
“Mom… Apa aku tidak pantas untuk lahir ke dunia?”
Suara seorang anak perempuan kecil yang sedang bermain di sebuah ayunan nampak sedang berbicara kepada seorang wanita yang berada di hadapannya
Wanita itu, Aurora, terpaku. Entah kenapa, dia merasakan rasa kerinduan yang sangat berat. Namun disaat yang bersamaan, rasa bersalah seolah – olah menghimpitnya
“Mom… padahal aku sangat suka dengan elusan tangan daddy… kenapa mom merampas kebahagianku?” tanya anak kecil itu
Wajah anak kecil itu bercahaya. Gaun putih polosnya yang juga bercahaya seolah – olah hendak menunjukkan seberapa suci anak itu, anak yang tidak diberikan kesempatan untuk menghirup udara di dunia yang sama dengan dunia wanita yang akan melahirkannya
“Ma---maaf…” ucap Aurora dengan air matanya yang sudah menetes.
Tiba – tiba, kedua kaki Aurora serasa seperti kehilangan kekuatannya.
Bugh!
Aurora menjatuhkan dirinya dengan posisi terduduk.
Jujur, keputusannya untuk membunuh janinnya sendiri adalah keputusan yang sangat berat dan sekarang… Aurora menyesali keputusannya itu. Jika saja ia tidak membunuh janinnya itu, darah dagingnya sendiri, pasti sekarang Aurora sudah hidup bersama dengan Luke atau… Aurora hidup bahagia dengan ayah biologis janinnya itu
“Mom tidak perlu menangis, aku tidak marah pada, mom, kok”
Anak perempuan itu melompat kecil dari ayunannya yang dihiasi oleh bunga – bunga segar yang sangat meneduhkan mata.
Kedua kaki kecilnya yang tidak terbalut apa – apa, berjalan dengan lambat namun pasti menuju ke hadapan Aurora
“Mom…”
Tangan kecil itu meraih wajah Aurora dan mengelus air mata yang mengalir tanpa henti di kedua mata indah wanita itu
“Mom, jangan menangis”
Bukannya menghentikan tangisannya, tangisan Aurora malah semakin menjadi
“Maaf… maafkan aku…”
Aurora menengadahkan wajahnya sembari menyentuh tangan kecil nan lembut yang senantiasa mememgang wajah Aurora
Aurora mencoba untuk menatap wajah kabur yang sangat indah itu. Meskipun wajah anak perempuan itu tak bisa diingat oleh kepalanya, namun hatinya berkata bahwa anak perempuan itu memiliki wajah yang indah dan lembut.
God!
Kenapa bisa Aurora membunuh anak perempuan itu? Anak perempuan itu berhak atas kehidupan.
“Mom… jangan menangis, nanti adikku akan menangis juga”
Deg.
Adikku?
Aurora langsung menatap perut datarnya. Ya, ia tau betul saat ini ia sedang mengandung anak keduanya.
“Mom, mom jaga adik baik – baik ya… Meski sekarang aku bahagia, tapi aku tak ingin adik ada disampingku. Adik tidak pernah dielus daddy kan?”
Aurora menggigit bibir bawahnya sembari menggelengkan kepalanya pelan
Bagaimana bisa ia membunuh darah dagingnya sendiri yang begitu perhatian dan lemah lembut ini? Tuhan… tolong maafkan kesalahanku
“Mom… aku pergi, ya…” ucap anak perempuan itu sembari menarik kedua tangan kecilnya dari wajah Aurora
Mendengar ucapan anak perempuan itu, Aurora langsung menatap wajah kabur milik anak perempuan itu. Kedua tangan Aurora langsung memegang erat tangan kecil milk anak perempuan itu
__ADS_1
“No… bawa aku bersamamu…”
“Maaf, mom… Tuhan pasti akan marah jika aku membawa mom bersamaku”
Anak perempuan itu tersenyum. Dengan gerakan menenangkannya, anak perempuan itu melepaskan tangan Aurora yang memegang erat kedua tangannya dengan mudah
Anak perempuan itu berjalan membelakangi Aurora
“Tidak… jangan tinggalkan aku!”
Aurora berteriak saat melihat anak perempuan itu tiba – tiba mengandeng tangan seorang wanita bersayap yang tiba – tiba muncul disampingnya. Bahkan, malaikatpun sangat menyanyangi anak perempuan itu
“Maafkan aku! Maaf!”
“Aurora!”
Deg!
Serasa nyawanya dikembalikan oleh Tuhan, Aurora langsung membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam erat. Keringat dingin membasahi dahi dan leher wanita itu
Putih
Itulah yang pertama kali dilihat oleh Aurora saat ia membuka matanya. Dimana dia berada sekarang?
“Aurora!”
Suara itu lagi!
Aurora langsung memalingkan wajahnya untuk mencari sumber suara itu
“Sean?”
Kening Aurora langsung mengernyit saat melihat sosok pria yang tengah berdiri di samping tempat tidurnya
Setiap Isa menolak untuk berhubungan intim dengannya, saat itulah Sean merasakan rasa suka dan cintanya pada Isa semakin memudar. Hingga akhirnya Sean memutuskan untuk mencari wanita lain yang lebih menyenangkan dibandingkan Isa
Sean melepas Isa demi wanita barunya itu. Namun kemudian, dia sadar jika Isa sangat berarti bagi kehidupannya. Sehingga Sean memutuskan untuk kembali mendapatkan hati Isa, namun sayangnya, sudah ada pria lain yang tengah mengisi hati Isa itu
“Kenapa kau ada disini?” tanya Aurora binggung sambil menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa pria yang saat ini ada dihadapannya benar – benar Sean
“Tanyakan pada dirimu sendiri! Kenapa kau menelponku sembari menangis? Jika aku sudah pulang ke Roma, mungkin saat ini kau sudah meninggal” gerutu Sean
Aurora mengernyit binggung
Ia mencoba – coba untuk mengingat hal yang terakhir kali dilakukannya.
Ia ingat, Luke mendorongnya dan meninggalkan dirinya sendirian di apartemennya. Dengan perutnya yang terasa sangat sakit, ia meneriaki nama Luke, namun jangankan untuk menoleh, berhenti saja pun, pria itu tidak mau
Batin Aurora tersenyum miris dengan kenyataan itu. Ia tau betul bahwa Luke sudah tidak mencintainya lagi, ia tau betul bahwa seluruh cinta pria itu sudah diberikan kepada Isa. Namun, apakah egois namanya jika Aurora menginginkan sedikit cinta itu?
Tidak!
Aurora tidak menginginkan seluruh hati Luke, dia hanya ingin secuil saja. Secuil perhatian dan cinta kepada dirinya dan anak yang sedang dikandungnya
“Maaf... Aku tidak tau kalau aku menekan nomormu, saat itu, aku sedang kacau” ucap Aurora sembari menundukkan kepalanya
Sean menghela napasnya dengan kasar. Ia tak sanggup untuk memarahi wanita yang masih nampak pucat itu, walaupun dia merasa kesal karena wanita itu sudah mengganggu waktu Sean dengan wanita cantik yang baru saja ditemuinya beberapa hari yang lalu
Namun, meskipun Aurora sudah mengganggu waktunya, Sean tetap saja mendengarkan wanita itu dan menolong wanita itu. Bagaimanapun juga, Aurora berarti dalam hidup Sean. Wanita itu mau menjadi pasangan Sean saat Sean mengunjungi pernikahan Isa dan Luke.
Saat itu, Sean berpikir, dirinya dan Aurora adalah pasangan yang cocok. Pasti mereka dapat membuat hati Luke dan Isa goyah, namun nyatanya tidak.
__ADS_1
“Lain kali, lebih baik kau mencari seseorang yang bisa tinggal bersamamu di apartemenmu. Bayangkan jika saat kau menelponku, aku sudah berada di Roma” ucap Sean sembari menggelengkan pelan kepalanya
Aurora meringis kecil.
Tiba – tiba, pikirannya teringat akan sesuatu. Tangannya langsung memegang perutnya yang masih datar
“Bagaimana keadaan bayiku?” tanya Aurora dengan wajah pucatnya
“Dia baik – baik saja. Tapi kata dokter, akibat kejadian itu, janinmu melemah. Sebaiknya kau tidak perlu bekerja keras beberapa hari kedepan. Diam di rumah dan tidur adalah hal yang sangat disarankan oleh dokter” jelas Sean
“Terimakasih”
“Sama – sama” ucap Sean sembari menyandarkan punggungnya di kursi yang ada di ruangan rawat inap Aurora tersebut
“Oh, iya, maaf aku tidak bisa membawamu ke ruang VIP. Tabunganku hanya cukup untuk ruangan kelas satu ini” terang Sean lagi sembari meraih sebungkus rokok dari saku celananya
“Tak apa – apa. Nanti, kau kirim saja nomor rekeningmu, aku akan mengembalikan uangmu setelah aku keluar dari rumah sakit”
Sean mengganggukkan kepalanya samar
Tanpa memperdulikan apapun, pria itu meraih pematik dari saku celananya dan mencoba untuk menghidupkan sepuntung rokok berwarna putih yang sudah dijepit diantara jari – jari kekarnya
“Sean…”
Sebelum Sean berhasil menghidupkan puntung rokok itu, Aurora memanggil namanya
“Ada apa?” tanya Sean sembari mengangkat kedua alisnya
“Rokok tidak baik untuk seorang wanita yang sedang mengandung” ucap Aurora sambil tersenyum lembut
Glek
Sean menegak ludahnya dengan kasar
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Sean bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Aurora
“Kau ingin kemana?” tanya Aurora saat melihat Sean berjalan meninggalkannya
Apa pria itu merasa tersinggung dengan perkataan Aurora tadi?
“Aku ingin keluar. Merokok” ucap Sean sembari menolehkan kepalanya agar kedua matanya dapat bertatapan langsung dengan wajah Aurora
“Oh…”
“Aku pergi, du---
“Eh, tunggu!”
Lagi, belum sempat Sean kembali melangkahkan kakinya, namun suara Aurora kembali membuatnya harus menghentikan langkah kakinya
Kali ini, Sean membalikkan badannya sehingga ia tidak perlu lagi untuk menolehkan kepalanya demi menatap Aurora
“Ada apa?” tanya Sean sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu” ucap Aurora dengan suara bergetar
Kedua tangannya yang terasa basah, digosokkannya pada permukaan selimut yang menutup setengah badannya itu
“Tanyakanlah”
“Apa kau tidak berniat untuk kembali merebut Issabele dari Luke?”
__ADS_1