
“Luke!! Buka pintunya, aku ingin keluar!!!” teriak Isa sambil mencoba membuka pintu mobil Luke yang sudah dikunci oleh Luke.
“Aku akan memecahkan kaca mobil mahal mu ini, jika kau tidak mau membuka pintunya untukku!” ancam Isa
“Jangan lakukan itu. It’s just wasting your time”
“Kau tidak berhak mengaturku!” ucap Isa sambil menatap Luke dengan tatapan penuh kebencian.
“You need to know, kaca yang kugunakan di mobil ku adalah kaca laminated. Kaca laminated adalah dua lapis kaca yang disisipkan lembaran film, yaitu Polyvinyl Butiran Film (PVB) yang biasanya dipasang pada windshield. Kaca ini tidak mudah pecah karena lembaran film yang merekat ditengah-tengahnya mampu menahan benturan sampai kondisi tertentu. Apabila terkena benturan yang menyebabkannya pecah, kaca laminated tidak terpecah berkeping-keping sebagaimana kaca tempered. Tetapi terpecah tetap dalam bentuk lembaran karena rekatan film” jelas Luke lancar dengan satu tarikan nafas.
Mendengar penjelasan Luke yang sangat fasih dan cepat, membuat Isa terpelongo binggung. Sungguh, Isa tidak mengerti kenapa Luke menjelaskan sesuatu yang tidak akan pernah diterima oleh nalarnya.
“Sekarang, lebih baik kau berhenti meronta dan nikmati perjalan kita” saran Luke sambil memacu mobilnya dengan kecepatan yang diatas kata wajar.
“Apa kau gila?!? Bagaimana bisa aku menikmati perjalanan seperti ini!!!” ucap Isa dengan setengah berteriak sambil meraih safe belt yang sedari tadi belum dipakainya.
“Apa kau tidak takut mati, hah!!!”
Teriakan Isa itu hanya disambut dengan sebuah kekehan kecil oleh Luke. Kekehan Luke itu membuat Isa semakin yakin bahwa Luke benar – benar sudah berubah menjadi orang gila.
“Apa kau tidak merasa déjà vu?” tanya Luke sambil mengurangi kecepatan mobilnya.
“Ya” jawab Isa dengan mantap
Seketika, Luke memberhentikan mobilnya secara mendadak dan hampir membuat Isa terjungkal ke bagian depan mobil. Untung saja Isa mengenakan sebuah sabuk pengaman, jika tidak… mungkin saat ini Isa sudah tersungkur mengerikan di lantai mobil mewah itu.
“Jadi… apa kau mengingatku dalam memori singkat mu itu?” tanya Luke menggebu – gebu dengan wajahnya yang terlihat gembira.
“Ya”
“Bagaimana aku dalam ingatanmu?” tanya Luke dengan seksama sambil tersenyum kecil
Isa memutar bola matanya dengan malas. Apakah rasa kecemburuan sudah membakar habis seluruh pikiran logika yang ada di otak Luke? Saat ini, ingin rasanya Isa menimpuk kepala Luke dengan balok kayu agar otak Luke kembali bekerja seperti semula.
“Kau adalah orang membawaku ke ambang kematian, apalagi jika kau mengebut seperti tadi! Kau kira nyawaku ini tidak berharga, hah?” cerocos Isa dengan suara yang lantang.
Mendengar jawaban Isa, seketika senyum Luke langsung luntur dari wajahnya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Luke kembali menghidupkan mesin mobilnya dan kembali mengendarai mobilnya. Kali ini, Luke mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang wajar.
Melihat kebisuan Luke, ingin rasanya Isa menanyakan apakah ada sesuatu yang salah pada dirinya. Namun, Isa mengurungkan niatnya itu. Bagaimanapun juga, seorang wanita harus memiliki gengsi yang tinggi saat bersama dengan seorang pria. Jika mereka tidak memiliki gengsi yang tinggi, para pria pasti akan menggangap mereka sebagai wanita murahan.
Selama di perjalanan, Isa memutuskan untuk berdiam diri dan menatap ke luar jendela. Jujur, Isa merasa bosan dan mengantuk di saat yang bersamaan. Hingga akhirnya, rasa mengantuk yang sangat luar biasa membuat Isa terlelap ke dalam dunia mimpinya.
Luke memandang Isa dengan tatapan sedih. Mungkin saat ini, Isa sudah sangat membenci Luke. Seharusnya, Luke tidak perlu merasa terbebani oleh kenyataan itu, karena Luke sendiri lah yang selalu memberikan kesan – kesan jahat kepada Isa.
“Kenapa aku tertarik dengan wanita sepertimu, huh?” ucap Luke sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Tak perlu menunggu waktu lama, kini mobil Porsche 911 GT2 RS milik Luke--yang harganya menyentuh angka 293, 300 dollar--sudah berhenti dengan manis di halaman pelantaran sebuah mansion mewah yang didominasi oleh warna biru muda.
Karena tak ingin menggangu Isa yang masih terhanyut dalam dunia mimpinya, Luke memutuskan untuk membawa Isa ke kamar mansionnya dengan cara menggendong Isa ala bridal style.
“Ternyata badanmu sangat ringan” ucap Luke saat dirinya sedang menggendong Isa.
“Tuan, apa anda perlu bantuan?” tanya salah satu bodyguard mansion Luke dengan sopan
“Tak perlu. Kau parkirkan saja mobilku di garasi. Kuncinya ada didalam mobilku” jawab Luke sambil mempercepat langkahnya menuju ke dalam mansion.
“Selamat datang tuan” ucap para pelayan yang sudah berbaris rapi di ruang depan mansion
__ADS_1
“Ya” jawab Luke pendek tanpa menatap wajah para pelayan itu.
Tak ingin menguras lebih banyak waktu, Luke memutuskan untuk menaiki lift pribadinya. Memang, di mansion Luke terdapat lift. Hal ini bertujuan agar Luke tidak terlalu membuang – buang waktunya untuk naik – turun tangga jika Luke berada di situasi urgent. Namun, jika Luke memiliki waktu lebih, Luke akan menggunakan tangga. Karena dengan menaiki dan menuruni tangga, secara tidak langsung… kita sudah melakukan sebuah olahraga yang sederhana.
Sesampainya di kamar, Luke menurunkan Isa dengan hati – hati. Baru saja, Luke hendak beranjak pergi, namun gumaman Isa menghentikan langkahnya
“Luke” gumam Isa di dalam tidurnya
Luke yang mendengar gumaman Isa pun langsung tersenyum kecil dan mengelus lembut puncak kepala Isa.
“Luke, let me go” gumam Isa lagi, yang disertai dengan sebuah kernyitan halus di dahinya.
Luke langsung menarik tangannya yang sedari tadi mengelus lembut puncak kepala Isa. Kedua mata berwarna abu – abu milik Luke, langsung menatap ke arah Isa dengan tatapan nanar. Apakah rasa benci Isa kepada Luke begitu dalam, sehingga hal itu mengusik mimpi indah Isa?
“Sean…” gumam Isa lagi.
Tes!
Betapa terkejutnya Luke saat mendengar Isa menggumamkan nama Sean. Dan rasa keterkejutan Luke semakin bertambah saat dia melihat ada sebutir air mata yang lolos dari mata Isa.
Kini, rasa terkejut itu sudah bercampur dengan rasa amarah yang tak terbendung lagi. Bak kerasukan setan, Luke meninju sebuah cermin besar yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.
Prank!!!
Suara kaca yang hancur berkeping – keping menjadi lagu emosi Luke.
Isa yang tertidur pun lantas langsung terbangun.
Saat Isa terbangun dari tidurnya, banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Namun, saat melihat tangan Luke yang sudah berlumuran darah dan kaca yang berserakan dimana – mana, semua pertanyaan Isa tergantikan dengan satu pertanyaan yang sangat ingin diketahuinya jawabannya.
“Luke!!! Apa yang terjadi denganmu?” tanya Isa khawatir sambil menghampiri Luke dengan tergesa – gesa.
Isa mengerutkan dahinya. Kenapa Luke terlihat berbeda?
“Tanganmu berdarah! Tanganmu perlu diobati dan diberi perban” ucap Isa khawatir sambil menatap lantai di sekitar Luke yang kini sudah berubah warna. Dari warna putih gading menjadi warna merah, merah darah.
“Apa peduli mu, hah? Bukannya akan lebih baik jika aku mati?!? Dan kau bisa bersama dengan Seanmu itu!” ucap Luke dengan tajam sambil menekankan kata Seanmu.
“Apa yang kau katakan? Kau masih saja mengatakan hal – hal bullshit disaat seperti ini!”
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Luke berjalan melewati Isa dengan santainya. Seolah – olah tidak ada sesuatu yang terjadi kepada mereka.
“Luke, what happened to you?!” tanya Isa dengan suaranya yang kuat sambil menahan lengan Luke.
“Lepaskan tanganku!”
“Aku akan melepaskannya jika kau mau menjawab pertanyaanku” ucap Isa dengan kekeuh sambil menatap punggung belakang Luke yang sangat bidang.
“Isa, lepaskan tanganku. Aku tidak suka mengucapkan hal yang sama untuk yang ke 3 kalinya” ucap Luke dengan nada yang tenang
“I don’t care. Jawab dulu pertanyaanku!”
“Baiklah… kau yang meminta ini”
Dengan hentakan yang kuat, Luke menghentakan tangannya sehingga cengkraman Isa di lengannya terlepas. Bukan hanya itu saja, akibat hentakan tangan itu, Isa tersungkur di lantai kamar itu.
“Lukeeee!!!” teriak Isa saat dia melihat Luke pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1
“Shit…!” maki Isa pelan saat dia melihat telapak tangannya yang kini sudah berlumuran darah. Isa juga dapat melihat beberapa serpihan kaca menusuk tangannya.
Melihat tangannya yang sudah berlumuran darah dan sikap Luke yang sulit ditebak, rasanya Isa ingin menangis dengan sekencang mungkin.
Sementara itu, Luke dengan tergesa – gesa berjalan menuju ke garasi mobilnya. Disaat – saat seperti ini, club adalah pelarian yang sangat menjanjikan untuk Luke. Namun, sebelum menuju ke club, Luke terlebih dahulu mengobati dan membalut luka di tangannya. Bagi Luke, luka di tangannya itu tidak ada apa – apanya dibanding dengan luka yang ada di hatinya.
Di sepanjang perjalanan menuju club, Luke sesekali meneteskan air matanya dan mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya, sejak awal Luke sudah mengetahui bahwa Isa sangat berbahaya baginya. Seharusnya, sejak awal Luke tidak perlu melanjutkan permainan tarik – ulur ini.
Jika sejak awal Luke tidak jatuh kepada Isa, mungkin Luke tidak akan pernah merasakan hal yang sama untuk yang ke dua kalinya.
Tak perlu waktu lama, kini Luke sudah berada di salah satu club eksklusif yang berada di Annecy. Ya, saat ini Luke memang sedang berada di Annecy, Prancis. Tujuan awal Luke kembali ke mansionnya yang berada di Annecy adalah karena dia ingin membangun hubungan yang lebih baik lagi dengan Isa. Namun tak disangka, kejadian tak terduga ini terjadi.
“Yo! Kenapa kau berada di kota ini?”
Baru saja Luke melangkahkan kakinya memasuki club itu, Daniel –teman Luke--, langsung menyambut Luke dengan sebuah pertanyaan.
“Apa aku dilarang untuk berada di kota ini?” tanya Luke tanpa menatap Daniel.
Daniel yang mendapat respon dingin dari Luke, hanya bisa tersenyum kecil. Sepertinya, temannya itu sedang berada di situasi mood yang tidak baik.
“Berikan aku vodka!” ucap Luke pada seorang pelayang yang sedang berlalu lalang di sekitar club itu.
Tak menunggu lama, kini Luke sudah duduk di salah satu kursi yang berada di club itu beserta dengan sebotol vodka yang berada di atas mejanya.
“Apa kau sedang ada masalah?” tanya Daniel sambil menuangkan vodka ke dalam 2 gelas yang sudah tersedia di atas meja.
“Menurutmu?” tanya Luke dengan nada yang datar.
“Tentu saja kau ada masalah. Masalah percintaan, kah?” tebak Daniel sambil menyodorkan sebuah gelas yang sudah berisi vodka kepada Luke.
Luke tersenyum kecil saat mendengar tebakan Daniel yang tepat sasaran.
“Aku tidak ingin menjadi selemah dulu, lagi” ucap Luke sambil meneguk vodkanya dengan kasar
“Apakah ini masih karena Aurora?”
Deg. Aurora!
Sudah lama Luke tidak melihat wajahnya.
“Bukan dia. Tapi orang lain” jawab Luke pendek sambil menggoyang – goyangkan gelas vodkanya dengan gerakan yang pelan.
“Apakah kau masih belum bisa melupakannya?” tanya Daniel hati – hati
“Siapa?” tanya Luke binggung
“Aurora. Ara”
Luke tersenyum kecil. Sambil menatap gelasnya, Luke menjawab pertanyaan Daniel.
“Siapa yang sanggup melupakan cinta pertamanya?”
.
.
.
__ADS_1
Hayooo ngaku.... siapa nih yang nggak bisa melupakan cinta pertamanya??? Ada yang sama kayak Luke nggak, nih???
**Like dan komen adalah vitamin cerita ini. Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca cerita ini**