
Saat ini, Luke sedang berbaring bersama dengan Isa. Berbeda dengan Isa yang terlihat sudah terlelap, Luke malah tidak bisa memejamkan matanya
Tangan kekar Luke setia mengelus lembut perut datar Isa, namun pikirannya melayang – layang. Luke merasa dirinya tidak tenang. Jika dia tau dirinya akan merasa seperti ini, seharusnya dia tidak perlu membuka kado sialan itu.
Ya, karena Luke tidak ingin Isa membuka kado sialan itu, terpaksa Luke mengambil kado itu dimalam hari pernikahan mereka dan membukanya secara diam diam. Dan, surprise! Darah Luke berhasil dibuat mendidih saat melihat isi kado sialan itu. Meskipun darahnya berhasil mendidih, namun setidaknya Luke merasa lega karena Isa tidak membuka kado itu.
Luke tidak bisa membayangkan hal apa yang terjadi nanti jika Isa yang membuka kado itu. Mengingat saat ini Isa sedang mengandung, Luke tidak ingin Aurora meracuni pikiran Isa yang saat ini sangat labil.
Drrrttt… drrrtt…. Drrrttt….
Suara getaran ponsel Isa membuat Luke tersentak dari pemikirannya.
Dengan satu tangannya yang lain, Luke meraih ponsel itu. Rahangnya langsung mengeras saat melihat nama penelpon yang muncul di layar ponsel itu.
Aurora.
Sejak kapan Isa memiliki nomor ponsel wanita ular itu?
Tangan Luke bergerak untuk mengangkat panggilan itu. Sejujurnya, Luke sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Luke sadar betul jika Aurora pasti akan menghubungi istrinya dan mengungkapkan keadaanya saat ini… Aurora itu terlalu dapat ditebak!
Karena sudah dapat menebak hal itu akan terjadi, setelah pesta pernikahan mereka, Luke selalu menjauhkan ponsel Isa dari jangkauan wanita itu. Luke tak ingin Isa menerima panggilan dari Aurora dan mendengarkan ucapan wanita itu yang penuh dengan kebohongan.
“Isa, apakah kau sudah membuka kado yang telah kuberikan kepadamu?”
Senyum miring Luke timbul, wanita ini terlalu to the point sekali.
“Ah… kau diam, berarti kau sudah membukanya. Bagaimana, bukankah hadiahku sangat menarik?”
Ya, hadiah Aurora sangat menarik, sehingga Luke ingin mencabik – cabik si pengirim hadiah tersebut.
“Kau tau… saat ini aku juga sedang merasakan yang sedang kau rasakan. Hamil. Bukankah itu menakjubkan? Anakmu akan memiliki adik tanpa harus menunggu waktu yang lama!” ucap Aurora yang diakhiri dengan sebuah kekehan
Luke mengetatkan rahangnya. Wanita ini sudah terlalu keterlaluan. Berani – beraninya dia mengatakan hal seperti itu.
Luke merasa jijik dengan ucapan wanita itu. Bagaimana bisa anaknya akan menjadi adik dari anak Luke dan Isa? Amit – amit! Luke tidak pernah terpikir untuk mengangkat anak dari seorang ****** yang bahkan tidak tau siapa ayah dari anaknya sendiri.
“Tapi sayangnya… anakmu akan mendapatkan banyak kasih sayang dari ayahnya, namun anakku tidak. Bukankah hal itu tidak adil? Padahal mereka berasal dari pria yang sama”
Cukup!
Luke tidak tahan!
“Katakan, apa yang kau mau, nona Smith! Kau tak perlu muluk – muluk seperti itu!” ucap Luke dengan nada dinginnya.
“L…. Lu---ke?” ucap wanita itu tergagap. Mungkin tak terlintas di benak wanita itu jika Luke yang akan mengangkat panggilan ini.
__ADS_1
“Aurora, aku sudah lelah dengan segala drama yang kau buat. Dan… kau bertingkah seperti ini, seolah – olah aku tidak mengenal siapa kau! Siapa yang tau, bayi dari gi**lo mana yang sedang kau kandung saat ini!” ucap Luke pedas
“Apa maksudmu bayi dari gi**lo? Aku bukanlah wanita rendahan seperti itu! Bayi ini adalah bayi mu!” ucap Aurora setengah berteriak
Luke menghela napasnya dengan kasar.
“Aurora… jangan menipuku! Kali ini, aku tidak memiliki rasa belas kasih kepadamu. Aku tidak akan menerima wanita yang tengah mengandung anak orang lain. Aku tidak sebodoh itu” ucap Luke sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut
“Apa yang kau katakan? Aku tidak menipumu! Aku berbicara fakta! Kau tidak lupa kan kalau kita pernah melakukannya sekali saat kau berada di Los Angeles?” tanya Aurora
Rahang Luke mengetat.
“Jadi, atas dasar itu, kau mengatakan kalau bayi yang kau kandung adalah bayiku? Nona Smith… coba kau ingat – ingat lagi, mungkin kau telah tidur bersama beberapa pria lain setelah malam itu”
“Luke! Aku bukan wanita murahan!”
“Jika kau bukan wanita murahan, maka buktikan! Kau tidak perlu menelpon istriku dan menghasutnya dengan kata – kata ularmu itu agar pernikahan kami hancur!” ucap Luke dengan nada bicara yang telah naik satu oktaf.
Diujung panggilan itu, Aurora menegak ludahnya dengan kasar. Dirinya menggigit bibirnya dengan keras, tidak Luke, tidak Ryan, mereka semua memperlakukan Aurora seperti ini. Mereka selalu menganggap Aurora adalah wanita murahan.
Tidak! Aurora tidak boleh menangis!
Aurora harus mampu meyakinkan Luke bahwa bayi yang berada di kandungannya kali ini merupakan bayi mereka. Aurora harus melakukannya agar dirinya bisa terbebas dari kakaknya.
“Apakah otak dangkalmu itu sudah tak bisa lagi memproduksi kalimat – kalimat dusta?” sindir Luke saat Aurora tak kunjung berbicara
“Aurora, dengarkan aku… Aku sangat ingin mempercayaimu, tapi kejadian di masa lalu telah membuatku harus berpikir dua kali untuk mempercayai ucapanmu”
“Luke! Aku tau kalau aku sudah salah di masa lalu, tidakkah kau akan memberikanku kesempatan untuk memperbaikinya?” pinta Aurora
“Tidak. Sudah terlambat! Aku sudah memiliki wanita yang benar – benar dapat mengerti diriku” ucap Luke sambil menatap Isa yang terlihat sangat nyaman dalam tidurnya. Sebuah senyum simpul menghiasi wajah tenang itu. Sepertinya, istrinya itu tengah memimpikan sesuatu yang sangat menarik.
“Luke, tolong percaya kepadaku! Bayi ini benar – benar ba---
“Jika bayi itu benar – benar bayiku, apa yang kau inginkan dariku, hah? Apa kau ingin aku bercerai dari Isa kemudian memintaku untuk menikahimu? Tolong, jangan berfantasi sejauh itu” ucap Luke dengan nada dinginnya
“Aku… aku tidak akan memintamu menceraikan Isa… Aku hanya ingin mendapatkan perlindungan darimu”
“Perlindungan? Ohhh… jadi, pria gi**lo yang telah menanamkan benih itu tengah mengejarmu, eumh?” tanya Luke dengan nada sarkas
“Luke! Apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa bayi ini adalah bayimu?” tanya Aurora putus asa
Luke mengeram kesal. Wanita ini sungguh tidak merasa gentar sedikitpun dan sangat gigih sekali.
“Lakukan tes DNA!” ucap Luke tanpa pikir panjang
__ADS_1
Aurora menegak ludahnya dengan kasar.
Tes DNA disaat dirinya masih hamil muda seperti ini? Aurora tidak bodoh! Dia tau benar bahwa tes DNA disaat – saat kandungannya masih lemah seperti ini sangat membahayakan kandungannya. Aurora tak ingin kehilangan kandungannya ini, hanya dengan kandungannya ini, Aurora bisa mendaptkan perlindungan dari Luke
“Ada apa? Kenapa kau membisu? Apakah kau takut dengan fakta bahwa bayi yang kau kandung itu adalah bayi dari pria gi**lo?” ejek Luke
“Aku… aku akan melakukan tes DNA!” tandas Aurora
“Baiklah… Besok aku akan menyuruh asistenku untuk mengirimmu sampel darah dan sampel rambutku”
“Tap---
Belum selesai Aurora mengucapkan kalimatnya, Luke langsung memutus sambungan panggilan itu. Jika ia berlama – lama melakukan panggilan dengan Aurora, Luke yakin dirinya tak akan bisa menahan emosinya lebih lama lagi.
Dengan gerakan kasar, Luke kembali menyimpan ponsel Isa tersebut.
“Eungh… Luke?” panggil Isa yang nampaknya merasa terganggu dengan tindakan Luke tersebut
“Ya?” ucap Luke lembut sambil mengelus lembut puncak kepala istrinya itu
“Kenapa kau belum tidur?” tanya Isa binggung sambil mengerjap – ngerjapkan matanya
“Ini aku hendak tidur” ucap Luke sambil tersenyum dan menarik selimut yang menutupi dirinya dan Isa
“Lalu, kenapa kau terbangun, eumh?” tanya Luke penasaran sambil menarik tubuh Isa ke dalam pelukannya
“Tadi… di dalam mimpiku, kau terlihat sedang marah – marah. Dan… tadi juga kau membuat suara berisik, makanya aku terbangun” jelas Isa sambil memeluk tubuh Luke
“Ah… maafkan aku. Lain kali, aku tak akan membuat suara berisik lagi” ucap Luke gemas sambil mengecup puncak kepala Isa
“Janji?”
“Janji!”
.
.
.
.
.
Double up, uwuu...
__ADS_1