Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 106


__ADS_3

Isa menatap suaminya yang saat ini tengah menundukkan kepalanya dengan frustasi. Sebelah tangan kekar milik pria itu menahan kepalanya, sedangkan tangan kekarnya yang lain bergerak untuk menjambak rambut hitam legamnya.


Isa tau, suaminya itu pasti merasa frustasi. Hal seperti ini sudah terjadi sebelumnya di dalam kehidupan Luke. Isa tak tau, seberapa besar rasa hancur yang saat ini hinggap dalam diri Luke.


Luke adalah seorang pria yang menyukai bayi. Di masa lalu, ia bahkan menjaga bayi yang tidak memiliki darahnya sendiri, tapi na’as, Luke malah kehilangan bayi itu saat dirinya sudah terlanjur menyayangi bayi itu.


Dan sekarang… Luke kembali kehilangan. Saat ini, Luke belum menyayangi bayi itu, tetapi, saat pria itu tau bahwa darahnya mengalir dalam tubuh bayi yang belum lahir itu, untuk sekali lagi… ia merasa gagal menjadi seorang pria.


“Luke… listen to me… semuanya akan baik – baik saja” ucap Isa lembut sembari mengarahkan tangan kecilnya untuk mengusap – usap pundak lebar milik Luke


“Tak akan ada yang baik – baik saja, Isa…” ucap Luke lirih tanpa mau mengangkat kepalanya


Isa menghela nafasnya dengan kasar. Disaat – saat seperti ini, Isa tak tau harus melakukan apa agar Luke bisa tersenyum… ah tidak – tidak…. Jangankan tersenyum, minimal, Isa ingin melihat Luke tidak bersedih lagi seperti ini


“Aku sungguh merasa bersalah pada Ara. Andaikan sejak awal aku menerima keberadaan bayi itu dengan lapang dada dan menerima keberadaan Ara, kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi. Seharusnya, aku membiarkan Ara tinggal di rumah kita…”


Nyut…


Hati Isa serasa ditusuk dengan pisau yang amat tajam, ketika telinganya mendengar ucapan Luke tersebut. Isa tau, Luke pasti mengatakan hal itu tanpa berpikir panjang dan dia mengatakan hal itu hanya sebagai tanda ekspresi bahwa dirinya merasa bersalah akan kejadian har ini. Tapi entah kenapa, hati Isa tetap sakit ketika mendengarnya.


“Ya… seharusnya ia tinggal di rumah kita…” ucap Isa dengan nada bicaranya yang terdengar bergetar


Isa tak tau kenapa mulutnya mendustai hatinya. Isa tak ingin mengucapkan kalimat itu, tetapi mulutnya bertindak sendiri ketika dirinya melihat suaminya yang sedang frustasi itu.


“Issabele..”


Saat mendengar namanya dipanggil, Isa langsung mengahlihkan pandangannya dari Luke. Matanya bergerak untuk menatap dokter Margareth yang saat ini sedang berada di hadapannya


Dahi Isa mengerut ketika dirinya bisa mendapati mata merah dan membengkak milik dokter Margareth. Sepertinya, wanita berjas putih itu baru saja menangis.


“Kau menangis?” tanya Isa terkejut sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati dokter Margareth


Dokter Margareth bisa melihat Isa menatapnya dengan rasa penuh kekhawatiran. Tindakan Isa itu semakin membuat rasa bersalah menggelora dalam diri dokter Margareth. Sungguh, ia sangat menyesal atas tindakan tak profesionalnya itu


“Eumh… ya… tadi ada sedikit masalah…” jelas dokter Margareth dengan suaranya yang terdengar sangat parau, khas seseorang yang baru saja menangis


“Kau yakin?” tanya Isa


“Ya…” ucap dokter Margareth sembari tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan


Isa menghela nafasnya lega.


“Apa yang terjadi dengan Luke?” tanya dokter Margareth sembari melempar tatapan sekilasnya pada Luke.


Pria itu masih tetap berada di posisinya. Menunduk. Dokter Margareth tak tau, apakah pria itu mengetahui kedatangannya dan sengaja mengabaikannya atau pria itu tidak menyadari kedatangannya. Apapun itu, dokter Margareth tau bahwa hal itu bukanlah hal yang baik


“Dia sedikit frustasi… Dia menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian kali ini…” jelas Isa yang diakhiri dengan sebuah helaan nafas berat


Dokter Margareth menggigit bibir bawahnya. Ini semua karenanya.


“Isa… sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu” ucap dokter Margareth dengan seluruh keberanian yang masih tersisa di dalam dirinya

__ADS_1


“Ya…. Apa yang ingin kau katakan?” tanya Isa


Dokter Margareth menghela nafasnya dan menarik nafasnya dalam – dalam


“Bayi yang dikandung oleh Aurora bukanlah bayi Luke” jelas dokter Margareth


Isa mengernyitkan dahinya binggung. Sungguh, ia tak mengerti apa maksud dan tujuan ucapan dokter Margareth tersebut


“Apa kau sedang bercanda?” tanya Isa santai sembari tertawa kikuk di akhir ucapannya itu


“Aku tidak bercanda, Isa” ucap dokter Margareth serius sembari menatap lekat Isa


“Apa maksudmu Margareth?”


Deg.


Jantung Margareth berdebar dengan kencang ketika mendengar suara berat milik sepupunya memanggil namanya. Margareth tau, jika pria itu memanggil namanya seperti itu, bukan dengan sebutan ‘Gareth’, berarti pria itu sedang marah besar dan kecewa pada Margareth


Margareth bisa melihat waut wajah tak bersahabat dari wajah tampan sepupunya itu. Rahang pria itu mengeras dan tatapannya terlihat sangat datar namun mampu membuat siapapun merasa ketakutan


“Maaf… bayi Aurora bukanlah bayimu” ucap dokter Margareth dengan suara lirihnya


Luke menyipitkan matanya tak percaya.


“Coba katakan sekali lagi?” tanya Luke tak percaya


“Bayi itu bukan bayimu” jawab dokter Margareth dengan nada suaranya yang sudah meningkat satu oktaf


Isa yang melihat itu hanya bisa berdiam diri. Isa tak tau untuk melakukan apa disaat – saat seperti ini, jujur, ia sungguh terkejut dan syok dengan apa yang baru saja didengarnya dari dokter Margareth


“Aku serius, Lukas!” sentak dokter Margareth dengan nada bicaranya yang terdengar bergetar


“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Luke tak percaya


“Ak--- maaf… aku… aku tidak bermaksud untuk memalsukan hasil tes DNAnya…” ucap dokter Margareth sembari menundukkan kepalanya takut


Mata Isa langsung membulat terkejut ketika mendengar ucapan dokter Margareth itu. Memalsukan hasil tes DNA? Kenapa dokter Margareth bisa segila itu?


“What the fuk, you talking now*!” ucap Luke dengan emosinya yang sudah berapi – api.


Kedua tangan pria itu sudah mengepal dengan kuat hingga urat – urat nadi berwarna kebiruan yang ada di punggung tangan pria itu menonjol dengan maskulinnya. Isa tau, jika saja orang yang berada di hadapannya adalah seorang pria, bukan wanita, pasti Luke sudah melayangkan tinjuannya, sama seperti yang sudah dilakukannya pada Sean beberapa bulan yang lalu.


“Luke… jangan kasar seperti itu, semuanya ‘kan bisa kita bicarakan dengan baik – baik. Saat ini kita sedang berada di rumah sakit, kurang pantas jika kau mengucapkan kata – kata kasar seperti itu disini” ucap Isa sembari menyentuh lembut lengan kekar pria itu


“Isa, jangan mendikteku! Apa kau tau bagaimana hancurnya perasaanku?! Dan wanita ini… dia dengan seenaknya mempermainkan perasaanku! Apa kau pikir, karena aku seorang pria, aku tidak boleh menunjukkan rasa emosionalku kapan saja?!?” tanya Luke sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Margareth


Sungguh, ia merasa sangat sangat kecewa dengan Margareth. Betapa teganya dia melakukan hal seperti ini pada Luke. Wanita itu sudah mencemari citra seorang dokter yang dikenal sebagai pekerja paling mulia. Selain itu…wanita itu juga sudah mencemari hubungan tali persaudaraan yang sangat erat diantara dirinya dan Luke.


Sebenarnya, apa yang sedang dipikirkan oleh Margareth ketika wanita itu hendak melakukan hal seperti ini.


“Maafkan aku, Lukas… Aku tidak bermaksud untuk melakukan semua hal ini… Aku… aku hanya merasa kasihan pada Aurora… dia selalu menangis ketika bertemu denganku… selain itu,…. Dia juga membahayakan hidupnya dan hidup bayinya untuk melakukan tes DNA ini… dan… saat dia sakit pun, tak ada satu orangpun yang datang menjenguknya… aku… hatiku tersentuh” ucap dokter Margareth di tengah – tengah isakannya.

__ADS_1


Air mata milik wanita itu mulai berderai, tetapi tak satu tetes pun dari air mata itu mampu membuat hati Luke iba. Ia malah semakin muak.


“Jadi, kau tidak kasihan kepadaku, hah?!?”


“Luke… maaf…” ucap dokter Margareth sembari menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Luke


Namun, sebelum tangan wanita itu menyentuh tangan kekar milik Luke, Luke langsung menepis tangannya dengan kasar. Ia tak peduli jika ia berlaku kasar kepada seorang wanita, meskipun ia tau, pria sejati tak akan melakukan hal kasar seperti itu pada seorang wanita


“I'm done with all this fuking crazy stupid stuff*” ucap Luke kasar sembari melangkahkan kakinya panjang – panjang untuk meninggalkan dokter Margareth dan Isa.


Isa awalnya ingin menghentikan suaminya itu dan membujuk suaminya untuk berbaikan dengan dokter Margareth, karena bagaimanapun juga, mereka adalah sepasang sepupu, di dalam diri mereka mengalir darah yang sama. Namun, Isa mengurungkan niatnya itu karena ia tau jika saat ini, Luke membutuhkan ruang untuk sendiri. Semua ini pasti terasa berat untuk pria itu.


“Isa… Issbele… Kau… kau mau memaafkanku kan?” tanya dokter Margareth sembari memegang kedua tangan Isa dan menatap Isa penuh harap


Hati Isa sedikit mengiba ketika melihat air mata yang tak berhenti – berhentinya keluar dari kedua mata dokter Margareth. Tatapan penuh harap milik wanita itu mendorong hati Isa untuk memaafkannya, tetapi…


“Maafkan aku, Margareth… Aku sangat ingin memaafkanmu, tapi apa yang kau lakukan sungguh sudah berada di luar batas”


Harapan dokter Margareth langsung hancur ketika mendengar ucapan Isa tersebut. Ia sempat mengira, jika wanita itu pasti mau memaafkan dokter Margareth, karena wanita itu memiliki hati yang hangat


“Lalu… apa yang harus kulakukan agar aku bisa mendapatkan permintaan maafmu? Sungguh… aku merasa sangat menyesal karena sudah melakukan tindakan bodoh ini” ucap dokter Margareth sembari meremas kedua punggung tangan Isa yang berada di genggamannya.


Isa menghela nafasnya


“Disini… hati Luke lah yang paling tersakiti… Mungkin, aku bisa memaafkanmu jika Luke sudah memaafkanmu”


.


.


Author Note :


Hai, semua... Apa kabar? Semoga semuanya baik - baik aja yah di masa pandemi ini. Tetap jaga kesehatan, jaga jarak dan selalu pakai masker kalau keluar rumah.


Ah iya... rasanya udah lama, author gak buat author note... hehehe...


Sebelumnya, author mau minta maaf kalau cerita ini mulai terasa hambar dan gak semenegangkan bagian - bagian awalnya. Author tau kalau kalian semua kecewa sama cerita ini, author minta maaf ya...


Dan jujur, author sedikit ada rasa sakit hati sama beberapa readers yang terang - terangan bilang mau unfav cerita ini... Author tau, tanpa kalian semua, cerita ini gak akan bisa sampai di titik ini... author sangat berterimakasih untuk itu... tapi, rasa sakit hati kadang mau author rasakan waktu baca komentar ini


Sebelumnya, author gak maksa kalian untuk ikutin cerita ini sampai end, karena author juga sama halnya seperti kalian, author juga seorang readers yang pasti sering kesal karena jalan cerita yang kita sukai enggak berjalan seperti yang kita mau, tapi, author tetap jaga perasaan penulis cerita itu.


Mungkin kalian bisa bosan sama cerita ini dan berpikiran untuk unfav, author gak marah kok sama kalian, karena itu hak kalian semua... tapi, jujur, author ada sedikit rasa sakit hati waktu ngelihat banyak yang ngomen kalau mau ngeunfav cerita ini.


Jujur, sejak sering baca komen itu, author sering bertanya - tanya, letak kesalahan author dimana? Semenjak sering baca komen gitu, author udah bolak - balik revisi habis - habisan story line cerita ini. Bahkan puncaknya, author takut untuk baca komen karena takut ketemu sama jenis - jenis komentar seperti itu.


Maaf kalau author berlebihan... tapi beberapa hari belakangan ini, author udah berhasil mendapatkan rasa semangat author lagi dan author bakal berikan yang terbaik untuk kalian.


Akhir kata, terimakasih buat semua readers yang mau membaca cerita ini.... Author sangat berterimakasih karena kalian masih menyupport cerita ini sampai sekarang... Jangan bosan - bosan untuk baca cerita ini ya


Luv u all....

__ADS_1


__ADS_2