
Dokter Margareth melangkahkan kakinya dengan tergesa – gesa ke ruang unit gawat darurat yang ada di rumah sakit Veeta, tempat dirinya bekerja.
Awalnya, dokter Margareth tidak sepanik ini ketika dirinya mendapati info dari perawatnya jika ada seorang wanita hamil yang mengalami kecelakaan. Namun ketika perawat itu mengungkapkan ciri – ciri wanita itu, rasa terkejut langsung menyerang dokter Margareth. Ia sangat yakin jika wanita itu adalah Aurora
“Dimana pasiennya?!?” tanya dokter Margareth ketika kakinya memasuki area unit gawat darurat
“Pasiennya berada di tempat tidur nomor 3” ucap perawat yang sedari tadi menemani Margareth
Dokter Margareth mengganggukkan kepalanya paham dan semakin mempercepat langkahnya.
Kedua bola mata dokter Margareth langsung terbelalak terkejut ketika melihat kondisi pasien itu, Aurora. Wajah wanita itu memucat, darah tak henti – hentinya keluar dari kepala wanita itu serta sela ************ wanita itu
“Astaga…” ucap dokter Margareth tak percaya
Belum ada beberapa jam dokter Margareth memberitahukan hasil test DNA bayi wanita itu dan membuat wanita itu tersenyum bahagia, namun kini… wanita itu sudah kehilangan senyumannya. Kebahagiaan memang selalu terasa sangat cepat.
“Bagaimana keputusan keluarganya?” tanya dokter Margareth sembari mempersiapkan seluruh alat – alatnya untuk langkah oprasi yang akan dilakukannya
“Suaminya mengatakan untuk menyelamatkan bayinya”
“Hah?!?”
Saat mendengar ucapan perawat itu, dokter Margareth langsung menatap wajah perawat wanitanya itu dengan tatapan terkejutnya. Apa dokter Margareth tidak salah dengar?
“Maksudmu…?”
“Suaminya mengatakan agar kita menyelematkan bayinya, dia akan membayar berkali – kali lipat jika bayinya selamat” terang perawat itu
“Gila ya…” ucap dokter Margareth sambil menggelengkan pelan kepalanya.
Disaat semua pria berlomba – lomba untuk memperjuangkan istrinya ketika mereka dihadapkan dengan pilihan sulit seperti ini, namun pria yang sudah menghamili Aurora ini lebih mengutamakan bayinya.
Ck!
Jika tau semuanya akan menjadi seperti ini, lebih baik dokter Margareth tidak memanipulasi hasil tes DNA bayi itu. Jika ia tidak memanipulasinya, pasti Aurora tidak akan berjumpa dengan pria itu dan Aurora bisa terhindar dari kecelakaan maut ini. Dengan begitu, baik nyawa Aurora dan bayinya akan tetap terjaga.
Dokter Margareth menghela nafasnya dengan kasar
Ia tau betul, jika keputusan keluarga pasien akan menjadi penentu masa depan pasien, namun kali ini… biarkan dokter Margareth membelot
“Kita akan menyelamatkan ibunya” ucap dokter Margareth serius sembari mengambil pisau bedah yang sudah disediakan oleh martir yang ada disana
Semua orang yang ada disana tersentak ketika mendengar ucapan dokter Margareth tersebut
“Tapi… bukannya itu sudah melanggar kode etik operasi, dokter Margareth?” tanya seorang martir yang nampaknya tidak setuju dengan keputusan dokter Margareth
__ADS_1
“Jika bayi ini tidak bisa kita selamatkan, mereka masih bisa mendapatkan bayi lagi di masa depan. Tapi, jika kita kehilangan ibunya, baik bayi ataupun ibunya tidak akan bisa kita dapatkan lagi” terang dokter Margareth dengan wajah seriusnya
Semua orang yang ada disana langsung meneguk ludahnya dengan kasar. Jujur, mereka sangat takut saat melihat dokter Margareth ketika wanita itu menampilkan wajah seriusnya. Mereka langsung mengingat masa lalu dokter Margareth. Well… dulu, dokter Margareth merupakan seorang wanita barbar yang selalu memenangkan perlombaan balap liar di Los Angeles.
“Jadi… mari kita mulai oprasinya” ucap dokter Margareth sembari mengabaikan tatapan – tatapan takut yang ditujukan oleh semua orang yang ada disana
“Baik dokter”
Sejurus kemudian, dokter Margareth beserta para martir dan suster yang ada disana mulai melakukan operasi darurat pada Aurora. Sesuai dengan tujuan awal mereka, mereka akan menyelamatkan Aurora.
Karena kasus Aurora termasuk komplikasi, dokter Margareth beserta timnya harus bekerja keras selama 8 jam non stop untuk menyelamatkan nyawa Aurora. Mereka melakukannya dengan fokus penuh dan tingkat kehati – hatian yang sangat tinggi
“Bagaimana frekuensi detakan jantungnya?” tanya dokter Margareth sembari menjahit kulit Aurora. Dokter Margareth beserta anggota timnya baru saja berhasil mengeluarkan bayi yang sudah wafat di dalam perut Aurora. Well… nampaknya keputusan dokter Margareth untuk menyelamatkan Aurora tidak salah, karena percuma jika mereka menyelamatkan bayi itu, bayi itu sudah wafat di dalam perut Aurora
“Masih sama, dok” ucap perawat yang bertugas mengawasi monitor jantung
“Seharusnya frekuensi detak jantungnya sudah meningkat. Kenapa bisa seperti ini? Berapa tetes obat tidur yang kau berikan” ucap dokter Margareth sembari menatap seorang martir pria yang berada di sampingnya
“Seperti biasa, hanya 4 tetes saja dokter” ucap martir pria itu
“Lalu kenapa bisa seperti ini…” gumam dokter Margareth sembari menggigit pelan bibir bawahnya
Inilah hal yang membuat dokter Margareth dulu tidak bercita – cita untuk menjadi seorang dokter. Rasa takut dan bersalah langsung menyerang diri dokter Margareth ketika dirinya merasa bahwa dirinya telah menjadi penyebab gagalnya sebuah oprasi. Padahal, dokter Margareth tau betul, hidup dan mati para pasien hanya ada di tangan Tuhan, Margareth sebagai seorang dokter hanya bisa membantu sedikit saja.
“Detak jantungnya menurun!”
Jantung dokter Margareth berdetak dengan tak karuan. Tangannya mulai bergetar. Ia takut. Ia tak pernah gagal dalam oprasi karena…
“Dokter Zen!”
Punggung dokter Margareth langsung menegak ketika mendengar salah satu perawatnya mengucapkan nama itu.
“Geser…” ucap dokter Zen dingin pada dokter Margareth
Tanpa mengatakan apapun, dokter Margareth langsung bergerak menjauhi tubuh Aurora. Wanita berjas putih itu menyingkir dan menatap dokter Zen yang mulai memeriksa tubuh Aurora
“Bagaiman detak jantungnya?” tanya dokter Zen pada perawat yang bertugas menjaga monitor detak jantung
“Semakin menurun”
“Lakukan pacu jantung” perintah dokter Zen dengan wajah datarnya
“Tap---
“Diam! Aku tidak berbicara padamu” potong dokter Zen sembari menatap tajam dokter Margareth yang tadinya hendak menyela ucapan dokter Zen
__ADS_1
Mendengar ucapan dokter Zen, dokter Margareth langsung mengatupkan bibirnya rapat – rapat. Seharusnya ia tidak menyela dokter Zen ketika pria itu sedang bekerja
“Lakukan!” perintah dokter Zen pada martir yang ada disana
Kemudian, para martir itu saling bekerja sama untuk melakukan pacu jantung pada Aurora. Mereka melakukan 2 kali ledakan jantung pada Aurora
“Detak jantungnya meningkat!”
“Apa sudah stabil?”
“Kurang sedikit lagi, dokter Zen”
“Lakukan sekali lagi”
“Baik!”
Dokter Margareth memperhatikan dokter Zen beserta tim dokter Margareth yang nampak serasi sekali. Mungkin inilah maksud, tindakan pemimpin mencerminkan tindakan anggotanya.
“Berhasil!” ucap perawat itu bahagia
Semua yang ada disana langsung menghela nafas lega. Mereka semua tersenyum lelah, karena waktu 8 jam non stop mereka tidak terbuang sia – sia, mereka berhasil menyelamatkan nyawa, lagi.
Dokter Margareth juga mendesah lega ketika melihat oprasi ini berhasil. Akhirnya, nyawa Aurora dapat diselamatkan
“Pantau terus. Jika terjadi sesuatu, kalian harus mengabari dokter Margareth” ucap dokter Zen sembari melepaskan masker yang menutupi wajahnya
Setelah mengatakan hal itu, dokter Zen langsung melangkah pergi. Namun, saat berada di hadapan dokter Margareth, pria itu langsung memberhentikan langkahnya
“Kau, ikut denganku” ucap dokter Zen tajam
Mendengar ucapan dokter Zen tersebut, dokter Margareth hanya bisa mengganggukkan kepalanya dengan kaku.
Dokter Margareth kemudia mengikuti langkah dokter Zen dengan kepalanya yang senantiasa menunduk ke bawah. Ia takut. Setelah ini, pasti dirinya akan dihina habis – habisan oleh dokter Zen, mungkin saja, dokter Margareth akan kembali mendapatkan penalti dari tindakannya ini
“Zen?!? Bagaimana keadaan bayiku?!?”
Deg
Jantung dokter Margareth langsung berdegub kencang ketika mendengar suara familiar itu. Itu suara Lukas!
Kepala dokter Margareth langsung terangkat. Ia ingin memastikan sang pemilik suara itu. Dokter Margareth langsung menatap Luke dengan tatapan terkejutnya. Luke bersama dengan Isa.
Keadaan bayiku?!?
Kenapa semuanya bisa jadi seperti ini?!?
__ADS_1