
Cup… cup…cup…
Suara kecupan berulang – ulang dan rasa geli di perutnya membuat Isa terusik dari mimpinya. Saat Isa membuka matanya, dia melihat kepala Luke sedang berada di balik kaus yang dipakainya
“Luke?” panggil Isa sambil mengelus – elus kecil puncak kepala Luke yang ditutupi oleh kausnya
Panggilan Isa itu dibalas dengan sebuah gumaman oleh Luke.
Isa tersenyum kecil saat ia merasakan perutnya sangat geli karena ulah bibir dingin Luke.
“Luke, sudah… geli!” ucap Isa sambil menjambak pelan rambut Luke
Bukannya berhenti, Luke malah semakin gencar memberikan kecupan – kecupannya di ata perut Isa
“Luke!” panggil Isa geram sambil menjambak kuat rambut Luke
“****!” adu Luke saat dirinya merasa rambutnya akan rontok dari kepalanya akibat jambakan kuat dari Isa
Bugh!
Saat mendengar Luke mengucapkan kata kasar itu, dengan refleks, Isa langsung memukul kepala Luke
“Aduh…” ucap Luke saat dirinya menerima pukulan dari Isa di kepalanya. Rasanya, istrinya itu tak hanya ingin merontokkan rambut di kepalanya, tapi juga istrinya itu ingin memecahkan kepalanya.
“Luke, keluar!” ucap Isa dengan penuh penekanan
Karena tau mood Isa akan semakin memburuk jika Luke tidak menuruti perkataannya, oleh karena itu Luke keluar dari kaus Isa.
Setelah keluar dari kaus Isa, Luke langsung menggulingkan badannya ke samping perut Isa. Kedua tangannya yang kekar langsung memeluk perut Isa
“Isa… kenapa perut mu belum membesar?” tanya Luke sambil menatap perut Isa yang masih terlihat rata, sama seperti saat Isa belum hamil
“Are you crazy? Kandunganku masih berusia 8 minggu, bagaimana perutku bisa membesar?” ucap Isa dengan sebuah kernyitan di dahinya
“Kapan perutmu akan membesar?”
“Aku tak tau”
“Kenapa kau tak tau?” tanya Luke sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Isa
“Karena aku belum pernah hamil” jawab Isa dengan wajah datarnya
Mendengar jawaban Isa, Luke menggangguk – anggukkan kepalanya. Benar juga! Bagaimana bisa Isa tau di usia berapa kandungannya akan membuat perutnya membesar?
“Haruskah kita mengeceknya ke dokter?” usul Luke
“Bukankah 2 minggu yang lalu kita sudah melakukan pengecekan?” tanya Isa binggung
“Apa masalah kalau aku mengecek keadaan bayi kita lagi? Tidak ada yang melarangnya kan? Kalau bisa, kita lakukan pengecekan 1x seminggu!”
__ADS_1
Bugh!
Sebuah pukulan kembali melayang ke atas kepala Luke
“Isa!” ucap Luke tak terima sambil mengernyit binggung saat menatap raut kesal Luke
Apa yang salah dengan perkataan Luke tadi? Bukankah Luke mengatakan hal itu untuk kebaikan bayi mereka? Seharusnya Isa merasa senang.
“Bagaimana bisa kau segampang itu mengatakan bahwa kita akan melakukan pengecekan 1x seminggu?”
“Karena aku adalah Lukas Averanno Seranno” ucap Luke dengan mantap
Isa memejamkan matanya sebentar untuk menetralkan kemarahannya. Kenapa suaminya ini seperti ini? Ditanya apa, dijawab apa.
“Luke, kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal itu. Apakah kau tidak berpikir bahwa dokter Zen akan bosan melihat kita?”
“Untuk apa dia bosan? Kita kan mengantarkan uang untuknya, seharusnya dia merasa senang” jawab Luke
“Lagipula, aku berpikiran untuk mengganti dokter kandunganmu” celetuk Luke lagi
“Mengganti dokter Zen maksudmu?”
“Ya”
“Kenapa? Bukankah kau mengatakan jika dokter Zen adalah lulusan terbaik dari Harvard University? Untuk apa mengganti dokter sepintar itu?” tanya Isa binggung
“Tebaklah… menurutmu, kenapa aku berpikiran untuk mengganti dokter Zen?” tanya Luke
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Luke terkejut sambil menjauhkan dirinya dari perut Isa
“Dokter Zen itu sempurna. Dia tampan, pintar, sabar walaupun dia agak dingin”
Mendengar ucapan itu, Luke langsung mendengus kesal. Entah kenapa, dirinya merasa tidak suka jika Isa memuji pria lain di hadapannya. Perasaan ini biasanya dijabarkan oleh banyak orang dengan sebutan cemburu.
“Sepertinya, keputusanku untuk menggantinya adalah hal yang tepat” ucap Luke sambil bangkit dari posisi tidurnya dan duduk tegak di atas tempat tidurnya
“Hah? What do you mean, sir?” tanya Isa binggung dengan sebuah kernyitan di dahinya. Menurutnya, daritadi ia tidak ada mengatakan sesuatu yang salah tentang dokter Zen.
“Isa, sekarang bangun, mandi dan berpakaianlah, kita akan melakukan pengecekan” tandas Luke
“Dengan dokter Zen kan?” tanya Isa lancar
Mendengar pertanyaan Isa, Luke langsung melempar tatapan tidak sukanya pada Isa. Mungkin, jika Luke memberikan tatapan tidak suka itu padanya 4 bulan yang lalu, Isa pasti akan merasa takut, tapi sekarang… tatapan itu tidak berarti apa – apa untuk Isa, dia tidak merasa takut sedikit pun
“Apa kau menyukai si Zen itu, huh?” tanya Luke sambil menajamkan matanya
Bukannya merasa terintimidasi dengan tindakan Luke, Isa malah menatap Luke dengan tatapan aneh
“Semua wanita pasti mudah menyukai tipe pria seperti Zen, belum lagi dia adalah dokter kandungan. Istrinya di masa depan pasti sangat beruntung, istrinya tak perlu repot – repot harus melakukan pengecekan kehamilan ke rumah sakit atau tempat praktek dokter”
__ADS_1
Mendengar ucapan Isa, tatapan Luke semakin mendingin.
Isa semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Luke, mengapa pria itu memberikan reaksi seperti itu? Bukankah Isa mengatakan suatu kebenaran?
“Apa kau suka dengannya?” tanya Luke dengan nada dingin
“Bukankah sudah kukatakan tadi, semua wanita pasti mudah menyukainya! Sudah pasti aku adalah salah satu dari para wanita itu” ucap Isa tanpa pikir panjang
“Oh… I see” ucap Luke dingin
Tanpa mengatakan apapun, Luke bangkit dari tempat tidur dan berjalan meninggalkan Isa yang masih berada di atas tempat tidur yang terasa terlalu hangat untuk ditinggalkan
Isa menatap gerak – gerik suaminya itu secara terang – terangan. Salah satu alisnya langsung menaik secara otomatis saat ia melihat suaminya itu membawa pakaian dari walk in closet mereka dan membawanya keluar
“Untuk apa kau membawa pakaian itu?” tanya Isa binggung
“Untuk dipakai” jawab Luke pendek tanpa mau menatap Isa
Isa mengernyitkan dahinya saat menerima jawaban pendek itu dari Luke
“Anak balita juga tau itu untuk dipakai”
“Kalau anak balita juga tau, lalu untuk apa kau menanyakannya padaku?” tanya Luke sambil menatap Isa dengan datar
Mendengar pertanyaan Luke, Isa hanya diam dan memberikan tatapan binggungnya kepada Luke
“Aku akan mandi dan bersiap di bawah, kau bersiap lah juga. Kita akan melakukan pengecekan ke tempat dokter yang kau sukai itu” jelas Luke
Tanpa mau repot – repot menunggu jawaban dari Isa, Luke langsung berjalan meninggalkan kamar itu dengan langkah kaki yang cepat, seolah – olah dia akan terlambat dalam rapat penting jika dia berjalan normal.
Bum!!!
Suara pintu kamar yang ditutup sangat kuat membuat Isa sempat berjengit kaget.
“Astaga! Apa yang terjadi dengan pria itu?” ucap Isa tak habis pikir sambil menatap pintu kamar mereka yang telah menjadi korban sasaran kemarahan pria itu
“Lihat daddy mu itu, dia sangat aneh. Apa kau tidak malu punya daddy seperti itu?” tanya Isa pada bayinya sambil mengusap pelan perutnya yang masih datar
“Tidak, bagaimanapun juga, dia kan daddyku. Kalau mommy, apakah mommy malu punya daddy?” tanya Isa dengan suara bayinya. Isa bertindak seolah – olah bayinya itu dapat meresponn pertanyaan yang tadi ia lontarkan kepadanya
“Tidak, untuk apa mommy malu mempunyai daddymu. Daddymu kan pria yang mommy cintai dan sayangi” ucap Isa yang diakhiri dengan kekehan kecil
.
.
.
.
__ADS_1
.
Luke kenapa sih? :v