanya.
__ADS_1
“Baiklah. Tuan Hemmings, tolong antar tuan Luke ke hotel” ucap Allexander tuan Hemmings, supir pribadi yang akan menemani perjalanan Luke selama berada di Los Angeles.
“Baik, tuan” jawab Hemmings dengan patuh
Sekejap kemudian, mobil sudah berjalan dengan kecepatan tinggi meninggalkan area bandara. Hemmings memang sengaja mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena dia tau bahwa tuannya, Luke, sudah merasa sangat lelah, bosan dan muak.
Luke hanya diam saat mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan tinggi. Setidaknya, sebentar lagi tubuhnya akan merasakan empuknya kasur kamar hotel. Aish… entah kenapa, saat ini Luke sangat ingin untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Saat sedang memejamkan matanya, tiba – tiba wajah Isa langsung terlintas di benaknya. Dengan gerakan cepat, Luke mengambil ponselnya dari saku celananya. Dengan jemari panjangnya, Luke menggulirkan panggilan kepada Isa.
“Halo?”
Senyum Luke langsung terbit saat dia mendengar suara Isa yang terdengar sangat manis dan lembut di telinganya.
“Oh, halo. Bagaimana kabarmu?” tanya Luke dengan perasaan gugup yang luar biasa. Sangat jarang Luke merasa gugup saat menelpon seorang wanita dan entah kenapa, rasa gugup ini membuat Luke binggung untuk mencari topik pembicaraan.
“I’m fine. Ada apa?” tanya Isa balik
“Tidak ada apa – apa. Aku hanya rindu mendengarkan suaramu” jawab Luke dengan jahil. Sepertinya rasa lelah Luke sudah hilang dan telah berganti dengan rasa senang dan semangat yang luar biasa. Luke memang sudah tau, bahwa cinta memang segila ini. Eh, wait a second… apakah Luke sudah benar – benar mencintai Isa?
.
.
.
.
.
Hai... apa kabar semuaaaa??? Luke balik lagi nih...
.
__ADS_1
.
Oh iya, aku juga ingin ingatin kalian semua, karena virus Covid-19 semakin mewabah, kalian jangan lupa terapin pola hidup sehat ya... Seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker saat keluar rumah dan banyak makan makanan yang sehat. Jangan lupa juga untuk terapkan social distancing ya! Ingat kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati... Stay safe everyone <3