
Luke memandang sebuah test pack yang berada di tangannya dengan lamat – lamat. Test pack yang sedang berada di genggamannya itu adalah test pack milik Aurora yang ditemukannya di dalam kado yang telah diberikan oleh wanita itu kepada Aurora.
Luke menghela napasnya dengan kasar. Sekuat apapun dia mencoba, pikirannya tetap berkelana kepada Aurora. Luke tidak tau kalau wanita itu masih memegang kendali pikiran Luke.
“Apakah aku harus menelponnya dan menanyakkan keadaannya?” tanya Luke pada dirinya sendiri
Luke meraih ponselnya dari sakunya dan membukanya. Jarinya membuka daftar kontak dan mencari nama Aurora disana. Untuk beberapa waktu, Luke memiliki tekad yang besar dan bulat untuk menghubungi wanita itu, namun, tekadnya itu langsung menghilang saat ia mengingat wajah Isa yang tersenyum polos.
“I can’t!”
Luke menghempaskan punggungnya di kursi kebesarannya. Tangannya terulur untuk memijat keningnya yang terasa berdenyut – denyut.
Jika ia menghubungi wanita itu, wanita itu pasti berpikiran kalau Luke masih memiliki perasaan kepada wanita itu. Jika Luke tidak menghubungi wanita itu, Luke dilanda rasa penasaran dan khawatir yang sangat luar biasa
Luke tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Aurora, namun di lain sisi, Luke sangat mengkhawatirkan keadaan janin yang sedang berada di dalam perut wanita itu. Janin yang diyakini Aurora sebagai darah daging Luke
Tok… Tok… Tok…
Suara ketukan di pintu ruangannya membuat Luke mendongakkan wajahnya. Dari layar yang berada di atas meja kerjanya, Luke dapat melihat bahwa orang yang sedang mengetuk pintu ruangannya adalah sekretarisnya, Hanna.
Melihat kedatangan Hanna itu, kepala Luke semakin berdenyut – denyut. Entah kenapa, har ini Luke sangat tidak menikmati waktu bekerjanya.
Tangan Luke terulur menekan salah satu tombol yang berada di remote control yang ada di atas mejanya. Tombol itu berfungsi untuk membuka dan menutup pintu ruangan Edward secara otomatis
“Selamat siang, sir”
Itu suara Hanna.
“Siang” jawab Luke seadanya
Hanna melangkahkan kakinya mendekati Luke. Seperti biasa, wanita itu mengenakan kemeja longgar dan sebuah rok panjang yang longgar pula. Nampaknya, wanita itu tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Namun, hal itulah yang membuat Hanna menjadi sekretaris Luke yang memegang rekor sebagai sekretaris paling lama yang bekerja dengan pria itu
“Saya ingin mengingatkan kepada tuan bahwa tuan akan menghadiri rapat pada pukul 2 siang nanti” ucap Hanna sopan
Luke mengganggukkan kepalanya pelan
“Setelah itu?” tanya Luke
“Setelah itu anda akan menghadiri pertemuan penting tentang bank Milleis cabang Los Angeles”
Mendengar jawaban Hanna, Luke menghela napasnya dengan kasar. Rapat penting, ya? Tidak mungkin kan, Luke melewatkan rapat penting hanya untuk menjenguk wanita hamil yang mengklaim bahwa janin yang berada di dalam perutnya adalah darah daging Luke?
__ADS_1
“Apakah sepenting itu?”
“Ya, karena pada pertemuan nanti, tuan juga akan mendiskusikan tentang calon ceo yang akan bertugas disana” jelas Hanna
Luke memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut
“Apakah pertemuan itu tidak bisa diundur?”
“Maaf… maksud tuan?” tanya Hanna binggung
Hanna mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan tuannya itu. Tumben sekali tuannya itu menanyakan hal itu. Apakah telah terjadi sesuatu?
“Undur pertemuan itu” tandas Luke
Dakh!
Suara hati dan logika Luke memang tak pernah sejalan.
Hanna mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar perintah Luke. Mengundur pertemuan penting? Rasanya, baru kali ini Hanna menerima perintah seperti itu dari Luke
“Baik”
“Setelah pertemuan itu, saya tidak memiliki jadwal lain lagi, kan?” tanya Luke untuk memastikan
“Tidak ada lagi, tuan” jawab Hanna sopan
“Great…” gumam Luke pelan
Hanna sedikit terkejut saat mendengar gumaman tuannya itu. Apakah tuannya itu merasa sangat bahagia karena tidak memiliki pertemuan penting lagi pada hari ini? Sungguh… Hanna sedikit ragu dengan fakta bahwa pria yang sedang duduk di hadapannya ini adalah Lukas Averanno Seranno, seorang ceo utama bank Milleis yang sangat suka bekerja.
“Kalau begitu… kau bisa keluar…” ucap Luke pada Hanna
Hanna mengganggukkan kepalanya pelan dan berjalan meninggalkan ruangan Luke tersebut.
Selepas kepergian Hanna, Luke menghela nafasnya pelan. Semoga saja, keputusannya hari ini tidak salah.
“Ah… sudah jam segini…” ucap Luke saat dirinya tanpa sengaja menatap jam tangan yang tergantung kokoh di tangannya. Jarum jam di jam tangannya itu sudah menunjukkan pukul 13.30, berarti tersisa 30 menit sebelum Luke menghadiri rapat terakhirnya hari ini.
Tak ingin membuang – buang banyak waktu lagi, Luke langsung bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya itu. Saat ini, Luke berniat untuk menuju ke ruang rapat di perusahaannya ini. Rasanya, Luke sangat ingin melewati rapatnya kali ini, namun ia sadar bahwa sebagai seorang ceo utama, ia tidak boleh bertingkah tidak bertanggung jawab seperti itu.
Saat Luke memasuki ruangan rapat itu, Luke sudah mendapati beberapa pegawai tengah mempersiapakan bahan presentasi mereka. Nampaknya, para pegawai itu terkejut dengan kedatangan Luke yang lebih cepat dari yang mereka perkirakan
__ADS_1
“Apakah rapatnya bisa kita mulai?” tanya Luke sembari menghempaskan bokongnya di salah satu kursi yang terletak di ujung meja yang berada di ruangan itu.
Seluruh pegawai yang berada di ruangan itu saling melemparkan tatapan binggung dan herannya. Mereka tau benar jika Luke adalah tipikal boss yang sangat suka bekerja, namun, mereka tidak tau bahwa Luke adalah tipikal boss yang suka memajukan jadwal rapat.
Seolah – olah mengerti dengan arti tatapan para pegawainya, Luke menghela napasnya dengan berat.
“Bukankah lebih cepat lebih baik?” tanya Luke sambil melemparkan tatapannya kepada seluruh pegawai yang berada di ruangan itu
Para pegawai itu menegak ludah mereka dengan kasar. Bagaimana bisa boss mereka dapat membaca pikiran mereka?
“Iya, sir” jawab salah satu pegawai yang ada disana
Luke mengganggukkan kepalanya pelan ketika akhirnya ada seorang pegawai yang berani untuk menjawab pertanyaannya.
“Kalau begitu… apa lagi yang kalian tunggu? Mari kita mulai rapat ini” perintah Luke
Mendengar perintah Luke tersebut, para pegawai itu langsung mempersiapkan segala bahan presentasi mereka dengan cekatan. Setelah semua bahan presentasi mereka telah tersedia, mereka pun membuka topik rapat hari ini.
“Baiklah, pada rapat hari ini… saya sebagai ketua rapat akan memaparkan topik rapat kita hari ini. Hari ini, kita akan membahas mengenai strategi perluasan nasabah….”
Pada awal rapat, Luke mendengarkan ketua rapat itu dengan seksama. Namun, ditengah – tengah berlangsungnya rapat tersebut, pikiran Luke serasa buntu. Saat dia mengingat Aurora, mendadak, Luke tak bisa fokus dengan apa yang disampaikan oleh ketua rapat itu.
Bak angin lalu, Luke tidak dapat menangkap apa inti dari rapat yang sedang dihadirinya saat ini. Jika tau seperti ini, lebih baik Luke tidak perlu mengikuti rapat hari ini.
.
.
.
.
.
Halohaaa.... Hehehe, kemaren author dah baca beberapa komentar di part sebelumnya... Well, author tau batt sih kalau kalian benci sama Aurora... Percayalah, author lebih ngeship Luke sama Isa kok... Hehehe, mereka favorite couple author setelah Edward dan Lauren...
Oh iya, author juga mau ucapin terimakasih sama readers yang masih memberikan likenya dan komentarnya... kalian emang terdebestttt...
__ADS_1