Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 39


__ADS_3

“Tuan Levrand Smith, tuan Ryan Smith, terimakasih untuk acara makan malamnya yang sangat menyenangkan ini. Maaf bila saya tadi bertingkah tidak sopan, mungkin itu karena saya masih kelelahan” ucap Luke sambil tersenyum kecil untuk menyamarkan aura kemarahannya yang sudah menyala – nyala sejak tadi.


“Ah tidak apa – apa. Aish, kenapa kau menjadi formal lagi” ucap Levrand Smith sambil tertawa kecil


Ucapan Levrand itu hanya dibalas dengan sebuah senyuman oleh Luke


“Eh… apa yang terjadi dengan dressmu, Ara?” tanya Levrand saat menatap Aurora sedang menaiki tangga rumahnya


“Tadi aku tidak sengaja jatuh karena bermain dengan Argo. Kalian lanjutkan saja acara makan malamnya, Dad. Aku akan naik ke atas dan membersihkan diri” ucap Aurora sambil tersenyum kecil


“Baiklah… lain kali berhati – hatilah saat bermain dengan Argo” ucap Levrand Smith sambil tersenyum


“Yes, dad” ucap Aurora lirih.


Sebelum kembali menaiki tangga, dengan sengaja, Aurora melemparkan tatapannya ke arah Luke. Rasanya, Aurora ingin kembali menangis lagi, saat dia menatap Luke yang bertingkah normal, seperti tidak ada yang terjadi diantara mereka.


Ryan yang melihat hal itu hanya diam dan membisu. Ryan tidak terlalu bodoh untuk mengerti keadaan seperti ini.


“Karena malam sudah semakin larut, sebaiknya saya kembali ke hotel. Besok, saya akan menemui salah satu investor” pamit Luke sambil tersenyum kecil.


“Oh iya… tidak terasa sudah jam 10 PM, aish… rasanya waktu cepat berlalu. Baiklah, kau bisa pulang. Aku mengerti keadaanmu, pasti kau sangat lelah” ucap Levrand dengan tulus


“Terimakasih atas perhatiannya tuan Levrand Smith” jawab Luke sesopan mungkin


“Saya akan pergi” lanjut Luke sambil bangkit dari duduknya


“Biarkan Ryan mengantarmu sampai pintu” ucap Levrand sambil menepuk bahu Ryan yang duduk di sampingnya


Luke membalas ucapan Levrand itu dengan sebuah senyuman dan anggukan.


“Baiklah, dad” jawab Ryan sambil bangkit dari duduknya


“Mari” ajak Ryan pada Luke


Luke pun mengikuti Ryan.


Sesampainya di depan pintu rumah, Ryan menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Luke mengernyit binggung dan menghela napasnya. Sekarang, apalagi yang harus dihadapinya?


“Ada apa?” tanya Luke tanpa basa – basi


“Aku tau… kau membuat Ara menangis lagi” ucap Ryan sambil mengeratkan rahangnya


“So…?” tanya Luke malas sambil mengangkat alisnya


“Kau memang bosku yang sangat kuhormati, tapi itu selama kita berada di kantor. Saat diluar kantor, kau tidak lebih dari seorang pecundang yang selalu membuat adikku menangis” ucap Ryan dengan nada menantangnya.


Ah, jangan lagi.


“Aku sudah muak membalas semua masalah ini” ucap Luke dengan nada dinginnya


“Bisakah kau berhenti untuk tidak membuat adikku menangis?” tanya Ryan dengan nada geramnya


“Jika kau ingin adikmu berhenti menangis, suruh dia untuk berhenti menemuiku. Simple kan?” ucap Luke sambil berjalan meninggalkan Ryan.


Luke mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Saat ini, dia perlu melampiaskan seluruh kemarahannya dan kekecewaannya. Sepertinya, club adalah pilihan yang tepat saat ini.


“Alexander, aku akan mengendarai mobilku sendiri. Kau pulanglah ke hotel.” perintah Luke kepada Alexander yang tengah membukakan pintu mobil untuk Luke.


Mendengar perintah Luke, Alexander sempat terkejut. Tapi dia langsung mengatasi keterkejutannya itu.

__ADS_1


“Baik tuan” ucap Alexander patuh sambil memberikan kunci mobil kepada Luke.


Tanpa basa – basi, Luke langsung mengambil kunci itu dan mengendarai mobilnya.


Sedangkan Alexander hanya bisa menatap kepergian mobil itu dengan tatapan kecewanya yang terpendam. Sekarang, bagaimana Alexander bisa kembali ke hotel? Apakah ia harus berjalan kaki? Oh gosh! Memikirkannya saja sudah membuat Alexander lelah. Andaikan ini adalah Paris, Prancis. Andaikan saja!


Selama di perjalanan, Luke tidak henti – hentinua mengucapkan segala jenis sumpah serapah.


“Bangsat! Bedebah! Fuk*!” ucap Luke dengan kesal sambil memukul stir mobilnya dengan kuat.


Tanpa menghiraukan apapun, Luke mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Tak perlu waktu lama, kini Luke sudah berada di parkiran salah satu club ternama di Los Angeles, ya, Playhouse Club.


Club ini menyediakan puluhan tempat khusus dimana tamu VIP bisa minum dengan privasi namun Playhouse Club hanya buka tiga kali dalam seminggu yaitu Kamis, Jumat, dan Sabtu. Beberapa DJ terpanas dari Eropa sering kali menghibur klub yang bisa memuat hampir 1.000 orang ini. Dengan seni suara dan sistem pencahayaan yang berkualitas, club ini menjadi salah satu club terbaik di dunia.


“Lukas Averanno Seranno” ucap Luke sambil mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya saat dia menjumpai dua orang security berbadan tegap di depan pintu club itu.


“Baiklah… silahkan masuk tuan” ucap bodyguard itu sambil membukakan pintu club.


Saat pertama kali melangkahkan kaki masuk ke club ini, mata kalian akan disugguhkan pemandangan yang amat menarik. Yah, pemandangan menarik itu dapat berupa para penari striptis yang tengah meliuk – liukkan tubuh sexy mereka di sebuah tiang panjang, atau pemandangan menarik itu dapat berupa kerumunan manusia yang tengah menari – nari tak tentu di dance floor.


Ah, sudah lama rasanya…


“Give me a cocktail” ucap Luke pada seorang bartender lelaki yang sedang berjaga di bar


“Baiklah, sir!” jawab bartender itu dengan semangat


Dengan lihai, tangan bartender itu membuat racikan minuman cocktail untuk Luke


“Here you are, sir!” ucap bartender itu sambil memberikan segelas cocktail yang mengandung kadar alkohol tinggi kepada Luke


“Thank’s” ucap Luke sambil mengambil gelas bening itu dari tangan bartender tersebut


Tanpa menunggu apapun, Luke langsung menegak cocktail tersebut sampai kandas. Ah, rasanya… semua beban pikiran Luke telah menguap.


“Hi, man! Apakah kau ingin kutemani?” tanya seorang wanita berpakaian ketat yang tiba – tiba menghampiri Luke.


Luke tersenyum kecil.


Bermain – main sedikit tidak ada salahnya bukan?


“Of course” jawab Luke sambil menampilkan killer smilenya yang mampu membuat setiap wanita bertekuk lutut.


Seolah – olah telah mendapatkan lampu hijau, wanita itu langsung duduk di atas paha Luke.


“Siapa namamu, eumh?” tanya Luke sambil kembali menegak cocktailnya


“Claire” jawab wanita itu, Claire, sambil tersenyum bangga


“Jangan menipuku, baby. Aku tau itu bukan nama aslimu” ucap Luke sambil tersenyum kecil


“Ah, kau tau banyak ternyata, sir” jawab Claire yang diakhiri dengan sebuah kekehan


“Tolong… berikan aku cocktail lagi!” ucap Luke kepada bartender


Setelah dihitung – hitung, ini adalah kali kesebelas Luke meminta minuman beralkohol tinggi itu kepada bartender tersebut.


“Apakah kau tidak mabuk, eumh?” tanya Claire sambil menangkupkan wajah maskulin Luke dengan kedua tangannya


“Do you think?”

__ADS_1


“Tentu saja kau sudah mabuk, sir” ucap Claire sambil tersenyum lebar


“Ah, sepertinya kau telah menghadapi masalah yang berat, sir. Aku turut kasihan” ucap Claire sambil memasang wajah memelasnya yang membuat Luke tertawa kecil


“Apakah kau seorang shaman?” tanya Luke sambil mengecup tangan Claire yang membingkai wajahnya.


“Ah, kau jahat sekali! Aku ini bukanlah dukun!” ucap Claire sambil mengerucutkan bibirnya dan menarik tangannya dari wajah Luke.


“Hehe… aku hanya bercanda” ucap Luke sambil kembali fokus kepada minumannya


“Sebenarnya… aku juga ada masalah, oleh karena itu aku mendatangi club ini. Aku berharap, masalahku akan selesai saat aku berada di club ini” ucap Claire dengan jujur sambil memainkan jarinya di dada bidang Luke. Jari – jarinya yang lentik itu membuat pola – pola abstrak di dada Luke.


“Kita sama. Apakah jangan – jangan…


Luke sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menatap Claire dengan tatapan nakalnya. Melihat tatapan nakal Luke itu, Claire langsung memukul pelan dada Luke.


“Jangan katakan bahwa kita berjodoh! Aku tidak ingin disebut sebagai wanita perebut tunangan orang. Sudah cukup aku disebut sebagai wanita perebut kekasih orang. Aku bisa gila jika aku mendapatkan gelar baru itu!” ucap Claire sambil tertawa kecil


“Bagaimana kau tau bahwa aku telah bertunangan?” tanya Luke dengan tatapan menyelidknya


Dengan gerakan malas, Claire mengangkat tangan kiri Luke.


“Aku pernah membaca di internet, jika seseorang memiliki cincin di jari manis pada tangan kirinya, berarti dia telah bertunangan. Jika cincin itu berada di jari manis pada tangan kanannya, berarti dia telah menikah” jelas Claire.


Luke mengangkat alisnya dan menampilkan senyum jenakanya.


“Kau tau banyak ternyata”


“Bukan Claire namanya jika tidak serba tau” ucap Claire dengan bangga sambil tersenyum


“Baiklah Claire… bagaimana jika malam ini kita menghabiskan malam dengan cocktail? Bukankah itu menarik?” tawar Luke sambil menyodorkan cocktailnya yang beralkohol tinggi kepada Claire.


“Kedengarannya, itu terlihat menarik, sir” jawab Claire sambil menerima gelas yang berisi cocktail itu dan meneguknya.


.


.


.


.


.


.


Hayo... kasih 3 kata untuk mendeskripsikan Luke di part ini


.


.


Oh iya, author kasih bocoran nih. Author tuh senang banget dan semangat buat ngeup kalau kalian semua like cerita abal - abal ini dan memberikan komentar - komentar kalian di setiap part. Dengan begitu, author makin semangat deh untuk ngeup.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2