Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 21


__ADS_3

Sebuah hembusan napas di tengkuk Isa membuat Isa terbangun dari mimpinya. Saat Isa membuka matanya, Isa dapat menemukan Luke sedang tidur dengan wajah polosnya sambil memeluk Isa dengan erat, seolah – olah Luke takut kehilangan Isa.


Melihat wajah polos Luke, rasanya Isa ingin tertawa. Wajah polos itu akan bergani dengan wajah sangar saat Luke sudah bangun nanti.


“Sudah selesai menggagumi ketampananku, little girl?”


Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Luke itu hampir saja membuat Isa terkena serangan jantung karena terkejut.


“Apa kau sudah bangun dari tadi?” tanya Isa binggung.


“Ya…. Lebih tepatnya, aku sudah bangun sejak jam 3.45 AM, tadi” ucap Luke sambil menempelkan tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuh Isa.


“Kenapa kau bangun begitu cepat? Ini kan hari minggu. Apa kau juga bekerja di hari minggu, seperti ini?” tanya Isa sambil mengatur posisinya agar posisi tidurnya lebih nyaman.


“Tidak. Tapi aku bekerja di luar”


“Bekerja di luar? Maksudmu, bekerja sampingan? Apakah orang kaya sepertimu masih mengerjakan pekerjaan sampingan? Tidak usah bekerjapun, uangmu tidak akan pernah habis” ucap Isa dengan panjang lebar.


Ocehan Isa itu membuat Luke tersenyum.


“Apa kau tidak penasaran dengan pekerjaan sampinganku itu?” tanya Luke sambil bangkit dari posisi tidurnya.


“Apa jangan – jangan… kau adalah seorang Bandar narkoba?” tebak Isa sambil menatap ngeri ke arah Luke.


“Bandar narkoba? Tentu saja tidak! Menyentuh narkoba saja aku tidak pernah, bagaimana aku bisa jadi Bandar narkoba?!” ucap Luke sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.


“Kalau bukan Bandar narkoba… apa, jangan – jangan kau adalah seorang mafia? Kau memiliki sebuah markas di ujung kota ini, yang jauh dari keramaian. Dan di tempat itu, kau menyembunyikan berbagai jenis senjata illegal. Kau---


Duk!


Belum sempat Isa menyelesaikan kalimatnya, Luke sudah memukul pelan dahi Isa dengan jari telunjuk Luke.


“Aw… kenapa kau melakukan itu kepadaku?” tanya Isa kesal sambil mengusap dahinya. Memang, itu tidak sakit… tapi tetap saja Isa merasa kesal.


“Pikiranmu sangat liar. Dibandingkan menjadi seorang desainer, kau lebih baik menjadi seorang writer” ucap Luke sambil tersenyum senang.


Plup!


Isa  memukul kepalanya.


“Shit! Aku lupa kalau aku masih harus bekerja!”ucap Isa dengan heboh


Tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, Isa melompat dari tempat tidur.


“Pelan – pelan. Ini hari minggu, kau tidak perlu bekerja” ucap Luke sambil menuruni tempat tidur dengan santai.


“Luke… apa aku bisa pulang?” tanya Isa dengan lamat – lamat sambil menggigit bibirnya. Isa sangat takut dengan respon yang akan diberikan Luke kepadanya. Apakah Luke akan kembali marah lagi?

__ADS_1


Saat Luke menjulurkan tangannya, dengan refleks, Isa menutup matanya. Dia tidak ingin menatap tangan besar dan kekar itu mendarat mulus di pipinya, nanti.


“Eh…? Kenapa kau menutup matamu?” tanya Luke binggung sambil mengelus pelan puncak kepala Isa.


“Apa kau tidak jadi menamparku?” tanya Isa dengan nada yang gemetaran


“Menamparmu? Untuk apa?” tanya Luke binggung


“Karena aku telah melakukan kesalahan…. Eumh… maybe” ucap Isa sambil memberanikan dirinya untuk membuka matanya.


Luke menatap mata hazel milik Isa yang memancarkan aura ketakutan. Melihat hal itu, Luke menghembuskan napasnya dengan pelan.


Dengan tarikan lembut, Luke menarik Isa ke dalam pelukannya.


“Apakah aku semengerikan itu di dalam pikiranmu? Maaf jika aku telah membuatmu ketakutan. Kejadian tempo hari sungguh berada di luar jangkauanku. Aku merasa tertekan beberapa hari ini” ucap Luke lembut sambil mengusap pelan punggung Isa.


“Aku memaafkanmu, Luke… Aku juga minta maaf, kalau beberapa hari ini sikapku kurang baik kepadamu. Aku sadar, kalau beberapa hari ini aku menjadi pembangkang dan egois” ucap Isa sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Luke.


“Baiklah… sesuai permintaanmu tadi, aku akan mengantarmu pulang hari ini”


Mendengar ucapan Luke, Isa langsung menarik tubuhnya dari pelukan Luke dan menatap Luke dengan tatapan kegirangan.


“Sungguh?” tanya Isa menggebu – gebu


“Iya… aku janji, tapi sebelum aku mengantarmu pulang… aku ingin menghabiskan seluruh waktuku pada hari ini bersamamu” ucap Luke sambil tersenyum dan menyelipkan rambut Isa yang berantakan ke belakang telinga Isa


“Bukannya hari ini kau akan melakukan pekerjaan sampinganmu?” tanya Isa binggung


“Biar kuberitahu kepadamu, pekerjaan sampinganku itu adalah membahagiakanmu. Pekerjaan yang paling mengasyikan di dunia ini”


“Kenapa hari ini kau sangat puitis? Apa kau ingin mengarang sebuah puisi?” tanya Isa sambil tertawa kecil


“Jika aku akan mengarang sebuah puisi. Itu pasti tentangmu”


“Hentikan itu! Kau membuatku mual!” ucap Isa sambil memperagakan gaya seperti sedang ingin muntah


“Wah…? Apa kau benar – benar ingin muntah?” tanya Luke menggebu – gebu sambil memegang kedua lengan Isa.


“Apa kau begitu senang melihatku muntah? Apa kau ingin mengolok – olokku?” tanya Isa sambil menyipitkan kedua matanya saat menatap Luke.


“Tidak, tidak. Aku hanya ingin memastikan apa kau benar – benar hamil atau tidak” ucap Luke


“Hamil? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” tanya Isa binggung.


“Selama kita melakukannya, aku tidak pernah memakai pengaman. Apa kau tidak pernah merasakannya?” tanya Luke


“What? Bagaimana bisa aku merasakannya? Aku juga baru pertama kali melakukannya” ucap Isa sambil menggigit bibirnya.

__ADS_1


“Kau juga tidak meminum pil, kan?” tanya Luke


Pertanyaan Luke itu dijawab dengan sebuah gelengan dari Isa.


Melihat jawaban Isa itu, senyum Luke langsung menggembang.


“Mengapa kau tersenyum?” tanya Isa binggung


“Masih ada kemungkinan kau mengandung anakku disini” ucap Luke dengan lembut sambil memegang perut datar Isa.


Melihat tindakan lembut Luke itu, Isa merasa perutnya dipenuhi oleh sejuta kupu – kupu yang sedang berterbangan.


“Apa kau tidak marah jika aku mengandung anakmu?” tanya Isa


“Untuk apa aku marah? Sebaliknya, aku akan merasa sangat bahagia. Aku akan menjadi ayah, akan ada anak – anak yang mewarnai hidupku. Rumahku tidak akan pernah senyap. Untuk apa aku marah?”  jelas Luke dengan panjang lebar.


Tes!


Sebutir ait mata berhasil lolos dari mata Isa. Isa tidak tau apa penyebab pastinya dia mengeluarkan air mata, namun satu hal yang dia tau, perkataan Luke yang baru saja didengarnya sungguh membuat hatinya terpana.


“Kenapa kau menangis? Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah? Apa kau tidak ingin mengandung anakku? Anak kita?” tanya Luke dengan raut wajah kecewa.


Melihat raut wajah Luke, Isa langsung memeluk Luke dengan erat.


“Aku sangat ingin mengandung anak kita” ucap Isa disela – sela tangisannya.


Jawaban Isa tersebut membuat Luke tersenyum lebar.


“Sudahlah jangan menangis. Wajah jelek mu akan bertambah jelek jika kau terus saja menangis” ucap Luke sambil mencubit pelan pipi Isa.


“Biarkan saja! Meskipun aku jelek, kau tetap menyukaiku” ucap Isa dengan asal.


“I love you, Isa”


“I love you too, Luke”


.


.


.


*Jangan lupa like dan komen ya... supaya author semakin semanngattt nulisnya. Thank uuuuu*


 


 

__ADS_1


__ADS_2