
Drrt… drrt… drrt…
Getaran ponsel milik Luke mengintrupsi Luke yang sedang hanyut di dalam mimpinya
Masih dengan mata tertutup, Luke meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya dan menjawab panggilan tersebut
“Halo?” tanya Luke dengan suara parau khas orang yang baru saja bangun tidur
“…”
“Ya. Saya akan ke kantor sebentar lagi. Lebih baik sekarang kamu mengurus berkas – berkas untuk rapat nanti” perintah Luke
“…”
Tut.
Panggilan diputus secara sepihak oleh Luke. Ternyata, panggilan tersebut berasal dari sekretarisnya yang mengingatkannya bahwa hari ini dia harus menghadiri rapat. Sial sekali memang! Padahal, Luke masih sangat ingin bersantai – santai saat ini.
Tangan Luke bergerak untuk meraba – raba bagian sebelah tempat tidurnya. Tangannya terus meraba – raba kasur empuk itu, namun Luke tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dengan cepat, Luke membuka matanya.
Dan… surprise!
Luke tidak mendapatkan keberadaan Isa disampingnya.
Luke langsung bangkit dari posisinya dan duduk.
“Isa?” panggil Luke sambil mengedarkan pandangannay ke seluruh ruangan kamar.
Jika ditinjau dengan kesunyian yang berada di kamar itu, Luke dapat memastikan bahwa Isa sudah pergi meninggalkannya. Apalagi, kini Luke sudah tidak melihat lagi pakaian – pakaian Isa yang semalam tercecer di lantai kamar.
Luke tersenyum kecil saat dia mengetahui bahwa Isa benar – benar meninggalkannya. Biasanya, Luke lah orang yang selalu meninggalkan partner one night standnya, namun kini Isa malah yang meninggalkannya? Sungguh menarik.
Sambil tersenyum kecil, Luke langsung beranjak menuju kamar mandi. Luke perlu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan bau.
Selama mandi, Luke selalu terbayang – bayang dengan Isa. Tubuh Isa, desahan Isa, jepitan Isa, mulut Isa… ugh, itu semua membuat Luke kembali menegang. Baru kali ini Luke dapat tegang karena wanita yang sama untuk yang kesekian kalinya.
“Sepertinya aku butuh air dingin” ucap Luke pada dirinya sendiri sambil mengaktifkan tombol air dingin di bathupnya.
Tak perlu waktu lama, kini Luke sudah menyelesaikan mandinya. Dan sialnya, Luke baru mengingat bahwa dia tidak membawa stelan ke kamar hotel, sehingga kini Luke hanya mengenakan kimono yang disediakan oleh pihak hotel.
“Hanna, tolong berikan perintah kepada bodyguardku untuk mengantar satu stelan jas ke Hotel Henriette Paris, president suite” perintah Luke dari telepon kepada sekretarisnya, Hanna.
“…”
“Waktunya hanya 10 menit” perintah Luke lagi
“…”
Tut.
Panggilan diputus oleh Luke secara sepihak.
Kini, Luke sedang duduk di pinggiran tempat tidur hotel tersebut sambil menatapi galeri fotonya. Luke tersenyum kecil saat melihat foto seorang gadis yang sudah membuatnya bertahan sampai saat ini. Senyum polos gadis itu, selalu mampu membuat Luke menjadi bersemangat
Tok.. tok... tok…
Suara ketukan pintu menginterupsi Luke.
Luke kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. Saat membuka pintu, Luke langsung melihat 2 orang bodyguard berpakaian hitam dan berbadan kekar. Mereka adalah bodyguard Luke.
“Ini tuan” ucap bodyguard tersebut sambil memberikan satu stelan jas kepada Luke yang masih terbungkus rapi dalam plastik di sebuah paper bag.
“Kalian bisa pergi” ucap Luke sambil menerima paper bag itu.
“Baik tuan” ucap bodyguard – bodyguard itu dengan patuh sambil berjalan meninggalkan Luke.
Krek.
Luke menutup pintu kamar hotelnya.
Dengan cekatan, Luke mengeluarkan segala isi paper bag tersebut, yang ternyata tidak hanya berisi satu stelan jas. Namun, paper bag itu juga berisi dengan sepasang sepatu, dasi, jam tangan dan sebotol parfum mini. Sekretaris Luke memang tidak pernah mengecewakan Luke.
Setelah selesai berpakaian, Luke langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar hotel tersebut. Mungkin, kamar hotel ini akan menjadi kamar hotel yang sakral bagi Luke. Luke tidak akan membawa sembarang wanita untuk memasuki hotel ini, terutama kamar ini.
Saat mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja pandangan Luke bersiobrok kepada sebuah kartu berwarna biru tua yang tergeletak di atas karpet yang berada di dekat meja rias.
Merasa penasaran, Luke langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat kartu tersebut tergeletak.
“Isabelle Rose” ucap Luke sambil membaca nama yang tertera di kartu tersebut.
Luke langsung meneliti kartu tersebut. Ternyata, itu adalah kartu tanda kerja milik Isa. Sepertinya, kartu tersebut jatuh tanpa sepengetahuan Isa.
Senyum miring Luke langsung terbit. Setidaknya, Luke tidak perlu capek – capek menyewa detektif untuk menyelidiki latar belakang Isa, well.. Luke juga bukan tipe orang yang sering menyewa detektif untuk menyelidiki latar belakang orang lain. Luke lebih tertarik mendapatkan semua informasi tanpa bantuan orang lain, apalagi masalah pribadi.
“Isa, tunggu kedatanganku” ucap Luke sambil tersenyum puas dan memasukkan kartu tanda kerja milik Isa itu ke dalam saku jasnya.
Dengan langkah ringan, Luke berjalan meninggalkan kamar itu.
Selama di perjalanan, Luke mengendarai mobil Lamborghini hitamnya dengan penuh semangat. Jarang sekali, Luke sesemangat ini saat ke kantor, hanya karena Luke menemukan kartu tanda pengenal milik teman one night standnya.
Sesampainya di kantor, Luke langsung disambut oleh para pegawai dan beberapa bodyguard yang tengah berbaris di depan pintu masuk gedung Milleis.
__ADS_1
“Selamat pagi tuan” ucap seluruh pegawai dan bodyguard tersebut secara serempak saat Luke mulai berjalan melewati mereka.
“Ya, selamat pagi juga” balas Luke tak kalah ramah sambil tersenyum sumringah.
Seluruh pegawai dan bodyguard yang sedang menyambut Luke langsung membelalakan matanya dengan heran. Apakah mereka tidak salah dengar? Luke menyapa mereka? Dengan senyuman pula!
Biasanya, Luke terkenal dengan kewibawaannya yang tinggi dan sifatnya yang dingin. Bahkan, selama menjabat menjadi ceo sekaligus pemilik Milleis, Luke tidak pernah menyapa pegawainya. Dan pegwawai – pegawainya juga sudah terbiasa dengan sifat bos baru mereka itu.
Luke hanya bisa tersenyum kecil saat menyadari bahwa para pegawainya menyadari suatu kejanggalan dalam diri Luke.
“Selamat pagi tuan” ucap Hanna sambil setengah membungkuk saat Luke hendak memasuki ruangannya.
“Kamu ke ruangan saya” perintah Luke sambil berjalan memasuki ruangannya.
Dengan cepat, Hanna membereskan segala berkas – berkas yang sudah ditumpuknya untuk diberikan kepada bosnya. Setelah selesai membereskan berkas – berkas itu, Hanna langsung menentengnya di tangannya. Kemudian, Hanna memasuki ruangan Luke.
“Ini tuan, segala berkas yang hendak ditanda tangani” ucap Hanna sesopan mungkin sambil meletakkan 6 tumpuk berkas berwarna – warni di atas meja Luke.
“Apa bahan untuk rapat nanti sudah selesai?” tanya Luke sambil membuka jasnya dan menggantungnya di sebuah gantungan yang berada di ujung ruangan.
Luke memang tidak suka mengenakan jas, karena itu terasa sangat panas dan memuakkan.
“Sudah tuan. Pihak asuransi Soul, meminta rapat diadakan di kantor Milleis” jelas Hanna
“Bukannya kemarin mereka mengatakan bahwa akan melaksanakan rapat di sebuah restoran?” tanya Luke sambil menghempaskan bokongnya di kursi kebesaran miliknya.
“Ya, rencana awalnya memang seperti itu tuan. Namun mereka meminta untuk mengganti tempat karena mereka tidak memiliki banyak waktu di Paris, oleh karena itu mereka memutuskan untuk melaksanakan rapat di kantor Milleis” jelas Hanna dengan lancar
“Kapan mereka meminta menggantinya?”
“Baru tadi pagi tuan”
“Heran sekali! Perusahaan yang sudah terkenal ke manca negara itu, memiliki pengaturan waktu yang tidak jela” ucap Luke yang membuat Hanna tersenyum kecil.
“Apa ada permberitahuan lain?” tanya Luke pada Hanna
“Tidak ada tuan”
“Apa setelah rapat itu, masih ada jadwal lain?”
“Tidak ada tuan”
“Baiklah. Kamu boleh pergi” perintah Luke
“Baiklah tuan” ucap Hanna dengan patuh sambil meninggalkan ruangan Luke.
Dengan semangat, Luke membuka seluruh map yang baru saja diberikan Hanna kepadanya. Luke harus cepat – cepat menyelesaikan seluruh pekerjaannya, agar dia bisa cepat – cepat mengunjungi Isa.
Karena saking semangatnya, Luke tidak menyadari kalau tumpukan map yang sungguh menyakitkan mata saat dilihat itu, kini sudah habis dilahap oleh Luke. Luke tersenyum kecil. Kapan terakhir kali Luke sesemangat ini? 5 tahun yang lalu, mungkin.
“Baiklah” ucap Luke dengan semangat sambil bangkit dari duduknya.
Dengan langkah tegap dan tegas, Luke pergi menuju ruang rapat. Hanna dan beberapa pegawai lain juga mengikuti jalan Luke.
Sesampainya di ruang rapat, Luke sudah melihat pihak dari asuransi Soul sudah berkumpul di ruang rapat. Dan, Luke sepertinya mengenal wajah salah satu dari perwakilan asuransi yang berasal dari Roma, Italia itu.
Saat memasuki ruang rapat, Luke langsung disambut hormat oleh seluruh orang yang berada di ruang rapat tersebut.
“Baiklah. Rapatnya bisa kita mulai” ucap Luke sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi yang berad di ujung meja rapat tersebut.
Rapat kemudian dimulai dengan kondusif. Meskipun ada perbedaan pendapat, kesepakatan akhirnya bisa dicapai oleh kedua belah pihak.
Asuransi Soul adalah asuransi yang berpusat di Roma, Italia. Karena pelayanannya yang sangat bagus kepada para peserta asuransinya, asuransi Soul kini sudah terkenal di mancanegara, seperti Perancis salah satunya.
Tentunya, kesepakatan yang dicapai oleh Bank Milleis dengan asuransi Soul akan membawa banyak dampak positif kepada kedua belah pihak. Selain itu, bank Milleis akan memiliki kesempatan yang lebih besar lagi untuk menjadi bank dunia.
“Saya harap kesepakatan ini bisa membawa banyak dampak baik untuk kita” ucap Luke sambil tersenyum dan menjabat tangan direktur utama asuransi Soul, yang bertugas sebagai pemimpin asuransi Soul saat rapat berlangsung.
“Saya juga berharap demikian” ucap direktur utama asuransi Soul tersebut sambil tersenyum sumringah.
Setelah rapat selesai, Luke langsung meninggalkan ruang rapat.
“Saya akan langsung pulang. Jika ada sesuatu, kamu bisa menghubungi saya” ucap Luke pada sekretarisnya, Hanna, saat mereka sudah berada di koridor ruang rapat
“Baik tuan” jawab Hanna dengan patuh
Luke dan Hanna kemudian berpisah tepat di perempatan gedung utama. Hanna kembali ke ruangannya, sedangkan Luke menuju ke tempat parkir eksklusif, yang hanya digunakan oleh petinggi Milleis.
“Keluarkan mobilku” perintah Luke sambil melemparkan kunci mobilnya kepada salah satu sekuriti yang sedang menjaga parkir eksklusif itu
“Baik, pak!” ucap sekuriti tersebut dengan patuh setelah berhasil menangkap kunci mobil milik Luke yang dilempar oleh Luke kepadanya.
Sembari menunggu kedatangan mobilnya, Luke menatap jam tangan berwarna silver yang terlilit dengan baik di tangannya.
Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 13.00, sepertinya Luke sudah memperbarui rekor waktu pulang tercepatnya dari kantor. Luke tersenyum kecil. Mungkin, Tuhan berkehendak agar Luke membawa Isa makan siang.
Senyum Luke langsung menghilang saat mobilnya kini sudah berada di hadapannya.
“Terimakasih” ucap Luke pada sekuriti tersebut, saat sekuriti tersebut sudah keluar dari mobil Luke
“Sama – sama pak!” ucap sekuriti tersebut sambil sedikit membungkuk, untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada bosnya itu.
Luke kemudian masuk ke dalam mobil.
“Sepertinya dia belum pulang dari pekerjaannya. Lebih baik aku ke rumah mode tempat dia bekerja saja” ucap Luke pada dirinya sendiri sambil menghidupkan mobilnya.
__ADS_1
Brum… brum…
Kini, mobil Luke tersebut sudah meninggalkan area parkir eksklusif dengan kecepatan tinggi.
Mobil Lamborghini Luke membelah jalanan Paris dengan sangat gesit. Luke memang sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan yang tinggi. Untuk apa Luke membeli mobil dengan harga yang mahal dan spesifikasi tinggi, jika seluruh fungsi mobil itu tidak digunakan? Sungguh buang – buang waktu.
Karena keahlian Luke dalam memacu mobilnya, kini Luke sudah berada di depan rumah mode Lythe. Tempat dimana Isa bekerja.
Luke memuji dirinya sendiri yang sangat ahli mengendarai mobil, sehingga Luke tidak perlu memerlukan waktu yang lama untuk sampai di tempat tujuannya.
Tak perlu membuang – buang banyak waktu, Luke langsung turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju rumah mode itu.
Rumah mode Lythe tersebut memiliki desain yang simple dan sangat fresh saat dipandang. Percampuran dari warna putih dan biru langit yang menghiasi dinding luar gedung itu, membawa kesan cool dan menenangkan. Selain itu, di ujung rumah mode tersebut, ditanami bunga mawar merah yang menambah kesan elegan di bangunan tersebut.
Rumah mode Lythe memang merupakan rumah mode yang sangat terkenal dan disegani di Paris. Meskipun baru beroperasi selama 3 tahun, tapi Lythe mampu mengubah model gaya berpakaian para wanita di Paris.
Dari semua peragaan busana Lythe yang didengar oleh Luke dari Austin, busana – busana yang dikeluarkan oleh Lythe memiliki cirri khas tersendiri. Lythe memiliki warna mereka sendiri. Mereka biasanya akan memadu madankan warna – warna yang soft di dalam baju yang elegan. Namun sayang, sampai saat ini… Lythe belum mampu mengeluarkan busana – busana yang glamour yang identik dengan warna – warna gelap.
“Apakah Isa ada disini?” tanya Luke pada seorang resepsionis yang sedang berjaga di meja tamu.
Resepsionis tersebut tidak mendengar pertanyaan Luke dan menatap Luke dengan tatapan seakan - akan hendak memakan Luke bulat - bulat. Resepsionis tersebut hanya melongo saat melihat ketampanan Luke.
“Halo?!?” tanya Luke sambil melambaikan tangannya di depan wajah resepsionis tersebut.
“Oh, maaf” ucap resepsionis tersebut yang baru sadar akan lamunanannya.
Wajah resepsionis itu yang kini sudah berwarna merah, sungguh memancing Luke untuk tertawa keras. Namun, Luke menahan tawanya. Pesonanya perlu dijaga saat dia berada di hadapan seorang wanita.
“Bisa ulangi pertanyaannya tadi, tuan?” tanya resepsionis tersebut dengan professional, meskipun Luke masih dapat mendengar beberapa nada bergetar di kalimat resepsionis tersebut.
“Apakah Isabelle Rose ada disini?” ulang Luke sambil menyebutkan nama lengkap Isa.
“Nona Isabelle memang bekerja disini. Namun, hari ini dia tidak masuk” jelas resepsionis tersebut
“Tidak masuk? Apa ada keterangannya?” tanya Luke binggung
“Tidak ada tuan”
“Baiklah. Terimakasih atas informasinya” ucap Luke sambil tersenyum simpul.
Kemudian Luke melangkahkan kakinya keluar dari rumah mode tersebut. Rasa kecewa menjalar di hati Luke. Padahal, tadi Luke berharap bahwa dia dapat bertemu dengan Isa.
Lalu… dimana Isa sekarang?
Luke langsung memasuki mobilnya. Luke tidak menghidupkan mesin mobilnya. Kini, Luke sedang menatapi kartu tanda kerja milik Isa.
Senyum Luke langsung terbit, saat Luke melihat bahwa di kartu tersebut tertera alamat Isa.
“Aku pasti akan bertemu denganmu” ucap Luke semangat sambil kembali memasukkan kartu tersebut ke sakunya.
Dengan semangat yang sudah berkobar – kobar, kini Luke menghidupkan mesin mobilnya dan memacunya ke alamat rumah Isa.
Tak perlu waktu lama, Luke kini sudah berada di sebuah rumah kecil yang sederhana.
Tanpa ada sedikitpun rasa ragu, Luke melangkahkan kakinya memasuki area rumah kecil tersebut.
“Isa!!!” panggil Luke kuat tepat saat dia berhenti di pintu rumah Isa
“Isa!!!” panggil Luke lagi.
Sudah 2 kali memanggil nama Isa, namun Luke tidak mendapatkan jawaban. Apa dia salah alamat? Tidak mungkin!
Luke kemudian mencari – cari tombol bel rumah Isa tersebut di sekitar pintu masuk. Setelah mencari beberapa menit, Luke tidak mendapatkan tombol bel tersebut. Apakah Isa semiskin itu? Bahkan tombol bel rumahpun tidak dimilikinya? Padahal mereka sudah hidup di kota metropolitan, yah… meskipun rumah Isa terletak di kawasan ekonomi menengah ke bawah. Namun, itu tidak menjadi alasan bahwa mereka tidak memiliki bel rumah kan?
Tok tok tok
Kini, Luke memilih mengetok pintu rumah tersebut dengan kuat.
“Isa!!” panggil Luke masih dengan tangannya yang senantiasa mengetuk pintu.
“Hei orang kaya!!! Mereka tidak ada di rumah!!!” sembur seorang wanita paruh baya yang berada di belakang Luke.
Luke yang diberikan ucapan seperti itu langsung merasa emosinya sudah memuncak. Selama ini, belum ada orang yang berani berbicara sejudes itu kepadanya. Namun, sekuat mungkin, Luke menahan rasa amarahnya.
“Mereka ada dimana?” tanya Luke sesopan mungkin sambil menatap wanita paruh baya itu
“Mana kutau!! Apa kau berpikir bahwa aku adalah pengawal mereka?” tanya wanita paruh baya tersebut sambil berlalu meninggalkan Luke.
Luke yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa memaki wanita paruh baya tersebut dalam hatinya.
Dengan langkah gontai, Luke kembali masuk ke dalam mobilnya.
Luke meletakkan kepalanya dengan pasrah di atas stir mobilnya.
Sekarang, apa Luke masih punya harapan?
Ditinjau dari apa yang baru saja dialami oleh Luke, sepertinya Isa memang sedang menjauhkan dirinya dari Luke. Tidak bekerja dan tidak berada di rumah, fix, Isa memang sedang menjauhi Luke.
**Silahkan berspekulasi dengan ria >_< Like dan komentar pembaca adalah vitamin cerita ini <3**
__ADS_1