
Luke menggenggam erat tangan Isa. Bibir pria itu tak henti – hentinya mendaratkan kecupan – kecupan penuh sayang di atas punggung tangan wanita itu
“Luke, hentikan… Kau sudah melakukannya selama satu jam penuh, apa kau tidak bosan?” tanya Isa dengan nada geli, bahkan di akhir kalimatnya, wanita itu tertawa renyah
“Aku bahkan rela melakukan hal ini berhari – hari” ucap Luke tak peduli. Bukannya memberhentikan kecupannya, pria itu malah semakin menghujani punggung tangan halus Isa dengan kecupan yang bertubi – tubi
Isa tertawa geli. Mendengar tawa geli Isa tersebut, Luke langsung tertawa renyah. Entah kenapa, tawa Isa selalu berhasil mengundang dirinya untuk ikut tertawa
Setelah puas menghujani punggung tangan Isa dengan kecupan – kecupannya, Luke langsung menghentikan tindakannya itu, walaupun sebenarnya ia masih ingin melakukannya lagi. Entah kenapa, Luke merasa gemas dengan punggung tangan halus itu. Rasanya, Luke ingin menggigit punggung tangan halus itu. Namun karena Luke sadar hal itu tidak mungkin, Luke malah menghujani punggung tangan halus itu dengan kecupan – kecupan bertubinya
“Bagaimana dengan kepalamu? Apa rasanya sakit?” tanya Luke sembari menggenggam erat punggung tangan Isa dan meletakkannya tepat di pipinya yang ditumbuhi sedikit bulu – bulu halus
Mendengar pertanyaan Luke tersebut, tangan Isa yang terbebas dari genggaman Luke langsung bergerak untuk menyentuh kepalanya
“Eumh… tidak sakit lagi” ucap Isa sembari meraba – raba kepalanya yang ditutupi oleh perban
“Hei! Jangan diraba – raba seperti itu!” tegur Luke yang terkejut dengan tindakan istrinya itu. Tak taukah Isa bahwa tindakannya itu malah dapat membuat jahitan di kepala wanita itu terbuka dan akhirnya kepala wanita itu akan kembali berdarah?
“Maaf…” ucap Isa sembari tertawa renyah dan menarik tangannya dari kepalanya
Luke menggeleng kepalanya pelan ketika melihat tindakan istrinya itu.
Kemudian, fokus pria itu berpindah ke perut Isa yang sudah mulai menonjol. Ah… sejak kapan perut itu mulai menonjol? Kenapa Luke tak sadar? Padahal… dulu dirinya sangat ingin melihat perut itu membesar
Tangan Luke kemudian terulur untuk menyentuh perut Isa dengan hati – hati. Perasaan sedih dan bahagia langsung mengisi hati pria itu saat ia merasakan perut Isa yang sudah mulai berbentuk. Darah dagingnya sedang tumbuh disana
“Apa baby menganggumu?” tanya Luke sembari mengusap – usap lembut perut Isa
“Tidak. Aku sudah tidak mual lagi” jawab Isa jujur
Tangan wanita itu kemudian terulur untuk ikut mengelus perutnya. Rasanya menakjubkan saat kau tau ada makhluk hidup yang tengah tercipta di dalam perutmu. Di dalam sana, ada makhluk kecil yang sangat bergantung kepadamu.
“Kira – kira, nama apa yang bagus untuk baby nanti, ya?” tanya Isa sembari mengusap perutnya dengan gerakan lembut
“Eumh… kalau laki – laki kita akan beri nama Louis, kalau perempuan kita akan beri nama Louisa” ucap Luke sembari tersenyum kecil.
Pria itu mulai menghayalkan keluarga kecilnya. Pria itu sangat ingin memiliki banyak anak – anak lucu yang memiliki pipi gembul. Rasanya, pria itu tak sabar menunggu momen itu
__ADS_1
Pria itu sangat ingin mendengarkan tangisan bayi yang akan memecah keheningan malamnya. Ia ingin ada jari kecil yang bergantung kepadanya dan ia ingin ada kaki kecil yang selalu ingin mengikutinya. Pria itu sudah memimpikan hal ini sejak dulu.
“Kenapa namanya terdengar familiar?” tanya Isa binggung sembari mengernyitkan dahinya. Rasanya, wanita itu seperti mendengar nama itu. Tapi… dimana?
Mendengar pertanyaan binggung istrinya itu, Luke langsung menghentikan usapannya dan menatap wajah binggung istrinya. Senyum kecil terulas di bibirnya
“Tentu saja nama itu terdengar familiar” ucap Luke geli sembari menghapus kerutan yang menghiasi dahi mulus Isa
“Kenapa? Apa itu nama temanmu? Atau nama seseorang yang bersejarah? Atau apa?” tanya Isa binggung sembari menatap Luke dengan tatapan menuntutnya
“Oh God! Aku tak mungkin memakai nama teman – temanku sebagai nama anak – anak kita nanti, kau tau kan kalau teman – temanku semua memiliki sifat brengsek? Aku tak ingin anak kita menjadi brengsek juga” ucap Luke kesal ketika dirinya kembali mengingat teman – temannya yang belum tobat dari kehidupan kerlap – kerlip dunia malam
“So…?”
“Louis dan Louisa itu gabungan dari nama kita” jawab Luke sembari tersenyum lebar
“Heh?” tanya Isa yang masih binggung dengan maksud jawaban Luke
“Louis, Louisa. Luke Isa” jelas Luke sembari membelai lembut wajah Isa
“Kenapa aku tak pernah memikirkan hal itu?” tanya Isa terkejut ketika mendengar asal nama anak – anak mereka yang sudah dipilihkan oleh Luke
“Mungkin karena kau selalu memikirkanku” ucap Luke sembari menampilkan killer smilenya
Blush!
Pipi Isa langsung bersemu merah. Rasa panas menjalari wajah dan punggung wanita itu. Bagaimana bisa wanita itu tetap merasa malu dan tersipu – sipu seperti ini karena digoda oleh pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu?
“Eh… ada yang sedang blushing…” ejek Luke sembari mencolek pipi merah Isa. Sungguh, pemandangan pipi putih bersih yang dihiasi oleh bercak – bercak kemerahan itu adalah pemandangan yang sangat disukai oleh Luke
“Ish! Stop it…!” ucap Isa dengan nada manjanya yang terdengar sangat lucu di telinga Luke
Luke menggigit bibirnya dalam – dalam. Jika saja ia tak lupa jika Isa baru saja mendapatkan operasi kecil, pasti pria itu sudah mengurung wanita itu dalam kungkungannya dan membuat wanita itu tak henti – hentinya meneriakkan nama Luke di setiap gelombang kenikmatan yang dicapainya
Cup!
Karena tak bisa menahan dirinya, Luke langsung mendaratkan kecupan singkatnya ke bibir Isa. Hanya sebuah kecupan singkat. Kecupan singkat.
__ADS_1
Well… Luke tak berani untuk berlama – lama di atas bibir wanita yang penuh candu itu, Luke takut dirinya kebablasan dan nafsu binatangnya mengalahkan akal sehatnya
“Lukas! Ini rumah sakit!” ucap Isa terkejut
“Tenang saja, tak akan ada sembarang orang yang masuk kesini. Ini ruangan VVIP, sayang…” goda Luke sembari menampilkan smirknya
Isa memelototkan matanya, dan pelototannya itu disambut oleh tawa renyah Luke. Setelah tawa itu berakhir, suasana diam langsung menghampiri mereka. Baik Isa dan Luke sama – sama sibuk dengan pikirna mereka masing – masing
“Eumh, Luke… apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Isa dengan hati – hati sembari menatap Luke
“Ya? Tanyalah”
“Aurora… bagaimana dengan dia?” tanya Isa lamat – lamat sembari memperhatikan perubahan ekspresi wajah Luke
Mendengar nama Aurora disebut, rahang Luke langsung mengeras dan Isa menyadari hal itu. Di dalam hatinya, Isa menyalahkan dirinya karena sudah membuat mood Luke terjun bebas.
“Ah… jika kau tak mau menjawabnya, tak apa – apa. Kau bisa melu---
“Aku menamparnya disaat dia memukul gelas kaca itu kepadamu” jawab Luke jujur
“Kau… kau menamparnya?” tanya Isa terkejut
“Ya, dia pantas mendapatkannya” jelas Luke dengan wajah dinginnya
Isa terdiam. Ia tak berani mengatakan apa – apa lagi. Sungguh, ia menyesali keputusannya karena sudah memaksa Luke saat itu untuk menemui Aurora. Isa pikir, dirinya sudah masuk terlalu dalam di antara hubungan Luke dan Aurora.
Kali ini, Isa tak akan kembali berniat untuk kembali ikut campur dalam Luke dan Aurora. Isa berjanji pada dirinya, dia hanya akan berfokus pada hubungannya dan Luke serta keluarga kecil mereka yang sebentar lagi akan terwujud
“Isa… jika kau sembuh nanti, apa kau ingin jalan – jalan bersamaku?” tanya Luke sembari tersenyum hangat pada Isa
Isa menatap wajah Luke yang terlihat sudah lebih rileks dari sebelumnya. Melihat hal itu, senyum cerah langsung terbit di wajah Isa.
“Iya, aku mau”
__ADS_1