
Suara berisik yang berasal dari ponsel mahal keluaran terbaru milik Luke, membuat si empunya ponsel menggeliat dalam tidurnya. Tak ingin repot – repot membuka mata, Luke meraba – raba nakas yang berada di dekatnya dan mengambil ponselnya.
Sejenak, Luke mengira bahwa suara itu adalah suara alarm, hingga akhirnya Luke menyadari bahwa itu adalah suara nada dering panggilan miliknya.
Sebelum mengangkat panggilan yang entah dari siapa itu, Luke berdehem untuk menormalkan suaranya yang terasa serak.
“Halo” ucap Luke dengan suara seraknya yang membuat kadar keseksian dalam dirinya semakin bertambah.
“Eumh… hai”
Ah, itu suara gadis kecilnya, Isa!
“Apakah aku menggangu waktu tidurmu?” tanya Isa dengan nada yang terkesan khawatir
“Tidak… aku bahkan baru berniat untuk bangun” jawab Luke sambil tersenyum dalam posisi yang masih memejamkan matanya
“Aku merindukanmu, Luke. Kapa---
“Luke”
Tiba – tiba suara gumaman seorang wanita membuat Luke langsung membuka kedua matanya dengan lebar - lebar. Dengan gerakan cepat, Luke menatap wajah seorang wanita yang sedang terlelap di sampingnya sambil memeluk perut Luke dengan erat.
Shit!
“Eumh.. Luke… suara siapa itu? Apakah… apakah kau sedang bersama wanita lain?” tanya Isa dengan nada yang bergetar.
Luke memukul kepalanya dan merutuki dirnya
“Maafkan aku, Isa. Semalam ak---
“Kau pasti bekerja keras semalam, mungkin saat ini kau masih lelah. Tidurlah lagi” ucap Isa
Tut.
Panggilan diputus secara sepihak oleh Isa.
“Shit!” maki Luke sambil menyugar rambutnya
Luke langsung menolehkan wajahnya untuk menatap wanita itu. Rasa terkejut dan marah langsung berkobar di dalam dirinya.
“Hei, ******! Cepatlah kau bangun!” ucap Luke geram sambil mencengkram rahang wanita itu
Wanita itu langsung terbangun. Memang, sedari tadi… wanita itu tidak tidur, wanita itu hanya pura – pura memejamkan kedua matanya.
“Jangan panggil aku ******! Aku memiliki nama” ucap wanita itu dengan nada yang menantang.
Setelah semalam berakting menjadi wanita yang lemah, sekarang wanita itu berakting menjadi wanita yang kuat. Sungguh, menggagumkan.
__ADS_1
“Lalu, apa sebutan yang pantas untukmu? Bukankah seorang wanita yang merangkak ke atas kasur pria dan menghabiskan malam dengan pria disebut sebagai ******? Katakan padaku!” ucap Luke dengan marah
“Namaku Aurora! Aku bukan ******!” teriak Aurora sambil menarik wajahnya dengan kuat, sehingga cengkraman Luke di rahangnya terlepas
“Crazy! Bagaimana kau bisa berada disini hah! Katakan kepadaku!” ucap Luke setengah berteriak sambil mencengkram kedua bahu polos Aurora yang tidak ditutupi oleh sehelai kain.
Aurora hanya diam dan kembali menangis.
“Jika kau pikir bahwa aku akan kembali kepadamu, segera musnahkan pikiran gilamu itu” ucap Luke dengan berapi – api sambil beranjak dari kasur hotel itu.
Tanpa memperdulikan keberadaan Aurora, Luke mengambil boxernya dan memakainya. Dengan gerakan tergesa – gesa, Luke memakai kembali setelan jas yang dipakainya semalam.
Bush!
Luke melemparkan segepok uang dollar tunai kehadapan Aurora.
“Itu uangmu, ******! Jangan harap kau bisa masuk kembali ke hidupku!” ucap Luke dengan nada sarkasnya.
Merasa harga dirinya terhina, Aurora langsung turun dari kasur hotel itu dan langsung bersujud di hadapan kaki Luke. Aurora tidak memperdulikan keadaaan tubuhnya yang saat ini sedang dalam keadaan telanjang bulat.
“Forgive me, Luke. Jangan usir aku dari hidupmu!” ucap Aurora sambil menangis meraung – raung
“Aku tidak peduli lagi dengan uang, karier… semuanya akan kutinggalkan untukmu Luke!” lanjut Aurora dengan suaranya yang sudah naik satu oktaf.
“Aurora! Harus sampai berapa kali kujelaskan kepadamu! Hubungan kita tidak akan pernah kembali seperti dulu! Seharusnya kau sadar, kau sudah melakukan kesalahan yang sangat besar di masa lalu!” ucap Luke geram sambil mencengkram rahang Aurora.
“Luke… aku melakukan semua ini demi hubungan kita” ucap Aurora lirih sambil menahan rasa sesak yang timbul di dadanya dan rasa sakit di rahangnya
“Persetan dengan hubungan itu! Wanita sepertimu, tidak pantas untuk melahirkan darah dagingku. Kau tak hanya seorang ******, tapi seorang pembunuh!” ucap Luke berapi – api sambil melepaskan cengkramannya di rahang Aurora dengan kuat, sehingga wajah Aurora terpental ke kiri.
Cuih!
Luke meludah tepat di atas lantai kamar hotek mewah itu
“Sepertinya aku harus mandi dengan benar setelah ini, jika tidak, kurasa tubuhku akan penuh dengan bercak – bercak merah” ucap Luke dengan nada jijik
Aurora terkejut mendengar ucapan frontal yang keluar dari mulut Luke tersebut. Air matanya kembali mengalir dengan derasnya.
“Luke! Lukas!!!” teriak Aurora menggelegar saat melihat Luke melangkahkan kakinya meninggalkan Aurora
“Lukasss!!!” teriak Aurora dengan kuat, seolah – olah ia tidak peduli jika pita suaranya akan putus karena tindakannya itu.
Namun, pria yang sedari tadi diteriaki oleh Aurora nampaknya tidak memperdulikan panggilan wanita itu. Ya, pria itu tetap meninggalkan Aurora.
Aurora sungguh merasa sangat frustasi.
Tubuhnya menyerosot ke lantai kamar hotel yang dingin. Kedua kakinya diringkukkannya. Kedua tangannya menjambak rambutnya. Rasanya, kepalanya ingin meledak saat ini.
__ADS_1
“Aaaarrgghhh!!!” teriak Aurora frustasi sambil menjambak rambutnya dengan kuat
“Kenapa seperti ini, hah? Bodoh!!! Aurora bodoh!!!” maki Aurora pada dirinya sendiri sambil sesekali memukul kepalanya dengan tangannya
Aurora merasa bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi.
Aurora merasa bahwa dirinya sudah tidak dapat mengalahkan wanita yang sudah menguasai hati Luke.
Aurora merasa bahwa dirinya sudah merusak nama baik keluarganya sendiri.
Aurora merasa bahwa dirinya… dirinya ingin mati saat ini juga.
Dengan sekenanya, Aurora menghapus air matanya.
“Jika keberadaan kita tidak pernah diharapkan di dunia ini. Lalu, untuk apa kita tetap berada disini?” ucap Aurora pada dirinya sendiri sambil bangkit dari posisinya.
Aurora mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Hingga akhirnya senyum misterius Aurora muncul.
Dengan langkah getir, Aurora berjalan ke sebuah meja rias di kamar hotel itu. Tanpa memikirkan apapun, Aurora meraih sebuah gunting kecil yang terletak diatas meja itu.
Meskipun itu hanya gunting kecil, namun, gunting kecil itu dapat membebaskan Aurora dari semua masalah yang telah menghantuinya dalam beberapa hari ini.
“Bye” ucap Aurora sambil tersenyum getir.
Tak ingin memunda lagi, Aurora langsung menyayat pergelangan tangannya.
Senyum dan air mata muncul di wajahnya saat dirinya melihat tetes demi tetes darah mengalir dari pergelangan tangannya itu.
“Aurora!!!”
Sebuah teriakan panik membuat Aurora sedikit terkejut. Aurora lantas mengahlihkan pandangannya dari pergelangan tangannya dan menatap wajah orang yang meneriakinya tadi.
“Apa kau gila, hah?” tanya orang itu dengan marah sambil menghampiri Aurora dengan tergesa – gesa.
“Ya, aku gila” ucap Aurora sambil tersenyum kecil saat menatap orang itu.
Aurora tetap tersenyum sampai akhirnya kesadarannya terenggut. Hal terakhir yang diingatnya adalah sebuah teriakan panik yang meneriaki namanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah mau menyempatkan waktunya untuk mampir ke cerita ini. Luv u guys. Jangan lupa untuk lik tombol suka ya...