
Aurora membuka matanya yang terasa sangat berat. Kedua mata lentik wanita itu mengerjap beberapa kali ketika dirinya merasakan seberkas cahaya yang sangat menyilaukan tiba – tiba menghantam kedua netranya itu
Saat kedua mata itu terbuka lebar, naluri alamiah Aurora membawa wanita itu membawa tangannya untuk menyentuh perutnya yang datar
Aneh
Aurora merasakan perutnya terasa kosong, seperti tidak ada janin yang sedang bergelung disana… jangan katakan…
“Ahh… kau sudah bangun juga adikku yang cantik”
Deg
Aurora langsung memutar kepalanya dengan gerakan panik yang luar biasa. Kepanikan Aurora langsung bertambah besar ketika Aurora melihat kakaknya, Ryan… ah tidak… pria itu tak pantas disebut kakaknya…
“A… apa yang kau lakukan disini?” tanya Aurora dengan nada bicarnya yang sangat bergetar
Kedua tangan wanita itu terasa sangat dingin dan mengeluarkan banyak keringat. Kedua tangan lentik itu meremas seprai tempat tidur rumah sakit yang tengah ditidurinya. Wanita itu membutuhkan sesuatu yang bisa mengurangi rasa panik dan cemas yang tiba – tiba menyerangnya
“Apa seorang kakak tak bisa mengunjungi adiknya yang sedang sakit?” tanya pria itu, Ryan, sembari berjalan mendekati Aurora yang menatapnya dengan tatapan takut yang penuh antisipasi
Pria itu berjalan dengan santainya ke hadapan Aurora dengan rokok cerutunya yang masih menyala – nyala dan mengeluarkan asap yang sangat menyengat indra penciuman. Bagaimana bisa pria itu melakukan hal itu dengan sangat santainya? Padahal… pria itu pasti tau jika saat ini dirinya sedang berada di dalam ruangan yang sama dengan seorang wanita yang baru saja siuman
Pria itu memang benar – benar gila
“Just shut the fuk up*! Kakak mana di dunia ini yang selalu menyiksa adiknya dan tak pernah mengakui adiknya?!?” tanya Aurora dengan segenap keberanian yang masih tersisa di dalam dirinya
Sungguh, bibir Aurora bergetar ketika mengucapkan hal itu, ia takut… namun wanita itu tak bisa menahan ucapannya. Sudah cukup pria itu merusak kehidupan Aurora dan Aurora hanya bisa menatap kehidupannya hancur berkeping – keping tanpa bisa berusaha untuk memperbaikinya
“Wah, wah, wah… bibir adikku yang manis ini ternyata sudah bisa mengucapkan kata – kata kasar kepada kakaknya sendiri” ucap Ryan sambil menampilkan smirknya
Tangan Ryan terulur untuk mendekati wajah pucat Aurora. Ibu jari pria itu membelai lembut bibir pucat Aurora, meskipun bibir itu tak berwarna merah merona seperti biasanya… namun bibir itu tetap bisa membangkitkan gairah membara dalam diri Ryan.
Ryan tergoda
“Sungguh… aku merindukan, bibir ini…” ucap Ryan sembari menatap tajam bibir Aurora.
Ibu jari Ryan bergerak kesana – kemari di atas bibir lembut Aurora. Hingga akhirnya senyum smirk pria itu keluar
“Aaaakkh…!”
Aurora meringis kesakitan ketika ibu jari Ryan menekan bibir bawahnya tepat ke atas giginya. Pria itu semakin menggila ketika mendengar ringis kesakitan dari bibir Aurora.
“Aaaakkh!”
Pria itu menekan lebih kuat bibir Aurora hingga akhirnya bibir itu mengeluarkan darah segar yang warnanya begitu kontras dengan warna bibir wanita itu
“Ini lebih baik. Bibirmu sudah kembali berwarna merah” ucap Ryan dengan ibu jarinya yang bergerak untuk meratakan darah itu di atas bibir Aurora.
Aurora mati – matian menahan matanya untuk tidak meneteskan air mata. Sungguh, apa yang dilakukan oleh pria itu sangat menyakitkan.
“Tumben sekali kau tak menangis, eumh…? Ada apa, hah…?” tanya Ryan
“That is none of your business” ucap Aurora sekenanya sembari memalingkan wajahnya dari pandangan Ryan, sehingga ibu jari Ryan terlepas dari bibir Aurora yang sudah berwarna merah karena darah yang berasal dari bibir wanita itu sendiri
__ADS_1
Ryan mengangkat salah satu alisnya. Wanita yang sedang berada di hadapannya ini semakin angkuh… apa wanita itu bersifat angkuh karena tau bahwa dirinya memiliki kartu as? Tapi… bagaimana jika Ryan memberitahukan kalau kartu asnya itu sudah lenyap?
Menarik. Ryan sangat ingin melihat tangisan wanita itu
“Tapi… sepertinya, sebentar lagi kau pasti akan menangis…” ucap Ryan dengan nada menyedihkannya yang terlalu dibuat – buat
“A… apa maksudmu?” tanya Aurora terbata – bata. Sungguh, wanita itu penasaran dengan arti kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ryan.
Namun, sebisa mungkin Aurora menahan dirinya untuk tidak menatap pria itu karena Aurora tau, pria itu pasti akan tertawa di dalam hatinya saat melihat wajah pias milik Aurora
“Kau tak penasaran, eumh?”
Aurora menutup mulutnya, seolah – olah ia enggan untuk memasuki topik pembicaraan itu.
Bush.
Ryan menghembuskan asap yang berasal dari mulutnya tepat di wajah wanita itu. Sungguh, Ryan sangat jengkel saat melihat sikap Aurora yang seolah – olah tak tertarik dengan pembicaraan yang baru saja dibukanya ini
“Uhuk..! Uhuk…!”
Aurora sontak terbatuk – batuk ketika kepulan asap kotor itu tanpa sengaja terhirup olehnya.
Ini saat yang tepat.
“Adikku sayang… aku ingin memberitahukanmu satu hal… jangan terkejut ya…” ucap Ryan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat dalam
Mau tak mau, Aurora menatap kedua netra Ryan dalam – dalam
“Puji Tuhan… bayi yang akan kau jadikan sebagai kartu as itu sudah wafat…” ucap Ryan yang diakhiri dengan senyuman lebarnya yang sangat memuakkan
Deg. Deg. Deg.
“Kau berbohong…” ucap Aurora dengan nada getir
“Aku tak berbohong, bayimu sudah wafat” ucap Ryan yang puas dengan wajah frustasi milik Aurora
“Kau berbohong…” ucap Aurora lagi. Tangan wanita itu bergerak dan meraba perutnya berulang – ulang
“Dan… apa kau tau fakta menariknya? Lukasmu itu lah yang menandatangani operasi pengambilan bayi itu, padahal… bayi itu masih bisa dipertahankan..” ucap Ryan dengan nada sedihnya yang terlalu dibuat – buat
Tes
Air mata Aurora meluruh jatuh. Semua ini bukanlah kenyataan!
“Ahh… aku paham betul alasan Lukasmu itu melakukan ini. Kau tau kan jika saat ini, istrinya itu sedang mengandung buah cinta mereka… kau pikir, apa ia akan membiarkan buah cinta mereka itu tumbuh dengan buah kesalahan yang sedang kau kandung? Jika aku adalah Lukas, aku juga akan melakukan hal yang sama…” terang Ryan dengan tangannya yang bergerak untuk menepuk – nepuk puncak kepala Aurora
Aurora tak bisa berpikir jernih. Kepalanya terasa sangat kacau.
“Kau pembunuh!” teriak Aurora menggelegar kepada Ryan
Mata Ryan membola ketika mendengar teriakan Aurora tersebut. Namun dalam sekejap, pria itu langsung tertawa lebar.
“Yes… You are right, I am a murderer” ucap Ryan ditengah – tengah tawanya
__ADS_1
Aurora mengepalkan tangannya kuat – kuat. Aurora berpikir, apakah Ryan akan tetap bisa tertawa lebar seperti ini jika pria itu tau bahwa bayi yang dikandung oleh Aurora bukan milik Luke melainkan milik…
“INI BAYIMU! KAU MEMBUNUH BAYIMU SENDIRI! DIMANA KEMANUSIAANMU!” teriak Aurora menggelegar. Sungguh, ia tak ingin mengatakan hal ini karena Aurora tau betul jika ucapannya ini semakin membuat Aurora kehilangan kesempatannya untuk bersama dengan Luke, namun Aurora tak perduli.
“Hah?”
Tawa pria itu seketika berhenti.
Aurora tersenyum dalam hati, ia merasa puas saat melihat pria itu menghentikan tawanya.
“Kau memang bukan ma---
“Sh*t! Apa aku belum mengatakan padamu jika aku tau bahwa bayi itu adalah milikku? Astaga… sungguh, aku ingin mempertahankan bayi itu jika kau tidak melakukan penipuan kotor seperti ini. Namun… setelah kupikir – pikir, lebih baik bayi itu kulenyapkan. Jika wanita yang mengandungnya saja memiliki pikiran kotor, lalu bagaimana dengan bayi itu?” tanya Ryan dengan wajah seriusnya
Glek
Aurora menegak ludahnya dengan kasar. Rahasianya sudah terbongkar?
“Selain itu… aku memilih membunuh bayi itu karena aku tak ingin kau memiliki teman di dunia ini. Aku tak ingin kau memiliki tempat untuk bersandar dan berbagi kesedihan. Aku ingin kau merasakan kesedihan yang sangat luar biasa, hingga kau memutuskan untuk mengakhiri hidupmu. But… aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja dengan mudah, my baby…” ucap Ryan lagi yang diakhiri dengan sebuah tawa menggelegar dari mulut pria itu
“Kau memang benar – benar iblis! Bagaimana bisa kau setega ini kepada darah dagingmu sendiri? Aku menyumpahimu… semoga wanita yang kau cintai kelak, tak akan bisa memberikanmu keturunan!” ucap Aurora sembari menatap Ryan dengan tatapan kebencian yang begitu membara dalam kedua netranya
Rahang pria itu mengeras, sungguh… pria itu tak suka dengan ucapan Aurora
“Apa kau lupa dengan dirimu sendiri? Apa kau lupa jika kau juga sudah menggugurkan bayi kita 5 tahun yang lalu?” tanya Ryan dengan tajam
Glek.
Aurora menegak ludahnya dengan kasar
“Aurora, Aurora… my baby… lain kali, jika kau ingin mengatakan sesuatu, kau harus memperhatikan ucapanmu” ucap Ryan tajam
Tok… tok… tok…
Suara ketukan di pintu kamar Aurora menyentak Aurora dan Ryan dari pembicaraan mereka. Ryan langsung menarik dirinya dari dekat Aurora
“Sepertinya pria impianmu datang untuk menjengukmu… well… aku berdoa semoga dia tidak memotong bibirmu karena sudah mengutarakan kebohongan yang sangat besar…” ucap Ryan tajam dengan senyum smirk yang menghiasi bibirnya
Deg. Deg. Deg.
Jantung Aurora semakin menggila. Belum lagi masalahnya dengan Ryan selesai… kini Aurora harus dihadapkan dengan Luke? Sungguh… Aurora ingin mati saja
“Ah iya… aku lupa memberitahukanmu. Minggu depan, kita akan kembali ke Los Angeles” ucap Ryan tanpa mau repot – repot memberhentikan langkahnya dan memuat kepalanya untuk menatap Aurora
Deg.
“Jujur… disini aku tidak memiliki kebebasan untuk menyiksamu dan aku tak menyukai fakta itu”
.
.
Halohaaa semuaaa.... author mau nanya nih... kalau misalnya author buat cerita tentang Ryan - Aurora, kira - kira ada yang mau baca, nggak?
__ADS_1