
Keesokan paginya, Isa terbangun tanpa Luke disisinya. Awalnya, Isa sangat binggung. Kemana sebenarnya pria itu pergi? Namun, kebinggungan Isa langsung lenyap saat dia menemukan sebuah kertas yang terletak di meja belajarnya.
Tadi malam sangat menggagumkan! Aku berharap kita dapat melakukannya lagi, lagi dan lagi. Tidak tau kah kau kalau kau bagaikan morphin untukku? Sangat memabukkan dan selalu membuatku ketagihan.
Saat kau membaca kertas ini, mungkin kini aku sudah pulang ke rumahku dan bersiap – siap untuk bekerja. Aku menuruti saranmu tadi malam, aku memutuskan untuk berolahraga dari rumahmu ke rumahku. Olahraga pagi sangat baik untuk tubuh bukan? Tapi,olahraga malam denganmu jauh lebih baik.
Dari pria yang mampu membuatmu tidak henti meraung – raung, Luke.
Isa tersenyum kecil sambil menggigit bibirnya dengan pelan. Bahkan, hanya dengan sebuah surat dari Luke, Isa dapat tersenyum seperti orang gila. Pria itu memang memiliki pesonanya sendiri, hingga tak salah dia disebut sebagai man crush in Paris.
Pagi ini, Isa memulai harinya dengan penuh senyuman. Senyum manis tidak pernah terlepas dari wajah gadis cantik itu. Jika Isa kembali mengingat tentang kejadian panasnya dan Luke tadi malam dan surat yang ditujukan Luke kepadanya, wajah Isa langsung memerah malu, meskipun tidak ada yang menggodanya.
“Kak, apa salah satu sarafmu sudah putus?” tanya Minnie yang binggung dengan tingkah laku kakaknya sedari tadi.
Saat ini, Isa, Minnie dan kedua orang tua mereka sedang sarapan bersama di ruang tamu. Mungkin kedua orang tua mereka tidak memperhatikan tingkah laku Isa, namun sedari tadi Minnie memperhatikan tingkah laku Isa.
Awalnya Minnie mengabaikan tingkah aneh kakaknya itu. Namun, setelah melihat kakaknya tidak berhenti tersenyum dan sesekali wajahnya memerah, Minnie langsung merasa jengah dan merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya itu.
“Enak saja! Aku masih waras!” ucap Isa dengan kesal sambil memukul kuat lengan Minnie.
“Aish… sakit sekali” adu Minnie sambil mengusap – usap lengan putihnya yang kini sudah berubah warna menjadi merah, untung saja tidak berubah warna menjadi warna hijau, bisa – bisa Minnie nanti berubah menjadi seorang hulk.
“Hei, tidak baik bertengkar saat makan!” tegur Ayah Isa yang membuat Isa langsung memeletkan lidahnya kepada Minnie untuk mengejek adiknya itu.
Minnie hanya mengembungkan pipinya dengan kesal. Padahal Minnie berniat baik dengan menanyakan kewarasan kakaknya itu kepada kakaknya saat melihat tingkah aneh kakaknya. Jika kakaknya itu benar – benar sudah kehilangan satu sarafnya, Minnie bisa langsung melakukan pertolongan pertama dengan cepat.
“Oh iya! Tadi malam aku mendengar suara decitan dari kamar kakak!” jelas Minnie dengan semangat. Gadis itu memang tidak pernah berhenti mengurusi segala urusan mengenai Isa.
Mendengar perkataan Minnie itu, jantung Isa langsung berdegub dengan kecepatan yang tidak biasa. Bagaimana jika Minnie mendengar dan tau tentang apa yang Isa dan Luke lakukan tadi malam? Gawat!
“Ah? Tidak, kok” jawab Isa dengan sesantai mungkin
“Aku tidak mungkin salah! Aku bahkan mendengar suara decitannya berulang – ulang!” ucap Minnie sambil menatap kedua orangtuanya dan Isa secara bergantian/
“Tapi aku sendiri tidak mendengarnya!” bela Isa sambil menatap kedua orangtuanya.
Kedua orang tua mereka langsung menghela napasnya dengan kasar dan saling berpandangan untuk seperkian detik. Sepertinya mereka sedang berbicara melalui kontak mata.
“Mungkin, tempat tidur Isa minta diganti dengan tempat tidur yang baru” ucap Ayah Isa yang membuat Minnie langsung terhenyak.
“Mungkin karena tempat tidur milik Isa sudah tua, makanya tercipta suara decitan – decitan saat Isa sedang bergerak” Lanjut ayah Isa lagi
“Kapan kita akan membeli tempat tidur barumu Isa?” tanya Ibu Isa sambil menatap Isa.
Isa langsung gegalapan dan menggelengkan kepalanya dengan kuat – kuat.
“Tidak usah Ibu! Meskipun sudah tua, aku masih nyaman memakainya!” tolak Isa sambil tersenyum.
“Iya, bu! Tak usah belikan yang baru kepadanya! Lagipula sebentar lagi dia tidak akan tinggal disini lagi” ucap Minnie dengan senyum sumringahnya
“Apa maksudmu, Minnie?” tanya Ibu mereka sambil menatap anak bungsunya itu dengan tatapan binggung.
“Sebentar lagi pacarnya akan datang untuk mempersunting kak Isa. Eumh tidak! Sebenarnya kakak sudah dipersunting olehnya, namun tinggal menunggu jawabannya saja!” jawab Minnie dengan ringan yang membuat orang – orang yang berada di sana membelalakan matanya karena tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Minnie.
“Pacar? Aku tidak punya pacar” jawab Isa dengan polos.
Seingat Isa, Isa terakhir kali berpacaran 3 tahun yang lalu dengan si fucking Sean Gardner itu! Sejak putus dengan Sean, Isa tidak pernah terlibat dalam hubungan pacaran. Bukan karena tidak laku, malahan banyak pria yang silih berganti mendekati Isa namun Isa tidak pernah membuka hatinya untuk pria – pria itu. Isa lebih betah hidup sendiri tanpa menjalin hubungan dengan pria manapun.
Sejak putus dengan Sean, Isa berpikir bahwa semua pria itu sama saja. Terlebih lagi, insiden putusnya Isa dan Sean membuat Isa tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta/
“Jadi, si Luke Luke itu siapa?” tanya Minnie sambil memutar bola matanya dengan kesal
“Aku tidak pernah mengatakan kalau dia adalah pacarku!” ucap Isa sambil menetralkan degupan jantungnya yang menjadi tidak stabil saat mendengar nama Luke.
“Aish, kalau disini kau mengatakan kalau dia bukan pacarmu. Tapi, siapa yang tau apa yang kalian lakukan diluar sana” goda Minnie sambil tersenyum jahil
“Kau!!!”
“Hei, hei sudahlah! Minnie makan sarapanmu dan segeralah pergi untuk bimbingan belajar! Dan kau Isa, apa kau sudah lupa kalau hari ini adalah hari peragaan busana Summer?” tanya Ibu Isa sambil menatap kedua putrinya secara bergantian
“Ups! Aku hampir lupa!” ucap Isa kaget sambil menepuk kepalanya sendiri.
Kemudian Isa memakan seluruh sarapannya dengan terburu – buru.
“Uhuk uhuk”
__ADS_1
Isa terbatuk saat dia memaksa semua makanannya untuk masuk ke kerongkongannya dalam sekali suapan
“Pelan – pelan makannya” ucap ayah Isa saat melihat putrinya terbatuk – batuk.
“Iya, ayah” ucap Isa sambil menegak susu vanillanya hingga habis.
Sejak kecil, Isa dan Minnie memang sudah dibiasakan oleh kedua orang tuanya untuk meminum susu saat sedang sarapan. Meskipun kini mereka sudah melewati masa kanak – kanak mereka, Isa dan Minnie masih tetap meminum susu saat sedang sarapan.
“Aku pergi dulu” ucap Isa sambil mengecup pipi ayah, ibu dan adiknya.
“Hati – hati di jalan kak” ucap Minnie
Untung saja Isa sudah memesan transportasi online, hingga akhirnya dia bisa sampai di tujuannya dengan tepat waktu.
Grand Palais, tempat dimana peragaan busana Summer milik Lythe akan dipertontonkan nanti malam. Grand Palais merupakan salah satu tempat bersejarah dan sering dijadikan sebagai tempat untuk menyelenggarakan pameran. Tempat ini sebenarnya merupakan komplek museum yang letaknya di dekat Champs-Elysees. Struktur bangunan ini mengkombinasikan antara bangunan klasik dan modern.
Grand Palais sering dikunjungi pengunjung dari berbagai negara. Salah satu merk fesyen terkenal Prancis, yakni Chanel, biasa memamerkan koleksi rancangannya di tempat ini.
“Isa!!!” panggil Debbie dengan heboh saat melihat Isa sudah turun dari transportasi onlinenya
“Aish… kau tidak perlu berteriak sekencang itu! Aku belum tuli!” ucap Isa sambil memegangi telinganya yang terasa berdenyut – denyut akibat suara lengkingan Debbie yang tidak ada bedanya dengan suara high note milik Ariana Grande, namun milik Debbie adalah versi suara cempreng.
“Kukira kau tidak datang” ucap Debbie sambil tersenyum dan menggandeng tangan Isa
“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku selalu datang ke setiap persiapan peragaan busana yang akan dilakukan oleh Lythe sejak aku masuk menjadi salah satu anggota Lythe!” protes Isa sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal
“Yasudah, maaf, maaf!”
“Bagaimana progressnya?” tanya Isa sambil mengedarkan pandangannya ke bagian luar bangunan Grand Palais yang kini sudah dihiasi dengan segala pernak – pernik yang berwarna pastel, sesuai dengan warna Lythe.
“80%. Kita hanya perlu mengatur lighthing lampunya agar terlihat menarik. Menurutmu, lighthing bagaimana yang akan kita lakukan?” tanya Debbie sambil menarik tangan Isa untuk duduk di salah satu kursi yang berada did alam bangunan Grand Palais itu.
“Eumh.. bagaimana kalau kita melakukan permainan lighthing yang tidak terlalu menyakitkan mata. Kau tau, sering sekali brand – brand terkenal melakukan lighting berkelap – kelip yang menyakitkan mata para pengunjung. Kurasa, kita tidak perlu melakukan lighting yang seperti itu” saran Isa sambil menatap seluruh bagian dalam bangunan Grand Palais itu
“Bagus, bagus! Nanti aku akan memberi arahan kepada staff koordinator lighting!” ucap Debbie dengan semangat
Setelah mengobrol kecil dengan Debbie, Isa memutuskan untuk berkeliling bangunan Grand Palais itu. Selain untuk melihat perkembangan dekorasi, Isa juga sangat ingin memijakkan kakinya di bangunan mewah itu.
Sedangkan Debbie? Wanita itu asyik memainkan ponselnya sambil memakan beberapa bungkus cemilan yang dibelinya dari mini market terdekat.
“Bagaimana dengan para modelnya?” tanya Isa sambil menatap Debbie yang sedang asyik berselancar di Instagram dengan ponselnya.
“Aku sudah menyewa model dari mitra kita kemarin, 30 model untuk 40 pakaian” ucap Debbie tanpa menatap Isa
“Kenapa kau tidak meminta 20 model saja? Bukannya 30 model terlalu mubazir! Selain itu, pembagian pakaiannya… bagaimana kau akan mengaturnya?” tanya Isa sambil melempar tatapan binggungnya pada Debbie
“Aish… kita bahkan belum membicarakan tentang pengaturan para model” lanjut Isa lagi sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut
“Aku sudah mengatur semua itu” ucap Debbie dengan santai sambil meletakkan tangannya di bahu Isa
“Kalau begitu, jelaskan padaku” ucap Isa yang membuat Debbie memalingkan pandangannya dari ponselnya.
“Dengarkan aku. Aku sudah menyewa 25 model biasa untuk 25 pakaian, mereka masing – masing akan mendapatkan 1 pakaian. Sedangkan 5 model lagi untuk 15 pakaian, mereka masing – masing akan mendapatkan 3 pakaian. Dan perlu kau tau, 5 model lagi adalah super model yang akan membuat peragaan busana ini menjadi artikel utama di majalah fashion” ucap Debbie dengan menggebu – gebu.
“Super model? Biasanya kau hanya menyewa 1 super model” ucap Isa sambil mengernyitkan dahinya
“Ya, tapi setelah kupikir – pikir…. 1 super model saja tidak akan berhasil membuat peragaan busana ini menjadi trending di seluruh dunia fashion” ucap Debbie sambil menopangkan dagunya dengan tangannya.
“Siapa saja super modelnya?”
“Eumh… Kendall Jenner, Barbara Palvin, Taylor Hill, Miranda Kerr dan Kelsey Merrit” jelas Debbie
Isa mengernyit binggung mendengar nama – nama super model yang baru saja disebutkan oleh Debbie.
Dari semua nama itu, Isa hanya tau beberapa.
Isa hanya mengenal Kendall Jenner dan sedikit mengetahui berita tentang Kelsey Merrit. Nama Kendall Jenner memang sangat melejit dalam dunia permodelan, selain karena memiliki bentuk tubuh yang sangat luar biasa, keberadaan keluarga Jenner dan Kardashian juga menjadi perhitungan kesuksesan yang diraih oleh Kendall.
Sedangkan Kelsey Merrit? Namanya menjadi perbincangan kala ia menjadi salah satu model di peragaan busana Victoria’s Secret. Namanya menjadi perbincangan karena berhasil menjadi wanita Asia Tenggara pertama yang menjejalkan kakinya di atas lantai Victoria’s Secret.
“Apa mereka semua super model? Aku hanya mengetahui beberapa nama saja” ucap Isa sambil menyipitkan matanya
“Mereka sedang hangat diperbicarakan di dunia fashion saat ini. Akan sangat menguntungkan bagi kita kalau merekrut mereka” jelas Debbie.
“Apa kau tidak pernah membaca majalah fashion? Like *V*ogue, Marie Claire, Harper’s Bazaar, Elle, Instyle, Cosmopolitan” ucap Debbie sambil menatap aneh ke arah Isa
__ADS_1
“Bagaimana aku sempat membaca majalah – majalah itu, kalau aku selalu dipaksa pergi ke club untuk menemani bos ku” ucap Isa dengan nada datar
“Setidaknya aku masih memberikanmu hari libur dan kau bisa membaca majalah – majalah itu di hari liburmu! Seharusnya kau lebih sering membaca majalah fashion! Apa yang akan dipikirkan oleh orang lain saat seorang desainer dari rumah mode Lythe tidak pernah membaca majalah fashion!”
Isa menghela napasnya dengan pelan. Sepertinya, Isa harus mengalah lagi kepada bos nya itu.
“Baiklah. Terserah” tandas Isa
“Oh, iya. Apa kau ingin melihat para modelnya?” tawar Debbie dengan nada semangatnya
“Apa mereka sudah tiba?” tanya Isa binggung
“Tentu saja!”
“Bukannya masih ada waktu 7 jam lagi? Kenapa buru – buru sekali?”
“Kau kira waktu 7 jam akan cukup untuk mendandani 30 model? Belum lagi kita harus melakukan pengecekan ukuran pakaian dan melakukan gladi resik” ucap Debbie sambil memutar bola matanya dengan malas
“Oh, iya. Benar juga”
Debbie kemudian membawa Isa menuju ke ruangan khusus para model yang terletak di lantai ketiga bangunan Grand Palais itu.
Saat sudah sampai di ruangan tersebut, Debbie langsung memanggil koordinator para model.
“Ada apa, miss?” tanya koordinator tersebut dengan sopan saat menemui Debbie dan Isa
“Apa semua model sudah hadir?” tanya Debbie
“Belum semua miss. Kita hanya tinggal menunggu 1 super model lagi” ucap koordinator tersebut
“Bukannya seharusnya mereka semua sudah datang dan berkumpul saat ini? Aku sudah jelas – jelas mencantumkan pukul berapa mereka akan hadir di Grand Palais” ucap Debbie yang disertai dengan sebuah kernyitan binggung.
“Tapi dia akan datang kan?” tanya Isa sambil menatap koordinator tersebut
“Ya. Managernya berkata kalau mereka akan sampai 2 jam lagi”
“Kenapa begitu lama?” tanya Isa
“Mereka sedang mengalami gangguan penerbangan dari Dubai”
“Oh”
Setelah berbincang – bincang dengan koordinator, Debbie dan Isa memutuskan untuk beristirahat dan memakan makanan ringan di salah satu café yang letaknya tidak jauh dari kawasan bangunan Grand Palais.
“Isa… pokoknya kau harus tenang dan semangat! Jika peragaan busana ini meraup keuntungan 3x lipat dari keuntungan peragaan busana tahun lalu, aku akan mentraktirmu membeli vodka termahal di kota ini” ucap Debbie dengan semangat yang membuat Isa tersenyum miris.
“Jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti kau akan merasa sakit saat terjatuh” ucap Isa yang diakhiri oleh sebuah ringisan kecil.
“Apa salahnya bermimpi? Malahan ada pepatah yang mengatakan kalau kita harus bermimpi setinggi bintang di langit, agar kalau kalau kita jatuh, kita jatuh diantara bintang – bintang” ucap Debbie dengan semangat
“Terserah, terserah!” ucap Isa
Mereka kemudian melanjutkan makan mereka dalam keadaan hening, sampai sebuah suara tapak kaki yang terdengar tergesa – gesa menghampiri mereka
“Gawat!!!” ucap salah satu staff peragaan busana
“Ada apa?” tanya Debbie sambil menatap salah satu staffnya itu yang terlihat terengah – engah.
“Salah satu super model kita tidak dapat hadir!”
.
.
.
Maaf updatenya lama, tugas sekolah menumpuk kayak berkas Luke yang harus ditandatangani setiap hari :(
Oh, iya... buat kalian yang mau tau spoiler HH dan visual player dari HH, kalian bisa langsung follow akun instagram aku di @BulanYasinta95.
Last, but not least, jangan lupa untuk memberikan like dan komen karena itu adalah vitamin cerita ini. Kalau kalian punya teman, bisa dong ya... mempromosikan cerita abal - abal ini sama teman kalian :v ah... hiya.... hiyaa :D
__ADS_1