Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 45


__ADS_3

Dengan perasaan wanti – wanti, Isa terus menatap ke arah pintu Verlet Café. Saat ini, Ia sedang menunggu kedatangan Emily.


Sesekali, Isa mengetukkan jarinya ke atas meja tempat dia sedang duduk. Perasaan takut dan bimbang menyerang dirinya saat ini.


Isa menghela napasnya dengan kasar. Ia tidak tau, apakahak keputusannya hari ini adalah option yang benar atau salah.


“Isa! Apa kau melamun?” tanya Emily sambil melambaikan tangan mulusnya di depan wajah Isa


“Hah? Tidak” ucap Isa seakan – akan dia baru tersadar atas apa yang sedari tadi dilakukannya


“Maafkan aku jika aku lama, tadi aku memiliki sedikit masalah” terang Emily sambil menarik kursi di hadapan Isa


“Tak apa – apa. Aku maklum” ucap Isa sambil tersenyum kecil. Ia berharap bahwa senyumannya itu dapat mengurangi rasa bersalah Isa


“Ah iya… Apakah kau membawa bodyguardmu lagi?” tanya Emily dengan suara setengah berbisik sambil memajukan kepalanya ke arah Isa.


“Tidak tidak!” ucap Isa sambil tersenyum kikuk dan menggelengkan kepalanya berulang kali


Mendengar jawaban Isa, Emily kembali menarik kepalanya dan mengerluarkan kernyitan di dahinya


“Bagaimana bisa Lukas membiarkanmu berkeliaran tanpa bodyguard? Apakah Lukas tidak tau kalau kau akan keluar rumah?” tanya Emily sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan memberikan tatapan menyelidiknya ke arah Isa.


Isa hanya tersenyum kikuk.


Nampaknya, Emily sudah dapat menebaknya.


“Iya… Luke tidak mengetahui soal ini. Aku pergi diam – diam. Dia tidak mungkin akan mengizinkanku keluar jika dia tau bahwa aku akan bertemu denganmu” ucap Isa hati – hati sambil meringis pelan


“Nampaknya, tuan Lukas Averanno Seranno itu tidak suka melihat tunangannya bergaul denganku” ucap Emily sambil mendelikkan kedua bahunya


“Bukan begitu, maksudku. Maaf jika aku menyinggungmu” ucap Isa dengan rasa bersalah yang mulai menghinggapi dirinya


“Ah tak apa – apa” jawab Emily pendek.


Setelah obrolan singkat itu, baik Emily dan Isa menutup mulut mereka. Tidak ada yang memulai percakapan.


Isa hanya diam sambil menatap Emily yang nampaknya sedang mengeluarkan sesuatu dari tas gucci gg marmont matelassé leather berwarna peach miliknya.


Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Emily langsung menyodorkan sebuah amplop berwarna putih ke hadapan Isa.


“This is…” ucap Isa sambil memegang amplop putih itu dengan perasaan ragu

__ADS_1


“Itu adalah foto – foto yang ku janjikan kepadamu. Foto – foto Lukas saat berada di Los Angeles. Semua foto – foto itu diambil langsung oleh spy kepercayaanku, kau tidak perlu meragukan keasliannya” ucap Emily dengan serius


Mendengar perkataan Emily, keringat dingin dan rasa gugup langsung menghampiri Isa. Bagaimana jika…. God! Isa semakin tidak bisa berpikir jernih


Tanpa mengatakan apapun, Isa langsung merobek amplop itu dengan gerakan yang sangat pelan dan hati – hati. Saat dia hendak mengeluarkan semua foto yang berada di dalam amplop itu, Emily langsung memegang tangannya. Emily menghentikan tangannya!


“Ada apa?” tanya Isa binggung sambil menatap Emily


“Jika kau ragu, lebih baik kau tidak perlu melihat foto – foto itu. Honestly, aku sudah melihat foto – foto itu. Aku takut jika kau akan merasa kecewa kepada Lukas saat kau melihat foto – foto itu. Aku takut jika akhirnya kau akan meninggalkan Lukas karena foto – foto itu” terang Emily


Isa tersenyum kecut.


“Jika takdir sudah berkata, aku hanya bisa mengikuti alurnya. Jika aku dan Luke memang ditakdirkan bersama, hal ini tidak akan menggangu kami. Namun, jika aku dan Luke tidak ditakdirkan bersama… ah… mau bilang apa lagi? Mungkin nasib sial sudah menghinggapiku” terang Isa sambil menjauhkan tangan Emily yang menahan tangannya dengan lembut


“Apa yang akan kau lakukan setelah melihat foto – foto itu?” tanya Emily


“I don’t know” jawab Isa sendu


Tak ingin menunda lagi, Isa mengeluarkan semua foto yang berada di dalam amplop itu.


Saat melihat foto – foto itu, Isa merasa bahwa dadanya ditekan sangat kuat, Isa merasa bahwa dirinya tidak sanggup bernapas.


Melihat reaksi Isa tersebut, Emily hanya bisa menghela napasnya dengan kasar.


Foto itu menampilkan Aurora dan Luke yang sedang berpelukan. Di foto itu, Aurora terlihat sangat bahagia. Nampaknya, foto itu diambil malam hari.


Isa mengernyit saat melihat pakaian formal Luke. Bukankah itu adalah pakaian yang sama yang dikenakan Luke saat Isa melakukan video call dengannya saat Luke berada di Los Angeles?


Jadi,… acara makan malam dengan orang penting itu adalah acara makan malam dengan Aurora.


“Isa…” panggil Emily pelan sambil menatap Isa


Mendengar Emily memanggilnya, Isa mendongakkan kepalanya


“Bagaimana perasaanmu? Sepertinya, kau tidak perlu melihat foto – foto itu lagi, aku takut…” ucap Emily dengan sengaja menggantungkan kalimatnya


“I am just… ah, I am just fine” ucap Isa sambil menghela napasnya dengan kasar, seolah – olah dia sedang membuang seluruh beban yang menghimpit dadanya saat ini


Kemudian, Isa mengahlihkan tatapannya dari foto yang dipegangnya ke sebuah foto lainnya yang sangat menarik perhatiannya.


Rasanya, Isa sangat ingin menangis saat melihat foto itu.

__ADS_1


Di foto itu, nampak Luke dan Aurora sedang berpelukkan intim di sebuah club malam


Isa menggigit bibirnya untuk menahan tangisannya. Nampaknya, mulai dari sekarang, dia harus berhati – hati saat bersama Luke. Isa harus pandai – pandai menjaga hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam dalam pesona Luke. Dia tidak ingin merasakan rasa sakit hati yang lebih mendalam lagi.


“Terimakasih sudah mau memberikanku informasi ini” ucap Isa sambil tersenyum kecil dan memandang wajah iba Emily


“Jangan menatapku seperti itu, Isa! Aku jadi merasa bersalah” ucap Emily mengulum bibirnya sendiri


Isa tertawa kecil sambil memasukkan kembali semua foto – foto itu ke dalam amplop yang tadi sudah dirobeknya dengan hati – hati.


“Apa yang akan kau lakukan dengan foto – foto itu?” tanya Emily binggung saat melihat Isa memasukkan amplop yang sudah berisi foto – foto Luke dan Aurora ke dalam clutch bag berwarna abu milik Isa.


“Menyimpannya… maybe?” ucap Isa sambil tersenyum kecil namun, senyumannya itu seperti senyum yang terkesan dipaksakan


Mendengar ucapan Isa, Emily menggangga.


“Shit! Sebenarnya, apa yang berada di pikiranmu? Seharusnya kau membuang foto – foto itu… Mungkin saja foto – foto itu akan membuat hubunganmu dan Lukas menjadi renggang saat dia tau bahwa kau menyimpan foto – foto nya dengan Aurora” ucap Emily yang tidak setuju dengan keputusan Isa


“Bagaimanapun, aku harus dapat menghadapi kenyataan ini. Aku tidak bisa lari dari kenyataan ini. Hanya dengan membuang foto – foto ini, belum tentu hubungan kami dapat kembali seperti semula. Jadi… aku berpikir, aku akan berusaha menjaga diriku agar tidak jatuh terlalu dalam lagi kepada Luke. Aku ingin… foto – foto ini menggingatkanku bahwa sebenarnya, diriku sudah tidak berada lagi di hati Luke” ucap Isa dalam satu tarikan napas


“Hidupmu sangat berat Isa. Pasti rasanya sangat sakit saat melihat pria yang kita cintai bermain api di belakang kita dan dia bermain api bersama dengan orang yang pernah dicintainya” ucap Emily sambil memegang dan mengelus lembut punggung tangan Isa, seolah – olah ia tengah menyalurkan kekuatannya kepada Isa agar Isa tidak menangis.


Isa hanya tersenyum. Nampaknya, Emily memang tidak seburuk yang ia kira.


“Ah, iya…. Jika kau benar – benar tidak ingin jatuh lebih dalam, kenapa kau tidak meninggalkan rumah Lukas saja?”


.


.


.


.


.


**Waktu liat komentar di part sebelumnya\, keknya banyak batt nih yang kurang suka kalau Luke sama Isa cepat adem. Hehehe... ngerti kok kalau kalian kesal. Kesannya\, Isa kek gampangan batt di part sebelumnya. But... yah... maaf untuk itu. Oh iya\, jangan lupa juga untuk selalu mendukung cerita ini. Dan\, jangan sungkan - sungkan juga untuk memberikan komentar\, supaya cerita ini juga bisa berkembang dengan baik... **


**See you di part selanjutnya **


 

__ADS_1


 


__ADS_2