Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 17


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Isa dengan nada yang tajam dan tatapan sinis yang ditujukannya kepada pria yang berada di hadapannya itu.


“Tentu saja untuk menemuimu” ucap pria itu dengan gampangnya sambil tersenyum .


Entah kenapa, Isa merasa mual saat melihat senyuman pria itu. Padahal, dulu, senyuman itu adalah hal yang sangat dinanti – nanti kannya setiap kali Isa dan pria itu bertemu.


“Ohw… apakah si Adela Slosar itu tidak menjepitmu dengan erat lagi, oleh karena itu, kau mencari orang yang dapat menjepitmu dengan erat? Jika benar…. Jangan tunjukkan wajahmu di hadapanku. Aku muak” ucap Isa dengan lamat – lamat.


Jika saja pintu mobil itu tidak dikunci, Isa pasti akan memilih untuk keluar dari mobil mewah pembawa petaka itu, daripada harus bertemu lagi dengan orang yang sangat dibencinya.


Saat mendengar perkataan ceplas – ceplos milik Isa, pria itu, Sean, tertawa dengan kuat.


“Aku tidak sedang melakukan stand up comedy saat ini! Kenapa kau tertawa? Apa urat sarafmu sudah benar – benar putus?!” ucap Isa kesal sambil diakhiri dengan sebuah dengusan kasar.


“Ya, urat sarafku sudah benar – benar putus sejak kau memilih untuk meninggalkanku” ucap Sean dengan lamat – lamat sambil mencoba untuk meraih tangan Isa yang berada di samping paha Isa.


Saat tangan Sean sudah menyentuh punggung tangan Isa, Isa langsung menjauhkan tangannya dari jangkauan Sean dengan cara, menarik tangannya.


“Don’t touch me. You are a bastard!” ucap Isa dengan kebencian penuh


Lagi, Sean tertawa mendengar ucapan Isa. Kini, Isa yakin bahwa Sean sudah benar – benar gila.


“Jika aku adalah seorang bastard, lalu bagaimana dengan Lukas Serrano, hah?” tanya Sean sambil tersenyum kecil ke arah Isa.


Deg.


Luke?


Bagaimana bisa, Isa melupakan Luke! Saat Sean menyebutkan nama Luke, degup jantung Isa menjadi tidak normal. Ada perasaan takut dan binggung saat Isa mendengar nama Luke.


Seketika, Isa kembali mengingat kejadian hari ini. Kejadian, dimana Luke memberikannya tatapan datar dan dinginnya kepada Isa.


“Jangan pernah menyamakan dirimu dengan Luke! Dia lebih baik daripadamu!” ucap Isa kesal


“Oh? Jadi kau sudah memberikan panggilan kesayanganmu kepadanya? Eumh… Luke ya? Sounds cool” ucap Sean sambil menopangkan dagunya di tangannya.


“Lalu… bagaimana dia memanggilmu? Apakah dia memanggilmu dengan sebutan bitch, asshole or slut?” tanya Sean sambil tersenyum misterius dan menaikkan salah satu alisnya saat menatap wajah Isa.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat mulus di wajah Sean.


Isa menatap Sean dengan tatapan marahnya, sedangkan Sean hanya tersenyum kecil sambil mengusap – usap pipinya yang terasa panas.


“Kenapa kau begitu marah? Bukannya yang kukatakan itu benar? Sekarang, kau adalah pelayan nafsu Lukas kan? Semua orang tau hal itu” ucap Sean sambil menatap Isa dengan tatapan remehnya.


Isa menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana Sean bisa mengetahui hal itu? Tidak mungkin Sean mendengar gossip burung. Jarak antara Roma dan Paris sangat jauh, aneh rasanya jika Sean mendengar sebuah gossip seperti itu.


“Jangan mengada – ngada!” ucap Isa kesal sambil menatap tajam Sean


Sean hanya diam.


Dalam kediamannya, Sean kemudian meraba saku celananya dan mengambil ponselnya. Kemudian, terlihat Sean mengotak – atik ponselnya.


“Apa ini cukup?” tanya Sean sambil menyodorkan ponselnya yang sudah terpampang video Isa dan Luke saat berada di club V & F.


Isa kembali menelan ludahnya saat melihat video itu. Masih hangat di ingatan Isa mengenai club itu. Club itu adalah club dimana Isa dan Luke bertemu untuk yang pertama kali dan club itu juga lah yang membuat Isa melakukan hubungan badan dengan seorang pria untuk pertama kalinya dalam hidupnya.


Isa menatap lamat- lamat video yang berada di ponsel Sean tersebut. Isa dapat melihat kejadian malam itu yang sampai saat ini masih belum diketahuinya.


Isa menatap terkejut video itu, saat melihat dirinya terlihat menggoda Luke dengan berbagai cara dan Luke tidak meresponya. Hingga akhirnya, Isa melakukan hal yang ekstrim sehingga Luke mau merespon segala sentuhan yang diberikan oleh Isa. Isa merasa bahwa dirinya benar – benar seperti seorang wanita malam yang sangat haus akan sentuhan pria.


“Seperti bitch, bukan?” tanya Sean sambil menatap wajah Isa. Kini, wajah Isa sudah berubah menjadi pucat pasi dan Sean menyukai wajah pucat pasi milik Isa itu.


Isa hanya diam dan tidak merespon perkataan Sean tersebut.


Dengan tangan yang gemetaran, Isa meletakkan ponsel Sean sembarang arah ke atas kursi mobil.


“Antarkan aku pulang” ucap Isa dengan datar tanpa menatap Sean.


“Uh?”

__ADS_1


“Antarkan aku pulang” ucap Isa sambil menatap Sean dengan tatapan datarnya yang dingin.


“Baiklah”


Kemudian, Sean memacu mobilnya ke alamat rumah Isa. Sebelumnya, Isa sudah memberi tahu arah jalan menuju ke rumahnya.


Selama di perjalanan, baik Isa dan Sean tidak ada yang membuka percakapan. Isa memilih untuk diam dan merenungkan segala perbuatan yang dilakukannya belakangan hari ini. Apa yang dikatakan Sean memang benar. Sekarang, Isa benar – benar sudah mirip seperti seorang bitch. Isa sangat khawatir, jika akhirnya hubungan antara dirinya dan Luke yang sebenarnya akan terbongkar, pasti kedua orang tuanya dan keluarganya akan sangat kecewa pada Isa.


“Are you, okay?” tanya Sean dengan suara yang pelan dan hati – hati saat menyadari bahwa sedari tadi, Isa hanya diam dan mengkhayalkan sesuatu.


Mendengar pertanyaan Sean yang terdengar ambigu di telinganya, Isa langsung memalingkan wajahnya untuk menatap Sean dan memberikan tatapan tajamnya kepada Sean.


“Kenapa kau mempertanyakan sesuatu yang bisa kau jawab, hah?!?” ucap Isa dengan kemarahan yang memuncak.


Kini, Isa merasakan kepalanya sangat berat dan pusing.


Sean yang merasakan bahwa mood Isa sedang tidak stabil langsung diam dan tidak berani lagi untuk membuka topik pembicaraan.


“Kita sudah sampai” ucap Sean saat mobilnya sudah berhenti di depan sebuah rumah kecil, yang bagi Sean lebih cocok dikatakan sebuah gubuk.


“Thank’s” ucap Isa pendek sambil membuka pintu mobil Sean dengan hati – hati.


Meskipun Isa sedang berada di tahap mood yang buruk, Isa tidak ingin melakukan hal – hal fatal yang malahan akan merugikan dirinya di kemudian hari. Seperti, membuka dan menutup pintu mobil Sean dengan kasar. Isa tidak ingin melakukan hal itu.


Sean yang melihat sikap dingin dan acuh Isa, memilih untuk diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun kepada Isa. Sean takut, bahwa perkataannya nanti akan membuat mood Isa semakin buruk. Hal itu tidak baik untuk rencana yang sudah Sean susun sedemikian rupa untuk mengembalikan kembali Isa ke pelukannya.


Setelah memastikan Sean benar – benar pergi dengan mobilnya, Isa menghela napasnya dengan kasar dan berbalik untuk berjalan ke rumahnya.


Srekk!!!


Baru saja Isa melangkahkan kakinya untuk memasuki area pelantaran rumahnya, sebuah tangan kekar langsung menarik Isa dengan paksa.


“Humph—“


Isa sangat ingin berteriak, namun tiba – tiba mulutnya langsung ditutup oleh tangan kekar itu.


“Ini aku…. Luke” ucap pria itu, Luke, sambil menarik tangannya dari mulut Isa.


“Luke?” tanya Isa sambil menyipitkan matanya untuk menatap Luke yang kini sedang berada di hadapannya.


“Ya.. ini aku” ucap Luke sambil tersenyum tipis dan memegang tengkuk Isa.


Meskipun keadaan lampu remang – remang, Isa dapat menyadari bahwa Luke menatapnya dengan penuh dambaan dan gairah yang bergejolak.


“Aku sangat merindukanmu” ucap Luke dengan suara seraknya sambil menyapukan ibu jari nya dengan gerakan pelan ke atas bibir Isa yang kenyal dan berwarna pink alami itu.


Isa yang menerima perlakuan dari Luke tersebut langsung memejamkan kedua matanya.


Dengan sekali hentakan, Luke menarik tubuh Isa untuk mendekati tubuhnya. Kini, kedua payudara Isa sudah bertabrakan dengan dada bidang milik Luke, hal itu memberikan sebuah gelenyar aneh pada Isa.


Tak menunggu waktu lama, Luke kemudian menarik tengkuk Isa dan menghujami Isa dengan sebuah ciuman. Ciuman yang dominan, kasar dan memaksa. Hal itu membuat Isa hampir kehilangan napasnya. Tak hanya di bibir Isa, Luke juga menyerang kedua bukit indah milik Isa dengan remasan yang sangat kuat.


Luke seperti orang yang sangat haus akan tubuh Isa. Sepertinya, tubuh Isa adalah sebuah opium yang harus dinikmatinya setiap malam agar tidurnya bisa nyenyak.


Merasa sudah kehabisan napasnya, Isa memukul dada Luke dengan kuat sehingga akhirnya tercipta sebuah jarak diantara mereka.


Setelah jarak tersebut tercipta, Isa langsung membuka mulutnya lebar – lebar untuk mendapatkan oksigen sebanyak – banyaknya. Sedangkan Luke, dia hanya menatap Isa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bugh!


Secara tiba – tiba, Luke memeluk tubuh Isa dengan erat. Dia ingin memastikan sesuatu.


“Luke… ada apa?” tanya Isa saat Luke langsung melepaskan pelukan mereka. Padahal, belum ada 30 detik mereka berdua saling berpelukan.


“Apa kau bermain di belakangku?” tanya Luke sambil mencengkram kedua lengan Isa.


“Bermain? Bermain apa? Apa maksudmu?” tanya Isa sambil mengernyitkan dahinya


“Apa kau baru saja bersama dengan pria lain?” tanya Luke dengan nada dan tatapan tajamnya.


Isa menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Luke. Memang, tinggi badan Isa yang hanya sebahu Luke membuat Isa sangat mudah merasa terintimidasi.

__ADS_1


Isa menelan ludahnya dengan kasar. Di saat – saat seperti ini, tidak ada lagi gunanya untuk berbohong.


“Jawab!” ucap Luke dengan lamat – lamat sambil memperkuat cengkramannya di kedua lengan Isa.


“Ya” jawab Isa mantap yang diakhiri dengan sebuah ringisan karena cengkraman Luke yang sangat kuat di kedua lengannya.


Mendengar jawaban meyakinkan dari Isa tersebut membuat Luke langsung melepaskan cengkramannya pada kedua lengan Isa.


Luke tersenyum sedih ke arah Isa dan senyumannya itu membuat Isa mengiba kepada Luke.


“Luke?” panggil Isa dengan hati – hati


“Tell me, apa yang kurang dariku? Hah? Apa yang kurang dariku, Isa!!! Say it to my face!” ucap Luke dengan suara yang lumayan kuat.


Suara kuat yang terlontar dari mulut Luke itu membuat Isa merasa terkejut. Dengan sekuat tenaga, Isa menahan dirinya untuk tidak menangis.


“Siapa pria yang bersamamu tadi, hah? Apa dia lebih tampan dariku? Lebih kaya dariku? Katakan!” amuk Luke sambil mengguncang kuat tubuh mungil Isa


Isa menggingit bibirnya agar sebuah suara ringisan tidak keluar dari bibirnya.


“Sudah berapa kali kau tidur dengannya hah?!?” tanya Luke dengan emosi yang memuncak.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Luke.


“Sebegitu hinanya kah aku di hadapanmu? Apa kau tidak menyadari, bahwa kau lah orang yang sudah merenggut kesucianku. Ya, orang itu adalah kau!!” ucap Isa dengan sesenggukan karena air matanya yang sudah bercucuran memenuhi pipinya.


“Apa hak mu untuk mengekang ku, hah? Kau tidak memiliki hak untuk mendikte ku!” ucap Isa sambil menghapus air matanya dengan kasar.


“Apa hubungan kita beberapa minggu belakangan ini tidak berarti apa – apa buatmu?” tanya Luke dengan sorot mata tajam.


“Hubungan kita hanya sebatas di atas ranjang saja! Hanya sebatas kepuasan fisik! Apa kau sudah mengerti, hah!” ucap Isa dengan emosi yang tidak dapat dikontrolnya lagi.


“Kau benar – benar wanita yang kejam, Isa. Biar kau tau, kau sudah melakukan banyak kesalahan fatal hari ini!” ucap Luke sambil tersenyum sedih kepada Isa.


“Jangan pernah lagi bertemu denganku atau menelponku. Anggap saja aku tidak pernah ada di duniamu!” ucap Isa dengan emosi yang memuncak sambil membalikkan badannya untuk kembali berjalan ke pelantaran rumahnya.


“Baiklah, kau yang meminta hal itu! Jangan salahkan aku, jika nanti kau akan merasa kesepian di setiap hembusan nafasmu!” ucap Luke dengan suara yang keras.


Isa memilih diam dan terus melanjutkan langkahnya menuju ke rumahnya.


Krek.


Isa membuka pintu rumahnya dan mendapati adiknya, Minnnie, sedang menatap Isa dengan tatapan mengiba.


“Kakak?” panggil Minnie hati – hati sambil menyentuh lembut tangan dingin kakaknya itu.


“I’m fine” ucap Isa dengan suaranya yang serak sambil mengusap pipinya yang masih tersisa butiran – butiran tangisannya.


“Apapun yang kakak lakukan, Minnie yakin… bahwa hal itu akan berdampak baik buat kakak” ucap Minnie sambil tersenyum tulus untuk menyemangati Isa.


Melihat wajah adiknya, membuat pertahanan yang dibangun Isa beberapa menit lalu langsung runtuh seketika.


Isa langsung meraih badan adiknya itu dan menangis sejadi – jadinya. Untung saja, kedua orang tua mereka sudah tertidur.


“Tenang kak. Kami, keluargamu, akan selalu mendukungmu” ucap Minnie sambil mengusap – usap lembut punggung Isa.


“Terimakasih. Kalian adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan di hidupku”


.


.


.


Ternyata, di part sebelumnya banyak yang menebak si babang Luke yang bakal jadi tersangka utamanya... Hei,, babang Luke aku tidak sekejam itu :'v.


Mau dong dengar pendapat kalian tentang part ini. Bisakan? Bisa dong ya...


**Like dan komen adalah vitamin cerita ini. Terimakasih sudah mau membaca cerita ini**

__ADS_1


 


 


__ADS_2