Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 92


__ADS_3

Luke menghela napasnya saat dirinya sudah berada di depan pintu apartemen Aurora. Dengan perasaan ragu, tangan Luke terulur untuk menekan bel yang ada di atas pintu kayu itu


Satu kali… dua kali…tiga kali…


Sudah tiga kali Luke memencet tombol berwarna putih itu, tapi tak terdengar sedikitpun suara yang menyahut dirinya dari dalam apartemen itu


“Apa mungkin dia sudah sadar dan pergi ke rumah sakit?”


Luke menggumamkan hal itu. Sejenak, dia berpikir bahwa Aurora pasti pergi ke rumah sakit, hingga akhirnya Luke ingat bahwa wanita itu adalah wanita yang manja


Mengingat tadi, wanita itu sudah menelponnya dan memintanya itu datang, pasti wanita itu tidak akan pergi ke rumah sakit tanpa kehadiran Luke


Klek!


Luke memutar knop pintu apartemen itu. Betapa terkejutnya Luke saat mendapati pintu apartemen Aurora tersebut tidak dikunci. Ada sedikit rasa kesal juga yang hinggap dalam diri Luke, menggingat dirinya sudah berulang – ulang kali memencet bel yang tak berguna itu. Jika tau seperti ini, pasti Luke tidak akan menghabiskan banyak waktunya untuk memencet bel itu berulang – ulang


Nampaknya, Aurora tidak sepenuhnya berubah. Wanita itu tetap saja cengeng dan sembrono. Memikirkan masa lalunya dengan Aurora yang indah itu membuat Luke menggelengkan tegas kepalanya. Dia harus bisa melupakan Aurora! Harus!


“Aurora?” panggil Luke saat pria itu sudah menapaki kakinya memasuki ruang tamu apartemen Aurora


“Aurora?” panggil Luke lagi sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen mewah namun klasik milik Aurora ini


Apa Aurora pingsan?


Memikirkan hal itu membuat jantung Luke berdegub kencang. Luke tau betul bahwa Aurora memiliki sistem imun tubuh yang rendah, kemungkinan bahwa wanita itu pingsan karena terluka sangat besar.


Jika Aurora pingsan dan tanpa sengaja terjatuh, maka bayinya…


Tidak, tidak!


Bagaimana jika bayi yang sedang dikandung oleh Aurora benar – benar merupakan darah daging Luke? Bagaimana Luke bisa hidup dengan tenang kalau dia kehilangan bayinya?


“Aurora!”


Luke berteriak kesetanan.


Kaki – kaki panjang yang beralaskan sepatu santai berwarna hitam itu berjalan dengan tergesa – gesa memutari apartemen itu


“Aurora!”


“Disini, Luke! Di kamar mandi!”


Mendengar suara familiar itu, Luke melangkahkan kakinya semakin cepat menuju ke sumber suara itu.


Luke berjalan dengan tergesa – gesa menuju ke sebuah pintu yang berada di dekat dapur mini apartemen itu.


Brak!


Luke membuka kasar pintu itu.


“Aurora?... Oh God! Apa kau gila?!?”


Kemarahan Luke langsung memuncak saat melihat Aurora tengah membersihkan luka di tangannya menggunakan air yang mengalir deras dari keran yang ada di wastafel kamar mandi itu


“Darahnya tidak mau berhenti… Aku… aku sudah mencoba untuk membalutnya” jelas Aurora


Rahang Luke mengetat.


Bagaimana lukanya bisa berhenti jika lukanya itu terkena pancuran air dari keran yang sangat deras? Bukannya berhenti, Luke yakin bahwa lukanya itu pasti akan semakin melebar dan semakin mengeluarkan banyak darah


“Bodoh!”

__ADS_1


Hanya umpatan kecil itu yang keluar dari mulut Luke.


Dengan gerakan cepat, Luke mendekati Aurora dan tangan kekarnya langsung terulur untuk mematikan keran air yang mengalir dengan deras itu


“Ayo!”


Tangan Luke langsung menarik salah satu tangan Aurora yang tidak terluka dengan kasar. Luke membawa Aurora ke ruang tamu milik wanita itu


“Duduk!” perintah Luke pada Aurora


Dengan patuh, Aurora melangkahkan kakinya mendahului Luke dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berada di ruang tamu itu


“Dimana kotak P3K mu?” tanya Luke to the point dengan wajahnya yang masih mencerminkan kemarahan yang luar biasa


“Di dalam lemari disamping rak buku”


Mendengar ucapan Aurora tersebut, Luke langsung melangkahkan kakinya menuju ke lemari itu. Kotak P3K warna putih milik Aurora yang begitu menonjol diantara barang – barang lainnya yang ada di dalam lemari itu membuat Luke tak perlu menghabiskan banyak waktunya dan membuang – buang tenaganya untuk membongkar seluruh isi lemari Aurora itu yang rata – rata berisi alat menggambar


Setelah mendapatkan kotak putih yang dihiasi salib berwarna merah itu, Luke langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat Aurora sedang duduk


Wanita itu memegangi tangannya yang tak henti – hentinya mengeluarkan darah


Luke mengernyitkan dahinya saat melihat tempat luka itu mengeluarkan darah. Jika Luke tidak salah ingat, tangan itu adalah tangan Aurora yang diinfus saat di rumah sakit kemarin.


Apa Aurora kabur dari rumah sakit dan mencabut paksa infusnya, sehingga bekas suntikan infusnya mengalami infeksi?


“Berikan tanganmu” perintah Luke yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan Aurora


Aurora mengulurkan tangannya dengan perlahan. Luke yang tidak menyukai gerakan lambat Aurora itu langsung menarik kuat tangan Aurora


“Ssshh! Sakit!” ucap Aurora saat dirinya merasakan rasa perih yang tiba – tiba menusuk tangannya


“Maaf!” ucap Luke pendek namun terkesan ketus


Klik!


Luke membuka penutup kotak putih itu dan mengernyit kecil ketika mendapati sebuah benda yang berhasil membuat rasa bersalahnya dan rasa khawatirnya pada Aurora yang tadinya sempat muncul kini menghilang kembali


“Kau yakin kau tidak memiliki perban kain?” tanya Luke dengan nada dingin


“Ah… itu.. ak---


“Ini apa?” tanya Luke dengan tatapan mata tajamnya sembari mengangkat gulungan perban kain ke hadapan Aurora


“I… i—itu… ak---


Bugh!


Suara perban yang dijatuhkan ke atas lantai apartemen itu dengan begitu kasar dan kuat menyentak Aurora hingga wanita itu tak berani membuka mulutnya dan melanjutkan perkataannya tadi


“Apa kau tidak tau, demi dirimu aku bahkan meninggalkan Isa!” teriak Luke menggelegar


Aurora hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya


“And look… Aku bahkan mengebut di jalanan untuk sampai ke apartemenmu ini dan kau… kau menipuku?!?!” ucap Luke penuh emosi


Aurora menggigit bibirnya dalam – dalam


“Kau mengebut karena kau merasa khawatir padaku… Benarkan?” cicit Aurora dengan kepalanya yang masih saja tertunduk


Luke menyipitkan matanya saat mendengar cicitan tak tau diri dari Aurora itu. Disaat – saat seperti ini, wanita itu memiliki rasa percaya diri yang terlalu tinggi

__ADS_1


“Kau bodoh atau apa? Aku mengebut kesini bukan karena aku khawatir padamu! Aku mengebut karena aku tak ingin berlama – lama meninggalkan Isa!” ucap Luke penuh emosi


“Ta—tapi… kau masih menc---


Dengan perasaan kesal yang luar biasa, Luke mengangkat tangannya dan mengarahkan tangan besarnya itu untuk mencengkram keras dagu Aurora dan menggangkat dagu itu, sehingga kini Luke bisa melihat wajah yang terlihat tak berdosa itu


“Harus berapa kali kukatakan padamu, aku tidak menyukaimu lagi” ucap Luke tajam dengan lamat – lamat


“Tap---


“Hentikan semua ini Aurora! Apa kau tidak muak mengemis perhatianku seperti ini?” ucap Luke sembari menghempaskan wajah Aurora dengan kasar, hingga wajah wanita itu berputar


Tangis Aurora langsung meluruh. Tangannya yang masih mengeluarkan darah, lehernya yang terasa sakit, dagunya yang terasa berdenyut – denyut serta hatinya yang terasa perih


“Murahan!”


Dengan gerakan kasar, Luke bangkit dengan kasar dan berjalan meninggalkan Aurora yang menangis tersedu – sedu


“Luke! Luke! Lukas!”


Aurora berteriak dan bangkit dari duduknya


“Lukas! Maafkan aku!”


Aurora berjalan dengan tergesa – gesa ke arah Luke yang sudah berada di pintu apartemennya


“Let me go, Aurora” ucap Luke dingin saat tangannya ditahan oleh Aurora


“Tidak! Jangan tinggalkan aku! Aku takut… Kumohon…”


Bugh!


Dengan gerakan kasar, Luke menghempaskan tangan Aurora sehingga tubuh Aurora ambruk ke atas lantai apartemennya yang terasa sangat dingin


“Jangan pernah kau mencoba untuk menghubungiku lagi. Aku harap ini pertemuan terakhir kita sebelum hasil tes DNA itu keluar” ucap Luke dingin tanpa mau membalikkan badannya dan menatap kondisi Aurora yang terlihat sangat kacau


“Luke, jangan seperti ini! Aku membutu---


“Istriku lebih membutuhkanku! Aku pergi!”


“Luke! Luke! Lukas!!!”


Aurora berteriak sekencang – kencangnya, namun pria yang diteriakinya bahkan tak memandangnya sedikitpun. Pria itu, Luke, tetap melangkahkan kakinya dengan tegas


Apakah ini akhir semuanya?


“Aaargghhh…”


Rasa sakit yang tiba – tiba menyerang perut Aurora membuat wanita itu langsung memegang perutnya


Merasa ada sesuatu yang tidak beres, wanita itu langsung mengesot menuju ke kursi yang didudukinya tadi. Jika ia tidak salah ingat, ia meninggalkan ponselnya disana


“Aaarghhhh… bertahanlah!” ucap Aurora sembari meremas perutnya yang terasa semakin melilit


Dengan tangannya yang sudah bergetar dan kepalanya yang terasa berkunang – kunang, Aurora meraih ponselnya dan menghidupkannya.


Dia membuka daftar kontak pada ponselnya dan memilih nomor acak


“Tolong… tolong kami…”


 

__ADS_1


 


__ADS_2