
“Ah, Aku heran sekali… Mengapa banyak sekali yang memberikan lingerie?” keluh Luke saat dia mendapati isi kotak kado pernikahan yang dibukanya berisi lingerie
Jika dihitung – hitung, ini adalah lingerie ke Sembilan yang didapat Luke dari kotak kado pernikahan yang dibukanya.
“Apa mereka mengira aku terlalu miskin untuk membeli sebuah lingerie?” ucap Luke kesal sambil menumpuk lingerie yang masih tersimpan rapi di dalam kotaknya ke tumpukan kotak lingerie yang sudah ditata oleh Luke
Isa terkikik kecil saat mendengar ucapan Luke.
Setelah sarapan bersama, Isa memutuskan untuk membuka kotak – kotak kado pernikahan yang telah tersusun rapi di ruang tamu penthouse Luke. Entah kenapa, makanan buatan Luke yang tidak terasa sedap itu mampu menambah energi dan semangat Isa.
Jujur, rasa makanan yang dibuat oleh Luke sungguh tidak ada yang sesuai di lidah Isa. Meskipun begitu, Isa tetap menghabiskan makanannya, mungkin itu efek karena dirinya merasa lapar. Selama memakan sarapannya, Luke selalu menyuruh Isa untuk berhenti memakan masakannya karena Luke sadar bahwa masakannya tidak termasuk dalam kategori makanan yang bisa dimakan.
“Mungkin mereka memberi lingerie untuk memperpanas keadaan” canda Isa sambil tersenyum lebar
Luke mengernyit binggung saat mendengar candaan Isa yang terdengar ambigu di dalam otaknya.
“Maksudnya?” tanya Luke sambil menyipitkan matanya
Mendengar pertanyaan Luke, Isa mendengus kecil dan menatap Luke dengan tatapan datar
“Jangan bertingkah sok polos begitu! Wajah mesum mu itu terlalu ketara!” ucap Isa kesal
Mendengar ucapan Isa, kernyitan di dahi Luke semakin mendalam. Kenapa pagi ini otaknya berjalan dengan lambat sekali? Apa ini karena dirinya telah memakan masakannya yang tak layak dimakan itu?
Hal itu tidak mungkin! Jika diingat – ingat, semenjak berada di dapur tadi, Luke memang sudah merasa otaknya sudah berjalan lambat. Sangking lambatnya, Luke bahkan tak bisa membedakan gula dan garam.
Eits… jangan salahkan Luke! Salahkan pelayan di penthousenya yang telah menyamakan toples untuk gula dan toples untuk garam. Selain itu, pelayannya juga tidak menuliskan petunjuk apapun di toples itu
“Wah… indah sekali….” Ucap Isa kagum saat dia membuka kotak kado berwarna coklat
Mendengar ucapan kagum Isa, mau tak mau Luke melirik ke arah kado yang dipegang oleh Isa. Ah, sebuah lukisan. Pasti lukisan itu berasal dari kolega bisnisnya.
“Luke, lihatlah! Kita terlihat sangat menganggumkan!” ucap Isa semangat sambil mengangkat lukisan di atas kanvas yang telah dilindungi oleh bingkai kaca itu ke arah Luk
“Ya… Tapi, aku terlihat kurang tampan…” ucap Luke sambil mengernyitkan dahinya saat menatap lukisan dirinya yang sedang berdiri di samping Isa
__ADS_1
Luke menatap lukisan itu dengan sebuah kernyitan di dahinya. Lukisan itu terlihat sangat detail. Lukisan itu menggambarkan Isa yang tengah duduk di sebuah kursi singgasana mewah dengan gaun yang sangat detail, bahkan karena semakin detailnya, Luke dapat mendapati ukiran – ukiran bunga kecil di gaun yang dikenakan oleh Isa. Di lukisan itu, Luke berdiri dengan wajah datarnya disamping Isa. Di lukisan itu, Luke digambarkan tidak sedetail Isa. Luke digambarkan sebagai seorang pria berjas polos tanpa ekspresi.
Luke mendengus kesal. Sepertinya orang yang mengirim hadiah ini sangat tidak menyukai Luke. Kira – kira, siapa orang itu?
“Kau kan memang kurang tampan” jawab Isa sekenanya sambil menarik lukisan itu dari jangkauan pandangan Luke
“Meskipun aku kurang tampan seperti ini, tapi banyak wanita diluar sana yang mengantri untuk menjadi pacarku” ucap Luke berbangga diri sambil tersenyum miring
“Euhhh… tuan Serrano pede sekali, ya?” ejek Isa tanpa mau repot – repot menatap wajah Luke
Isa tak terlalu memusingkan ucapan Luke tentang wanita – wanita itu, kini, pikiran Isa terkunci pada lukisan yang sedang berada di pangkuannya. Lukisan itu sangat indah, pasti harganya sangat mahal!
“Siapa yang mengirim lukisan itu?” celetuk Luke
Isa tak menjawab celetukan Luke tersebut, tapi tangannya dengan lihai langsung mengambil penutup kotak hadiah tempat lukisan itu tadi.
“Ah… Daniel!” jawab Isa semangat saat menatap nama pengirim kado itu
Mendengar nama itu, raut wajah Luke langsung berubah menjadi raut wajah tak bersahabat. Bagaimana bisa ia tidak kepikiran bahwa orang yang mengirimkan lukisan itu adalah Daniel?
Daniel adalah salah satu sahabatnya yang saat ini tinggal di Annecy, Prancis. Daniel adalah satu satunya sahabatnya yang sangat sering mengolok – olok wajah tampan Luke, mungkin…. Daniel iri? Tapi tak mungkin, mengingat Daniel juga memiliki wajah yang tak kalah tampan dari Luke. Meskipun Luke tetaplah yang tertampan.
Mendengar hal itu, Luke langsung mendengus kecil. Tak perlu dibaca, Luke sudah dapat menebak isi surat itu!
“Lukisan ini kuberikan untuk sahabat tampanku yang kalah tampan dariku. Ps : Aku sudah menyuruh pelukis untuk mempertampan dirimu. Emot cium” ucap Isa sambil terkikik geli saat membacakan isi surat itu
“Ah, sahabatmu ini lucu sekali! Sesekali kau harus membawaku untuk menemuinya, aku ingin memastikan bahwa kau benar – benar kalah tampan darinya” ucap Isa ditengah kikikan gelinya
Luke hanya merespon ucapan Isa itu dengan tatapan datarnya. Seriously? Bagaimana bisa Isa mengatakan hal itu?
Meskipun Luke merasa jengkel, tapi Luke tak menyangka jika Daniel akan tetap mengirimkannya hadiah walaupun Daniel tidak datang di pesta pernikahannya. Yah… setidaknya Daniel benar – benar tau bagaimana caranya bertindak sebagai seorang sahabat, tidak seperti Austin
“Ah, lelah sekali… Aku tak tau jika membuka kotak hadiah akan semelelahkan ini” adu Isa saat dirinya telah selesai membuka kotak hadiah terakhir
“Apa kau ingin minum? Ah tidak – tidak… seharusnya kau beristirahat saat ini” ucap Luke khawatir
__ADS_1
Isa menatap Luke dengan tatapan protesnya saat mendengar ucapan Luke yang terdengar berlebihan itu
“Aku hanya sedikit lelah, bukan sakit” ucap Isa kesal
Jujur, Isa sangat menyukai segala bentuk perhatian yang Luke berikan kepadanya. Isa merasa dirinya melayang saat Luke memusatkan seluruh perhatiannya kepada Isa. Namun, untuk beberapa hari ini, Isa malah merasa dirinya kesal saat Luke memberikan perhatiannya.
Menurut Isa, semenjak dirinya mengandung, Luke sangat suka sekali membesar – besarkan hal kecil, dan dia terlalu khawatir terhadap Isa. Semua itu membuat Isa muak. Perhatian – perhatian itu seolah – olah mengekang Isa dalam bertindak.
“Awalnya sedikit lelah, kemudian sangat lelah, lalu jatuh sakit”
Bugh!
Tanpa perasaan bersalah sedikitpun, Isa melemparkan sebuah tutup kotak hadiah ke arah Luke.
Luke yang sudah menduga serangan itu akan terjadi lantas sudah bersiap – siap dan berhasil menangkap tutup kotak hadiah itu dengan tangannya
“Tidak kena” ucap Luke enteng sambil mendelikkan bahunya dan tersenyum mengejek ke arah Isa
Isa mengepalkan tangannya dan mengeram marah. Aaarghh! Bisa – bisa pecah kepalanya jika dia terus – terus berhadapan dengan makhluk semenyebalkan Luke
Dengan langkah kaki yang dihentak keras, Isa berjalan meninggalkan Luke. Kamar adalah tempat yang sangat ingin didatanginya saat ini.
“Eh, nyonya Serrano mau kemana?” tanya Luke ditengah – tengah tawanya
Mendengar tawa bebas Luke itu, rasa dongkol Isa semakin memuncak.
“Ke neraka!”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mungkin part selanjutnya bakal agak lama updatenya, soalnya author lagi ngerasa gak enak badan. Udah 3 hari badan meriang terus, ditambah ada sariawan juga. Semoga besok atau lusa, rasa meriangnya bisa hilang, supaya bisa ngeupdate cerita kesayangan ini.