
“Ini bukan untukmu. Ini untuk istriku” ucap Luke spontan
Seakan – akan baru tersadar dengan tindakannya, Aurora langsung menarik tangannya dan tersenyum kikuk
“Maaf, kukira kau hendak memberikannya kepada bayi kita” ucap Aurora sambil menyentuh perutnya yang masih datar
Bayi kita?
Rahang Luke mengetat. Entah kenapa dirinya merasa berang saat mendengar ucapan Aurora itu.
“Bagaimana keadaan bayimu?” tanya Luke dengan gaya acuh tak acuhnya
Aurora menegakkan punggungnya dan menegak ludahnya dengan kasar. Aurora kira, pria yang berada di hadapannya ini datang mengunjunginya karena pria itu telah mengakui bahwa bayi yang sedang berada di kandungan Aurora adalah darah dagingnya
“Bayi kita…” ucap Aurora sambil tersenyum lebar. Wanita itu berusaha untuk menghibur dirinya.
“Kau belum memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa bayi itu benar – benar darah dagingku” ucap Luke dingin karena dirinya merasa tidak suka saat mendengar ucapan Aurora tersebut.
“Ah… maaf” ucap Aurora sambil menundukkan kepalanya dan menggigit kecil bibirnya
Luke menghela napasnya dengan kasar saat melihat tingkah Aurora itu. Sejenak, ia merutuki sikap dingin dan kasarnya tadi. Seharusnya Luke dapat mengontrol emosinya saat ini, karena saat ini dirinya sedang berhadapan dengan seorang wanita yang tengah mengandung.
“Eumh… aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku sememosional itu” ucap Luke
Mendengar ucapan permintaan maaf Luke tersebut, Aurora mendongakkan wajahnya dan tersenyum kecil
“Tak apa – apa, aku memakluminya” ucap Aurora
Luke mengganggukkan kepalanya pelan. Untunglah wanita yang sedang berada dihadapannya ini tidak bersikap emosional.
“Apa aku boleh duduk disana?” tanya Luke sambil mengarahkan dagunya ke sebuah sofa yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tidur Aurora
Aurora mengganggukkan kepalanya pelan.
Setelah Luke menghempaskan bokongnya disana, pria itu menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal. Ingin rasanya ia cepat – cepat keluar dari ruangan ini.
“Jadi… bagaimana keadaan bayimu?” tanya Luke lagi sambil memandang Aurora
Aurora diam.
Otaknya mendadak tidak dapat bekerja dengan baik ketika pandangannya terhenti pada kedua netra biru milik Luke. Oh, god! Aurora sangat merindukan kedua netra itu!
“Hei, apa kau baik – baik saja?” tanya Luke sambil sedikit mengernyitkan dahinya ketika Aurora hanya diam memandanginya saja
Aurora tersentak dari kegiatannya saat dirinya mendengar pertanyaan Luke tersebut. Secara otomatis, Aurora menundukkan kepalanya karena dirinya merasa malu
“Ya… aku baik – baik saja” jawab Aurora sambil memilin – milin jarinya
“Bayimu? Bagaimana dengan bayimu?” tanya Luke untuk kesekian kalinya
“Ah… dia baik – baik saja. Dia kuat! Dia ingin membuktikan itu kepadaku dan kepadamu” ucap Aurora sambil tersenyum kecil dan menyentuh pelan perut datarnya
Luke menghela napasnya dengan kasar.
Luke sangat ingin menyangkal ucapan Aurora itu. Namun, Luke tak ingin membuat Aurora sedih dan emosional karena Luke tau betul bahwa kedua hal itu tidak baik untuk wanita yang sedang mengandung. Selain itu, Luke tidak memiliki alasan untuk menyangkal ucapan Aurora itu. Kebenaran tentang bayi itu belum terbukti kan?
__ADS_1
“Kalau dia memang sebegitu kuatnya, lalu kenapa kalian sampai harus dirawat di rumah sakit seperti ini?” tanya Luke
Aurora terdiam saat mendengar pertanyaan Luke tersebut. Memang, menurut dokter yang menangani Aurora, Aurora hampir saja kehilangan bayinya jika dokter tersebut tidak bertindak dengan sigap.
Ada sedikit rasa tak enak hati di dalam diri Aurora saat harus mengingat perjuangan dokter yang menanganinya. Dokter tersebut bahkan rela berada disisinya selama 24 jam karena Aurora tidak memiliki satu orang pun keluarga maupun teman yang menjaganya.
“Aurora… kau harus ingat, umurmu sudah semakin bertambah. Seharusnya kau dapat berpikir lebih dewasa. Bagaimana jika ternyata kau kehilangan bayimu lagi? Apakah kau masih sanggup untuk menerima hal itu?” tanya Luke sambil menatap Aurora dengan tatapan mengkasihaninya
Aurora tak berani mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Luke.
“Dan… bagaimana jika saat kau telah kehilangan bayi itu hanya demi melakukan tes DNA bodoh ini, namun nyatanya, DNA bayi itu tidak sama dengan DNAku. Aku berpikir, apakah kau akan menyesali perbuatanmu itu atau tidak?” tanya Luke lagi dengan lembut dan tidak ada penekanan.
Pria itu ingin menyadarkan Aurora dengan kata – kata yang lembut, karena pria itu sadar bahwa kata – kata kasar tak pernah mempan untuk wanita itu
“Apakah sebegitu tak inginnya kau untuk mengakuinya? Apakah kau tak menginginkannya?” tanya Aurora dengan tatapan tak terbacanya
Luke menghela napasnya dengan kasar
“Kalau kau ingin jawaban jujur, maka jawabannya ya” jawab Luke jujur
“Oh… I see” ucap Aurora sambil tersenyum terpaksa
“Apakah Ryan sudah mengetahui ini semua? Apakah dia sudah menjengukmu?”
Pertanyaan Luke membuat jantung Aurora berdegub kencang. Punggungnya ditegakkannya. Ia takut.
“Ah.. eum…sudah… aku sudah memberitahunya” dusta Aurora
Luke menyipitkan matanya saat dirinya menyadari gelagat aneh dari tubuh Aurora ketika pria itu menyebutkan nama kakak wanita itu.
“Oh… baguslah” ucap Luke sambil mengangguk – anggukkan kepalanya
“Ah iya… Bagaimana keadaan Isa?” tanya Aurora untuk mencairkan suasana dingin di antara mereka
“Baik… Dia baik – baik saja” jawab Luke sambil tersenyum tipis
Saat mendengar nama Isa, tiba – tiba, pria itu berpikir tentang kejutan yang akan diberikannya kepada Isa nanti. Kira – kira, bagaimana nanti reaksi istrinya itu?
Apakah nanti istrinya itu akan menangis terharu? Atau tertawa bahagia? Ahhh… rasanya Luke tak sabar untuk pulang ke penthousenya . Memikirkan itu membuat Luke terkekeh kecil
“Lukas!”
Suara Aurora menyentak Luke dari pikirannya.
“Ya?” tanya Luke sambil mendongakkan wajahnya dan menatap Aurora
“Ponselmu berbunyi” ucap Aurora dengan suara pelan
Mendengar ucapan Aurora tersebut, Luke langsung meraba kantung celananya, tempat dimana ia menyimpan ponselnya.
Astaga, bagaimana bisa ia tak dapat mendengarkan suara panggilan hanya karena dirinya sedang memikirkan Isa? Istrinya itu benar – benar…. Ugh….
“Halo?”
Deg.
__ADS_1
Jantung Luke langsung berdegub kencang saat mendengar suara itu. Baru saja ia memikirkan wanita itu, namun wanita itu langsung menelponnya. Ternyata, apa yang dinamakan dengan ikatan batin itu benar – benar ada.
“Ada apa, Isa?” tanya Luke dengan sebuah senyuman di wajahnya
“Apa kau sedang sibuk?”
“Tidak, tidak, aku tidak sedang sibuk” jawab Luke dengan cepat
“Oh… Eumh… kapan kau pulang?”
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Luke sambil mengernyitkan dahinya
“Tidak ada”
“Isa…” panggil Luke dengan nada lembutnya
“Aku hanya merindukanmu” ucap Isa dengan suara pelannya yang terdengar malu – malu.
Senyum Luke langsung melebar saat mendengar ucapan Isa tersebut.
“Isa tunggu aku. Aku akan kembali ke rumah selama 15 menit” ucap Luke semangat
“Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Isa khawatir
“Kau adalah prioritas utamaku” ucap Luke
“Oh god!”
Tut.
Panggilan tersebut diputus secara sepihak oleh Isa. Luke tau, pasti saat ini, pipi istrinya itu sudah memerah karena merasa malu.
Dengan rasa semangat, Luke bangkit dari sofa yang sedari tadi didudukinya. Baru saja Luke hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, namun suara Aurora membuat dirinya menghentikan langkahnya
“Luke, kau ingin pulang?” tanya Aurora sambil memandang Luke yang nampaknya sangat bahagia.
“Ya” jawab Luke pendek
“Isa, ya?” tanya Aurora
“Ya?” ucap Luke yang merasa binggung dengan pertanyaan Aurora
“Ah, tidak – tidak, lupakan pertanyaanku tadi” ucap Aurora sambil tersenyum kikuk
Luke menyipitkan matanya dan mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan wanita itu?
Aurora yang sadar akan hal itu langsung menegak ludahnya dengan kasar. Ia perlu mencairkan suasana ini, kalau bisa, ia harus dapat menahan Luke lebih lama lagi.
“Bagaimana dengan bunga itu?” tanya Aurora sambil menatap buket bunga yang sedari tadi dibawa oleh Luke kini tengah teronggok tak berdaya di atas sofa yang ada di ruangan itu
Luke mengikuti arah pandang Aurora.
“Oh… kau bisa mengambilnya kalau kau mau. Kurasa, Isa tidak akan keberatan jika salah satu buketnya diberikan kepadamu” jawab Luke acuh sambil mengendikkan bahunya
“Salah satu?” beo Aurora
__ADS_1
“Ah… aku belum mengatakannya kepadamu, ya? Sebenarnya, aku masih punya satu bagasi penuh yang berisi buket – buket bunga itu” jawab Luke sambil tersenyum
“Aurora, aku tidak bisa lama – lama lagi disini. Aku akan pergi. Kau jagalah bayimu”