Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 94


__ADS_3

Aurora memandang taman rumah sakit yang terlihat langsung dari jendela kamar rawat inapnya. Dengan bantuan para perawat yang tadi datang untuk melakukan pengecekan rutin pada tubuh Aurora, akhirnya Aurora diletakkan di sebuah kursi roda. Dengan kursi roda itu, Aurora dapat bergerak bebas dan disinilah dirinya berakhir. Di jendela kamar rawat inapnya


Jarum jam di jam dinding yang terpasang di ruangan itu sudah menunjukkan pukul 08. 10 PM. Jika dihitung – hitung, sudah  3 jam Sean meninggalkannya. Apakah pria itu benar – benar sedang merokok? Atau pria itu sudah pulang ke rumahnya dan menghabiskan waktunya bersama dengan pacar pria itu


Senyum tipis Aurora timbul


Alasan kedua yang dilontarkan oleh hatinya sangat terdengar masuk akal. Jika diingat – ingat, apa ada pria yang benar – benar mau menerima Aurora apa adanya selama dirinya hidup? Aurora rasa, tidak ada.


Tangan Aurora bergerak untuk membuat pola – pola abstrak di atas kaca itu. Suasana malam itu yang sangat dingin membuat para penghuni rumah sakit itu tak ada yang berani untuk memenuhi taman itu


Taman itu terlihat sepi namun pancaran sinar dari banyak lampu yang berada di taman itu membuat taman itu seolah – olah ramai.


Pikiran Aurora kembali melayang pada percakapannya dengan Sean, sebelum pria itu benar – benar meninggalkan Aurora


“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu” ucap Aurora dengan suara bergetar


Kedua tangannya yang terasa basah, digosokkannya pada permukaan selimut yang menutup setengah badannya itu


“Tanyakanlah”


“Apa kau tidak berniat untuk kembali merebut Issabele dari Luke?”


Dahi Sean langsung mengkerut dalam saat mendengar pertanyaan Aurora itu. Jantung Aurora berdegub dengan kencang dan tak menentu saat melihat kerutan dalam di dahi pria itu. Apa pria itu tidak menyukai pertanyaan Aurora? Apa pertanyaan Aurora terlalu bersifat pribadi?


“Jika kau tidak ingin menjawabnya, kau bisa tidak menjawabnya. Kau bisa mengganggap bahwa sedari tadi aku bergurau” ucap Aurora sambil tersenyum kikuk


“Tidak”


Mendengar ucapan Sean tersebut, kini, Aurora yang malah mengernyitkan dahinya


“Apa?” tanya Aurora yang nampaknya binggung dengan ucapan Sean itu



“Jawabannya tidak. Aku tidak ingin merebut Isa dari Luke” jawab Sean tegas



Glek


Aurora menegak ludahnya dengan kasar. Masih segar diingatan Aurora, jika pria yang sedang berada di hadapannya itu sangat terobsesi untuk mendapatkan kembali Isa


“Bukannya sejak dulu kau menginginkannya untuk kembali padamu?” tanya Aurora penasaran


Sean menghela napasnya kasar saat mendengar pertanyaan Aurora tersebut



“Sampai sekarang pun aku masih menginginkannya, jika kau ingin tau” ucap Sean


“Lalu… kenapa kau tidak berniat untuk merebutnya kembali?”

__ADS_1



“Aku sangat ingin merebutnya, tapi aku ingat, jika aku berhasil merebutnya, aku hanya bisa mendapatkan raganya saja, aku tidak akan mendapatkan kembali hatinya. Padahal, kehangatan hatinya lah yang sangat kubutuhkan” jelas Sean sambil tersenyum kecil



“Tapi, perasaan seseorang dapat berubah sewaktu – wak---



“Ya, perasaan seseorang dapat berubah sewaktu – waktu. Oleh karena itu, perasaanku kepada Isa sudah mulai memudar” potong Sean


Aurora memberikan tatapan tak terbacanya pada Sean



“Jika diingat – ingat, aku sudah masuk terlalu jauh sebagai orang ketiga dalam hubungan Isa dan Luke. Mungkin, ketika mereka masih belum memiliki status yang jelas, aku tidak pernah merasa bersalah. Namun sekarang… aku merasa bersalah dan merasa malu atas diriku sendiri…”


“Isa adalah seorang wanita yang sudah menikah dan dia sangat mencintai Luke, selain itu, saat ini Isa sedang mengandung buah cinta mereka. Kebahagiaan yang sangat indah seperti itu, apa pantas dirusak olehku?” tanya Sean sambil tersenyum kecil


“Ah… aku terlalu banyak berbicara… Kalau begitu, aku keluar dulu. Aku sudah tak tahan untuk tidak merokok” lanjut Sean yang diakhiri dengan sebuah tawa kecil


“Ya…” gumam Aurora sembari menggangguk samar


Aurora menghela napasnya dengan kasar


Perasaan seseorang dapat berubah sewaktu – waktu


Jika perasaan seseorang itu memang benar dapat berubah, namun kenapa perasaan Aurora pada Luke tak pernah bisa berubah? Aurora sudah meninggalkan Luke tanpa mengatakan sepatah katapun, Aurora sudah membunuh janin yang sangat disayangi oleh Luke, Aurora sudah tidak menemui pria itu bertahun – tahun… tapi kenapa perasaan itu tidak pernah hilang?


Aurora yakin, dia sudah berusaha keras menekan perasaan itu. Tapi kenapa… setiap mendengar nama Luke saja, ada sesuatu yang meletup – letup dalam hatinya.


Apa karena dirinya sudah memiliki terlalu banyak kenangan indah dengan Luke, sehingga dirinya tak mampu melupakan pria itu dalam hidupnya?


Namun, jika memang mereka memiliki banyak kenangan indah, kenapa Luke bisa melupakannya? Semua ini terasa tidak adil.


Sreett…


Suara sebuah kain panjang yang diletakkan dengan lembut di atas pundak Aurora membuat Aurora tersentak dari lamunannya


“Kenapa kau berada disini? Seharusnya kau saat ini sedang tidur di tempat tidur. Kondisimu masih belum baik”


Itu suara Sean!


Aurora langsung menolehkan kepalanya untuk memandang wajah pemilik suara itu. Ia ingin memastikan bahwa pria yang baru saja berbicara dengannya benar – benar Sean.


“Sean?!?” ucap Aurora terkejut saat melihat wajah Sean yang nampaknya sudah lebih fresh


“Ada apa dengan wajahmu itu? Seperti baru melihat hantu saja” ucap Sean sambil menggeleng pelan dan melangkahkan kakinya untuk mendorong kursi roda milik Aurora menuju ke tempat tidur wanita itu


“Kukira kau akan meninggalkanku” cicit Aurora pelan

__ADS_1


“Cih… kenapa pikiranmu negatif sekali” ucap Sean dengan wajah datarnya


“Aku akan menggendongmu… tak apa – apa, kan?” tanya Sean


Aurora menggangguk pelan sebagai tanda persetujuannya


Dengan hati – hati, Sean mengangkat tubuh Aurora dari atas kursi roda dan meletakkannya ke atas tempat tidur itu


“Tubuhmu ringan sekali untuk ukuran wanita yang sedang hamil. Apa kau sedang diet?” tanya Sean sembari mengernyitkan dahinya saat dirinya merasa tubuh Aurora sangat ringan


“Aku tidak sedang diet”


“Lalu… kenapa tubuhmu terasa sangat ringan?”


“Eumh… itu mungkin karena aku tidak nafsu makan beberapa hari belakangan ini… selain itu, aku sering merasa tertekan” jawab Aurora jujur sambil tersenyum


“Kau tau kan kalau wanita hamil harus menjaga makanannya dan pikirannya, anakmu pasti akan duluan merasakan sakit, jika kau tidak menjaga makanan dan pikiranmu” ucap Sean ketika pria itu tengah melangkahkan kakinya menuju ke kursi yang tak jauh dari tempat tidur Aurora


Aurora tersenyum kecil. Rasanya, baru kali ini ada pria yang menasihati soal kandungannya kali ini.


“Oh iya… kau darimana?” tanya Aurora penasaran


“Aku baru kembali dari hotel. Aku mandi dan menyelesaikan urusan dengan wanita” jawab Sean santai


“Urusan?”


“Aku baru saja putus”


Aurora langsung membelalakan matanya saat mendengar ucapan Sean tersebut


“Putus?”


“Ya. Alasanya simple, karena aku meninggalkannya sendirian di café tempat kami berkencan”


“Apa kau meninggalkannya karena kau mendapatkan panggilan dariku?”


“Jika kau ingin jawaban jujur… maka jawabnnya ya”


Mendengar ucapan Sean tersebut, Aurora meringis pelan


“Maaf…”


“Tak perlu meminta maaf, lagipula, aku sudah tidak menyukainya lagi” ucap Sean sembari mengendikkan bahunya


“Hah?”


“Aku sudah memiliki wanita baru lagi yang nampaknya sangat kusukai” ucap Sean sembari tersenyum kecil dan menatap Aurora dengan lekat


 


 

__ADS_1


__ADS_2