Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 16


__ADS_3

“Isa!!! You did it!!” ucap Debbie heboh sambil memeluk Isa yang baru saja sudah keluar dari ruang ganti untuk mengganti busana terakhirnya dengan pakaian yang dipakainya saat pertama kali menginjakkan kakinya ke Grand Palais.


Isa hanya tersenyum kecil dan membalas pelukan Debbie.


Saat ini, Isa merasa bahwa kakinya sangat sakit. Ya, kakinya sakit karena diharuskan berjalan sambil memakai heels dengan tinggi 4 cm yang sangat menyakitkan bagi kaki Isa yang tidak pernah memakai heels . Selain itu, Isa merasa perutnya sangat sakit karena sedari tadi dia mengenakan korset yang bertujuan untuk memperamping perutnya, padahal Isa merasa bahwa perutnya sudah ramping, bahkan terlalu ramping, istilah kasarnya, Isa memiliki badan yang kurus.


“Bagaimana kalau aku akan mentraktirmu minum di club baru?” ajak Debbie dengan matanya yang sudah berbinar – binar.


Isa tersenyum miris saat mendengar ajakan sahabatnya itu. Sejak kapan sih, Debbie tidak selalu mengajaknya ke club? Satu hal yang tidak pernah lepas dari jiwa Debbie adalah club.


“Aku tidak akan ke club malam ini” tolak Isa sambil tersenyum kepada Debbie


“Yakh?? Kenapa???” tanya Debbie sambil memanyunkan bibirnya


“Aku merasa sangat lelah. Kakiku sepertinya sudah bengkak karena berlama – lama memakai heels” ucap Isa sambil memegang kakinya yang sudah berwarna kemerah – merahan.


“Padahal aku hendak mengajakmu ke club Korea yang baru saja diresmikan malam ini. Aku sangat ingin meminum soju denganmu” ucap Debbie dengan bersemangat sambil memegang kedua bahu Isa dengan erat, yang membuat Isa sedikit meringis.


“Kita bisa pergi kapan – kapan” ucap Isa sambil tersenyum kecil.


“Ya… yasudah. Dengan siapa kau akan pulang? Ini sudah larut malam” ucap Debbie masih sambil tersenyum. Namin, Isa dapat menangkap raut kekecewaan dari wajah Debbie.


“Aku akan memesan transportasi online”


“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku masih harus mentraktir staff - staff dan model – model lain” ucap Debbie dengan raut wajah bersalahnya


“Tidak apa – apa. Aku akan baik – baik saja, kok. Aku ini sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku sendiri” ucap Isa sambil tersenyum sumringah.


“Nona Debbie!” panggil para staff yang sudah berkumpul tidak jauh dari tempat Debbie dan Isa.


Debbie menatap kumpulan para staff itu. Seketika, Debbie merasa tidak rela untuk pergi bersama para staff itu dan meninggalkan Isa.


Isa yang merasakan kegundahan Debbie itu, langsung menyentuh pelan tangan Debbie dan tersenyum kecil kepada Debbie. Senyuman Isa tersebut membuat Debbie merasa sedikit lebih tenang.


“Aku pergi dulu. Hati – hati” ucap Debbie sambil menepuk pelan lengan Isa.


Isa melambaikan tangannya pada Debbie yang sedang berlari menemui para staff dan para model yang sudah menuggunya sejak tadi.


Setelah Debbie sudah benar – benar pergi dengan para staff dan para model, Isa langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari Grand Palais.


Sesampainya di luar gedung Grand Palais, Isa langsung berjalan menuju ke sebuah halte yeng berisi tempat duduk yang disediakan untuk orang – orang yang sedang menunggu transportasi. Biasanya, pada waktu – waktu aktif (seperti pagi, siang, sore), jalanan itu akan ramai oleh mobil – mobil taxi yang berlalu lalang.


Sungguh, keadaan malam ini sungguh sepi daripada malam – malam biasanya. Isa tak perlu heran mengenai hal itu, mengingat sekarang sudah pukul 01.00 dini hari. Susunan acaran peragaan busana yang panjang dan kegiatan bersih – bersih di akhir peragaan busana membuat Isa terpaksa harus pulang larut malam ke rumahnya. Sebenarnya, Isa sudah memprediksi hal ini. Dia tidak perlu terkejut lagi.


“Sepertinya aku harus menghubungi Minnie. Mereka pasti sedang menungguku saat ini” gumam Isa sambil mengambil ponselnya dari sling bagnya.

__ADS_1


Isa menghidupkan ponselnya. Saat ini dia berniat untuk menelpon Minnie dan memberi kabar kepada Minnie bahwa dia akan tiba di rumah mereka sebentar lagi.


Blush!


Belum sempat Isa menekan tombol memanggil, ponselnya kini sudah raib dari tangannya. Kejadiannya begitu cepat.


“Thief!” teriak Isa heboh sambil berlari mengejar seorang pria berpakaian ala – ala anak punk yang baru saja merampok ponselnya.


Tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Isa tetap berteriak dan mengejar pria itu. Mungkin, Isa harus bersyukur kepada dirinya yang memutuskan memakai flat shoes hari ini, sehingga kini Isa dapat mengejar pencuri tersebut tanpa harus takut dirinya terjatuh.


“Hei! Berhenti!!!” teriak Isa sambil melempar pencuri tersebut dengan botol minum aluminiumnya secara asal.


Bugh!


Isa mengenai sasarannya! Sungguh, tidak disangka!


Isa langsung mempercepat kecepatan larinya saat melihat pencuri tersebut sedang diam di tempatnya sambil memegang kepalanya yang baru saja terkena lemparan botol minum aluminium dari Isa.


“Berikan ponselku!!! Atau aku akan memanggil polisi!!!” ancam Isa saat jarak antara dirinya dan pencuri tersebut tinggal beberapa meter lagi.


Merasa kurang beruntung, pencuri tersebut langsung meletakkan ponsel milik Isa di jalan trotoar dengan tergesa – gesa. Kemudian, pencuri tersebut berlari meninggalkan Isa. Sepertinya dia takut Isa akan menelpon polisi dan melaporkan pencuri tersebut.


“Aish… aku yang sudah kurus ini pasti akan menjadi lebih kurus lagi” keluh Isa sambil mengelap butir – butir keringat yang sudah memenuhi dahi dan lehernya.


“Tapi tak apa… yang penting, aku sudah mendapatkanmu kembali” ucap Isa sambil tersenyum kecil dan memeluk erat ponselnya yang sudah kembali kepadanya dengan keadaan tanpa lecet sedikit pun.


“Eh??? Kenapa mati?” ucap Isa terkejut saat dia tidak mendapati ponselnya menyala, walaupun dirinya sudah menekan tombol power di ponselnya.


Dengan berat hati, Isa kembali memasukkan ponselnya itu ke dalam sling bagnya. Isa yakin 100%, jika ponselnya itu pasti sudah kehabisan daya. Ugh… kenapa disaat Isa mendapatkan sebuah keberuntungan, dirinya pasti akan langsung mendapatkan double kesialan.


Isa menghembuskan napasnya dengan gusar. Kini, Isa yakin bahwa dia benar – benar harus berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya.


Isa mengedarkan pandangannya dan kembali menghembuskan napasnya dengan gusar. Kini, Isa sudah berada sangat jauh dari area Grand Palais. Sepertinya, Isa benar – benar harus melakukan olahraga pada malam yang dingin ini.


Isa melangkahkan kakinya dengan cepat dari kawasan itu. Isa yakin, bahwa dia akan menghabiskan waktu di perjalanan selama 30 menit.


Selama di perjalanan, Isa mewanti – wanti keadaan di sekelilingnya. Kedua bola mata hazelnya selalu menyapu setiap tempat yang di lewati. Tentu saja, Isa merasa sangat takut saat ini. Tidak, Isa tidak takut dengan hantu, dia lebih takut dengan para penjahat yang mungkin saja bisa melakukan tindakan – tindakan kriminal kepadanya.


Semakin lama Isa menapaki kakinya di jalanan sepi yang dilengkapi oleh lampu temaram itu, semakin Isa merasa bahwa dirinya sedang diikuti oleh orang lain.


Setiap Isa mengedarkan pandangannya, Isa tidak mendapati siapapun di dekatnya. Hal itu membuat Isa merinding. Isa mulai menebak – nebak hal negative yang akan terjadi padanya dan pikiran – pikiran itu membuat tangan Isa menjadi lebih dingin.


Hingga…


“Humph!!!!”

__ADS_1


Isa meronta – ronta dengan sekuat tenaganya saat dia merasakan sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang.


“Sssh…”


Itu suara pria!


Isa memukul tangan pria itu yang membekap mulutnya. Namun, apa daya… Isa hanyalah seorang wanita lemah yang pasti akan kalah dengan pria itu., sekuat apapun Isa mencobanya.


Di tengah – tengah pergolakan itu, pria itu dengan seenaknya menganggkat tubuh Isa dan menggendong Isa seperti sedang memikul karung beras.


“Lepaskan aku, bastard!! Aku akan menelpon polisi!” ronta Isa sambil memukul kuat punggung lebar milik pria itu.


Pria itu hanya diam membisu dan tidak menjawab ucapan ancaman yang dilontarkan oleh Isa. Baginya, ancaman – ancaman itu tidak berarti apapun. Dengan segala kekuasaan yang sudah dimilikinya saat ini, pria itu dapat melakukan apapun.


Pria itu berjalan dengan langkah cepat menuju ke sebuah mobil berwarna hitam yang berada di sebuah pelantaran halaman sebuah flat.


Sesampainya di dekat mobil itu, pria itu membuka pintu mobil mewah itu dengan kasar, seolah – olah dia tidak peduli dengan berapa banyak uang yang telah digelontorkannya untuk mendapatkan mobil mewah itu.


Bruk!!!


Pria itu melempar tubuh Isa dengan kasar ke bangku penumpang mobil mewah itu, yang sudah di desain dengan sedemikian rupa, sehingga bangku penumpang mobil mewah itu dapat berbentuk seperti sebuah kasur mini.


“Who are you, hah!!” teriak Isa dengan kasar sambil menatap pria itu.


Perlu kalian tau, saat ini, pria itu berpakaian serba hitam. Mulai dari sneakers hitam, riped jeans hitam, t-shirt hitam, masker hitam, kaca mata hitam hingga topi hitam. Pria itu tidak ada bedanya dengan seekor bunglon, yang selalu berhasil memanipulasi orang – orang di sekitarnya dengan perubahan wujud yang bisa dikatakan sempurna.


Pria itu lagi, lagi tidak menjawab pertanyaan Isa. Pria itu memilih diam dan berpindah posisi menuju bangku pengemudi.


Merasa dirinya terancam, tanpa pikir panjang… Isa menarik dengan kasar, kacamata yang dipakai oleh pria itu.


Dan…


Betapa terkejutnya Isa saat melihat sosok pria dibalik kejadian yang dialaminya saat ini.


“Kau!!!”


.


.


.


Menurut kalian, siapa orang yang menangkap Isa? Komen dibawah ya....


**Like dan komen kalian adalah vitamin cerita ini. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk cerita ini**

__ADS_1


 


 


__ADS_2