Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 78


__ADS_3

“Isa… kau yakin ingin makan makanan disini?” tanya Luke saat dirinya sedang memposisikan mobilnya di parkiran kantin rumah sakit


“Ya, tentu saja. Saat aku dirawat disini, aku mendengar kalau mie kuah yang disediakan di kantin ini sangat lezat!” ucap Isa bersemangat sambil menatap kondisi kantin rumah sakit tempat Isa kemarin dirawat dengan tatapan mendamba miliknya.


Luke menghela napasnya dengan kasar. Ia tak mampu untuk menolak keinginan Isa itu karena istrinya itu pasti akan merengek kepadanya. Selain itu, menurut Luke, makan di kantin rumah sakit di pukul 3 dini hari bukanlah ide yang buruk.


“Aku duluan ya!”


Suara Isa menyentah Luke dari lamunannya.


“Hei!”


Baru saja Luke menolehkan pandangannya ke tempat duduk Isa, namun istrinya itu telah membuka pintu mobil mereka dengan tergesa – gesa dan berlari – lari kecil memasuki kantin rumah sakit itu. Luke tersenyum kecil saat melihat tubuh mungil Isa yang terlihat sangat lincah saat berlari.


Tak ingin membuang – buang waktu lagi, Luke langsung keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke kantin rumah sakit itu


“Oii!! Luke!!! Sini….!” panggil Isa bahagia sambil melambai – lambaikan tangannya ke arah Luke saat dirinya melihat Luke telah memasuki kawasan kantin rumah sakit itu


Luke tertawa kecil saat melihat tingkah laku Isa itu. Apakah Isa baru saja berpikir bahwa Luke adalah anak kecil yang bisa tersesat kapan saja?


Sreekk…


Luke menarik sebuah kursi yang berada di hadapan Isa dan menghempaskan bokongnya ke atas kursi itu.


“Lumayan ramai, ya” ucap Luke sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kantin rumah sakit ini.


Jika diperhatikan, kantin rumah sakit ini tidak sama dengan kantin rumah sakit pada umumnya. Bisa dibilang, kantin rumah sakit ini setara dengan restoran bintang 4, hal itu mungkin karena rumah sakit yang menaungi kantin ini adalah rumah sakit tersohor yang sangat terkenal di Paris.


“Ya… kata perawat disini, jika di siang hari, kantin ini lebih ramai lagi! Kantin ini selalu penuh! Bahkan, pegawai – pegawai di kantin ini selalu saja menyiapkan meja dan kursi tambahan di siang hari” cerita Isa antusias


Luke tersenyum saat melihat keantusiasan Isa. Keantusiasan Isa itu seolah – olah menutupi fakta bahwa istrinya itu baru saja menangis beberapa puluh menit yang lalu.


“Luke, kau ingin memesan apa?” tanya Isa sambil menatap buku menu yang telah tersedia di atas meja itu


“Kau saja yang pesan. Aku masih kenyang” ucap Luke sambil tersenyum kecil


Mendengar ucapan Luke, Isa memicingkan matanya. Apakah yang dikatakan oleh Luke itu benar adanya? Apakah Luke menolak untuk memesan makanan disini karena dirinya meragukan sanitasi makanan yang ada disini?


“Kau yakin? Aku dengar, biasanya orang – orang akan lebih mudah lapar jika bangun di jam – jam seperti ini” ucap Isa sambil menunjukkan jam tangan yang melingkar manis di tangannya ke wajah Luke


“Iya, aku yakin…” jawab Luke


Sebenarnya, pria itu tidak terbiasa makan di jam – jam seperti ini. Jika dirinya diharuskan lembur hingga jam – jam seperti ini, maka Luke lebih memilih untuk memakan roti daripada harus memakan makanan – makanan berat seperti mie, nasi dan makanan berat lainnya.

__ADS_1


“Yakin…?” tanya Isa lagi


Luke menghela napasnya kecil dan menarik senyumannya.


“Baiklah – baiklah… kalau begitu, aku memesan coffee latte saja” tandas Luke


“Oke!” ucap Isa semangat saat mendengar pesanan Luke tersebut


“Pegawai!” panggil Isa kepada salah satu pegawai kantin ini yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk


Mendengar panggilan Isa, pegawai wanita itu langsung berjalan cepat ke arah Isa.


“Iya, ada apa, nona?” tanya pegawai wanita itu hormat saat dirinya telah berada di meja milik Isa


“Aku ingin memesan, 2 porsi mie kuah special tanpa cabai, satu gelas coffee latte dan satu gelas teh tanpa gula” ucap Isa pada pegawai itu sambil tersenyum ramah


Pegawai itu mencatat seluruh pesanan Isa di sebuah buku notes kecil yang sedari tadi disimpannya di saku baju kerjanya.


“Baiklah… Nona memesan 2 porsi mie kuah special tanpa cabai, satu gelas coffee latte dan satu gelas teh tanpa gula. Adakah tambahan lain?” tanya pegawai itu untuk memastikan


Mendengar pertanyaan pegawai itu, Isa nampak diam dan berpikir.


“Ah, itu saja!” tandas Isa sambil tersenyum sopan


“Baiklah… pesanannya akan tiba sebentar lagi” ucap pegawai itu sambil tersenyum kecil sebelum pegawai itu pergi meninggalkan meja Isa


Setelah pegawai itu pergi, Isa langsung mengahlihkan pandangannya ke arah Luke yang ternyata sedari tadi menatapi wajahnya dengan lekat


“Ada apa, Luke? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Isa binggung sambil meraba – raba pelan wajahnya dengan telapak tangannya


“Iya, ada sesuatu di wajahmu” jawab Luke


“Hah? Benarkah?” tanya Isa sambil meraba – raba wajahnya dengan brutal


Luke terkekeh kecil saat melihat Isa yang nampaknya sangat percaya dengan perkataannya tadi.


“Ya… Ada kecantikan yang sangat luar biasa di wajahmu” ucap Luke sambil menopangkan wajahnya di tangannya dan menatap Isa dengan intens


Isa yang mendengar godaan dari Luke itu langsung salah tingkah. Isa merasa rasa panas mulai menjalari punggung dan pipinya.


“Ihhh….” ucap Isa kesal dengan wajahnya yang dihiasi oleh senyum malu – malu milik wanita itu


Luke terkekeh kecil saat melihat tingkah Isa yang sangat menggemaskan itu. Luke berharap dirinya masih bisa melihat tingkah menggemaskan itu selama - lamanya

__ADS_1


Ah… memikirkan hal itu membuat Luke teringat dengan Aurora. Jika bayi yang dikandung oleh Aurora adalah bayi Luke, lantas, apa yang harus dilakukan oleh Luke? Dia tidak mungkin menelantarkan bayi itu… namun di lain sisi, Luke tak bisa mengorbankan Isa dan bayi mereka hanya untuk menerima bayinya dan Aurora itu.


Jika Aurora benar – benar hamil bayinya, Luke akan mengurus Aurora dan setelah bayi itu terlahir ke dunia, Luke akan menuntut hak asuh bayi itu. Ya, Luke akan memisahkan bayi itu dari Aurora dan membawa bayi itu kepada Isa. Luke yakin jika Isa mampu membesarkan bayinya dan  Aurora dengan baik.


“Luke… apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Isa penasaran saat melihat Luke tengah melamun


“Tidak ada” dusta Luke


“Ah… bohong!” ucap Isa sambil memajukan bibirnya beberapa centi


Sikap Isa itu membuat Luke seakan – akan melupakan beban pemikirannya tadi.


“Sebenarnya aku memikirkan dirimu”


“Diriku?” tanya Isa terkejut sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah dadanya


“Ya” jawab Luke sambil mengganggukkan kepalanya dengan mantap


“Apa yang kau pikirkan tentangku?” tanya Isa penasaran sambil tersenyum kecil


“Ahh… itu rahasia” jawab Luke sambil menampilkan senyum jenakanya


Isa membuang nafasnya dengan kasar saat mendengar jawaban Luke itu.


“Apa kau tidak tau kalau di antara suami – istri tidak boleh ada rahasia?” tanya Isa kesal sambil melemparkan tatapan menyelidiknya ke arah Luke


Luke menegak ludahnya dengan kasar. Entah kenapa, pertanyaan random Isa itu seakan – akan menyindir diri Luke. Apakah semuanya akan baik – baik saja jika Luke tetap merahasiakan masalah Aurora dari Isa?


“Apapun yang terjadi nanti, percayalah padaku dan jangan tinggalkan aku” ucap Luke sambil menatap Isa dengan tatapan lamat – lamatnya


“Apa hal itu yang kau pikirkan tentangku?” tanya Isa sambil mengangkat salah satu alisnya


“Eumh....Ya…” jawab Luke dengan suara lirihnya


Isa tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk menggengam tangan Luke yang berada di atas meja.


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Apapun yang terjadi nanti, aku tetaplah milikmu dan kau tetaplah milikku” ucap Isa sambil tersenyum lebar


Hati Luke terenyuh saat mendengar ucapan Isa. Baiklah, dia tidak akan merusak prinsip istrinya itu. Luke bertekad, entah masalah apa yang akan menghadang mereka di masa depan, Luke akan selalu berupaya untuk menjaga Isa, menjaga bayinya, dan menjaga keluarganya. Luke tidak akan membiarkan siapapun merusak keluarganya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2