Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 107


__ADS_3

“Terimakasih sudah berbelanja disini, nona” ucap pegawai mini market yang berada di dekat Rumah Sakit Veeta sembari menyodorkan sebungkus plastik yang berisi 2 botol air mineral dan beberapa snack


“Sama – sama…” ucap Isa tak kalah ramah sembari tersenyum


Isa mengambil plastik berwarna putih itu dari tangan pegawai mini market tersebut. Setelah Isa mengambil plastik itu, Isa langsung melangkahkan kakinya dengan lebar – lebar menuju ke Rumah Sakit Veeta


Sebenarnya, saat melihat Luke meninggalkannya tadi siang di rumah sakit bersama dengan dokter Margareth, Isa sangat ingin mengejar pria itu dan menenangkannya. Namun… Isa mengurungkan niatnya, Isa tau jika Luke pasti sangat terpukul dengan semua fakta ini. Pria itu sudah dibohongi oleh wanita dari masa lalunya dan sepupunya sendiri.


Karena Isa tak ingin mengganggu Luke yang sedang menjernihkan pikirannya, Isa pun memutuskan untuk berjalan – jalan sebentar. Saat Isa melihat sebuah mini market di dekat rumah sakit Veeta, Isa langsung melangkahkan kakinya ke mini market itu. Minuman dan beberapa makanan mungkin bisa menaikan mood Luke


Tak… Tak… Tak…


Dengan langkah ringan, Isa melangkahkan kakinya menuju ke taman rumah sakit ini. Isa yakin, Luke pasti berada disana.


Isa mempercepat langkahnya saat dirinya sudah melihat taman itu dari kejauhan. Dari kejauhan, Isa bisa melihat punggung lebar nan kekar milik seorang pria yang dibalut dengan kaus polo berwarna abu – abu sedang duduk sendirian di bangku panjang yang ada di taman itu. Isa yakin, pasti pria itu adalah Luke


Senyum Isa terpatri di wajah cantiknya, feelingnya tentang pria itu tak pernah salah.


“Luke…” panggil Isa sembari tersenyum dan berlari – lari kecil mendekati Luke


Luke yang mendengar suara istrinya itu pun lantas langsung menolehkan kepalanya ke samping. Disana, ia bisa melihat wanitanya sedang berlari – lari kecil ke arahnya sembari tersenyum dengan tangannya yang memegang sebungkus plastik mini market.


Isa terlihat sangat lucu, tapi entah kenapa… Luke tak menyukainya


“Isa! Jangan berlari – lari seperti itu! Bagaimana jika kau tersandung sesuatu dan terjatuh?” tanya Luke khawatir sembari bangkit dari duduknya dan menatap Isa dengan tatapan tak sukanya


Isa tersenyum aneh ketika mendengar ucapan khawatir Luke tersebut, karena dirinya sangat senang bisa menemukan Luke disini, Isa jadi tak bisa menahan dirinya untuk menemui pria itu.


“Maaf…” ucap Isa sembari tersenyum manis


Luke menghela nafasnya dengan kasar. Wanita itu selalu tau bagaimana caranya membuat Luke melupakan semua kemarahannya pada wanita itu.


“Jangan ulangi lagi. Aku khawatir…” ucap Luke sembari kembali menghempaskan bokongnya ke atas kursi panjang itu


“Iya…” jawab Isa dengan suaranya yang terdengar sedikit manja dan centil. Entah kenapa wanita itu bisa berperilaku seperti ini, mungkin itu karena bawaan bayinya. Bayinya pasti sangat suka saat menerima pernyataan khawatir dari suaminya itu


Duk.


Tanpa meminta permisi dari Luke, Isa ikut menghempaskan bokongnya di bagian kosong yang berada di sebelah Luke.


Luke tak bereaksi apa – apa, sepertinya… pikiran pria itu masih tertuju kepada Aurora dan tindakan kurang menyenangkan yang dilakukannya serta sepupu Luke sendiri.


Isa menghela nafasnya pelan. Isa kira, kedatangannya dapat membuat pria itu melupakan masalahnya, namun nyatanya tidak. Mungkin, karena masalah pria itu kali ini sangat complicated, sehingga kehadiran Isa disampingnya pun tak bisa membuat pikiran pria itu terahlihkan dari masalah yang sedang dihadapinya


“Kau lelah?” tanya Luke sembari menatap lekat wajah Isa yang berada di sampingnya


Isa langsung mengernyitkan dahinya binggung, “Eumh… maksudnya?”

__ADS_1


“Tadi kau menghela nafasmu. Kau lelah?” tanya Luke dengan sedikit raut khawatir yang terpatri di wajah tampannya


Isa langsung menggeleng dengan tegas, sepertinya, pria itu sudah salah mengartikan helaan nafas Isa tadi.


“Tidak, aku baik – baik saja”


“Kalau kau lelah… katakan padaku, aku akan mengantamu pulang ke penthouse”


“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan pulang bersamaku?” tanya Isa serius


Luke tersentak saat mendengar pertanyaan Isa tersebut. Ia tak mengharapkan Isa bertanya seperti itu karena jawaban dari pertanyaan wanita itu pasti akan membuat wanita itu sedih.


Saat ini, pikiran Luke sedang tidak jernih. Luke takut dirinya akan merepotkan Isa, ah tidak – tidak… kini, dia pun sudah merepotkan wanita itu. Karena hal itu, untuk sementara waktu, Luke tak ingin berada di dekat Isa. Mungkin, menghabiskan waktu beberapa malam di apartemennya dan menjauhkan dirinya dari Isa bisa membuat wanita itu tidak kerepotan lagi karena terlalu memikirkan Luke


“Kau ingin meninggalkanku?” tanya Isa


Luke membulatkan matanya dengan terkejut.


“Apa yang kau katakan?!?” tanya Luke terkejut


Isa tak menjawab pertanyaan Luke tersebut, namun wanita itu mengahlihkan pandangannya dari wajah Luke dengan gerakan kasar


**!


“Isa… look at me…” panggil Luke lembut


Luke mengeram kesal dalam dirinya.


“Isa….” Panggil Luke lembut


Tangan kekar pria itu terulur untuk menyentuh rahang wanita itu dan menggerakkan rahang wanita itu sehingga dirinya bisa menatap wajah wanitanya itu


“Isa… maafkan aku… aku tak pernah berpikiran untuk meninggalkanmu. Aku… saat ini, aku sedang merasa tertekan, aku tak bisa berpikiran jernih” ucap Luke penuh sesal dengan ibu jarinya yang bergerak dengan lembut untuk membelai wajah istrinya itu


Isa diam dan menatap mata Luke dalam – dalam. Isa mencoba mencari keraguan di dalam mata berwarna biru itu, tapi… Isa tak menemukannya.


“Aku tidak akan memaafkanmu” ucap Isa pedas


“What…? Kenapa kau seperti ini kepadaku? Aku sudah meminta maaf dari hatiku yang paling dalam” ucap Luke sembari mengernyitkan dahinya binggung. Apa Isa masih meragukan permintaan maafnya?


“Aku akan memaafkanmu jika kau bisa memenuhi satu permintaanku” tantang Isa


“Apa permintaanmu? Aku akan melakukannya, asalkan kau mau memaafkanku” jawab Luke dengan penuh keteguhan


“Aku ingin kau berbagi segala kegundahan dalam hatimu kepadaku…” ucap Isa sembari menatap Luke dengan lekat


Pria itu terkejut dan langsung menghentikan elusan lembut di wajah Isa yang sedari tadi dilakukan oleh jari jempolnya

__ADS_1


“Kau tak ingin mengatakannya? Apa kau lupa jika saat ini kita adalah sepasang suami – istri? Bukankah suami dan istri harus saling berbagi kebahagian dan kesedihan?”


“Isa… aku tak bermaksud seperti ini. Aku hanya tak ingin membuat dirimu terbebani” ucap Luke sembari menundukkan kepalanya


“Apa maksudmu terbebani? Aku tak akan pernah merasa terbebani, Luke”


“Aku tak ingin kau memikirkan masalah ini, aku tak ingin kau stress dan semuanya itu pasti akan berdampak pada bayi kita. Saat ini, kau dan bayi kita adalah prioritas utamaku”


“Luke… kenapa kau menyimpulkan sesuatu dengan sudut pandang negatif seperti ini? Kau bahkan belum mencoba untuk memberitahuku, tapi kau sudah mengatakan kemungkinan – kemungkinan buruk seperti ini” ucap Isa yang merasa tidak suka dengan ucapan Luke sebelumnya.


Ucapan pria itu sebelumnya seolah – olah hendak mengatakan bahwa Isa adalah tipikal wanita dengan otak lemah yang bisa kapan saja terkena stress karena memikirkan suatu masalah. Hell!


“Isa….”


Isa menghela nafasnya dengan kasar. Sepertinya… sampai kapanpun, dirinya tak akan pernah memenangkan perdebatan dengan Luke mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh pria itu.


“Baiklah – baiklah… aku tak akan memaksamu…” tandas Isa akhirnya.


Tangan lentik wanita itu bergerak untuk mengusap – usap punggung kekar Luke dengan penuh kasih sayang. Jika Isa tak bisa membuat pria itu mengatakan masalahnya kepada Isa, maka setidaknya Isa harus bisa membuat pria itu merasa lupa dengan masalahnya. Isa akan melakukan itu dengan cara membuat pria itu merasa nyaman akan perhatian yang diberikan oleh Isa.


Pluk.


Luke menubrukkan tubuhnya pada tubuh Isa. Pria itu memeluk tubuh Isa dengan posesif, sedangkan kepala pria itu ditenggelamkannya di kedua bukit kembar Isa.


Ingin rasanya Isa protes karena tindakan pria itu membuat kedua asset berharganya terasa berdenyut – denyut, tapi Isa mengurungkan niatnya. Isa tau, pria itu pasti tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu pada Isa. Semua yang terjadi hanyalah spontanitas belaka


“Terimakasih” ucap Luke lirih


“Eumh…” gumam Isa


Satu tangan wanita itu bergerak naik – turun dengan lembut di atas punggung kekar Luke, sedangkan tangannya yang lain bergerak naik – turun di rambut berwarna hitam legam milik Luke


“Saat semuanya sudah terasa lebih tenang, kau harus mengutarakan kegundahan hatimu kepadaku. Kau mau ‘kan berjanji padaku?” tanya Isa dengan lembut


“Eunh…” gumam Luke dengan nada paraunya


Isa tak tau, apakah pria itu benar – benar menjawab pertanyaan Isa karena pria itu paham maksud ucapan Isa, atau pria itu menjawab pertanyaan Isa hanya agar Isa bisa diam dan tidak menuntut penjelasan dari Luke


Tapi, apapun yang akan terjadi nanti, Isa harap, hubungan mereka akan baik – baik saja.


Cup.


Isa mencium sayang puncak kepala Luke. Oh Tuhan… Ia sangat mencintai pria ini.


 


 

__ADS_1


__ADS_2