
“Lukass!!!”
Teriakan Isa menggema di seluruh ruang tamu rumah baru yang ditempatinya selama 5 bulan belakangan ini. Dengan perut besarnya, wanita itu melangkah dengan hati – hati keluar dari kamarnya. Untungnya, kamar Isa dan Luke berada di bawah sehingga wanita itu tak perlu repot – repot naik – turun tangga dalam keadaan perut membesar seperti ini
“Lukas!” teriak Isa lagi sembari mengatur nafasnya secara perlahan seperti anjuran dokter kandungan yang menanganinya selama ini
Sebenarnya, sejak tadi malam, Isa sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan perutnya. Perutnya terasa bergejolak namun hal itu hanya terjadi beberapa detik saja, kemudian, gejolak itu hilang dengan sendirinya.
Isa sempat binggung, apakah ia harus memberitahukan hal ini kepada Luke atau tidak? Jujur, Isa tak ingin membuat suaminya itu semakin lelah. Isa tau jika pria itu pasti sangat kelelahan karena pria itu tetap harus mengurus Isa walaupun dirinya sudah mengurus tugas – tugas di perusahaannya yang tidak pernah selesai
“Isa! Apa yang kau lakukan!? Sudah kukatakan kan jika kau ingin keluar, kau bisa menelponku? Dan apa ini?! Dimana kursi rodamu?!” tanya Luke khawatir sembari setengah berlari mendekati Isa yang sedari tadi sudah meringis sakit sembari memegang pinggang dan perutnya
“Apa kau bisa marah – marahnya nanti saja?!?” sembur Isa kesal karena pertanyaan beruntun milik Luke tersebut semakin membuat rasa sakit dan nyeri di perut Isa semakin menjadi
“Siapa yang marah? Aku hanya bertanya” ucap Luke sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Isa berdiri.
Luke memerhatikan wajah istrinya itu yang terlihat pucat dan menahan sakit. Jantung Luke berdebar kencang
“Ada apa? Apa babies ingin keluar?” tanya Luke takut
“Astaga, aku tak tau… Sepertinya kita harus ke rumah sakit sekarang, aku bisa mati jika kita tetap berada disini” ucap Isa sembari menutup matanya dan menggigit pelan bibir bawahnya untuk melampiaskan rasa nyeri yang tiba – tiba menyerang dirinya.
Glek.
Luke menegak ludahnya dengan kasar. Kemudian, pria itu bergerak untuk menuntun Isa. Sungguh, pria itu sangat ingin membopong Isa sehingga mereka tak perlu membuang banyak waktu lagi. Namun, masih hangat di otak Luke tentang pukulan naas yang diberikan oleh Isa di atas kepalanya ketika pria itu membopong Isa.
Luke heran, bukannya seharusnya wanita itu senang dibopong? Karena dirinya tak kehilangan banyak tenaga untuk berjalan? Namun nyatanya sebaliknya, wanita itu tak suka dibopong. Ia berkata jika jantungnya seperti terjun bebas ketika dirinya dibopong oleh Luke. Aneh.
“Astaga! Ada darah!” ucap Luke heboh saat dirinya melihat cairan berwarna kemerahan mengalir dari sela paha Isa
Isa yang mendengar ucapan heboh Luke tersebut langsung bergerak untuk menatap pahanya. Mata Isa melebar, ketakutannya semakin menjadi saat melihat darah itu meluncur menghiasi pahanya
Tes.
Air mata Isa menetes. Ia takut sungguh. Jika ia saat ini sedang mengandung 1 bayi saja, mungkin Isa tak akan merasa setakut ini. Namun, sekarang ada 3 bayi yang sedang memenuhi perut Isa, bagaimana ia tidak takut?!? Bagaimanapun juga, Isa tak pernah tau bagaimana rasanya melahirkan.
Buph!
Tanpa memperdulikan apapun, Luke langsung membopong tubuh istrinya itu. Ia tak peduli jika istrinya itu akan kembali memukul kepalanya dengan gagang sapu atau apalah namanya, yang penting, saat ini mereka harus bisa sampai ke rumah sakit dalam waktu yang cepat
“Isa, bertahanlah. Jangan lupa bernafas oke?!” ucap Luke sembari berlari – lari kecil menuju ke mobil mewah miliknya yang sengaja di parkirkannya di halaman rumahnya.
“Oke” ucap Isa takut
Peluh sudah membanjiri wajah wanita itu, tangan wanita itu yang terasa dingin seolah – olah hendak mengatakan jika saat ini wanita itu sedang dilanda rasa takut yang luar biasa.
Luke tak ingin membuang waktunya lebih lama lagi, pria itu langsung meletakkan tubuh Isa dengan hati – hati ke atas bangku penumpang mobilnya. Dalam sekejap, pria itu langsung memasuki bangku pengemudi dan memacu mobilnya dengan cepat.
“Isa, jangan lupa bernafas” ucap Luke khawatir sembari menatap wajah Isa sekilas
“Ini juga dari tadi sudah bernafas! Aku ini bukan terkena penyakit paru – paru!!” teriak Isa kesal sembari mengatur nafasnya secara perlahan – lahan.
Luke terdiam. Apa dirinya sudah terlalu bersikap berlebihan?
Untunglah jarak dari rumah baru mereka dengan rumah sakit tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu 8 menit saja, mobil mewah Luke sudah memasuki pelantaran parkiran rumah sakit itu.
Bugh!
Luke membuka pintu mobilnya dengan kasar. Pria itu kemudian berlari kecil menuju ke pintu penumpang dan kembali membopong Isa dalam pelukannya.
“Oh God! Ini sakit sekali! Rasanya aku ingin mati!” racau Isa sembari meremas kuat kaus yang dipakai oleh Luke, sedangkan salah satu tangannya yang lain mencengkram erat lengan Luke.
Luke tak memperdulikan rasa perih di kulitnya karena tindakan Isa tersebut, pria itu tetap berlari kecil memasuki rumah sakit tersebut
“Tolong, istriku ingin melahirkan!” ucap Luke setengah berteriak kepada salah satu perawat yang tanpa sengaja lewat di hadapannya
__ADS_1
Perawat tersebut langsung menggangguk dengan cepat ketika matanya menangkap wajah penuh sakit milik Isa dan darah yang mengalir tanpa henti dari sela paha wanita itu. Tak perlu menunggu waktu lama, perawat tersebut kembali datang dengan sebuah brankar
Luke meletakkan tubuh Isa di atas brankar itu dengan perlahan sebelum akhirnya brankar tersebut di dorong oleh perawat menuju ke ruang ugd
“Luke… jangan tinggalkan aku…” ucap Isa sembari memegang tangan Luke.
Hati Luke terasa teriris ketika dirinya melihat wajah Isa yang terlihat menahan rasa nyeri yang sangat luar biasa itu
“Iya, aku tak akan meninggalkanmu!” ucap Luke sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tangan dingin Isa.
Luke terus berada di samping Isa bahkan saat wanita itu sudah memasuki ruang ugd. Mata pria itu hanya terkunci pada wajah Isa yang sedari tadi terlihat begitu memilukan.
Jika akhirnya akan seperti ini, Luke tak akan mau lagi membuat istrinya itu hamil. Sungguh, meskipun proses pembuatannya menyenangkan, namun saat meliha wajah memilukan milik istrinya itu, Luke menjadi tidak tega.
Kdatangan seorang dokter wanita yang sudah menjadi dokter kandungan Isa selama beberapa bulan terakhir ini membuat perasaan Luke sedikit tenang. Dokter itu langsung mendekat Isa dan mengecek singkat keadaan tubuh Isa
“Kita mengeluarkan bayinya secara norm---
“Normal! Aku ingin normal!” potong Isa cepat sembari menatap ke arah dokter wanita itu
Ucapan Isa tersebut membuat Luke menatap Isa dengan tatapan terkejut dan protes. Bahkan disaat wanita itu sudah merasakan sakit yang luar biasa dan ketakutan seperti ini, wanita itu ingin melahirkan secara normal?
“Isa, apa yang kau katakan?” tanya Luke terkejut
Tes.
Air mata Isa menetes karena dirinya tak sanggup lagi menahan rasa sakit pada perutnya
“Aku ingin normal!” teriak Isa menggelegar
Luke menghela nafasnya dengan kasar. Semenjak masuk bulan – bulan kehamilan tuanya, Isa memang berubah menjadi wanita yang sedikit keras kepala
“Lakukan normal, tapi jika nanti dirinya tidak sanggup, kumohon lakukan oprasi” ucap Luke kepada dokter wanita yang berada di hadapannya
Dokter wanita tersebut mengangguk paham. Setelahnya, mereka bersiap untuk melakukan proses kelahiran bayi – bayi Isa.
“Nona Isa, saat aku katakan dorong, maka kau harus mendorongnya” intruksi dokter tersebut saat ia menyadari Isa sudah sampai ke dalam pembukaan ke delapannya
“Oh God!”
Isa meracau ketika ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di perut dan punggungnya.
“Isa, tenanglah…” ucap Luke khawatir sembari mengelap lembut dahi Isa yang sudah mengeluarkan butir – butir keringat
“Nona! Jangan dorong dulu” ucap dokter tersebut terkejut saat ia menyadari Isa mulai melakukan dorongan tanpa intruksinya
“Ini sakit sekali!!!” teriak Isa
“Eh, tuan Luke, tolong alihkan perhatian istri anda” instruksi dokter tersebut kepada Luke
Luke gelagapan. Pria itu yang sedari tadi berfokus pada paha Isa yang sudah terbuka lebar kini sudah mengahlihkan pandangannya menuju ke wajah istrinya
“Isa, tenang… semuanya akan baik – baik saja… tenang, oke?” ucap Luke sembari mengusap pelan puncak kepala Isa.
“Tenang bagaimana?!?” teriak Isa ditengah – tengah rasa sakit yang melanda dirinya.
Luke hanya bisa menabahkan hatinya ketika dirinya kembali menjadi sasaran emosi Isa.
“Sekarang dorong!” ucap dokter tersebut tiba – tiba
Grep.
Isa mencakar kuat lengan Luke. Wanita itu memberikan dorongan yang kuat, wanita itu menggigit bibir bawahnya kuat – kuat dengan harapan bahwa dirinya tak akan terlalu merasakan rasa sakit itu
“Dorong lagi, nona… kepalanya sudah terlihat” ucap dokter tersebut dengan semangatt
__ADS_1
Isa kembali memberikan dorongan kuat, hal itu bersamaan dengan bibirnya yang digigitnya dengan kuat.
Luke menyadari hal itu, dengan cepat, tangan Luke bergerak untuk melepaskam bibir Isa dari gigitan bibirnya.
“Akkhh!!!”
Suara teriakan Isa yang memilukan itu terdengar ketika bibirnya sudah terlepas dari gigitannya. Jantung Luke semakin tidak karuan saat mendengar teriakan itu. Kini, ia menyesali tindakannya sebelumnya
Disaat yang bersamaan, Isa merasakan rasa lega yang luar biasa.
“Hoek! Hoek! Hoek!”
Tangisan bayi yang menggema itu langsung menyentak Luke. Mata Luke bergerak ke arah dokter tersebut yang sudah membawa sebuah bayi mungil yang masih ditutupi oleh darah di tangannya
“Laki – laki” ucap dokter tersebut singkat sembari memberikan bayi itu kepada perawat yang ada disampingnya
Isa melihat hal itu dan dia tersenyum tipis. Baru saja Isa hendak menutup matanya dan beristirahat, tiba – tiba Isa kembali merasakan perutnya bergejolak.
“Adiknya akan keluar, nona!” intruksi dokter tersebut
Jantung Luke kembali berdebar.
“Isa, kau bisa menggigit tanganku!” ucap Luke sukarela sembari menyodorkan tangannya ke depan mulut Isa saat Luke melihat istrinya itu hendak kembali menggigit bibirnya sendiri
“Dorong!”
Nyut!
Disaat dokter tersebut mengintruksikan Isa, Isa langsung melakukan dorongan dengan kuat. Tak ingin menganggurkan tangan Luke, mulut Isa langsung bergerak dengan cepat untuk menggigit rakus tangan itu.
Tangan Luke terasa keras dan itu membuat Isa semakin bersemangat untuk menggigit tangan Luke. Luke hanya bisa diam dan pasrah. Apapun akan dilakukannya asalkan dirinya tak mendengar teriakan memilukan dari mulut istrinya itu.
“Hoekk! Hoekk!”
“Laki – laki lagi!” ucap dokter tersebut sembari memberikan bayi kedua Isa yang ada di tangannya kepada perawat yang berada di sampingnya
Nafas Isa mulai memendek, seluruh tenaga wanita itu sudah terkuras habis. Rasa kantuk menyerang wanita itu
“Sekarang untuk yang terakhir. Nona, anda tidak boleh tertidur terlebih dahulu” ucap dokter tersebut
Dokter tersebut langsung memberikan kode kepada Luke agar pria itu melakukan sesuatu yang bisa membuat Isa tidak tertidur
“Isa, dengarkan aku… kira – kira siapa nama yang ingin kau berikan untuk anak perempuanmu nanti? Apa kau mau jika namanya Aurora? Bukankah ini nama yang ba---
“Just shut up!!!” ucap Isa menggelegar ketika dirinya mendengar nama Aurora
Mata wanita itu yang tadi sudah mulai mengabur kini sudah kembali terisi penuh lagi. Sungguh, sampai sekarang, wanita itu masih merasa kesal dengan Aurora. Apalagi saat ini wanita itu sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa, mendengar nama Aurora disebut semakin membuat emosi Isa melonjak naik.
“Bagus! Nona, sekarang dorong!” ucap dokter tersebut
“Aaaaakkhh!”
Isa melolong ditengah – tengah dorongannya. Ini yang terakhir. Isa mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya.
“Hoeek! Hoeek!”
“Ternyata si bungsu adalah perempuan” ucap dokter tersebut sembari tersenyum bahagia
Isa tersenyum kecil saat melihat bayi perempuannya sekilas. Kini, Isa tak lagi merasakan rasa sakit di perutnya.
Cup.
Luke mendaratkan kecupan hangat penuh cintanya tepat di atas dahi Isa.
“Terimakasih karena sudah mau berjuang sekeras ini untuk anak – anak kita”
__ADS_1