
Bugh!
Mendengar suara benturan itu, Luke langsung tersentak dari lamunannya. Mata pria itu langsung tertuju ke arah istrinya yang sudah menjadi korban kegilaan Aurora
“ISA!” teriak Luke khawatir saat melihat istrinya dipeluk kuat oleh wanita gila itu. Wanita gila itu nampakl tersenyum puas karena sudah berhasil membenturkan gelas kaca yang ada di genggamannya ke atas kepala Isa.
Sedetik kemudian, pria itu melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menemui istrinya. Pria itu langsung menarik tubuh istrinya dari pelukan Auora dan memeluk tubuh istrinya yang terasa melemas dengan erat
Plak!
Tanpa memandang gender, Luke langsung menampar pipi Aurora dengan sangat kuat. Sungguh, Luke merasa seluruh rasa kesal, amarah, kecewa dan dendam yang sudah ditahannya dan dikuburnya dalam – dalam selama beberapa tahun belakangan ini langsung menguap. Luke merasa puas
“Kau memang wanita gila! Sungguh… Tuhan sangat baik karena tak pernah membiarkan satu bayipun keluar dari perut wanita gila sepertimu” ucap Luke berapi – api
Aurora terdiam. Tangannya bergerak untuk memegang pipi putihnya yang terasa sangat panas dan berdenyut – denyut.
Tes.
Air mata wanita itu menetes
“Ka… kau menamparku?” tanya Aurora tak percaya
Seumur hidupnya, baru kali ini Aurora menerima tamparan sekuat ini dan yang paling menyakitkannya… Aurora mendapatkan tamparan itu dari pria yang ia pikir dapat membebaskannya dari kakaknya yang gila itu.
“Ya! Aku menamparmu!” ucap Luke pedas
Kemudian, pria itu mengahilhkan tatapan berapi – apinya dari Aurora menuju ke wanita yang berada di dalam pelukannya. Ia menatap lembut wanita itu.
“Sialan kau Aurora!” maki pria itu
Bup.
Dengan gerakan lembut, Luke mengangkat tubuh Isa ke dalam pelukannya. Istrinya itu masih membuka matanya, namun Luke tau, setengah kesadaran wanita itu sudah menghilang
Sialan!
Melihat hal itu membuat Luke mempercepat langkahnya untuk keluar dari ruangan kamar Aurora. Pria itu kemudian memutuskan untuk melangkahkan kakinya memasuki ruang UGD, selain karena ruangan itu adalah ruangan yang berada dekat di matanya, Luke juga memutuskan untuk memilih ruangan itu agar istrinya langsung dapat ditangani.
__ADS_1
“Isa… bertahanlah…” ucap Luke lembut sembari menatap istrinya yang sudah menutup matanya.
Darah yang mengucur dari kepala wanita itu kini sudah mengenai tangan kekar Luke, namun… Luke tak mempermasalahkan hal itu. Itu hanya bercak darah yang bisa hilang dengan tissue basah
Pria itu semakin mempercepat langkahnya ketika melihat pintu ruang UGD yang tinggal beberapa langkah lagi dari hadapannya
Brakk!!!
Luke menendang kuat pintu itu seolah – olah pria itu tak peduli jika dibalik pintu itu ada seseorang yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
“Tolong, istriku! Kepalanya baru saja dibenturkan dengan gelas kaca oleh pasien gila di rumah sakit ini!” ucap Luke menggema saat dirinya memasuki ruang UGD yang seharusnya tak dimasuki oleh sembarang orang seperti dirinya
Kedatangan Luke yang tiba – tiba dan tak diinginkan itu membuat beberapa dokter, martir serta beberapa perawat yang ada di dalam ruangan itu terkejut dan menghentikan operasi yang sedang mereka lakukan untuk beberapa saat.
Mereka semua memandang Luke dengan tatapan aneh, kesal, terkejut dan marah.
“Hei?! Apa kalian tuli?!? Istriku baru saja terluka, ia sampai pingsan!” teriak Luke dengan emosi yang memuncak saat melihat orang – orang berpakaian putih dengan masker yang melekat di wajah mereka itu menatap Luke dengan tatapan yang tak disukai oleh Luke
Melihat Luke yang sudah melampiaskan kemarahannya, salah satu perawat yang berada di kerubunan itu kemudian menghampiri Luke.
Luke menatap tak suka ke arah perawat yang sedang berbicara kepadanya. Cara perawat itu berbicara kepadanya seolah – olah hendak mengatakan bahwa Luke adalah pria yang tak memiliki sopan santun
“Lalu kau ingin aku melakukan apa?!? Berkeliling mencari perawat dan membiarkan istriku kekurangan banyak darahnya?!? Apa kau ingin ku pecat hah?!?” teriak Luke penuh emosi
Melihat situasi yang sudah tak terkendali itu, sala satu martir yang sedari tadi memperhatikan Luke meluapkan emosinya kepada salah satu perawat yang ada disana kemudian memutuskan untuk mendekati Luke
“Maafkan kami, tuan. Mari, saya akan memeriksa istri anda” ucap martir tersebut dengan lembut
Well… martir itu sudah berpengalaman dalam menghadapi berbagai jenis keluarga dari pasien yang dirawatnya. Tipe pemarah seperti Luke sebaiknya harus diperlakukan dengan baik dan lembut
“Ck! Kenapa tidak sedari tadi kau saja yang menjumpaiku, bukan perawat pemakan gaji buta ini” sindir Luke sembari menatap sinis perawat yang sebelumnya mendatangi dirinya
“Maafkan kami, tuan” ucap martir itu sembari berjalan menuju ke salah satu tempat tidur kosong yang berada di ruangan tersebut
“Tolong letakan istri tuan disini…” pinta martir itu dengan sopan
Tanpa menunggu lama, Luke langsung meletakkan tubuh Isa ke atas ranjang itu. Setelah tubuh itu terletak di atas ranjang berwarna biru itu, martir tersebut langsung bergerak dengan cepat untuk melakukan tugasnya
__ADS_1
Ia mengecek kepala Isa yang sedari tadi mengeluarkan darah. Martir tersebut terlihat mengangguk – anggukan kepalanya setelah melihat kepala Isa itu
“Bagaimana keadaan kepalanya?” tanya Luke khawatir
“Tidak terlalu parah. Untungnya, kacanya tidak masuk terlalu dalam” ucap martir tersebut sembari menyiapkan beberapa alat yang sudah tersedia di dekat nakas yang berada di samping tempat tidur Isa
“Tapi kenapa dari tadi kepalanya mengeluarkan darah?” tanya Luke yang tak percaya dengan ucapan martir tersebut. Bisa saja kan martir tersebut mengucapkan hal itu untuk membuat Luke merasa sedikit lega?
“Itu hanya bercak – bercak darah tuan. Ini hal yang biasa jika seseorang terluka” ucap martir tersebut dengan nada geli.
Luke menghela nafasnya dengan lega. Sepertinya, ia terlalu mengkhawatirkan istrinya itu. Tapi, Luke juga bertindak seperti ini karena dirinya tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu
Selama operasi kecil itu dilakukan oleh martir tersebut, Luke tak pernah beranjak dari tempatnya. Ia memperhatikan apa yang dilakukan oleh martir tersebut dan kemudian melihat wajah istrinya, apakah istrinya kesakitan atau tidak? Well… meskipun Luke tau bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang bodoh, Luke tak peduli
Luke memperhatikan martir itu menyiapkan jarum suntik yang sepertinya sudah diisi oleh obat bius dan menyuntikkannya ke lengan Isa. Sekilas, Luke bisa melihat istrinya itu mengernyit kecil. Mungkin, istrinya itu merasa terganggu dengan jarum yang menusuk kulitnya itu
Setelahnya, martir tersebut langsung bergerak cepat untuk membersihkan kepala Isa dari serpihan – serpihan kaca yang menancap diatasnya. Di beberapa bekas tertanamnya serpihan itu, martir tersebut memutuskan untuk melakukan penjahitan kecil dan menutupnya dengan perban.
“Apa itu akan terasa sakit?” ucap Luke saat melihat martir tersebut menjahit puncak kepala Isa dengan mudahnya seolah – olah martir tersebut sedang menjahit sebuah pakaian yang robek
“Seharusnya tidak. Tapi, kita tak tau… biasanya, beberapa jam setelah pasien sadar, sakitnya baru akan terasa. Namun, jika pasien memiliki ketahanan tubuh yang kuat, operasi kecil seperti ini tak akan memberikan rasa sakit yang berarti” jelas martir tersebut
Luke mengangguk – anggukkan kepalanya paham. Tiba – tiba, ia teringat sesuatu…
“Ah… istriku sedang hamil, apa operasi ini tak akan berdampak apa – apa pada bayinya?” tanya Luke khawatir sembari menggenggam tangan Isa yang terasa sangat lembut itu
“Operasi ini tak berdampak apa – apa untuk bayinya”
“Syukurlah. Kalau begitu… kapan istriku akan bangun?” tanya Luke lagi
Martir tersebut tersenyum penuh arti. Dari pertanyaan – pertanyaan yang sedari tadi dilontarkan oleh Luke kepadanya, ia dapat menyimpulkan bahwa pria itu sangat mencintai dan menyanyangi istrinya
“Mungkin, 2 sampai 3 jam lagi”
__ADS_1