Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 105


__ADS_3

“Kau tau kenapa aku membawamu kesini?” tanya dokter Zen sembari menatap tajam wajah pucat dokter Margareth


Setelah mengungkapkan kondisi kesehatan terkini Aurora kepada Luke, dokter Zen langsung memberikan intruksi kepada dokter Margareth agar wanita itu mengikutinya. Selama wanita itu mengekorinya, dokter Zen bisa merasakan ketakutan yang sangat luar biasa dari wanita itu.


“Karena saya kembali lalai dalam operasi” jawab dokter Margareth sembari menundukkan kepalanya. Ia tidak memiliki keberanian yang cukup untul menatap wajah tegas dokter Zen yang sepertinya sedang memancarkan aura kemarahan


“Selain itu?” tanya dokter Zen dengan nada bicaranya yang terdengar tidak senang. Sepertinya pria itu tidak puas dengan jawaban dokter Margareth


Mendengar pertanyaan dokter Zen tersebut, dokter Margareth langsung mengangkat kepalanya dan memberikan tatapan binggungnya kepada pria berjas putih yang saat ini sedang berada di hadapannya.


“Tidak ada” jawab dokter Margareth sembari mengernyitkan dahinya binggung


Dokter Zen mengangkat salah satu alisnya dengan bebas ketika dirinya mendengar dokter Margareth mengatakan hal itu. Dokter Zen tak tau, apakah dokter Margareth memang sedang tidak tau maksud pertanyaannya atau wanita itu sedang pura – pura tidak tau agar rahasianya tidak terbongkar


Dengan langkah tegas, dokter Zen melangkahkan kakinya menuju ke lemari kerja yang berada di ruangannya. Tangannya meraih sebuah dokumen yang sudah diasingkannya di lemari berwarna putih itu


Bugh!


Dokter Zen melemparkan sebuah dokumen berwarna hitam tepat di hadapan dokter Margareth. Dokter Margareth tersentak kaget ketika dokumen itu mendarat tepat di hadapannya


“Ini…?”


“Pemalsuan hasil tes DNA bayi Aurora Smith”


Deg.


Jantung dokter Margareth berdegub dengan kencang ketika mendengar kalimat itu terlontar dari mulut dokter Zen. Tangannya yang hendak meraih dokumen itu langsung bergetar hebat.


Bagaimana dokter Zen bisa tau?


“Aku adalah kepala dokter disini, jangan kau pikir jika aku tidak bisa mengetahui apapun yang sedang terjadi saat ini” ucap dokter Zen dingin sembari menatap dokter Margareth dengan tatapan datarnya


Dokter Margareth menggigit bibir bawahnya


“Apa kau sudah melupakan sumpah doktermu?” tanya dokter Zen sembari melangkahkan kakinya mendekati tubuh dokter Margareth


“Jawab aku!” ucap dokter Zen penuh penekanan ketika tubuhnya sudah berada tepat di depa tubuh dokter Margareth


“Tidak. Saya belum melupakan sumpah dokter saya” ucap dokter Margareth sembari menahan dirinya untuk tidak terbawa suasana dan menahan dirinya untuk tidak menangis


“Lalu kenapa kau melakukan ini?!?” tanya dokter Zen dengan penuh kemarahan


“Apa kau tau apa arti dari tindakan bodohmu ini?!? Kau hampir saja membuat sepupumu sendiri harus menanggung jawabi bayi yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri!” lanjut dokter Zen

__ADS_1


Dokter Margareth menutup matanya takut. Ia yakin, jika ia melihat aura kemarahan dari dalam mata dokter Zen, dirinya pasti akan menangis


“Maafkan saya. Saya tidak tau jika pria yang akan menanggung jawabi bayi itu adalah Lukas, jika saya tau bahwa pria itu adalah Lukas, saya tidak mungkin melakukan hal ini. Saya tak ingin menjadi penyebab hancurnya rumah tangga Lukas dan istrinya di kemudian hari” jawab dokter Margareth dengan keberanian yang datang entah darimana


Dokter Zen mengernyit tak suka dengan jawaban dokter Margareth tersebut


“Jadi… jika pria itu bukan Lukas, kau tetap akan melakukan pemalsuan?”


“Tidak! Aku tidak mungkin melakukan hal itu!” ucap dokter Margareth sembari memberanikan dirinya untuk menatap mata tajam dokter Zen yang sedang menatapnya dengan tatapan berapi – api.


Seharusnya, dokter Margareth sudah bisa memprediksikan hal ini. Dokter Zen adalah salah satu dari beberapa dokter di rumah sakit ini yang terkenal dengan kedispilannya dalam bekerja. Pria itu tidak pernah mentolerir sedikitpun kesalahan yang dilakukan oleh para dokter lain yang bekerja disini


Mungkin, dulu dokter Margareth merupakan salah satu dokter yang beruntung, karena wanita itu jarang sekali terkena amukan dokter Zen. Dokter Margareth selalu berusaha sekuat tenaganya untuk melakukan yang terbaik, meskipun menjadi seorang dokter tidak pernah ada di dalam kamus hidup dokter Margareth. Namun, dokter Margareth melakukan semua hal ini dengan satu tujuan utama, menarik perhatian dokter Zen


“Lalu, kenapa kau melakukan pemalsuan ini?!?”


“Aku…. aku… aku hanya kasihan melihat Aurora” ucap dokter Margareth terbata – bata sembari kembali menundukkan kepalanya


Dokter Zen mengernyitkan dahinya tak percaya ketika dirinya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Aurora


“Apa rasa kasihan sudah membuat kau kehilangan akal sehatmu?!?” ucap dokter Zen dengan suaranya yang mulai meningkat


“Maaf…” ucap dokter Margareth sembari menundukkan kepalanya takut. Ia merasa sangat menyesal, sungguh!


Dari Lukas, ia tau bahwa cita – cita Margareth bukanlah menjadi seorang dokter, namun wanita itu memaksakan dirinya untuk menjadi seorang dokter karena wanita itu jatuh hati pada Zen. Awalnya, dokter Zen merasa risih saat berada di dekat dokter Margareth karena ia sudah mengetahui bahwa dokter Margareth mencoba mendapatkan hatinya, namun lama – kelamaan, dokter Zen tidak merasa risih lagi. Malah, dokter Zen merasa kagum karena wanita itu berhasil menjalankan tugasnya sebagai dokter dengan baik meskipun menjadi dokter bukanlah cita – cita awal wanita itu


Namun hari ini, semua rasa kagum itu rusak. Dokter Zen sangat kecewa dengan tindakan Margareth ini. Mungkin, karena wanita itu tidak tulus dari hatinya dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter, makanya wanita itu bisa melakukan tindakan tak terpuji seperti ini


“Tanda tangani ini” ucap dokter Zen sembari menyodorkan sebuah dokumen lainnya ke hadapan dokter Margareth


Tangan dokter Margareth bergetar hebat ketika dirinya menerima dokumen itu. Judul dari dokumen itu saja sudah berhasil membuat dokter Margareth kehilangan gairah hidupnya


“Surat pemutusan hubungan kerja dan pennonaktifan” ucap dokter Zen dingin


Deg. Deg. Deg.


Jantung dokter Margareth berdegub kencang. Semuanya sia – sia


“Tap---


“Kau akan keluar dari rumah sakit ini dan statusmu sebagai dokter akan dicabut selama 10 tahun. Tapi tenang… aku akan merahasiakan tindakan tak terpujimu ini dari dokter dan perawat lain. Saat ada yang bertanya, aku akan mengatakan jika kau punya penyakit bawaan sehingga kau harus beristirahat total” jelas dokter Zen tanpa diminta


Tes.

__ADS_1


Air mata dokter Margareth menetes.


“Tak bisakah kau memberikanku satu kesempatan?” pinta dokter Margareth dengan wajahnya yang sudah dihiasi oleh air mata wanita itu


“Satu kesempatan? Lalu kau akan kembali memalsukan DNA bayi lagi?” ucap dokter Zen tajam


Dokter Margareth menggigit bibir bawahnya saat mendengar kalimat tajam itu


“Tanda tangan! Lalu, kau harus bertemu dengan Lukas dan mengatakan yang fakta yang sebenarnya padanya. Kau harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah kau perbuat!” ucap dokter Zen lagi


Dengan air matanya yang mengalir deras, dokter Margareth menganggukkan kepalanya pelan. Jika tau semuanya akan seperti ini, dokter Margareth pasti tidak akan melakukan hal ini.


Dengan tangannya yang bergetar, dokter Margareth mengambil sebuah pulpen yang berada di atas meja dokter Zen. Wanita itu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas putih itu.


“Pergi dan beritahu kebenarannya” ucap dokter Zen dingin ketika dirinya melihat dokter Margareth telah membubuhkan tanda tangannya di atas kertas dokumen itu


“Baik…” ucap dokter Margareth dengan suara seraknya


Dengan segala keberanian yang masih dimilikinya, wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap dokter Zen, “Dokter… terimakasih atas ilmu dan bimbingan yang sudah anda berikan kepadaku selama beberapa tahun terakhir, aku sangat berterimakasih” lanjut dokter Margareth lagi sambil berusaha tersenyum


“Itu sudah kewajibanku sebagai dokter senior untuk mengayomi juniornya. Bukan karena aku memiliki perasaan khusus untukmu” ucap dokter Zen tak berperasaan


Sebisa mungkin, dokter Margareth mempertahankan senyumannya


“Aku tau… dan aku sungguh berterimakasih” ucap dokter Margareth sekali lagi sembari membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda terimakasihnya


Setelah dokter Margareth merasa tidak ada lagi yang akan dibicarakannya. Wanita itu kemudian memutuskan untuk pergi keluar dari ruangan dokter Zen.


Wanita itu melangkahkan kakinya menuju ke ruang unit gawat darurat, ruang dimana Aurora masih berada. Wanita itu melangkah dengan pikiran kosongnya, tak terasa, wanita itu sudah sampai di ujung ruangan itu.


Dari ujung ruangan itu, dokter Margareth bisa melihat Luke, sepupunya, yang nampaknya sedang depresi. Pria itu duduk sembari memegang kepalanya, sedangkan istrinya berusaha untuk menenangkannya.


Sial!


Lagi, lagi, dokter Margareth sungguh menyesali perbuatannya.


Sebelum dokter Margareth kembali melangkahkan kakinya, wanita itu menarik nafasnya dalam – dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ia harus tenang.


Setelah dokter Margareth yakin jika dirinya sudah benar – benar tenang, wanita itu kembali melangkahkan kakinya dengan mantap. Bagaimanapun juga ia adalah pelaku dari semua kekacauan ini, ia harus bertanggung jawab.


 


 

__ADS_1


__ADS_2