Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 84


__ADS_3

Luke keluar dari mobilnya dengan perasaan yang sangat membuncah. Baru saja Luke hendak melangkahkan kakinya untuk memasuki penthousenya, tiba – tiba suara supir pribadinya membuat dirinya menghentikan langkahnya


“Tuan, bagaimana dengan buket – buket bunga yang ada di dalam bagasi?” tanya supir pribadi Luke


Dugh!


Luke memukul pelan dahinya dengan kepalan tangannya. Bagaimana bisa ia dapat melupakan hal itu?


Luke menggigit tipis bibir bawahnya. Dia sedang berpikir tentang bagaimana caranya dia akan memberikan kejutan itu kepada Isa.


Apa dia harus membawa buket – buket bunga itu ke penthouse mereka?


Astaga… itu ide yang buruk, menggingat buket – buket bunga itu sangat banyak dan dalam ukuran yang lumayan besar.


Ah… sepertinya, akan lebih baik jika ia meminta Isa untuk turun.


“Kau bukalah bagasi mobil itu” perintah Luke pada supir pribadinya


Supir pribadinya tersebut mengganggukkan kepalanya dengan patuh dan langsung berjalan ke belakang mobil Luke untuk membuka bagasi mobil mahal itu.


Luke langsung merabah kantung celananya dan meraih ponselnya. Dengan gerakan cepat, pria itu menghidupkan ponselnya dan mencari nama Isa, di dalam daftar kontaknya.


 


“Halo, Isa?” panggil Luke saat sambungan panggilannya telah terhubung


 


“Ya…?” sahut Isa dengan suaranya yang terdengar imut di telinga Luke


 


“Eumh… bisakah kau turun ke bawah?” tanya Luke sambil tersenyum


“Turun? Turun kemana?” tanya Isa yang terdengar binggung dengan pertanyaan Luke tersebut


“Tentu saja turun ke parkiran penthouse kita, Isa sayang…” ucap Luke gemas yang diakhiri dengan sebuah tawa kecil


Dari ujung panggilan itu, Isa juga tertawa. Luke tak tau apakah Isa tertawa karena mendengar ucapannya itu atau wanita itu tertawa karena mendengar tawa Luke


“Baik… baik, aku akan turun…. Eh, tunggu dulu… berarti, kau sudah pulang dari kantormu?” tanya Isa yang terdengar terkejut


“Eumh…” gumam Luke sambil mengganggukkan kepalanya kecil. Luke tak tau alasan mengapa dia mengganggukkan kepalanya, padahal dia benar – benar sadar bahwa Isa tak bisa melihat anggukan kepalanya itu


“Apa kau pulang cepat karena diriku?” tanya Isa


“Tentu saja”


Helaan napas terdengar dari ujung panggilan itu.


Luke mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan Isanya? Bukankah tadi wanita itu yang mengatakan bahwa dirinya merindukan Luke?


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu? Apakah kau merasa kurang sehat? Kalau begitu, kau tidak usah turun, biar aku saja yang naik” ucap Luke khawatir


“Bukan! Aku baik – baik saja” ucap Isa


“Syukurlah… Lalu, kenapa kau menghela napasmu?”


“Itu… seharusnya kau tidak perlu meninggalkan pekerjaanmu hanya karena diriku, aku merasa tidak enak… pasti setelah ini, tugasmu akan semakin menumpuk” jelas Isa gugup

__ADS_1


Mendengar penjelasan Isa tersebut, Luke mengulum senyumnya. Jadi, istrinya itu merasa bersalah karena sudah membuat Luke meninggalkan kantornya lebih awal


“Jangan seperti itu, Isa. Selain karena kau yang merindukanku, aku juga pulang cepat dari kantor karena seluruh tugasku telah selesai. Aku sangat merindukanmu dan bayi kita”


“Benarkah?” tanya Isa yang terdengar terkejut dengan ucapan Luke itu


“Eumh… tentu saja”


“Baiklah! Aku akan segera turun! Tunggu aku 30 detik lagi!” ucap Isa yang terdengar tiba – tiba semangat


Senyum Luke semakin melebar saat dirinya dapat merasakan aura semangat Isa


“Aku menunggumu. Hati – hati, jangan berlari, nanti kau jatuh” ucap Luke yang merasa khawatir jika semangat istrinya itu mendorong istrinya untuk berlari menemui Luke.


“Aye aye captain!”


Click!


Baru saja Luke hendak menjawab ucapan Isa tersebut, namun panggilan telepon mereka telah diputus secara sepihak oleh Isa. Tingkah Isa itu membuat Luke menggelengkan pelan kepalanya sambil terkekeh kecil.


Saat Luke hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung celananya, tiba – tiba ia teringat sesuatu


“Apakah aku sudah terlihat tampan?” gumam Luke sambil memandang wajahnya yang terpantul di layar hitam ponselnya itu


“Ck! Kau selalu tampan, Lukas Averanno Seranno” ucap Luke berbangga diri


Sambil tersenyum kecil, pria itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.


“Duarr!!!”


“Fu*k off!!” maki Luke secara naluriah dengan suaranya yang nyaring


“Hehehe”


Kekehan tak bersalah itu membuat Luke mengalihkan pandangannya dari dadanya menuju ke wajah pelaku yang telah menyebabkan dirinya hampir saja terkena serangan jantung mendadak.


“Isa…!” panggil Luke dengan nada lembut namun terdengar penekanan di dalam panggilannya itu


“Maaf…” ucap Isa sambil menampilkan senyum tak bersalahnya kepada Luke


Luke menghela napasnya dengan kasar dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia sangat ingin melampiaskan kemarahannya dan kekesalannya, namun, senyum tak bersalah milik Isa itu mampu membuat semua rasa itu langsung menguap begitu saja.


“Kenapa kau melakukan itu, eumh?” tanya Luke sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Isa dengan tatapan menuntutnya


“Habisnya kau sangat sibuk menggagumi ketampananmu dari layar ponselmu” ucap Isa yang diakhiri dengan sebuah kekehan geli


Blush!


Luke merasa sangat malu saat ini. Ucapan Isa tadi seolah – olah hendak mengatakan bahwa Luke adalah tipikal pria yang narsis.


“Wah… itu apa?” tanya Isa terpukau saat kedua matanya tanpa sengaja menatap bagasi mobil Luke yang diisi oleh banyak buket bunga peony


“Itu untukmu” ucap Luke sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal


“Benarkah?” tanya Isa terkejut dengan kedua matanya yang telah berbinar – binar


Luke menggaggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Melihat respon Luke tersebut, Isa langsung melangkahkan kakinya menuju ke bagasi mobil tersebut


“Sebenarnya… tadi aku hendak memberikanmu kejutan, namun sepertinya, kejutanku itu gagal” ucap Luke yang diakhiri dengan kekehan kecil

__ADS_1


“Siapa bilang kejutanmu gagal?” tanya Isa sambil memegang kelopak – kelopak bunga peony yang terasa sangat lembut itu


“Hah?” tanya Luke yang nampaknya terkejut dengan pertanyaan Isa


“Aku merasa bahagia… Terimakasih Lukas” ucap Isa tulus sambil tersenyum manis ke arah Luke.


Deg. Deg. Deg.


Detak jantung Luke kembali menggila.


Dengan sebuah senyum manis yang terukir indah di wajahnya, Isa mengambil salah satu bunga peony itu. Dengan langkah riang, Isa melangkahkan kakinya menuju ke hadapan Luke.


“Bunga yang indah untuk suamiku” ucap Isa sambil menyelipkan bunga itu ke celah daun telinga Luke.


Deg. Deg. Deg.


Siapapun, tolong Luke!


“Thank you so much, my love” lanjut Isa sambil tersenyum lebar


Cup.


Tanpa disangka – sangka, Isa menempelkan bibirnya ke atas bibir Luke dan menggerakkan bibirnya dengan gerakan lembut. Awalnya, Luke terkejut dengan tindakan Isa tersebut, namun lama – kelamaan, Luke juga membalas ciuman itu. Ciuman lembut yang penuh cinta.


Saat Luke merasa Isa sudah mulai kehilangan oksigennya, pria itu langsung menarik bibirnya. Pria itu menyandarkan kepala Isa ke dada bidangnya.


“I love you…” ucap Luke sambil mengelus lembut punggung Isa


“I love you, too…” jawab Isa sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Luke


Kedua insan itu terlalu larut dengan dunia mereka sendiri, sehingga mereka tidak menyadari bahwa banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan iri dan geli.


“Lihatlah, astaga! Pengantin baru yang sangat romantis”


Isa mendengar ucapan – ucapan para tetangga penthouse mereka dengan samar – samar. Mendengar ucapan – ucapan itu, Isa tak bisa menahan debaran jantungnya yang semakin menggila.


“Luke, apa kau tidak berniat untuk masuk kedalam?” tanya Isa sambil berusaha menenggelamkan wajahnya semakin dalam ke dada Luke, agar wajah merah wanita itu tak dapat dilihat oleh Luke


“Ada apa? Apa kau merasa tidak enak badan?” tanya Luke khawatir


“Tidak… aku hanya malu dengan para tetangga kita. Mereka sedari tadi melihat ke arah kita dan membicarakan kita” ucap Isa


Luke yang mendengar ucapan itu langsung mengulum senyumnya.


“Baiklah, kita akan masuk kedalam” tandas Luke


“O--- Astaga, Luke!”


Baru saja Isa hendak melepaskan pelukannya, namun Ia kembali mengeratkan pelukannya saat dirinya merasa tubuhnya melayang di udara akibat tindakan Luke. Ya, saat ini Luke tengah menggendongnya seperti seorang ibu koala yang sedang menggendong anaknya


“Astaga! Turunkan aku… aku malu! Banyak orang yang melihat kita!” ucap Isa saat matanya tanpa sengaja beradu dengan beberapa wanita – wanita paruh baya yang tengah menatap Isa dan Luke dengan sebuah senyuman lebar yang menghiasi wajah mereka


“Biarkan saja, itu tandanya mereka iri…” ucap Luke dengan santainya sembari melanjutkan langkahnya memasuki kawasan penthouse mereka


“Tapi, tetap saja aku malu!”


“Untuk apa malu? Kita kan sudah sah. Apa kau sudah melupakan fakta itu, istriku?” goda Luke.


Bugh!

__ADS_1


Isa memukul dada Luke dengan gemas.


__ADS_2