
“Isa… apa ada yang kau inginkan?” tanya Luke saat menatap Isa asyik mengaduk – aduk sarapan yang berada di hadapannya
“Eumh… tidak ada” jawab Isa sambil tersenyum simpul
Dahi Luke langsung mengernyit. Pasti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Isa.
“Apa kau baik – baik saja? Apakah kepalamu masih pusing? Apakah kau mual? Apakah anak kita berulah?” tanya Luke khawatir sambil mengenggam tangan Isa dengan lembut
Mendengar rentetan pertanyaan Luke, Isa terkekeh kecil
“Aku baik baik saja. Kepalaku tidak pusing. Aku tidak merasa mual. Anak kita tidak berulah. Apakah jawabanku sudah memuaskanmu?” tanya Isa sambil menatap Luke dengan tatapan jenakanya
Mendengar hal itu, senyum Luke langsung muncul di wajah tampannya.
“Lalu… mengapa kau tidak memakan sarapanmu?” tanya Luke dengan lembut sambil memperbaiki anak – anak rambut Isa yang menutupi wajah cantiknya itu
“Sebenarnya… sedari tadi aku sedang memikirkan sesuatu” ucap Isa dengan suara yang kecil
“Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah hal itu membuatmu merasa tertekan?” tanya Luke khawatir
“Aku hanya memikirkan sesuatu yang--”
“Jujurlah kepadaku Isa” pinta Luke khawatir sambil menatap kedua bola mata hazel milik Isa dengan lamat – lamat
Selama Luke mengurus Aurora yang sedang hamil dulu, Luke ingat jika wanita itu sangat sering sekali melamun dan memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting secara berlebihan. Karena tingkah lakunya itu, Aurora sangat sering mengalami pendarahan dan nyawa bayinya selalu saja terancam.
Kali ini, Luke tidak akan membiarkan apapun terjadi pada bayinya, darah dagingnya sendiri.
“Isa… kau tau kan kalau seorang wanita hamil tidak boleh terlalu memikirkan sesuatu dengan berlebihan? Itu tidak baik untuk kesehatan bayi mereka” ucap Luke dengan lembut. Luke tidak ingin membuat ego Isa terluka, karena Luke sadar bahwa wanita hamil memiliki perubahaan mood yang sangat cepat dan tidak stabil
“Aku merindukan kedua orang tuaku” ucap Isa sambil menyentuh lembut tangan Luke yang sedari tadi sibuk memperbaiki anak – anak rambutnya
“Kalau begitu, ayo kita menemui kedua orangtuamu, jika hal itu bisa mengurangi rasa kekhawatiranmu” usul Luke sambil tersenyum
“Aku ingin… tapi…” Isa menggantungkan kalimatnya
Tes
Sebutir air mata jatuh dari pelupuk mata Isa.
“Isa…” panggil Luke khawatir
“Isa, jangan menangis” ucap Luke sambil menarik Isa ke dalam pelukannya
Mendengar ucapan Luke, tangis Isa semakin menjadi.
“Ssshhh… jangan terlalu emosional seperti itu, jika kau ingin menemui orangtuamu, kita bisa pergi bersama – sama” ucap Luke sambil mengusap – usap lembut punggung Isa yang bergetar akibat isakannya
“Aku ingin… hiks…. Tapi… aku tidak bisa… hiks…” ucap Isa di sela – sela tangisannya sambil memperkuat rengkuhannya pada tubuh Luke. Saat ini, dada Luke yang kokoh adalah tempat berlindung Isa yang sedang rapuh.
“Kenapa?” tanya Luke dengan lembut
__ADS_1
“Aku takut” ucap Isa
“Apa yang kau takutkan?” tanya Luke binggung
Mendengar pertanyaan Luke, Isa langsung melepaskan pelukannya
“Kedua orangtuaku pasti kecewa saat melihat keadaanku ini” ucap Isa sambil menunduk dan memegang perutnya yang masih datar
“Apa maksudmu? Tidak ada yang salah dengan itu Isa. Lagipula, aku yang menghamilimu adalah tunanganmu dan aku bertanggung jawab atas dirimu dan juga bayi itu. Kedua orangtuamu tidak akan kecewa, percayalah kepadaku” ucap Luke sambil menggenggam kedua tangan Isa. Luke mencoba untuk menyalurkan kekuatannya kepada Isa, dia tidak ingin wanita itu kembali menangis.
“Bagaimanapun juga… bayi ini…”
Isa menutup mulutnya rapat – rapat, dirinya tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Namun, tangisannya semakin menjadi
Seolah – olah mengerti apa yang hendak dikatakan oleh Isa, Luke langsung melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Isa dan menatap Isa dengan tatapan yang sulit diartikan
“Apakah kau ingin menggugurkan bayi itu karena bayi itu ada disaat kau belum menikah?” tanya Luke dengan tatapan lurus
Isa langsung mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan Luke.
“Bukan… Bukan seperti itu!”
Luke mengetatkan rahangnya. Saat ini, ia tidak bisa mengontrol amarahnya. Tanpa memikirkan apapun, Luke langsuhg mencengkram kuat kedua lengan Isa.
“Isa… aku mengira kau berbeda dengan Aurora!!! Tapi apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan bayi itu. Meskipun itu berarti kalau aku harus memborgol kedua kakimu dan kedua tanganmu!” ucap Luke dengen kemurkaan yang terlihat di kedua netra nya
“You’re crazy!!!” teriak Isa dengan kuat
Plak!
“Jangan pernah samakan aku dengan Aurora! Aku dan dia berbeda! Aku tidak ada niatan untuk membunuh anakku sendiri, kenapa kau menyimpulkan sesuatu seenak hatimu sendiri?!?” jerit Isa dengan histeris
Mendengar Isa menjerit histeris, Luke langsung terkejut dan memaki dirinya sendiri di dalam hatinya. Sial! Niat hati ingin membuat Isa tidak merasa stress, Luke malah menjadi orang yang membuat Isa menjerit histeris seperti itu
Tak ingin Isa merasa tertekan lebih dalam, Luke langsung menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Luke berharap bahwa pelukannya itu dapat mengurai rasa stress yang sedang dihadapi oleh Isa.
“Isa… maafkan aku. Aku kalut. Aku tak ingin lagi kehilangan orang yang berharga bagiku” ucap Luke sambil mempererat pelukannya pada tubuh Isa
“Luke… aku takut kedua orangtuaku memaki bayi ini. Bayi ini tidak salah… hiks…” ucap Isa sambil menangis tersedu – sedu
“Kita akan menghadapi semuanya bersama – sama, Isa.”
“Aku tidak keberatan jika mereka memakiku… tapi… tapi…, bagaimana jika mereka memaki bayi ini? Bahkan sebelum dia lahir ke dunia, dia sudah mendapatkan makian dari keluarga Ibunya sendiri…. Aku tidak sanggup untuk itu” ucap Isa sambil meremas kaus polo yang membalut tubuh Luke
“Isa… tenanglah… Kita akan menghadapinya bersama – sama. Secepatnya, kita akan ke rumah orang tuamu. Aku akan meminta izin dari kedua orangtuamu untuk menikahimu” ucap Luke sambil mengelus lembut punggung Isa
“Menikah?” tanya Isa sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Luke
“Ya, kita akan menikah. Aku tidak ingin bayiku disebut sebagai bayi yang lahir di luar pernikahan. Selain itu, aku tidak sanggup jika harus melihatmu menangis seperti ini” ucap Luke dengan nada yang bergetar sambil menghapus jejak – jejak air mata yang masih terlihat di pipi mulus Isa
Isa menatap kedua mata Luke dengan dalam, Isa menemukan sebuah keseriusan di dalam sana.
__ADS_1
“Jadi… jangan menangis lagi. Hatiku sangat sakit saat melihatmu menangis” ucap Luke sambil menangkup wajah Isa dengan gentle
“Luke… aku mencintaimu” ucap Isa di tengah isakannya yang mulai mereda
“Aku jug….. Isa!!!”
Baru saja Luke hendak menjawab pernyataan Isa, namun Luke langsung dikejutkan dengan Isa yang tiba – tiba saja pingsan.
Tidak, jangan lagi! Demi Tuhan
“Isa…?” panggil Luke lembut dengan jantung yang sudah berdetak tidak karuan.
“Isa…! Tolong jangan bermain – main denganku! You know, I don’t like it!” ucap Luke khawatir sambil menepuk – nepuk pipi Isa.
Luke terus menepuk – nepuk pipi Isa, berharap gadis kecilnya itu akan membuka matanya dan mengatakan kalau dia hanya sedang melakukan prank untuk Luke. Namun, kedua matanya itu tak kunjung terbuka.
Luke tak kuasa menahan tangisnya. Bahkan, bulir – bulir air matanya sudah meleleh. Apa yang terjadi pada Isa saat ini adalah kesalahannya! Luke merasa bahwa dia telah gagal menjadi seorang pria, gagal menjadi seorang tunangan dan gagal menjadi seorang ayah yang baik.
“Maafkan aku Isa, bertahanlah!” ucap Luke kalang – kabut.
Dengan sigap, Luke menggangkat tubuh Isa
“Allexander!!!” teriak Luke menggelegar
Dengan langkah tergopoh – gopoh, Allexander yang tadinya berada di luar penthouse Luke langsung memasuki penthouse Luke.
Betapa terkejutnya Allexander saat melihat Luke yang tengah mengeluarkan air mata sambil menggendong tubuh Isa yang kelihatannya sangat rapuh.
“Cepat siapkan mobil, kita akan pergi ke rumah sakit sekarang!” perintah Luke.
“Baik tuan!” ucap Allexander
Dengan sigap, Allexander menyiapkan salah satu mobil Luke dan mengendarainya menuju ke rumah sakit
“Maafkan aku, Isa” ucap Luke sambil merengkuh erat tubuh Isa yang kini sedang berada di pelukannya
“Tolong lebih cepat, Allexander!” perintah Luke tanpa mengahlihkan tatapannya dari wajah pucat Isa
Sungguh. Luke berjanji jika dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat kondisi tak berdaya milik Isa saat ini, dan hatinya makin terasa sakit saat mengetahui jika dirinya lah penyebab kondisi Isa ini.
Bulir – bulir keringat dingin mulai bermunculan di dahi Luke, dia sangat takut. Dia takut kehilangan orang yang disayanginya. Saat Aurora mengalami insiden hendak keguguran, Aurora juga pingsan ditengah – tengah tangisnya.
“Isa… bertahanlah! Kau bukan Aurora! Kau dan bayi kita harus bertahan”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Siapa nih yang pengen Isa dan Luke menikah, nih?