
“Isa… apa kita benar – benar harus melakukan ini?” tanya Luke kesekian kalinya
Saat ini, Luke dan Isa sedang berada tepat di depan pintu ruang rawat inap Aurora. Sebelumnya, Luke dan Isa sudah memutuskan untuk kembali ke penthouse mereka, mengingat saat ini, Isa masih dalam keadaan hamil muda dan wanita itu tidak boleh terlalu kelelahan
Namun, Isa menolak ajakan Luke tersebut. Isa berkata ia masih memiliki sedikit urusan dan ternyata, urusannya itu adalah menemui Aurora. Tentu saja Luke tak ingin menemui wanita ular itu, tetapi… melihat Isa yang tak mau pulang jika Luke tidak menjenguk Aurora, membuat Luke mau tak mau harus menuruti permintaan isrinya itu
“Ya…! Setidaknya, kau harus menanyakan keadaannya atau sedikit menyadarkannya. Dia melakukan hal sampai sejauh ini karena dirimu, rasanya akan aneh jika kau tak menjenguknya dan menyadarkannya” ucap Isa sembari menatap Luke dengan tatapan penuh harap
Luke menghela nafasnya dengan kasar
“Baiklah…” tandas Luke dengan rasa keterpaksaan yang sangat tinggi
Isa langsung tersenyum lebar kepada Luke. Senyuman itu mengurangi sedikit beban yang daritadi bersarang di dalam kepala pria itu
“But, remember! Aku melakukan ini semua untukmu, bukan untuknya!” ucap Luke sembari menatap Isa dengan tatapan seriusnya
“Ya…. I know it!” ucap Isa semangat
Tok… tok… tok…
Tanpa meminta persetujuan dari Luke, wanita itu langsung mengetuk pintu kamar ruang inap tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, pintu itu langsung terbuka dan menampakkan sosok pria berkaca mata yang tersenyum sopan kepada Isa dan Luke
“Ah… kalian ingin menjenguk Aurora ya?” tanya pria itu, Ryan, dengan ramah
“Ya” jawab Isa sembari tersenyum manis kepada Ryan. Senyuman itu diberikan oleh Isa sebagai rasa sopannya akan sifat ramah yang ditujukkan oleh pria itu kepadanya
“Kebetulan dia sudah bangun, kalian bisa mengobrol ngobrol panjang lebar denga---
“Kami tak memiliki niat untuk mengobrol panjang lebar dengan pembohong itu” potong Luke dengan nada dinginnya
Isa langsung melebarkan kedua matanya dengan terkejut. Refleks, wanita itu langsung menggerakkan sikunya untuk menyenggol perut Luke.
Bagaimana bisa suaminya itu mengatakan hal seperti itu di depan kakak laki – laki Aurora?
“Maaf… maaf jika tingkah adik saya sudah di luar batas” ucap Ryan sembari menundukkan kepalanya dalam – dalam
“Bukan di luar batas lagi, tapi sudah sangat di luar batas. Aku harap kau bisa mendisplinkannya lebih baik lagi…” ucap Luke tanpa berusaha menerima permintaan maaf dari Ryan
“Maaf… saya akan lebih mendisplinkan adik saya. Minggu depan, kami akan kembali ke Los Angeles”
“Oh… bagus. Bawa pembohong itu menjauh dariku”
“Luke!” sentak Isa
“Maaf… Emosi Luke sedang tidak stabil saat ini, aku harap… kau tidak memasukkan kalimat – kalimat Luke ke dalam hatimu” ucap Isa sembari menatap Luke
“Kenapa kau meminta maaf?!? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Adiknya memang pembohong, kan?” ucap Luke yang tidak terima dengan kalimat permintaan maaf yang dilontarkan oleh Isa untuk Ryan
__ADS_1
“Luk---
“Ah… apa yang dikatakan oleh tuan Seranno memang benar adanya. Adik saya adalah seorang pembohong besar, jika saja kejadian ini tidak terjadi… mungkin kebohongan adik saya bisa merusak rumah tangga kalian. Disini, seharusnya sayalah yang meminta maaf bukan nona…” potong Ryan sembari tersenyum sopan
Isa meringis dalam hati, kenapa sifat Ryan dan Aurora sangat bertolak belakang? Apa wanita itu tak pernah belajar tentang kesopanan, kelembutan dan ketulusan dari kakaknya sendiri? Apa wanita itu memang sejak kecil sudah menjadi anak yang pembangkang dan pembohong? Jika memang seperti itu… tapi kenapa kakaknya bisa memiliki sikap yang semurni ini?
“Nampaknya, saya sudah menyita banyak waktu kalian. Maaf untuk itu. Ah… Kalian bisa masuk” ucap Ryan sembari tersenyum dan bergeser sehingga badannya tak lagi menutup pintu ruangan itu
“Baiklah…” ucap Isa dengan sopan
“Ya, nikmati obrolan pendek kalian. Saya akan keluar, sebentar…” ucap Ryan sebelum pria itu pergi meninggalkan Luke dan Isa
Isa terus menatap punggung pria itu hingga pandangannya menggelap dan Isa tau siapa penyebab utama hal itu bisa terjadi
“Lukas!” ucap Isa terkejut ketika tangan besar Luke menghalangi pandangannya
“Eumh?”
“Kenapa kau menutup mataku?”
“Agar kau tak melihat pria itu” jawab Luke sekenanya
“Hah? Apa maksudmu?”
“Aku pernah membaca sebuah artikel di internet, jika seorang wanita hamil menatap seseorang untuk waktu yang lama, maka wajah bayi yang dikandungnya akan mengikuti wajah orang tersebut”
Sedetik kemudian, Luke menarik tangan besarnya yang sedari tadi menghalangi pandangan Isa.
“Nah… pria itu sudah pergi…” ucap Luke dengan santainya
Isa mendengus kesal saat mendengar ucapan Luke tersebut
“Ayo masuk!” putus Isa sembari menarik tangan Luke agar pria itu mengikuti langkahnya. Isa tak ingin pria itu kembali mengulur – ngulur waktu mereka agar akhirnya, Isa tau, pria itu pasti mengulur waktu agar mereka tak jadi mengunjungi Aurora
Dengan rasa terpaksa yang begitu dalam, Luke melangkahkan kakinya mengikuti langkah kecil Isa. Hal pertama yang dilihatnya saat memasuki kamar itu adalah sosok wanita yang sangat tidak disukainya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan berbinar.
Hell…!
Apa wanita itu berpikir bahwa tatapannya itu akan menggoyahkan hati Luke sehingga Luke kembali jatuh ke dalam pesonanya? Shit…! Nampaknya wanita itu tak pernah bisa belajar dari masa lalu. Tidak taukah wanita itu jika tatapannya itu semakin membuat Luke muak?
Tangan Isa di dalam genggaman Luke langsung terlepas ketika tatapan Isa bertemu dengan tatapan wanita ular itu. Istrinya itu berjalan mendekati wanita itu, sedangkan Luke memutuskan untuk berdiam diri di tempatnya tanpa mau repot – repot menatap wanita itu apalagi menemui wanita itu
“Isa… Issabele… maafkan aku…”
Tangisan wanita ular itu langsung pecah ketika dirinya melihat Isa berjalan di dekatnya.
Wah… kemampuan acting wanita ular itu semakin lama semakin meningkat.
__ADS_1
“Jangan menangis lagi… semuanya sudah terjadi, tangisan tak akan mengubah apapun…” ucap Isa sembari menatap Aurora dengan tatapan mengasihaninya.
Sebagai wanita yang saat ini sengan mengandung, Isa tau… Aurora pasti mengalami rasa kesedihan yang luar biasa. Wanita itu sudah dua kali kehilangan buah hatinya yang bahkan belum sempat menghirup manisnya udara dunia ini. Wanita itu pasti berpikir bahwa dirinya sudah gagal untuk menjadi wanita yang seutuhnya
“Maafkan aku…” ucap Auroa dengan tangisannya yang semakin menggema di ruangan itu
Isa meringis kecil.
“Maaf… aku tak bisa memaafkanmu… tindakanmu ini sudah terlalu keterlaluan” ucap Isa dengan penuh penyesalan
Mendengar ucapan Isa, tangis Aurora semakin menggema. Tangan wanita itu yang dihiasi oleh infuse langsung bergerak untuk menggenggam tangan Isa
“Maaf… tolong maafkan aku…”
“Aurora, aku bukanlah Tuhan yang bisa memaafkan kesalahan seseorang dengan mudah. Aku hanya manusia biasa yang naïf dan egois, aku… aku tak bisa memaafkanmu semudah ini. Tidak kah kau sadar jika tindakanmu ini sudah mendatangkan banyak bencana? Kau sudah membuat dokter Margareth dipecat, kau sudah merusak rasa percaya Luke dan rasa percayaku dan yang paling parah… kau kehilangan bayi yang sudah dipercayakan oleh Tuhan kepadamu”
“Maaf… aku memang tidak pantas dimaafkan…” ucap Aurora sembari menarik tangan Isa yang berada di genggamannya menuju ke depan wajahnya
Cup.
Aurora mencium telapak tangan Isa dengan penuh penyesalan.
“Aurora!” sentak Isa sembari menarik tangannya. Sungguh ia terkejut dengan perbuatan Aurora tersebut
“Jika aku tak bisa mendapatkan permintaan maafmu…. Setidaknya berikan aku rasa bebas dari semua penderitaan ini…” ucap Aurora ditengah – tengah isakannya
Isa yang tak tahan dengan isakan itu tanpa pikir panjang langsung merengkuh tubuh Aurora. Isa mencoba memberikan pelukan hangat pada wanita yang nampaknya sudah terlihat putus asa tersebut
“Terimakasih…” ucap Aurora sembari membalas pelukan Isa dengan erat
“Ya…” ucap Isa lembut
“Terimakasih karena sudah membuat hidupku berantakan”
Deg.
Jantung Isa langsung berdegub kencang.
Bugh!
Belum sempat Isa menarik tubuhnya yang dipeluk erat oleh Aurora. Tangan wanita itu langsung meraih gelas kaca yang ada di dekatnya dan membenturkannya tepat di atas kepala Isa
“ISA!”
__ADS_1