
“Mrs. Serrano! Apa yang sedang anda lakukan?” tanya seorang maid dengan panik saat melihat Isa sedang memasak sesuatu di dapur
“Eumh? Aku sedang memasak” ucap Isa tersenyum sambil menoleh kecil ke arah maid yang tadi bertanya kepadanya dengan nada yang panik dan suara yang lumayan kuat
“Oh, God! Mrs., anda tidak seharusnya melakukan ini semua. Biar saya saja yang memasaknya” ucap maid tersebut dengan wajah yang sudah memucat
“Eh… tidak usah. Ini hanya pekerjaan yang mudah! Selain itu, kamu kelihatannya tidak sehat” ucap Isa sambil tesenyum dan fokus dengan kegiatan masak – memasaknya.
Entah kenapa, secara tiba – tiba, Isa sangat ingin memakan nasi goreng. Namun, Isa ingin memakan nasi goreng buatannya sendiri. Biasanya, Isa sangat tidak menyukai nasi goreng yang dibuatnya sendiri, karena nasi goreng yang dibuatnya selalu terasa asin. Aneh.
“Mrs. Jangan buat diriku merasa bersalah, ini adalah tugasku sebagai pelayan” ucap maid tersebut dan dengan gerakan yang lumayan keras, maid tersebut menarik spatula yang dipegang oleh Isa.
“Astaga!” ucap Isa terkejut.
Jika dirinya tidak siap – siaga, mungkin saja tubuh Isa sudah limbung dan mendarat di atas lantai dapur penthouse milik Luke yang terasa dingin. Tentu saja Isa tidak menginginkan hal itu. Ia tidak ingin menambah koleksi memar dan luka di umurnya yang sudah matang seperti ini.
“*Please forgive me, Mr*s.” Ucap maid tersebut sambil menunduk takut setelah menyadari bahwa Isa hampir saja jatuh. Jika Isa benar – benar jatuh, sungguh, maid itu tidak dapat menggambarkan bagaimana masa depannya kelak. Mungkin saja dia langsung dipecat oleh Luke atau diasingkan dari keluarganya.
“Ah, nevermind. Tak perlu sesungkan itu” ucap Isa dengan ramah
Karena lelah beradu mulut dengan maidnya sendiri, Isa pun memutuskan untuk diam dan menatap maid tersebut memasak nasi gorengnya. Dan entah kenapa, selera Isa untuk memakan nasi goreng itu berkurang.
“Apa yang sedang terjadi disini?” tanya seorang maid yang kelihatannya sudah berumur setengah abad, yang kemudian Isa ketahui bahwa maid itu adalah kepala dari semua maid atau butler yang bekerja di penthouse milik Luke ini.
Isa melemparkan tatapannya ke arah maid yang tadi merebut spatula dari tangannya. Wajah maid itu semakin memucat dan terlihat bulir – bulir keringat di dahi maid itu, padahal, udara saat ini sangat sejuk. Isa dapat menebak bahwa maid itu sedang ketakutan.
“Tidak terjadi apa – apa, disini” ucap Isa sambil tersenyum ceria
Seolah – olah tidak percaya dengan perkataan Isa, kepala maid tersebut memincingkan matanya ke arah maid yang sedang memasak nasi goreng di sebelah Isa.
__ADS_1
“Is it true?” tanya butler itu dengan tatapan yang mengintimidasinya kepada maid yang sedang memasak.
Di dalam hati, Isa kini mengetahui alasan kenapa maid itu bisa terpilih menjadi seorang butler. Kepala maid itu dan Luke sama – sama memiliki tatapan mengintimidasi yang mampu membuat lawan bicaranya bertekuk lutut.
Duk!
Tiba – tiba, maid yang sedang memasak tadi berlutut di dekat kaki butler itu. Sontak saja hal itu membuat Isa terkejut.
“Maafkan saya, butler. Saya telah lalai dalam mengemban tugas saya, saya akan terima hukuman apa saja” ucap maid tersebut.
Perkataan maid tersebut membuat mata Isa langsung membola dengan sempurna. Kenapa Isa merasa bahwa maid tersebut bertindak seolah – olah ia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, padahal, bagi Isa, apa yang baru saja dilakukan oleh maid tersebut belum termasuk dalam kategori kesalahan.
“Segera persiapkan seluruh kopermu dan pergi dari sini. Kamu dipecat!” ucap butler itu tanpa rasa kasihan.
Ingin rasanya Isa membela maid itu. Bukankah hukuman ini terlalu berat untuk seorang maid yang tidak melakukan kesalahan yang fatal?
“Baik, butler. Terimakasih” ucap maid tersebut sambil bangkit dari posisi berlututnya.
“Saya permisi Mrs., butler” pamit maid tersebut dengan nada yang sendu.
Setelah maid tersebut meninggalkan Isa dan butler, rasa kecanggungan langsung menyelimuti mereka, atau… mungkin, hanya Isa saja yang merasa canggung.
“Maafkan aku jika aku menyela, tapi… hukuman tadi… bukannya itu sudah sangat berat untuknya. Dia tidak melakukan kesalahan apapun” ucap Isa
“Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang butler, Mrs. Serrano” ucap butler itu dengan nada yang datar.
“Tapi… setidaknya, kamu tidak memberikan hukuman seperti itu. Mungkin saja dia masih memiliki keluarga yang harus dinafkahi, saat kamu memecatnya seperti ini, bagaimana dia akan menafkahi keluarganya? Bukankah hal ini tidak adil baginya” ucap Isa yang bersikeras dengan pendapatnya.
“Saya tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, Mrs. Serrano, ini semua sudah sesuai dengan prosedur” jelas butler itu.
__ADS_1
“Prosedur? Apa kalian gila?!” ucap Isa dengan amarah yang mulai memuncak
Butler itu hanya diam dengan wajah datarnya. Aaarghh! Wajah datar butler itu semakin membuat emosi Isa memuncak.
“Siapa yang membuat prosedur itu, hah? Apakah kamu? Kalau begitu, hapus prosedur gila itu! Ingat, aku adalah atasanmu sekarang! Turuti keinginanku, hapus prosedur gila itu!” titah Isa
“Maafkan saya, Mrs. Prosedur ini adalah keinginan dari Mr. Serrano. Jikapun anda ingin menghapusnya, anda harus memiliki izin dari Mr. Serrano” jelas butler itu.
Isa menatap butler itu dengan tatapan jengkelnya.
Isa merasa bahwa dirinya tak sanggup lagi menahan amarahnya.
“Baiklah, I’ll go back to my room” tandas Isa sambil diakhiri dengan sebuah helaan napas yang berat.
Butler tersebut hanya mengganguk dan membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Isa.
Melihat kejadian yang baru saja tadi, tentu saja Isa tidak bisa tinggal diam. Isa harus menelpon Luke! Ya, dia harus!
.
.
.
.
.
Hai, semua, apa kabar? #StaySafe ya... Jangan lupa pakai masker kalau keluar rumah, cuci tangan dengan sabun sebelum makan sesuatu dan terapin social distancing. Luv u all <3
__ADS_1