Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 89


__ADS_3

Keadaan di mobil Luke sangat tenang. Isa menyandarkan kepalanya di bahu Luke sembari memegang erat lengan pria itu, sedangkan Luke sibuk dengan pemikirannya. Dia hendak menebak – nebak kejadian menegangkan apa yang akan terjadi beberapa menit lagi


Apakah nanti Aurora dan Isa akan bertengkar? Oh come on… Luke sangat tau betul dengan sifat kotor Aurora. Wanita itu sangat pintar dalam bersilat lidah dan membangkitkan emosi seseorang


Atau… apakah nanti Aurora akan menangis sehingga Isa semakin tersentuh dengan keadaan wanita itu? Ini gila! Mengapa wanita itu lebih memilih menjadi seorang fashion designer, kenapa dia tidak menjadi seorang aktris saja?!?


“Isa… apa kau yakin ingin bertemu Aurora?” tanya Luke untuk yang kesekian kalinya kepada Isa


“Iya… aku yakin”


“Isa, kau tau kan bagaimana sikap wanita itu? Aku tak ingin kau kenapa – kenapa…” ucap Luke khawatir


Mendengar ucapan khawatir Luke tersebut, Isa menarik kepalanya dari bahu kekar Luke. Tangannya langsung terulur untuk memegang wajah suaminya itu agar suaminya itu menatap wajahnya


“Apa yang kau takutkan eumh? Apa kau takut Aurora akan mengamuk dan melempariku dengan barang – barang? Atau kau takut Aurora akan mendorongku hingga aku terjatuh dan mengalami keguguran? Eumh…?” tanya Isa lembut dengan ibu jarinya yang bergerak mengelus – elus rahang Luke dengan lembut


“Aurora itu adalah tipe wanita yang sangat mudah emosi dan tak pintar mengontrol emosinya. Aku takut jika kalian akan bertengkar dan berujung pada tindakan – tindakan yang tak kuinginkan” jawab Luke


Mendengar jawaban Luke tersebut, senyum lembut Isa timbul.


“Aku tidak akan bertengkar dengan Aurora. Yah… meskipun aku masih memiliki rasa kesal dan sedikit rasa benci padanya, tapi aku tak sebodoh itu untuk meladeni kicauan – kicauannya nanti” ucap Isa enteng


“Tapi bagaimana jika dia melemparmu dengan benda – benda tajam? Terakhir kali aku mengunjunginya, keadaannya tidak normal” ucap Luke khawatir


“Kau takut aku terluka?”


“Tentu saja!” ucap Luke


Mendengar ucapan jujur Luke tersebut, Isa menarik kepalanya dari bahu Luke. Dengan senyum jenakanya, wanita itu memukul – mukul pelan dadanya dengan kepalan tangannya


“Jangan khawatir, aku tidak akan terluka” ucap Isa


“Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu? Bukankah aku sudah memberitahukanmu bahwa keadaan Aurora beberapa hari ini tidak normal?”


“Aku mengatakan hal itu karena aku tau kalau kau akan melindungiku dan menjagaku” ucap Isa sambil tersenyum lebar ke arah Luke


Melihat senyum  lebar Isa itu, seutas senyuman tipis langsung tercetak di wajah tampan Luke.


“Bagaimana kalau aku tidak melindungimu, eumh?” tanya Luke sambil menarik Isa dengan gemas ke dalam pelukannya


Bugh!


Niat hati ingin bermanja – manja dengan Isa, Luke malah mendapatkan sebuah pukulan telak di atas perutnya oleh istrinya sendiri. Fix… Luke yakin, pasti bayi yang sedang dikandung oleh istrinya itu berjenis kelamin laki – laki.


“Kenapa kau memukulku!” ucap Luke yang diakhiri dengan sebuah ringisan kecil


Tangannya langsung terulur untuk menyentuh permukaan perutnya yang dilapisi kaus berwarna navy. Tangannya mengusap – usap kecil perutnya yang terasa berdenyut – denyut. Jika pada kebanyakan pasangan suami – istri, suamilah yang selalu melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya, namun berbeda untuk Luke. Nyatanya, istrinyalah yang melakukan kekerasan padanya.


“Tentu saja karena aku kesal padamu! Jika kau tidak melindungiku, lalu kau hendak melindungi siapa? Aramu itu?!?” ucap Isa kesal


Luke menghela napasnya. Lagi lagi Aurora.


“Aish… tadi aku hanya bercanda, kau tidak perlu menggangapnya serius” ucap Luke


“Apa kau sadar bahwa candaanmu itu tidak lucu?” tanya Isa sembari menarik dirinya dari perlukan Luke dan menatap Luke dengan tatapan tak bersahabat miliknya


Luke membasahi bibirnya yang terasa kering.


Sepertinya, mulai saat ini, ia harus menjaga kalimat – kalimatnya saat ia sedang berbicara dengan Isa. Istrinya itu sangat sensitif

__ADS_1


“Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi” ucap Luke


“Memang sudah seharusnya kau tidak mengulanginya lagi” ucap Isa pedas sembari memutar bola matanya dengan gerakan badass di hadapan Luke


Luke membulatkan kedua matanya dengan spontan saat melihat tingkah Luke itu. Semakin kesini, kenapa Luke yakin bahwa bayi yang dikandung Isa berjenis kelamin perempuan?


“Kau memutar matamu di hadapanku?” tanya Luke tak percaya


“Tidak”


“Kau memu---


“Kalau sudah tau, kenapa kau masih bertanya tuan Seranno. Kau membuat moodku semakin memburuk” ucap Isa kesal


“Maaf…”


Lagi dan lagi, hanya kata ‘maaf’ yang bisa keluar dari mulut seksi Luke.  Luke tak ingin pertengkaran mereka semakin memanjang dan memanas, bisa – bisa, nanti malam Luke akan tidur sendiri lagi dikamarnya. God! Luke sungguh tidak suka hal itu


“Tuan, kita sudah sampai”


Suara dari supir pribadi mereka menyentak Luke dan Isa. Mendengar ucapan supir itu, Isa langsung menatap rumah sakit mewah tempat Aurora dirawat.


“Bukannya ini rumah sakit tempat dokter Margareth bekerja?” tanya Isa


“Hah? Benarkah?” tanya Luke dengan nada bicara yang seolah – olah sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak tertarik dengan arah pembicaraan istrinya itu


Isa menggelengkan kepalanya pelan. Dia sungguh tak mengerti tentang hubungan antar sepupu itu, menurut cerita Luke ketika mereka masih bersekolah, Luke dan dokter Margareth memiliki hubungan yang sangat dekat, mereka sangat kompak.


Tapi sekarang, hubungan antara Luke dan dokter Margareth sedikit aneh. Mereka sangat sering menyindir secara halus dan mengejek satu sama lain. Ah… mungkin, itulah cara mereka mengekspresikan kedekatan mereka


“Ayo…”


Suara Luke dan genggaman tangan Luke di tangannya membuat Isa tersentak dari lamunannya


Isa membalas genggaman Luke dengan tak kalah eratnya. Isa sangat suka ketika tangan Luke menggengam tangannya, tangan Luke yang besar namun tak kasar itu seolah – olah membawa kesenangan sendiri bagi Isa.


Isa mengikuti langkah Luke dalam diam. Kaki mungilnya mencoba untuk menyamakan langkahnya dengan langkah besar Luke.


“Ini kamarnya?” tanya Isa saat Luke berhenti di depan sebuah pintu yang memiliki angka 16 yang menggantung di atasnya


“Isa… kau yakin ingin menemuinya?” tanya Luke lagi


“Aish… Luke, apa kau tidak bosan menanyakan hal yang sama?” tanya Isa sembari memberikan tatapan bosannya kepada Luke


“Isa… yakinkah kau untuk mene---


Bugh!


Belum sempat Luke menyelesaikan pertanyaannya, sebuah pukulan kasar melayang ke lengan kekar milik pria itu


“Isa!” ucap Luke yang terkejut dengan tindakan bar – bar Isa tersebut


“Luke, dengar, jangan sekali – kali kau mencoba untuk membuat darah tinggiku naik!” ucap Isa dongkol


“Siapa yang membuat darah tinggimu naik?”


“Tentu saja kau… suamiku yang sangat pandai…” ucap Isa kesal sembari memberikan senyum menyeramkannya kepada Luke


Luke berjengit kaget saat melihat senyuman istrinya itu. Senyuman istrinya istrinya itu sama persis dengan senyuman karakter – karakter menyeramkan di setiap film horror yang pernah ditonton oleh Luke

__ADS_1


“Isa… jangan tersenyum seperti itu!” larang Luke


Melihat senyuman menyeramkan itu, Luke merasa takut jika darah dagingnya yang sedang dikandung oleh Isa akan memiliki senyum menyeramkan yang sama. Meski Luke menginginkan darah dagingnya itu mewarisi wajah Isa serta karakter Isa, tapi untuk senyuman menyeramkan itu… kurasa Luke tak akan pernah menginginkan itu


“Is it a problem to you?” tanya Isa dengan wajah dan nada bicaranya yang sangat datar


Luke menghembuskan napasnya kasar.


“Tidak” jawab Luke pendek sambil tersenyum simpul. Walaupun dalam hati dia merasa sedikit kesal dengan pertanyaan Isa itu


Isa memutar bola matanya dengan kesal ketika mendengar jawaban suaminya itu. Suaminya yang melihat tindakan Isa itu hanya bisa menggeleng kepalanya dengan pelan. Sepertinya, suaminya itu harus sabar menghadapi tingkah barbar dan keras kepala Isa selama Isa sedang mengandung anak mereka


“Kalau begitu, ayo masuk!” ucap Isa sambil menyenggol tangan Luke


“Aku duluan?” tanya Luke binggung saat Isa tiba – tiba menyenggolnya


“Tentu saja. Nanti Aurora bisa terkejut jika melihatku, siapa tau tiba – tiba dia melemparkan barang ke arahku, pasti nanti akan timbul masalah”


“Jadi, kalau aku yang masuk duluan, dia tidak akan terkejut dan tidak akan timbul masalah?” tanya Luke dengan wajah cengonya


Isa menggigit bibir bawahnya dengan gemas


Bagaimana dia baru sadar bahwa selain memiliki sisi dominan yang sexy, suaminya itu juga memiliki sisi lugu yang terlihat menggemaskan


Grep…


Jari jempol dan telunjuk Isa terarah untuk mencubit gemas pipi Luke yang terlihat mulus. Sepertinya suaminya itu sudah mencukur bulu – bulu tipis yang beberapa hari belakangan ini telah menghiasi wajah suaminya itu


“Isa! Apa yang kau lakukan?” tanya Luke terkejut


“Gemas!!” ucap Isa sembari menguatkan cubitannya pada pipi Luke dan menggigit kuat bibir bawahnya sebagai tanda pelampiasan rasa gemasnya


“Jangan gigit bibirmu seperti itu, nanti berdarah!”


Tanpa memperdulikan rasa panas di pipinya, jempol Luke bergerak untuk menarik bibir bawah Isa dari gigitan gemas milik wanita itu. Wanita itu terkekeh geli


“Sudah selesai?” tanya Luke dengan sabar ketika istrinya itu akhirnya melepaskan cubitan gemasnya di pipi Luke


“Sudah, Dad!” ucap Isa dengan nada polos sembari tersenyum lebar seolah – olah wanita itu tengah memerankan peran sebagai model pasta gigi ternama


Kali ini, Luke yang merasa gemas dengan tingkah Isa. Tangan kekar Luke langsung bergerak sendirinya untuk menutupi bibirnya yang sudah membentuk lengkungan indah. Sungguh, ia tak ingin tersenyum karena dirinya takut senyumnya itu akan membuat istrinya semakin menjadi.


“Hei… jangan sembunyikan senyumanmu. Aku tau kok kalau aku lucu!” ucap Isa dengan nada menggemaskan sembari mengayun – ayunkan tangan Luke yang begerak untuk menutupi mulut pria itu


Tuh kan. Apa yang dikatakan oleh Luke tadi memang benar


“Kita jadi masuk atau tidak?” tanya Luke untuk mengahlihkan topic pembicaraan


Seolah – olah kembali sadar dengan tujuan utamanya, wanita yang sedari tadi berada di samping Luke itu langsung mengaburkan senyuman menggemaskan yang sedari tadi menghiasi wajah cantiknya


“Tentu saja, jadi”


Luke menghela napasnya dengan kasar.


Dengan perasaan tak menentu, tangan pria itu terulur untuk memutar knop pintu ruangan tempat Aurora dirawat.


Luke menerka – nerka bagaimana ekspresi Aurora saat melihat kedatangan Isa.


“Aurora?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2