Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 59


__ADS_3

Samar – samar, indra penciuman Isa mendapati aroma yang sangat tidak disukainya, aroma rumah sakit yang pekat akan bau obat – obatan.


Aroma itu sangat mengusik indra penciuman dan ketenangannya, sehingga Isa mencoba untuk membuka matanya yang terasa sangat berat.


Hal pertama yang didapatinya saat ia membuka matanya adalah sebuah dinding berwarna putih dan biru, khas rumah sakit.


Isa menghela napasnya. Ia tak perlu bertanya tentang keberadaannya saat ini, ia pasti sedang berada di rumah sakit. Bau obat – obatan, dinding monoton yang berwarna putih dan biru serta rasa sakit di tangannya yang kemungkinan besar karena bekas suntikan.


Isa masih ingat, terakhir kali ia merasakan rasa pusing yang teramat berat saat ia menyatakan perasaan cintanya kepada Luke, kemudian… setelah itu, pandangan Isa menggelap


“Hei… kau sudah bangun ternyata”


Suara sapaan dari seorang pria membuat Isa mengahlihkan pandangannya ke samping.


Pria itu memiliki badan yang kekar dan tinggi, tubuhnya yang menawan itu dibalut dengan sebuah kaus berwarna abu - abu dan white coat yang menambah kharismanya. Ah, pasti pria itu dokter.


“Bagaimana keadaan bayiku?” tanya Isa sambil mengahlhkan pandangannya ke perutnya


“Dia baik – baik saja. Tapi, kumohon, lain kali tolong jangan terlalu strees. Jika kau keseringan stress, hal itu akan mempengaruhi janinmu. Mungkin, keguguran tidak bisa dihindarkan. Apalagi usia janinmu masih sangat mudah dan rawan” terang dokter tersebut sambil mengatur laju infus Isa.


“Terimakasih. Aku akan menjaganya” ucap Isa sambil mengelus lembut perutnya yang masih datar


Setelah percakapan singkat itu, Isa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia mencari – cari sosok pria yang tadi bersamanya sebelum kegelapan menyerang kesadaran Isa


“Apa kau sedang mencari Luke?” tanya dokter tersebut sambil tersenyum simpul


“Ah, iya” jawab Isa seadanya


Mendengar dokter tersebut memanggil nama Luke dengan akrab, Isa dapat menyimpulkan bahwa dokter itu pasti adalah teman Luke, atau mungkin… dokter itu adalah satu diantara sekian ratus kenalan yang dimiliki oleh Luke


“Dia sedang berada di kantor polisi”


“Ah, syukurlah” ucap Isa sambil menghela napas


Mendengar jawaban Isa, dokter tersebut menatap Isa dengan tatapan aneh yang sulit diartikan.


“Eumh… ada apa?” tanya Isa yang merasa risih saat menerima tatapan dokter tersebut


“Saat ini, ayah dari calon bayimu sedang berada di kantor polisi dan sedang berurusan dengan hukum. Apakah reaksi yang kau berikan tadi adalah reaksi yang tepat?” tanya dokter tersebut sambil menggeleng – gelengkan kepalanya dengan pelan


Isa mengernyitkan dahinya, butuh beberapa detik baginya untuk mencerna perkataan dokter tersebut.


Glek!


“Di kantor polisi? Bagaimana bisa?” tanya Isa heboh setelah dia akhirnya memahami ucapan dokter tersebut. Ingin rasanya Isa memaki rasa sakit di kepalanya yang mengganggu kinerja otaknya, tapi Isa tau… hal itu akan sia – sia saja.


“Dia sangat khawatir denganmu. Sangking khawatirnya, dia menyuruh Allexander untuk mengebut di jalanan, bahkan mobil yang kalian tumpangi beberapa kali melanggar lampu merah”


“Lalu?”


“Tentu saja mobil kalian dikejar oleh polis setempat. Aku heran dengan sikap Luke. Bukankah lebih baik jika dia menyempatkan untuk berhenti dan mengatakan kepada polisi bahwa ia sedang membawa orang sakit? Jika dia melakukan itu, pasti dia tidak akan berakhir di kantor polisi.” Jelas dokter tersebut yang diakhiri dengan sebuah ringisan kecil

__ADS_1


Mendengar penjelasan dokter tersebut, Isa menegak ludahnya dengan kasar. Sebegitu khawatirnya kah Luke terhadap dirinya?


“Apakah Luke akan baik – baik saja? Apakah dia akan dipenjara?” tanya Isa


“Ah, aku yakin dia pasti baik – baik saja. Dia orang kaya, uangnya bahkan lebih dari cukup untuk menutup mulut para polisi itu dan mengeluarkan dirinya dari penjara… jika dia benar – benar dipenjara” ucap dokter tersebut dengan gambling


Isa terkejut mendengar ucapan dokter tersebut, namun ia tidak menampik pernyataan dokter tersebut. Isa tau benar, uang adalah segalanya. Karena itu, banyak orang melakukan berbagai macam cara demi mendapatkan uang


“Tapi aku yakin, dia tidak akan sampai dipenjara. Paling – palingan, dia hanya akan diberikan denda, mobilnya di tahan atau surat izin mengemudi milik Allexander akan dicabut. Tidak buruk bukan?” tanya dokter tersebut sambil duduk di salah satu sofa yang berada di ruangan itu


“Ya, tidak terlalu buruk” balas Isa dengan suara yang kecil


Isa menatap dokter itu dengan tatapan menyelidik. Biasanya, bukankah seorang dokter akan meninggalkan pasiennya jika dokter tersebut telah selesai memeriksa pasiennya?


Kini, pikiran Isa dihantui dengan berbagai macam hal – hal negative.


“Jangan menatapku seolah – olah aku adalah seorang maniak ****. Namaku Zen, aku adalah dokter kandungan. Aku dimintai tolong oleh Luke untuk menjagamu 24 jam, jika tidak, dia akan mencabut izin praktekku” jelas dokter tersebut, Zen, sambil menutup matanya dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut. Nampaknya, Zen tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup hari ini.


“Maaf” ucap Isa sambil tersenyum kikuk


“Sudahlah… ini bukan salahmu. Luke juga dulu seperti ini, aku tidak terlalu heran” ucap Zen


Luke juga dulu seperti ini?


Apakah Luke juga sekhawatir ini saat Aurora sakit? Apakah Luke juga sekhawatir ini saat Aurora hendak keguguran?


Memikirkan hal itu membuat rasa sesak kembali menekan dada Isa.


Isa menghela napasnya dengan kasar.


“Bukankah sudah kukatakan kepadamu? Jangan terlalu stress, hal itu tidak baik untuk bayimu” ucap Zen sambil membuka matanya dan menatap Isa dengan tatapan datarnya


Isa merasa suasana di ruangan itu mencekam


“Maaf” ucap Isa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


Brak!!!


Suara pintu yang dibuka dengan tergesa – gesa membuat Isa terkejut dan mengahlihkan pandangannya dari wajah datar Zen menuju ke pintu ruangan itu


“Luke” panggil Isa saat menatap Luke yang saat ini terlihat kacau


Ya, saat ini, Luke benar – benar terlihat sangat kacau. Rambutnya sudah acak – acakan, wajahnya kusam dan kusut serta keringat yang mengucur keras di dahinya


“Isa” panggil Luke sambil berlari ke ranjang Isa dan memeluk tubuh Isa dengan keras


“Isa… aku sangat takut. Aku takut kehilanganmu dan bayi kita. Aku sangat takut. Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan seperti ini” ucap Luke sambil mengeratkan pelukannya pada Isa, seolah – olah ia takut jika Isa akan pergi darinya jika pelukannya itu mengendur


“Aku dan bayi kita tidak mungkin meninggalkanmu” ucap Isa sambil mengusap lembut punggung kekar milik Luke


“Aku minta maaf, seharusnya aku tidak bertindak kasar kepadamu. Aku hanya kalur, maafkan aku” ucap Luke sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Isa

__ADS_1


“Iya, tidak apa – apa. Aku juga minta maaf, maaf karena aku sudah bertindak emosional” ucap Isa sambil mengahlihkan usapan lembutnya ke leher dan kepala Luke


“Ekhem… Kuharap kau tidak lupa kalau Isa belum baik – baik saja”


Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Zen seolah – olah menyadarkan Isa bahwa sedari tadi, Zen berada di ruangan yang sama dengan dirinya.


Astaga, Isa sangat malu sekali!


Mendengar perkataan Zen, Luke langsung melepaskan pelukannya dan mengusap lembut puncak kepala Isa


“Bagaimana dengan bayi kami? Apakah dia baik – baik saja?” tanya Luke sambil menatap Zen tanpa melepaskan usapan tangannya di puncak kepala Isa


“Ya, baik – baik saja. Tapi, jika hal ini terjadi terus – menerus, mungkin saja Isa akan mengalami keguguran, mengingat usia janinnya masih muda” jelas Zen sambil bangkit dari posisi duduknya


Rahang Luke mengetat mendengar ucapan Zen. Hampir saja dia kehilangan bayi mereka karena kelalaiannya.


“Sebisa mungkin, jangan pernah merasa stress atau tertekan” ucap Zen sambil menatap Luke dan Isa secara bergantian


“Baiklah…” jawab Isa


“Aku keluar dulu” ucap Zen sambil berjalan meninggalkan Luke dan Isa


Setelah Zen benar – benar keluar, Luke langsung menangkup wajah Isa


“Apakah dia berperilaku buruk kepadamu?” tanya Luke


“Siapa? Zen?” tebak Isa sambil mengernyit binggung


“Ya”


“Tidak… Dia baik, meskipun agak aneh” ucap Isa


Mendengar jawaban Isa, Luke langsung menghela napasnya sambil tersenyum


“Syukurlah” ucap Luke


“Eh? Kenapa?” tanya Isa binggung


“Tidak apa – apa”” jawab Luke sambil tersenyum manis ke arah Isa


Isa mendengus kesal saat dirinya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari mulut Luke atas pertanyaannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hai... semoga hari kalian menyenangkan, yaws


__ADS_2