
Aurora meremas kedua tangannya yang terasa semakin dingin. Bibir bawahnya digigitnya ketika dirinya menatap 2 bodyguard yang saat ini sedang berada di mobil yang sama dengannya. Satu diantara bodyguard itu menyetir mobil, sedangkan satu yang lainnya duduk di samping Aurora.
Sial!
Aurora harus bisa kabur dari mobil sialan ini. Ia harus bisa kabur dan bertemu dengan dokter Margareth, ya, dia harus melakukan hal itu!
“Huekk…”
Aurora langsung menutup mulutnya yang lagi – lagi hendak mengeluarkan seluruh isi perutnya. Astaga! Apakah anaknya yang sedang dikandungnya itu tidak tau jika dirinya saat ini sedang sangat pusing dan binggung untuk mencari cara agar bisa keluar dari mobil sialan ini?
“Huekk!”
Karena tidak bisa menahan rasa mualnya itu, lagi, Aurora kembali memuntahkan seluruh isi perutnya. Namun kali ini, Aurora memuntahkan makanan – makanan bau itu ke pangkuan bodyguard yang ada disamping dirinya
“Nona!” ucap bodyguard itu yang terkejut dengan kelakuan Aurora tersebut. Sepertinya, bodyguard itu ingin memarahi Aurora, namun saat mengingat bahwa Aurora adalah nonanya, bodyguard itu mengurungkan niatnya. Nampaknya, bodyguard itu masih menyanyangi perkerjaannya itu
Mobil itu langsung dipenuhi bau tak sedap yang berasal dari muntahan Aurora
“Maaf” ucap Aurora sembari mengelap mulutnya sendiri menggunakan jaket panjang yang melekat di tubuhnya
“Tak apa – apa, nona” ucap bodyguard itu sambil tersenyum kikuk
Setelah memuntahkan isi perutnya itu, Aurora langsung mengambil sebotol air mineral yang kebetulan ada di dalam mobil itu. Aurora membuka segel botol mineral itu dan langsung menegak air mineral itu dengan rakus
Awalnya, Aurora berpikir bahwa air mineral itu mampu menetralkan rasa mualnya yang tak berhenti – henti itu, namun nampaknya dirinya salah. Bahkan, rasa mual nya semakin menjadi.
“Berhenti! Berhenti disana!” ucap Aurora pada bodyguard yang sedang menyetir mobil itu saat mobil mereka tanpa sengaja melewati toilet umum yang berada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah sakit yang akan mereka tuju
“Nona, kita tidak bisa berhenti. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, akan lebih baik jika nona mem----
“I said stop then stop! Sekarang siapa yang nonanya dan siapa yang pelayan?!?” ucap Aurora dengan suaranya yang sudah menaik karena emosinya yang tidak bisa ditahannya lagi
Melihat kemarahan nonannya itu, bodyguard yang sedari tadi mengendarai mobil itu hanya bisa menghela nafas dan menghentikan mobil mereka tidak jauh dari toilet itu
“Aku akan keluar send---
“Tidak bisa nona, saya akan menemani anda!” ucap bodyguard yang sudah terkena muntahan Aurora
Aurora mengernyit tidak suka saat mendengar ucapan bodyguard itu
“Apa kau ingin membuat seluruh pengunjung taman itu pergi karena pakaianmu yang bau akibat bekas muntahan?!?”
“Kalau begitu, saya yang akan menemani nona” ucap bodyguard yang satu lagi
Aurora mengeram marah dalam hatinya
“Apa aku terlihat seperti anak – anak bagi kalian?!? Aku bisa sendiri!! Aku tidak akan kabur!” ucap Aurora kesal
Tanpa meminta persetujuan kedua bodyguard itu, Aurora langsung membuka pintu mobil itu dan berlari menuju ke toilet itu. Aurora tidak memperdulikan tatapan – tatapan aneh yang diberikan oleh orang – orang kepadanya
Sesampainya di dalam toilet itu, Aurora langsung mengeluarkan seluruh sisa – sisa makanan yang masih ada di dalam perutnya. Sungguh, rasanya sangat menyakitkan. Sangking sakitnya, bahkan Aurora tanpa sadar sudah menitikkan air mata
“Kenapa kau membuatku semakin sulit?” ucap Aurora sembari menatap perut datarnya dan mengusap setitik air matanya dengan kasar
Sebelum benar – benar meninggalkan toilet itu, Aurora mencuci mukanya dan mulutnya lalu mengelap kering mukanya yang sudah semakin memucat itu dengan tissue yang disediakan di wastafel toilet itu
__ADS_1
“Aurora… you can do it” ucap Aurora untuk menyemangati dirinya sembari menatap pantulan wajahnya di kaca yang ada di toilet itu
Aurora menarik nafasnya dalam – dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia sangat memohon kepada Tuhan agar Tuhan membantunya sekali ini saja.
Saat Aurora merasa dirinya sudah lebih baik, wanita itu langsung menyiapkan tekadnya. Apapun yang akan terjadi saat dirinya membuka pintu ini, satu hal yang harus dilakukan oleh Aurora. Lari. Ya, dia harus lari.
Ceklek.
Aurora membuka pintu toilet itu.
Saat membuka pintu toilet itu, pandangannya langsung tertuju pada mobil yang sedari tadi ditumpanginya. Nampaknya, para bodyguard yang sedang berada di dalam mobil itu tengah diberikan sanksi oleh polisi yang tanpa sengaja lewat dari taman ini
Pasti, polisi itu memberikan sanksi kepada mobil yang sedari tadi ditumpangi oleh Aurora itu karena mobil itu parkir sembarangan. Belum lagi, Aurora yakin bahwa surat surat izin mengemudi dan surat surat penting mobil itu tidak jelas.
“Thank you so much, God” rapal Aurora
Lari.
Dengan segenap tenaganya, Aurora menggerakkan kedua kakinya dengan cepat. Ia berlari sekuat tenaganya. Ia tidak memperdulikan tatapan – tatapan binggung para pengguna jalan saat melihat Aurora berlari bak seseorang yang sedang dikejar penjahat.
Untungnya, saat Aurora menolehkan pandangannya ke belakang, dirinya tidak mendapati satupun bodyguard itu yang mengejar dirinya. Sepertinya, bodyguard bodyguard bodoh itu tidak menyadari bahwa Aurora sudah kabur.
“Sedikit lagi, sebentar lagi” ucap Aurora untuk menyemangati dirinya ketika dirinya sudah mulai dapat melihat gedung besar rumah sakit tempat dokter Margareth bertugas
Aurora semakin mempercepat larinya. Salah satu tangannya bergerak dengan natural untuk memegang perutnya, ia tak ingin anak yang sedang berada di dalam perutnya itu merasa terguncang akibat tindakan yang dilakukan oleh Aurora
Dengan peluh yang mengalir deras di dahi dan lehernya, akhirnya, Aurora bisa mencapai rumah sakit itu. Dengan nafasnya yang masih tidak teratur, Aurora langsung memasuki rumah sakit itu. Lagi, ia tidak memperdulikan segala tatapan – tatapan binggung dan terkejut yang ditujukan oleh orang – orang yang ada di sekitarnya
Tak ingin membuang – buang banyak waktu lagi, Aurora langsung berjalan dengan cepat menuju ke ruang kerja dokter Margareth
Papan nama itu terpampang dengan kokohnya di atas pintu ruangan dokter Margareth.
Tangan Aurora langsung bergerak untuk mendorong pintu ruangan itu. Ia menarik nafasnya dalam – dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, apapun yang terjadi nanti, Aurora akan mencoba menerimanya. Meskipun dalam hati kecilnya, ia masih berharap
Ceklek.
Pintu itu langsung terbuka, Aurora bisa lihat dokter Margareth yang sepertinya merasa terkejut dengan kedatangan Aurora yang tiba – tiba atau mungkin, dokter Margareth terkejut karena melihat penampilan urak – urakan Aurora
“Apa aku terlambat?” tanya Aurora sambil berusaha tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu
“Tidak” ucap dokter Margareth sembari memberikan tatapan mengkasihaninya kepada Aurora. Nampaknya, keputusan yang sudah dilakukannya adalah keputusan yang benar. Wanita itu, Aurora, ia berhak untuk bahagia bersama dengan calon anaknya dan pria yang sudah menghamili dirinya
“Bagaimana testnya?” tanya Aurora dengan gugup sembari menarik kursi di hadapan dokter Margareth dan mendudukinya
“Kau bisa lihat sendiri” ucap dokter Margareth sembari menyodorkan sebuah amplop putih yang masih tersegel rapat ke hadapan Aurora
Aurora menerima amplop itu dengan perasaan takut dan gugup yang luar biasa. Bahkan tangannya sampai bergetar ketika dirinya hendak membuka perekat amplop itu
“Apa kau takut?” tanya dokter Margareth yang merasakan rasa ketakutan dan kekhawatiran yang besar pada diri Aurora
“Ah? Eumh… tidak…” ucap Aurora kikuk sambil tersenyum palsu
Srrett…
Suara amplop yang dirobek dengan pelan itu semakin membuat jantung Aurora berdegub dengan kencang. Dengan gerakan pelan, Aurora menarik secarik kertas yang berada di dalam amplop itu.
__ADS_1
Aurora langsung membaca kertas yang dikeluarkan oleh dokter Margareth itu dengan cepat. Matanya langsung bergerak menuju ke akhir kertas itu.
POSITIF
Mata Aurora langsung membelalak ketika melihat kata itu tertulis dengan huruf capital dan huruf bold.
“Ini?”
Dengan mata berkaca – kaca, Aurora menatap dokter Margareth. Getaran tangannya semakin terasa.
“Ya… kejarlah pria itu dan tampar surat ini ke pipinya” ucap dokter Margareth sambil terkekeh pelan
Aurora menggigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya agar tidak menangis
“Terimakasih banyak… Aku tidak tau, dengan cara apa aku bisa membayar semua kebaikanmu ini” ucap Aurora dengan suara paraunya
“Tidak usah memikirkan itu. Sekarang, lebih baik kau bertemu dengan pria itu” ucap dokter Margareth sembari tersenyum kecil
Aurora mengganggukkan kepalanya dengan semangat. Dengan gerakan cepat, Aurora kembali memasukkan kertas itu ke dalam amplop yang sudah dirobeknya.
“Terimakasih, terimakasih banyak…” ucap Aurora lagi saat dirinya hendak meninggalkan ruangan itu
“Iya…” jawab dokter Margareth
Dengan senyum haru, Aurora meninggalkan ruangan itu.
Saat dirinya sudah berada di luar ruangan dokter Margareth itu, tangannya langsung bergerak untuk mengambil ponselnya yang sedari tadi disimpannya di saku jaket panjangnya.
Ia mencari nama Luke di dalam daftar kontak ponselnya itu. Perlu waktu cukup lama untuk Aurora sampai pria itu mau mengangkat panggilannya, sepertinya, pria itu secara terang – terangan hendak menghindari Aurora
“Halo? Katakan, apa maumu?” tanya Luke to the point saat panggilan itu tersambung
“Halo… aku… aku ingin kita bertemu…” pinta Aurora dengan rasa gugup dan takut yang luar biasa
“Apa? Kau meminta untuk bertemu?” tanya Luke kesal
Jantung Aurora semakin berdetak tidak karuan saat dirinya merasakan aura kekesalan yang luar biasa dalam pertanyaan Luke itu
“Hasil DNAnya sudah keluar… Aku ingin menunjukkannya padamu” ucap Aurora sembari menggigit bibir bawahnya dengan gugp
“Hasilnya sudah keluar?” tanya Luke yang kali ini terdengar tidak kesal seperti sebelumnya
“Iya… Aku ingin kita bertemu di café yang ada di dekat Rumah Sakit Veeta”
“Baiklah, aku dan Isa akan kesana” tandas Luke
“Ak—
Sebelum Aurora melanjutkan kalimatnya, panggilan itu langsung diputus secara sepihak oleh Luke. Aurora hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar saat dirinya kembali menyimpan ponselnya itu ke dalam saku jaket panjangnya
Apakah sikap Luke akan berubah ketika pria itu tau bahwa saat ini Aurora tengah mengandung darah dagingnya? Aurora harap begitu… Aurora berharap, Luke mau mengakui dirinya dan membawa Aurora pergi dari keluarga Smith untuk selama - lamanya
__ADS_1